Translate

Selasa, 03 Februari 2026

Ketika Ambisi Kekuasaan Melepas Etika Publik

 Polemik yang melibatkan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak itu, bukan bermula dari kebijakan besar atau skandal APBN. Tetapi bermula dari satu kata “cangkem” yang meluncur dari seorang pejabat publik, sebagai respons atas kritik seorang tokoh senior Muhammadiyah, Dr. H. Anwar Abbas, M. Ag.


-----

Kamis, 04 Pebruari 2026



Ketika Ambisi Kekuasaan Melepas Etika Publik

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Etika publik adalah norma, nilai, dan standar perilaku yang mengatur tindakan serta kebijakan dalam pelayanan publik untuk memastikan integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Ini menjadi kompas moral bagi aparatur negara dan pemimpin untuk mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, mencegah korupsi, serta menciptakan kepercayaan masyarakat.

Dahnil Anzar Simanjuntak adalah seorang politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), aktivis Muhammadiyah, mantan dosen, ekonom, pemerhati kebijakan publik, mantan juru bicara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan saat ini menjadi Wakil Ketua Badan Penyelenggara Haji (BP Haji).

Polemik yang melibatkan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak itu, bukan bermula dari kebijakan besar atau skandal APBN. Tetapi bermula dari satu kata “cangkem” yang meluncur dari seorang pejabat publik, sebagai respons atas kritik seorang tokoh senior Muhammadiyah, Dr. H. Anwar Abbas, M. Ag.

Cangkem adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti mulut. Istilah ini tergolong kasar atau merupakan tingkatan bahasa paling rendah (ngoko kasar) untuk menyebut mulut, sehingga tidak sopan digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormatiapalagi kepada seorang tokoh senior di Muhammadiyah. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan ucapan atau berbicara (nyangkem/cangkeman).

Dalam politik, kata bukan sekadar bunyi. Ia adalah sinyal sikap dan gambaran karakter seseorang, yang menggambarkan futur kata dan kepribadian. Apakah karena ambisi kekuasaan seseorang alergi menerima kritik sosial yang membangun ?.

 Kritik yang membangun adalah umpan balik spesifik, konstruktif, dan bertujuan membantu orang lain berkembang, fokus pada perilaku (bukan karakter), disampaikan dengan niat baik dan solusi, bukan menjatuhkan atau menyerang, serta mendorong perbaikan diri dengan memberikan saran konkret dan contoh yang jelas. Tujuannya adalah pertumbuhan, bukan sekadar menunjukkan kesalahan, dengan fokus mencari solusi dan membuka diskusi dua arah.

Anwar Abbas sebelumnya mengkritik kebijakan pemerintah yang menunjuk hanya dua perusahaan untuk menangani layanan haji 2026. Kritik itu disampaikan dengan kerangka kepentingan publik: potensi kecemburuan sosial dan menurunnya kepercayaan terhadap tata kelola ibadah haji. Kritik yang, dalam demokrasi, seharusnya dipandang sebagai bagian dari mekanisme koreksi dan saran.

Namun respons yang muncul justru bergerak ke arah personal dan emosional dari seorang pejabat publik. Sindiran balik bernada kasar itu dengan cepat viral, dan sejak saat itu, polemik bergeser dari soal kebijakan ke soal etika pejabat negara.

Dalam psikologi kekuasaan, ini bukan fenomena baru. Ketika jabatan bertemu kritik, ada dua jalan yang bisa dipilih: menjawab dengan argumen, atau melawan dengan emosi. Kata-kata kasar sering kali muncul bukan karena kelebihan kuasa, tetapi karena ketidaknyamanan terhadap kritik.

Masalahnya, kritik kali ini datang dari tokoh MUI dan tokoh Muhammadiyah yang disegani dan dihormati, dengan basis moral dan sejarah panjang dalam kehidupan publik. Maka benturan ini tidak hanya dibaca sebagai konflik individu, melainkan sebagai gesekan antara ambisi kekuasaan dengan otoritas moral masyarakat sipil. Kecuali bagi pejabat publik yang menggunakan  nurani dan sehatnya, ia akan menerima kritik bagaikan angin kencang yang menerpa pohon yang tinggi. Dimana terpaan angin dianggap dapat menguatkan akar dan pundasi jabatan tersebut.

Reaksi publik pun keras. Desakan evaluasi hingga pencopotan muncul, salah satunya dari aktivis Muhammadiyah Jakarta, Farid Idris, yang menekankan bahwa pejabat publik wajib menjaga adab, etika, dan penghormatan terhadap kritik yang disampaikan secara konstitusional.

Di titik ini, psikologi publik bekerja cepat. Ketika pejabat menggunakan bahasa yang dianggap merendahkan, publik tidak lagi menilai substansi kebijakan, melainkan karakter kekuasaan. Kepercayaan yang susah dibangun bisa runtuh hanya oleh satu kalimat yang terasa meremehkan.

Yang menarik, hingga kini belum ada klarifikasi resmi. Keheningan ini juga berbicara. Dalam ruang publik digital, diam sering dibaca sebagai pembiaran, bahkan pembenaran. Padahal, dalam etika kepemimpinan, klarifikasi bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan dan sikap arif.

Oleh sebab itu, sudah sepantasnya Dahnil Anzar Simanjuntak meminta maaf secara terbuka kepada publik, khususnya kepada orang tua dan seniornya di Muhammadiyah.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa jabatan publik bukan sekadar soal kewenangan, tetapi juga pengendalian diri. Terlebih dalam urusan haji—ibadah yang sarat makna spiritual—bahasa yang digunakan pejabat semestinya mencerminkan keteladanan dan sikap arif, bukan mengedepankan emisional. Karena sikap arif dan bijaksana, menunjukkan wibawa dan moral seorang pejabat negara.

Pada akhirnya, polemik ini bukan hanya tentang Dahnil Anzar Simanjuntak. Ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan bereaksi ketika dikritik, dan bagaimana publik menilai bukan hanya apa yang diputuskan, tetapi bagaimana cara berbicara.

Karena dalam ingatan kolektif masyarakat, kebijakan bisa diperdebatkan.

Namun adab dan etika harus tetap dikedepankan, guna menjaga wibawa dan kharisma seorang pemimpin.

Perbedaan utama adab dan etika terletak pada sumber dan cakupannya: adab lebih spesifik pada sopan santun berbasis agama atau budaya lokal (seperti ajaran Islam, adat istiadat) yang mengatur perilaku sehari-hari, sedangkan etika adalah cabang filsafat yang mempelajari prinsip moral universal tentang baik dan buruk secara umum, yang bisa berlaku di mana saja, meskipun seringkali keduanya saling melengkapi dalam konteks perilaku sosial dan akhlak mulia.

Siapa itu Anwar Abbas

Cerdas dan Berani: Inilah Perjalanan Karier Dr. Anwar Abbas, Sang Singa Podium dari MUI

Di panggung nasional, nama Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag. dikenal sebagai salah satu ulama paling vokal dan kritis dalam menyuarakan keadilan ekonomi masyarakat. Sosok kelahiran Balai Mansiro, Kabupaten Lima Puluh Kota, 15 Februari 1955 ini, merupakan perpaduan langka antara kedalaman ilmu agama dan penguasaan teori ekonomi modern.

Hingga saat ini, ia mengemban amanah penting sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025, setelah sebelumnya sukses menjalankan peran sebagai Sekretaris Jenderal di lembaga yang sama.

Intelektual Muhammadiyah dan Ahli Ekonomi Islam

Karier Anwar Abbas berakar kuat di organisasi Muhammadiyah. Ia pernah menjabat sebagai Bendahara Umum PP Muhammadiyah serta Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan. Keahliannya di bidang ekonomi bukan sekadar pengalaman praktis; ia merupakan pakar akademik yang meraih gelar Doktor Syariah/Pemikiran Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebelum purnatugas sebagai PNS pada Maret 2020, beliau adalah dosen tetap di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta. Dedikasinya di dunia pendidikan juga terlihat saat ia menjabat sebagai Wakil Rektor di UHAMKA Jakarta.

Kiprah Internasional dan Pengabdian Negara

Nama Anwar Abbas tidak hanya bergema di dalam negeri. Pengakuannya di dunia internasional terbukti saat ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Presiden Konfederasi Buruh Islam Internasional (IICL) periode 2000–2005.

Di pemerintahan, ia juga pernah mencicipi kursi parlemen sebagai Anggota MPR-RI Utusan Golongan pada masa transisi reformasi (1997–1999). Rekam jejaknya yang panjang menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang mampu menempatkan diri di berbagai lini, mulai dari birokrasi, akademisi, hingga aktivis keagamaan.

Sederhana dalam Kehidupan Pribadi

Di balik profilnya yang tegas saat berdakwah atau berdiskusi di layar televisi, Anwar Abbas adalah sosok ayah yang hangat. Bersama istrinya, Nurlaili, ia membesarkan tiga orang anak: Hero Adela, Dini Amalia, dan Erika Firdausi Amalia.

Kini, meski telah memasuki usia pensiun dari dunia kampus, Anwar Abbas tetap menjadi "suara nurani" umat yang konsisten memperjuangkan ekonomi syariah dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Sumber: Diolah dari Wikipedia Anwar Abbas).

 

Makassar, 04 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar