Translate

Senin, 04 Mei 2026

Kesadaran & Keteladanan Pemimpin Lahir Dari Moralitasnya

 

Keteladanan pemimpin sangat krusial untuk membangun kepercayaan, meningkatkan loyalitas, dan menciptakan budaya kerja positif. Pemimpin yang memberi contoh perilaku baik seperti disiplin, berintegritas, dan berempati, akan menginspirasi kinerja maksimal dan memotivasi tim secara alami, bukan sekadar memerintah.






-----
Senin, 4 Mei 2026



Kesadaran & Keteladanan Pemimpin Lahir Dari Moralitasnya

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Moralitas adalah keseluruhan asas, nilai, dan norma yang mengatur perilaku manusia mengenai baik dan buruk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sesuai definisinya, ini mencakup sikap moral dan kesusilaan yang dipraktikkan dalam perbuatan nyata sehari-hari, serta berfungsi sebagai fondasi nilai. Moralitas sangat penting untuk membentuk perilaku seorang pejabat publik, dan mendasari hukum atau kebijakan publik.

Sikap moralitas adalah kecenderungan individu untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai baik atau buruk, prinsip atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini mencakup perilaku jujur, tanggungjawab, empati, dan penghormatan, yang membentuk karakter dan membedakan tindakan benar dan salah. Karena moralitas berfungsi sebagai pedoman hidup dan pengendali sikap seorang pejabat publik.

Keteladanan pemimpin sangat krusial untuk membangun kepercayaan, meningkatkan loyalitas, dan menciptakan budaya kerja positif. Pemimpin yang memberi contoh perilaku baik seperti disiplin, berintegritas, dan berempati, akan menginspirasi kinerja maksimal dan memotivasi tim secara alami, bukan sekadar memerintah.

Kenapa sistem Monarki (Kerajaan) dimasa lalu, mampu menciptakan ketenteraman dan kedamaian bagi rakyat, tanpa aturan hukum yang dilahirkan oleh wakil rakyat?.

Jawaban yang paling mendekati, bahwa seorang raja memerintah berdasarkan etika moral, sesuai takaran nurani masing-masing raja sebagai penguasa yang menerima ananah dan tanggung jawab  publik. Sementara raja tidak mengenyam pendidikan tinggi sampai ke-luar negeri, tetapi hanya ditempah oleh tradisi, etika moral, dan norma agama masing-masing, yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya (Character Building). 

Character building (pembangunan karakter) adalah proses penanaman nilai-nilai moral, etika, dan perilaku positif untuk membentuk individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berempati. Ini adalah usaha sadar untuk membina akhlak, baik melalui pendidikan, lingkungan keluarga, maupun pelatihan khusus agar tercermin sikap hidup yang baik.

Oleh karena itu, Pendidikan bukan jaminan kecerdasan, kejujuran, dan integritas seorang pemimpin, melainkan iman dan tawwanya kepada Tuhan YME. Bahwa menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Keyakinan inilah yang tidak mampu menggoyahkan prinsip dan integritas seorang raja dimada lalu.

Pertanyaannya: kenapa keteladanan pemimpin tersebut di zaman sekarang, sirna ditelan oleh ombak kehidupan modern?.

Maka jawaban yang paling tepat: karena para pemimpin bangsa terjebak dalam propaganda barat, yang mengedepankan sistem sekulerisme dan liberalisme, dengan menyingkirkan etika moral dan norma agama dengan politik (kebijakan publik). Sistem ini sangat bertentangan dengan asas dan dasar negara yang berlandaskan Ketuhanan YME, serta karakter bangsa Indonesia.

Sekularisme adalah sistem politik dan pandangan hidup yang memisahkan institusi agama dari urusan negara, pemerintahan, dan ruang publik. Paham ini mendorong netralitas negara terhadap agama, di mana hukum sipil menggantikan hukum keagamaan, bertujuan menjamin kesetaraan warga tanpa memandang keyakinan. Sekularisme muncul dari sejarah Eropa untuk membatasi otoritas gereja (Agama). Sedangkan liberalisme adalah ideologi, filsafat politik, dan moral yang menjunjung tinggi kebebasan individu, hak asasi manusia, persamaan di hadapan hukum, serta pembatasan kekuasaan negara. Paham ini menekankan otonomi pribadi, ekonomi pasar bebas yang berakar dari era pencerahan Barat dan pemikiran tokoh seperti John Locke.

Lalu kenapa di era globalisasi saat ini, secara geopolitik kehidupan antar bangsa juga tidak bisa tenteram dan damai, yang ditandai dengan terjadinya invasi militer dan perang antar bangsa?.

Mungkin publik bisa memberikan jawaban berdasarkan analisis objektif, dan sudut pandang masing-masing.

Sebagai kesimpulan menurut hemat penulis: Bahwa pendidikan bukan jaminan kecerdasan, kejujuran, dan integritas seorang pemimpin, melainkan iman dan tawwanya kepada Tuhan YME. Bahwa menjadi pemimpin adalah suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia, akhirat.

Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan keteladanan seorang pemimpin yang lahir dari sikap moralnya, di saat sedang krisis kepemimpinan melanda bangsa Indonesia.

 

 

Makassar, 4 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar