Madrasah Diniyah (Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah/MIDI) didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1 Desember 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sekolah ini berawal dari ruang tamu rumah beliau untuk memadukan pendidikan agama dengan ilmu umum. Rintisan ini menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912.
KH Ahmad Dahlan Pencetus Pendidikan Karakter Pada
Satuan Pendidikan
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Madrasah Diniyah
(Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah/MIDI) didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan
pada 1 Desember 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sekolah ini berawal dari ruang tamu
rumah beliau untuk memadukan pendidikan agama dengan ilmu umum. Rintisan ini
menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912.
Pendidikan Muhammadiyah
adalah sistem pendidikan berbasis Islam berkemajuan yang didirikan oleh K.H.
Ahmad Dahlan, berfokus pada integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan iman.
Dengan ribuan sekolah (lebih dari 3.334) dan perguruan tinggi, lembaga ini
bertujuan membentuk manusia muslim berakhlak mulia, berintegritas, dan
kompeten.
Konsep pendidikan
karakter KH Ahmad Dahlan berfokus pada integrasi ilmu agama dan umum untuk
membentuk manusia yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan aktif beramal.
Karakter dibentuk melalui keseimbangan iman, ilmu, dan amal (tindakan nyata),
serta penanaman nilai toleransi, kepedulian sosial, dan kemandirian
berlandaskan Al-Qur'an.
Sekolah-sekolah
Muhammadiyah lahir dari inisiatif KH. Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah
Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1 Desember 1911 di Yogyakarta, bahkan sebelum
organisasi Muhammadiyah resmi berdiri. Sekolah ini menggabungkan sistem
pendidikan agama dan umum, bertujuan memurnikan ajaran Islam, mencerdaskan
bangsa, serta kaderisasi.Akar Sejarah Pendidikan Muhammadiyah:Pionir
Modernisasi Pendidikan: Didirikan pada 1 Desember 1911, madrasah pertama KH.
Ahmad Dahlan bertempat di teras rumahnya di Kauman, Yogyakarta. Madrasah ini
dikenal dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI).Latar
Belakang: Pendirian sekolah ini dilatarbelakangi keinginan untuk memodernisasi
pendidikan Islam agar tidak tertinggal oleh sekolah kolonial Belanda, serta
sebagai media dakwah untuk memurnikan ajaran Islam.Perpaduan Kurikulum: Sekolah
Muhammadiyah awal menggabungkan pelajaran agama (Islam) dengan ilmu pengetahuan
umum (seperti sistem sekolah Belanda).Perkembangan Pesat: Setelah Muhammadiyah
resmi didirikan pada 18 November 1912, sekolah-sekolah ini berkembang pesat di
bawah naungan organisasi, menyebar ke seluruh penjuru Nusantara pada
tahun-tahun berikutnya.Sejarah ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah lahir dari
kultur sekolah, di mana pendidikan menjadi pilar utama dalam pergerakannya.
Konsep pendidikan
karakter KH Ahmad Dahlan: (1) Integrasi Agama dan Umum: Ahmad Dahlan menolak
dikotomi (pemisahan) ilmu agama dan ilmu umum. (2) Pendidikan harus
menghasilkan muslim yang alim dalam agama sekaligus paham ilmu keduniaan. (3)
Aksi Nyata (Amal): Pendidikan tidak hanya teori, tetapi harus dipraktikkan
langsung dalam kehidupan sehari-hari (amal shaleh). Beliau menekankan
pentingnya menjadi "pendidik" yang memberi contoh langsung. (4)
Berbasis Al-Ma'un (Kepedulian Sosial): Pendidikan bertujuan menanamkan karakter
peduli sosial, membantu yang lemah, dan mensejahterakan masyarakat. (5)
Toleransi dan Berpikir Terbuka: Ahmad Dahlan mengajarkan toleransi, bekerja
sama dengan berbagai pihak (termasuk non-muslim) selama membawa kebaikan, namun
tetap teguh pada prinsip agama. (6) Kemandirian dan Integritas: Membentuk
karakter yang tidak bergantung, jujur, sabar, dan berani berjuang.
Implementasi pendidikan
karakter ini, sebagaimana dilakukan oleh Muhammadiyah melalui sistem pengajaran
yang modern (klasikal) dan kurikulum yang menyeimbangkan iman, amal, serta ilmu
pengetahuan.
Pendidikan karakter ini,
menurut Muhammadiyah, dirancang untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas
secara intelektual, tetapi juga unggul secara moral dan berjiwa sosial.
Tujuan & Ciri Khas Pendidikan Muhammadiyah
Pendidikan Muhammadiyah
bertujuan menghasilkan lulusan yang bertakwa, berakhlak mulia, cakap, percaya
diri, dan cinta tanah air. Ciri khasnya adalah kurikulum yang memadukan ajaran
Islam (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan)b dengan ilmu pengetahuan umum. Pendidikan
menurut Muhammadiyah, memiliki tiga
fungsi utama yaitu " *fungsi pendidikan, dakwah, dan perkaderan* "
untuk membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter serta memperkuat kapasitas SDM
dan persyarikatan.
Sejarah awal pendidikan
Muhammadiyah, dimulai dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah
(MIDI) oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk memodernisasi sistem pendidikan Islam di
Indonesia. Konsep pendidikan yang ingin ditanam dan dikembangkan oleh KH. Ahmad
Dahlan, adalah menjunjung tinggi nilai keislaman, keikhlasan, tajdid
(pembaruan), kerja sama, empati dan kepedulian sosial. Hal ini menunjukkan ini
menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan, ingin menanamkan nilai-nilai karakter
(Character Building) pada anak sejak dini.
Dalam menanamkan
nilai-nilai karaktet (character building) tersebut disetiap jenjang dan lembaga
pendidikan, dilakukan melalui pengkaderan dan Diklat Khusus seperti Training
Center dan Baitul Arkam Muhammadiyah oleh setiap Ortom dan lembaga
Muhammadiyah.
Muhammadiyah menanamkan
nilai-nilai karakter melalui pendekatan holistik dan integratif yang
menggabungkan pendidikan formal, keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan (5S:
Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun), serta pengamalan ajaran Islam berdasarkan
Al-Qur'an dan Sunnah. Pendekatan ini diperkuat melalui pilar gerakan dakwah,
pendidikan, dan penguatan nilai Kemuhammadiyahan (akidah, akhlak, ibadah).
Pendekatan utama
Muhammadiyah dalam menanamkan karakter: (1) Pendekatan Holistik dan Integratif:
Menurut Research Gate, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di kelas,
tetapi terintegrasi ke dalam seluruh ekosistem pendidikan (kurikulum, kultur
sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler). (2) Keteladanan dan Pembiasaan (Uswah
Hasanah): Penanaman karakter dilakukan dengan memberi contoh nyata (uswah) dan
membiasakan perilaku baik, seperti program 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan,
Santun) di lingkungan sekolah Muhammadiyah. (3) Pendekatan Filosofis dan
Ideologis: Menggunakan landasan filosofis, terutama pemikiran KH. Ahmad Dahlan,
yang berfokus pada keseimbangan ilmu dan amal, serta penanaman ideologi
Kemuhammadiyahan sebagai etika landasan dalam berkehidupan. (4) Internalisasi
Nilai Kemuhammadiyahan: Melalui mata pelajaran khusus, diajarkan nilai akidah
yang lurus, akhlak mulia, dan ibadah yang benar. (5) Gerakan Dakwah dan Amal
Usaha: Karakter dibentuk melalui keterlibatan langsung dalam berbagai amal
usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan, yang
menekankan jiwa tolong-menolong (ta'awun) dan etika kerja keras. (6) Pendekatan
Inovatif dan Adaptif: Di tengah perubahan zaman, Muhammadiyah menerapkan
pendekatan yang relevan agar nilai-nilai tetap kokoh namun tetap fleksibel. Penanaman
karakter ini bertujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berilmu,
dan aktif dalam berdakwah amar ma'ruf nahi mungkar.
Dengan berpedoman pada
sejarah pendirian lembaga pendidikan di Muhammadiyah yang dimulai dengan
berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) oleh K.H. Ahmad Dahlan
untuk memodernisasi sistem pendidikan Islam di Indonesia, maka dapat
disimpulkan bahwa “KH Ahmad Dahlan adalah pencetus dan peletak dasar pendidikan
karakter pada satuan pendidikan modern ala Belanda.”
Sekarang Muhammadiyah
terus berinovasi, termasuk meluncurkan Pesantren Eco-Saintek yang berbasis
filantropi dan mengembangkan pusat pelatihan guru (Muhammadiyah Training
Center).
Pendidikan Muhammadiyah
berperan penting dalam pembangunan sosial dan mencerdaskan kehidupan bangsa
melalui pendekatan dakwah yang dinamis.
Makassar, 6 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar