Keteladanan pemimpin sangat krusial untuk membangun kepercayaan, meningkatkan loyalitas, dan menciptakan budaya kerja positif. Pemimpin yang memberi contoh perilaku baik seperti disiplin, berintegritas, dan berempati, akan menginspirasi kinerja maksimal dan memotivasi tim secara alami, bukan sekadar memerintah.
Kesadaran & Keteladanan Pemimpin Lahir Dari Moralitasnya
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Moralitas adalah
keseluruhan asas, nilai, dan norma yang mengatur perilaku manusia mengenai baik
dan buruk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sesuai
definisinya, ini mencakup sikap moral dan kesusilaan yang dipraktikkan dalam
perbuatan nyata sehari-hari, serta berfungsi sebagai fondasi nilai. Moralitas
sangat penting untuk membentuk perilaku seorang pejabat publik, dan mendasari
hukum atau kebijakan publik.
Sikap moralitas adalah kecenderungan
individu untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai baik atau buruk, prinsip
atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini mencakup perilaku jujur,
tanggungjawab, empati, dan penghormatan, yang membentuk karakter dan membedakan
tindakan benar dan salah. Karena moralitas berfungsi sebagai pedoman hidup dan
pengendali sikap seorang pejabat publik.
Keteladanan pemimpin
sangat krusial untuk membangun kepercayaan, meningkatkan loyalitas, dan
menciptakan budaya kerja positif. Pemimpin yang memberi contoh perilaku baik
seperti disiplin, berintegritas, dan berempati, akan menginspirasi kinerja
maksimal dan memotivasi tim secara alami, bukan sekadar memerintah.
Kenapa sistem Monarki
(Kerajaan) dimasa lalu, mampu menciptakan ketenteraman dan kedamaian bagi
rakyat, tanpa aturan hukum yang dilahirkan oleh wakil rakyat?.
Jawaban yang paling
mendekati, bahwa seorang raja memerintah berdasarkan etika moral, sesuai
takaran nurani masing-masing raja sebagai penguasa yang menerima ananah dan
tanggung jawab publik. Sementara raja
tidak mengenyam pendidikan tinggi sampai ke-luar negeri, tetapi hanya ditempah
oleh tradisi, etika moral, dan norma agama masing-masing, yang menjunjung
tinggi nilai-nilai budaya (Character Building).
Character building
(pembangunan karakter) adalah proses penanaman nilai-nilai moral, etika, dan
perilaku positif untuk membentuk individu yang berintegritas, bertanggung
jawab, dan berempati. Ini adalah usaha sadar untuk membina akhlak, baik melalui
pendidikan, lingkungan keluarga, maupun pelatihan khusus agar tercermin sikap
hidup yang baik.
Oleh karena itu,
Pendidikan bukan jaminan kecerdasan, kejujuran, dan integritas seorang
pemimpin, melainkan iman dan tawwanya kepada Tuhan YME. Bahwa menjadi pemimpin
adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Keyakinan inilah yang tidak
mampu menggoyahkan prinsip dan integritas seorang raja dimada lalu.
Pertanyaannya: kenapa
keteladanan pemimpin tersebut di zaman sekarang, sirna ditelan oleh ombak
kehidupan modern?.
Maka jawaban yang paling
tepat: karena para pemimpin bangsa terjebak dalam propaganda barat, yang
mengedepankan sistem sekulerisme dan liberalisme, dengan menyingkirkan etika
moral dan norma agama dengan politik (kebijakan publik). Sistem ini sangat
bertentangan dengan asas dan dasar negara yang berlandaskan Ketuhanan YME, serta
karakter bangsa Indonesia.
Sekularisme adalah sistem
politik dan pandangan hidup yang memisahkan institusi agama dari urusan negara,
pemerintahan, dan ruang publik. Paham ini mendorong netralitas negara terhadap
agama, di mana hukum sipil menggantikan hukum keagamaan, bertujuan menjamin
kesetaraan warga tanpa memandang keyakinan. Sekularisme muncul dari sejarah
Eropa untuk membatasi otoritas gereja (Agama). Sedangkan liberalisme adalah
ideologi, filsafat politik, dan moral yang menjunjung tinggi kebebasan
individu, hak asasi manusia, persamaan di hadapan hukum, serta pembatasan
kekuasaan negara. Paham ini menekankan otonomi pribadi, ekonomi pasar bebas
yang berakar dari era pencerahan Barat dan pemikiran tokoh seperti John Locke.
Lalu kenapa di era
globalisasi saat ini, secara geopolitik kehidupan antar bangsa juga tidak bisa
tenteram dan damai, yang ditandai dengan terjadinya invasi militer dan perang
antar bangsa?.
Mungkin publik bisa
memberikan jawaban berdasarkan analisis objektif, dan sudut pandang
masing-masing.
Sebagai kesimpulan
menurut hemat penulis: Bahwa pendidikan bukan jaminan kecerdasan, kejujuran,
dan integritas seorang pemimpin, melainkan iman dan tawwanya kepada Tuhan YME.
Bahwa menjadi pemimpin adalah suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan
dunia, akhirat.
Oleh sebab itu, sangat
dibutuhkan keteladanan seorang pemimpin yang lahir dari sikap moralnya, di saat
sedang krisis kepemimpinan melanda bangsa Indonesia.
Makassar, 4 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar