Bangsa Indonesia saat ini diperhadapkan pada tatanan social dan ekonomi dunia yang bisa dianggap sebagai ancaman globalisasi, karena dapat mengikis nilai-nilai luhur budaya bangsa (Character buiding) yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain.
-----
Ahad, 12 Juli 2026
HOS Tjokroaminoto: Pandangan Islam Tentang Sosialisme
& Kapitaliame
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Bangsa Indonesia saat ini diperhadapkan pada tatanan social
dan ekonomi dunia yang bisa dianggap sebagai ancaman globalisasi, karena dapat
mengikis nilai-nilai luhur budaya bangsa (Character buiding) yang membedakan
bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Character building (pembangunan
karakter) adalag proses atau usaha sadar untuk membina, memperbaiki,dan
membentuk tabiat, watak, serta akhlak sesorang. Tujuannya adalah menciptakan
individu berintegritas , bertanggingjawab, memiliki empati, dan bersikap
positif sesuai dengan nilai-nilai etika serta moral yang berlaku dalam
masyarakat yang sangat bertentangan dengan system ekonomi dan politik (sosialisme
dan kapitalisme) yang berlaku di Barat.
Sosialisme adalah sistem ekonomi dan politik yang
menekankan kepemilikan bersama atas alat produksi (seperti pabrik dan tanah)
serta distribusi kekayaan yang merata. Paham ini bertujuan untuk menghapus
kesenjangan ekstrem dengan memastikan sumber daya penting dikelola untuk
kesejahteraan seluruh masyarakat, bukan demi keuntungan individu atau
korporasi.
Kalau kita pahami sejarah dan varian sosialisme, paham
ini lahir pada abad ke-18 dan ke-19 sebagai kritik terhadap sistem kapitalisme
dan Revolusi Industri yang dianggap memicu eksploitasi dan ketidakadilan.
Seiring berjalannya waktu, sosialisme berkembang menjadi beberapa aliran
seperti: Sosialisme Utopis, Marxisme, dan Demokratis.
Terkait hal tersebut, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto; Ulama Islam, dan
Pahlawan Nasional menjelaskan pandangan Islam mengenai keadilan sosial dan
ekonomi dalam tulisannya "Islam dan Sosialisme."
Buku Islam dan Sosialisme (1924) karya H.O.S.
Tjokroaminoto menegaskan bahwa sosialisme sejati telah lama dicontohkan oleh
Nabi Muhammad dan Khulafa Rasyidin. Tjokroaminoto meyakini bahwa nilai-nilai
kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan dalam Islam sangat sejalan dengan
prinsip keadilan sosial serta pemerataan kesejahteraan masyarakat. Gagasan
utama Tjokroaminoto dalam buku ini meliputi:
(1). Bukan
Mengislamkan Sosialisme Barat: Tjokroaminoto berargumen bahwa Islam sejak
awal memiliki nilai-nilai sosialisnya sendiri, sehingga umat Islam tidak perlu
mengadopsi sosialisme Barat yang kerap bersumber dari materialisme murni.
(2). Kritik
terhadap Kapitalisme : Beliau mengecam praktik kapitalisme yang dianggapnya
lahir dari keserakahan, sikap individualistis, dan penindasan terhadap kaum
lemah.
(3). Keadilan
Sosial: Sosialisme Islam bertujuan murni untuk mencari rida Allah,
mewujudkan masyarakat yang harmonis, serta menghapuskan jurang pemisah antara
yang kaya dan yang miskin.
Gagasan ini menempatkan Tjokroaminoto sebagai salah
satu tokoh pelopor yang memadukan ajaran Islam dengan ideologi keadilan sosial.
Berikut
ringkasan bukunya untuk memahami pola pemikiran seorang tokoh Islam dan
Pahlawan nasional.
I.
Latar Belakang
Buku ini ditulis pada awal abad ke-20 ketika gagasan
Sosialisme dan Kapitalisme sedang berkembang pesat.
Banyak kalangan menganggap bahwa untuk memperjuangkan
kaum tertindas harus mengikuti sosialisme Barat.
Tjokroaminoto
menjawab bahwa Islam telah lebih dahulu membawa prinsip-prinsip keadilan
sosial, namun tetap berlandaskan Tauhid dan Akhlak. Ia tidak menolak seluruh
gagasan Sosialisme, tetapi mengkritik Sosialisme yang mengabaikan agama dan
menjadikan Materialisme sebagai dasar kehidupan. membebaskan manusia dari
penjajahan, kelaparan, ketakutan, dan kezaliman ekonomi.
“Hai, untuk apa kamu mencari ideologi lain untuk
membela kaum tertindas dan menciptakan keadilan sosial? Ajaran sosialisme Barat
penuh kelemahan, sedangkan ajaran Islam sudah lengkap, sempurna, dan terbukti
berhasil.” HOS Tjokroaminoto
Dengan cara itu, Tjokro menghindari jebakan
ekstremisme ideologis. Ia tidak memaksakan “Islamisasi” negara secara simbolik,
melainkan mendorong substansi Islam sebagai etika publik, sistem sosial, dan
kekuatan transformasi umat. Islam tidak anti kekayaan, tetapi anti kerakusan.
Islam tidak anti kemajuan, tetapi anti ketimpangan.
Sejalan dengan itu, Al-Qur’an menegaskan misi
pembebasan yang sejati:
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang
yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, serta menjadikan
mereka pewaris (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5)
II.
Melanjutkan Warisan Tjokro
Hari ini, ketika wajah baru kapitalisme hadir dalam
bentuk neoliberalisme, komersialisasi agama, dan ketimpangan digital, pemikiran
Tjokroaminoto terasa semakin relevan. Islam tidak boleh hanya menjadi identitas
simbolik, tetapi harus hadir sebagai kekuatan yang membela kaum kecil,
memperjuangkan distribusi keadilan, dan melahirkan peradaban yang bertumpu pada
nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Warisan Tjokro adalah pesan moral sekaligus strategi
politik: bahwa umat Islam tidak butuh ideologi impor untuk memperjuangkan
keadilan, karena ajaran Islam sendiri adalah jalan yang paling utuh, paling
adil, dan paling membebaskan.
Gagasan
Pokok
1️⃣ Islam
adalah agama keadilan social.
Menurut Tjokroaminoto, Islam hadir untuk menghapus :
Penindasan, eksploitasi,
kesenjangan yang zalim, dan penghisapan manusia atas
manusia. Karena itu, Islam tidak membiarkan kekayaan hanya beredar di kalangan
orang kaya.
2️⃣ Kepemilikan
pribadi diakui.
Berbeda dengan sosialisme revolusioner yang cenderung
menghapus hak milik pribadi, Islam mengakuinya sebagai amanah dari Allah.
Pemilik harta bebas mengelolanya, tetapi mempunyai
kewajiban sosial melalui : Zakat, infak, sedekah, wakaf, _serta larangan riba,
penipuan, dan monopoli._
3️⃣ Persamaan
derajat manusia.
Semua manusia sama di hadapan Allah. Perbedaan ras,
suku, warna kulit, atau status sosial tidak menentukan kemuliaan seseorang.
Kemuliaan diukur dengan ketakwaan dan amal saleh.
4️⃣
Persaudaraan Islam
Islam membangun masyarakat atas dasar ukhuwah, bukan
pertentangan kelas. Karena itu, hubungan antara pekerja dan pemilik modal
seharusnya didasarkan pada keadilan, amanah, dan saling menghormati, bukan
permusuhan.
5️⃣ Kritik
terhadap kapitalisme
Tjokroaminoto mengkritik kapitalisme karena:
1. Menumpuk kekayaan pada segelintir orang.
2. Melahirkan kemiskinan struktural.
3. Mendorong eksploitasi buruh, dan
4. Menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama.
6️⃣ Kritik
terhadap Sosialisme & Atheisme
Ia juga mengkritik sosialisme yang menolak agama.
Menurutnya, sistem ekonomi tanpa iman akan kehilangan landasan moral sehingga
mudah berubah menjadi penindasan dalam bentuk lain.
III.
Konsep Sosialisme Islam
Tjokroaminoto menjelaskan bahwa 'Sosialisme Islam'
bertumpu pada:
- Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) sebagai fondasi
kehidupan.
- Keadilan sebagai tujuan.
- Persaudaraan sebagai ikatan sosial.
- Musyawaroh dalam kehidupan bermasyarakat.
- Tanggung jawab sosial atas harta.
- Kebebasan yang dibatasi syariat.
- Akhlaq sebagai pengendali kekuasaan dan ekonomi.
- Solusi bagi masyarakat.
Ia menawarkan pembangunan masyarakat melalui:
a. Pendidikan umat.
b. Penguatan akhlak.
c. Pemberdayaan ekonomi.
d. Organisasi yang kuat.
e. Kepemimpinan yang
amanah.
f. Pelaksanaan syariat secara menyeluruh.
IV.
Inti pemikiran
Relevansi
saat ini.
Walaupun ditulis lebih dari seabad lalu, gagasan
Tjokroaminoto tetap relevan ketika dunia menghadapi kesenjangan ekonomi,
dominasi oligarki, kapitalisme yang tidak terkendali,
korupsi, dan krisis moral.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak cukup
diukur dari pertumbuhan kekayaan, tetapi juga dari pemerataan, keadilan, dan keberpihakan
kepada kaum lemah.
Ringkasnya: Tjokroaminoto ingin menegaskan bahwa :
1️⃣_ Islaam bukan sekadar agama ibadah ritual,
melainkan sistem kehidupan yang
mampu melahirkan masyarakat yang adil, makmur, bermartabat, dan berlandaskan
tauhid._
2️⃣_ Keadilan sosial menurutnya bukan dicapai
melalui perjuangan kelas sebagaimana sosialisme Barat, tetapi melalui perpaduan
antara iman, akhlak, syariat, dan tanggung jawab sosial,_ sehingga
kesejahteraan material berjalan seiring dengan kemuliaan spiritual.
Makassar, 12 Juli 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar