Translate

Rabu, 06 Mei 2026

KH Ahmad Dahlan Pencetus Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan

 

Madrasah Diniyah (Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah/MIDI) didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1 Desember 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sekolah ini berawal dari ruang tamu rumah beliau untuk memadukan pendidikan agama dengan ilmu umum. Rintisan ini menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912.









-----
Rabu, 16 Mei 2026



KH Ahmad Dahlan Pencetus Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Madrasah Diniyah (Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah/MIDI) didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1 Desember 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sekolah ini berawal dari ruang tamu rumah beliau untuk memadukan pendidikan agama dengan ilmu umum. Rintisan ini menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912.

Pendidikan Muhammadiyah adalah sistem pendidikan berbasis Islam berkemajuan yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, berfokus pada integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan iman. Dengan ribuan sekolah (lebih dari 3.334) dan perguruan tinggi, lembaga ini bertujuan membentuk manusia muslim berakhlak mulia, berintegritas, dan kompeten.

Konsep pendidikan karakter KH Ahmad Dahlan berfokus pada integrasi ilmu agama dan umum untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan aktif beramal. Karakter dibentuk melalui keseimbangan iman, ilmu, dan amal (tindakan nyata), serta penanaman nilai toleransi, kepedulian sosial, dan kemandirian berlandaskan Al-Qur'an.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah lahir dari inisiatif KH. Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1 Desember 1911 di Yogyakarta, bahkan sebelum organisasi Muhammadiyah resmi berdiri. Sekolah ini menggabungkan sistem pendidikan agama dan umum, bertujuan memurnikan ajaran Islam, mencerdaskan bangsa, serta kaderisasi.Akar Sejarah Pendidikan Muhammadiyah:Pionir Modernisasi Pendidikan: Didirikan pada 1 Desember 1911, madrasah pertama KH. Ahmad Dahlan bertempat di teras rumahnya di Kauman, Yogyakarta. Madrasah ini dikenal dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI).Latar Belakang: Pendirian sekolah ini dilatarbelakangi keinginan untuk memodernisasi pendidikan Islam agar tidak tertinggal oleh sekolah kolonial Belanda, serta sebagai media dakwah untuk memurnikan ajaran Islam.Perpaduan Kurikulum: Sekolah Muhammadiyah awal menggabungkan pelajaran agama (Islam) dengan ilmu pengetahuan umum (seperti sistem sekolah Belanda).Perkembangan Pesat: Setelah Muhammadiyah resmi didirikan pada 18 November 1912, sekolah-sekolah ini berkembang pesat di bawah naungan organisasi, menyebar ke seluruh penjuru Nusantara pada tahun-tahun berikutnya.Sejarah ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah lahir dari kultur sekolah, di mana pendidikan menjadi pilar utama dalam pergerakannya.

Konsep pendidikan karakter KH Ahmad Dahlan: (1) Integrasi Agama dan Umum: Ahmad Dahlan menolak dikotomi (pemisahan) ilmu agama dan ilmu umum. (2) Pendidikan harus menghasilkan muslim yang alim dalam agama sekaligus paham ilmu keduniaan. (3) Aksi Nyata (Amal): Pendidikan tidak hanya teori, tetapi harus dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari (amal shaleh). Beliau menekankan pentingnya menjadi "pendidik" yang memberi contoh langsung. (4) Berbasis Al-Ma'un (Kepedulian Sosial): Pendidikan bertujuan menanamkan karakter peduli sosial, membantu yang lemah, dan mensejahterakan masyarakat. (5) Toleransi dan Berpikir Terbuka: Ahmad Dahlan mengajarkan toleransi, bekerja sama dengan berbagai pihak (termasuk non-muslim) selama membawa kebaikan, namun tetap teguh pada prinsip agama. (6) Kemandirian dan Integritas: Membentuk karakter yang tidak bergantung, jujur, sabar, dan berani berjuang.

Implementasi pendidikan karakter ini, sebagaimana dilakukan oleh Muhammadiyah melalui sistem pengajaran yang modern (klasikal) dan kurikulum yang menyeimbangkan iman, amal, serta ilmu pengetahuan.

Pendidikan karakter ini, menurut Muhammadiyah, dirancang untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul secara moral dan berjiwa sosial.

Tujuan & Ciri Khas Pendidikan Muhammadiyah

Pendidikan Muhammadiyah bertujuan menghasilkan lulusan yang bertakwa, berakhlak mulia, cakap, percaya diri, dan cinta tanah air. Ciri khasnya adalah kurikulum yang memadukan ajaran Islam (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan)b dengan ilmu pengetahuan umum. Pendidikan menurut Muhammadiyah,  memiliki tiga fungsi utama yaitu " *fungsi pendidikan, dakwah, dan perkaderan* " untuk membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter serta memperkuat kapasitas SDM dan persyarikatan.

Sejarah awal pendidikan Muhammadiyah, dimulai dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk memodernisasi sistem pendidikan Islam di Indonesia. Konsep pendidikan yang ingin ditanam dan dikembangkan oleh KH. Ahmad Dahlan, adalah menjunjung tinggi nilai keislaman, keikhlasan, tajdid (pembaruan), kerja sama, empati dan kepedulian sosial. Hal ini menunjukkan ini menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan, ingin menanamkan nilai-nilai karakter (Character Building) pada anak sejak dini.

Dalam menanamkan nilai-nilai karaktet (character building) tersebut disetiap jenjang dan lembaga pendidikan, dilakukan melalui pengkaderan dan Diklat Khusus seperti Training Center dan Baitul Arkam Muhammadiyah oleh setiap Ortom dan lembaga Muhammadiyah.

Muhammadiyah menanamkan nilai-nilai karakter melalui pendekatan holistik dan integratif yang menggabungkan pendidikan formal, keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan (5S: Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun), serta pengamalan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Pendekatan ini diperkuat melalui pilar gerakan dakwah, pendidikan, dan penguatan nilai Kemuhammadiyahan (akidah, akhlak, ibadah).

Pendekatan utama Muhammadiyah dalam menanamkan karakter: (1) Pendekatan Holistik dan Integratif: Menurut Research Gate, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi terintegrasi ke dalam seluruh ekosistem pendidikan (kurikulum, kultur sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler). (2) Keteladanan dan Pembiasaan (Uswah Hasanah): Penanaman karakter dilakukan dengan memberi contoh nyata (uswah) dan membiasakan perilaku baik, seperti program 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun) di lingkungan sekolah Muhammadiyah. (3) Pendekatan Filosofis dan Ideologis: Menggunakan landasan filosofis, terutama pemikiran KH. Ahmad Dahlan, yang berfokus pada keseimbangan ilmu dan amal, serta penanaman ideologi Kemuhammadiyahan sebagai etika landasan dalam berkehidupan. (4) Internalisasi Nilai Kemuhammadiyahan: Melalui mata pelajaran khusus, diajarkan nilai akidah yang lurus, akhlak mulia, dan ibadah yang benar. (5) Gerakan Dakwah dan Amal Usaha: Karakter dibentuk melalui keterlibatan langsung dalam berbagai amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan, yang menekankan jiwa tolong-menolong (ta'awun) dan etika kerja keras. (6) Pendekatan Inovatif dan Adaptif: Di tengah perubahan zaman, Muhammadiyah menerapkan pendekatan yang relevan agar nilai-nilai tetap kokoh namun tetap fleksibel. Penanaman karakter ini bertujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berilmu, dan aktif dalam berdakwah amar ma'ruf nahi mungkar.

Dengan berpedoman pada sejarah pendirian lembaga pendidikan di Muhammadiyah yang dimulai dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk memodernisasi sistem pendidikan Islam di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa “KH Ahmad Dahlan adalah pencetus dan peletak dasar pendidikan karakter pada satuan pendidikan modern ala Belanda.”

Sekarang Muhammadiyah terus berinovasi, termasuk meluncurkan Pesantren Eco-Saintek yang berbasis filantropi dan mengembangkan pusat pelatihan guru (Muhammadiyah Training Center).

Pendidikan Muhammadiyah berperan penting dalam pembangunan sosial dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendekatan dakwah yang dinamis.

 

 

Makassar, 6 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar