Translate

Sabtu, 11 Juli 2026

HOS Tjokroaminoto: Pandangan Islam Tentang Sosialisme & Kapitaliame

 

Bangsa Indonesia saat ini diperhadapkan pada tatanan social dan ekonomi dunia yang bisa dianggap sebagai ancaman globalisasi, karena dapat mengikis nilai-nilai luhur budaya bangsa (Character buiding) yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain.





-----

Ahad, 12 Juli 2026


HOS Tjokroaminoto: Pandangan Islam Tentang Sosialisme & Kapitaliame

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Bangsa Indonesia saat ini diperhadapkan pada tatanan social dan ekonomi dunia yang bisa dianggap sebagai ancaman globalisasi, karena dapat mengikis nilai-nilai luhur budaya bangsa (Character buiding) yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Character building (pembangunan karakter) adalag proses atau usaha sadar untuk membina, memperbaiki,dan membentuk tabiat, watak, serta akhlak sesorang. Tujuannya adalah menciptakan individu berintegritas , bertanggingjawab, memiliki empati, dan bersikap positif sesuai dengan nilai-nilai etika serta moral yang berlaku dalam masyarakat yang sangat bertentangan dengan system ekonomi dan politik (sosialisme dan kapitalisme) yang berlaku di Barat.

Sosialisme adalah sistem ekonomi dan politik yang menekankan kepemilikan bersama atas alat produksi (seperti pabrik dan tanah) serta distribusi kekayaan yang merata. Paham ini bertujuan untuk menghapus kesenjangan ekstrem dengan memastikan sumber daya penting dikelola untuk kesejahteraan seluruh masyarakat, bukan demi keuntungan individu atau korporasi.

Kalau kita pahami sejarah dan varian sosialisme, paham ini lahir pada abad ke-18 dan ke-19 sebagai kritik terhadap sistem kapitalisme dan Revolusi Industri yang dianggap memicu eksploitasi dan ketidakadilan. Seiring berjalannya waktu, sosialisme berkembang menjadi beberapa aliran seperti: Sosialisme Utopis, Marxisme, dan Demokratis.

Terkait hal tersebut, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto; Ulama Islam, dan Pahlawan Nasional menjelaskan pandangan Islam mengenai keadilan sosial dan ekonomi dalam tulisannya "Islam dan Sosialisme."

Buku Islam dan Sosialisme (1924) karya H.O.S. Tjokroaminoto menegaskan bahwa sosialisme sejati telah lama dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan Khulafa Rasyidin. Tjokroaminoto meyakini bahwa nilai-nilai kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan dalam Islam sangat sejalan dengan prinsip keadilan sosial serta pemerataan kesejahteraan masyarakat. Gagasan utama Tjokroaminoto dalam buku ini meliputi:

(1). Bukan Mengislamkan Sosialisme Barat: Tjokroaminoto berargumen bahwa Islam sejak awal memiliki nilai-nilai sosialisnya sendiri, sehingga umat Islam tidak perlu mengadopsi sosialisme Barat yang kerap bersumber dari materialisme murni.

(2). Kritik terhadap Kapitalisme : Beliau mengecam praktik kapitalisme yang dianggapnya lahir dari keserakahan, sikap individualistis, dan penindasan terhadap kaum lemah.

(3). Keadilan Sosial: Sosialisme Islam bertujuan murni untuk mencari rida Allah, mewujudkan masyarakat yang harmonis, serta menghapuskan jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin.

Gagasan ini menempatkan Tjokroaminoto sebagai salah satu tokoh pelopor yang memadukan ajaran Islam dengan ideologi keadilan sosial.

 Berikut ringkasan bukunya untuk memahami pola pemikiran seorang tokoh Islam dan Pahlawan nasional.

I. Latar Belakang

Buku ini ditulis pada awal abad ke-20 ketika gagasan Sosialisme dan Kapitalisme sedang berkembang pesat.

Banyak kalangan menganggap bahwa untuk memperjuangkan kaum tertindas harus mengikuti sosialisme Barat.

Tjokroaminoto menjawab bahwa Islam telah lebih dahulu membawa prinsip-prinsip keadilan sosial, namun tetap berlandaskan Tauhid dan Akhlak. Ia tidak menolak seluruh gagasan Sosialisme, tetapi mengkritik Sosialisme yang mengabaikan agama dan menjadikan Materialisme sebagai dasar kehidupan. membebaskan manusia dari penjajahan, kelaparan, ketakutan, dan kezaliman ekonomi.

“Hai, untuk apa kamu mencari ideologi lain untuk membela kaum tertindas dan menciptakan keadilan sosial? Ajaran sosialisme Barat penuh kelemahan, sedangkan ajaran Islam sudah lengkap, sempurna, dan terbukti berhasil.” HOS Tjokroaminoto

Dengan cara itu, Tjokro menghindari jebakan ekstremisme ideologis. Ia tidak memaksakan “Islamisasi” negara secara simbolik, melainkan mendorong substansi Islam sebagai etika publik, sistem sosial, dan kekuatan transformasi umat. Islam tidak anti kekayaan, tetapi anti kerakusan. Islam tidak anti kemajuan, tetapi anti ketimpangan.

Sejalan dengan itu, Al-Qur’an menegaskan misi pembebasan yang sejati:

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, serta menjadikan mereka pewaris (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5)

II. Melanjutkan Warisan Tjokro

Hari ini, ketika wajah baru kapitalisme hadir dalam bentuk neoliberalisme, komersialisasi agama, dan ketimpangan digital, pemikiran Tjokroaminoto terasa semakin relevan. Islam tidak boleh hanya menjadi identitas simbolik, tetapi harus hadir sebagai kekuatan yang membela kaum kecil, memperjuangkan distribusi keadilan, dan melahirkan peradaban yang bertumpu pada nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Warisan Tjokro adalah pesan moral sekaligus strategi politik: bahwa umat Islam tidak butuh ideologi impor untuk memperjuangkan keadilan, karena ajaran Islam sendiri adalah jalan yang paling utuh, paling adil, dan paling membebaskan.

Gagasan Pokok

1️⃣   Islam adalah agama keadilan social.

Menurut Tjokroaminoto, Islam hadir untuk menghapus : Penindasan, eksploitasi,

kesenjangan yang zalim, dan penghisapan manusia atas manusia. Karena itu, Islam tidak membiarkan kekayaan hanya beredar di kalangan orang kaya.

2️   Kepemilikan pribadi diakui.

Berbeda dengan sosialisme revolusioner yang cenderung menghapus hak milik pribadi, Islam mengakuinya sebagai amanah dari Allah.

Pemilik harta bebas mengelolanya, tetapi mempunyai kewajiban sosial melalui : Zakat, infak, sedekah, wakaf, _serta larangan riba, penipuan, dan monopoli._

3️   Persamaan derajat manusia.

Semua manusia sama di hadapan Allah. Perbedaan ras, suku, warna kulit, atau status sosial tidak menentukan kemuliaan seseorang. Kemuliaan diukur dengan ketakwaan dan amal saleh.

4️   Persaudaraan Islam

Islam membangun masyarakat atas dasar ukhuwah, bukan pertentangan kelas. Karena itu, hubungan antara pekerja dan pemilik modal seharusnya didasarkan pada keadilan, amanah, dan saling menghormati, bukan permusuhan.

5️   Kritik terhadap kapitalisme

Tjokroaminoto mengkritik kapitalisme karena:

1. Menumpuk kekayaan pada segelintir orang.

2. Melahirkan kemiskinan struktural.

3. Mendorong eksploitasi buruh, dan

4. Menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama.

6️   Kritik terhadap Sosialisme & Atheisme

Ia juga mengkritik sosialisme yang menolak agama. Menurutnya, sistem ekonomi tanpa iman akan kehilangan landasan moral sehingga mudah berubah menjadi penindasan dalam bentuk lain.

 

III. Konsep Sosialisme Islam

Tjokroaminoto menjelaskan bahwa 'Sosialisme Islam' bertumpu pada:

- Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) sebagai fondasi kehidupan.

- Keadilan sebagai tujuan.

- Persaudaraan sebagai ikatan sosial.

- Musyawaroh dalam kehidupan bermasyarakat.

- Tanggung jawab sosial atas harta.

- Kebebasan yang dibatasi syariat.

- Akhlaq sebagai pengendali kekuasaan dan ekonomi.

- Solusi bagi masyarakat.

Ia menawarkan pembangunan masyarakat melalui:

a. Pendidikan umat.

b. Penguatan akhlak.

c. Pemberdayaan ekonomi.

d. Organisasi yang kuat.

e. Kepemimpinan yang    amanah.

f. Pelaksanaan syariat secara menyeluruh.

 

IV. Inti pemikiran

Relevansi saat ini.

Walaupun ditulis lebih dari seabad lalu, gagasan Tjokroaminoto tetap relevan ketika dunia menghadapi kesenjangan ekonomi,

dominasi oligarki, kapitalisme yang tidak terkendali, korupsi, dan krisis moral.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak cukup diukur dari pertumbuhan kekayaan, tetapi juga dari pemerataan, keadilan, dan keberpihakan kepada kaum lemah.

Ringkasnya: Tjokroaminoto ingin menegaskan bahwa :

1️_  Islaam bukan sekadar agama ibadah ritual, melainkan sistem kehidupan yang mampu melahirkan masyarakat yang adil, makmur, bermartabat, dan berlandaskan tauhid._

2️_  Keadilan sosial menurutnya bukan dicapai melalui perjuangan kelas sebagaimana sosialisme Barat, tetapi melalui perpaduan antara iman, akhlak, syariat, dan tanggung jawab sosial,_ sehingga kesejahteraan material berjalan seiring dengan kemuliaan spiritual.

 

 

Makassar, 12 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar