Siri' Na Pacce adalah falsafah hidup Suku Makassar yang mengikat moral, martabat, dan solidaritas sosial. Secara harfiah berarti rasa malu dan pedih, falsafah ini mengajarkan bahwa hilangnya harga diri (siri') membuat manusia tak ada bedanya dengan hewan, sementara rasa pedih (pacce) mendorong tolong-menolong dalam masyarakat.
-----
Jum'at, 10 Juli 2026
Siri' na Pacce Falsafah Hidup Suku Makassar
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Siri' Na Pacce adalah falsafah hidup Suku Makassar
yang mengikat moral, martabat, dan solidaritas sosial. Secara harfiah berarti
rasa malu dan pedih, falsafah ini mengajarkan bahwa hilangnya harga diri
(siri') membuat manusia tak ada bedanya dengan hewan, sementara rasa pedih
(pacce) mendorong tolong-menolong dalam masyarakat. Nilai luhur ini dibagi
menjadi dua prinsip utama:
1. Siri' (Harga Diri dan Kehormatan): Siri' adalah
benteng pertahanan moral, harga diri, dan rasa malu yang mulia. Dalam budaya
masyarakat Bugis-Makassar, siri' berfungsi sebagai kompas moral agar individu
bertindak jujur, bertanggung jawab, serta pantang menyerah. Pelanggaran
terhadap norma adat atau keluarga—seperti melakukan kejahatan atau merendahkan
martabat—dianggap memalukan atau "membawa siri'".
2. Pacce (Solidaritas dan Empati): Jika siri'
berkaitan dengan kehormatan diri sendiri, maka pacce (atau pesse) berkaitan
dengan rasa iba dan kepedulian terhadap sesama. Pacce mengajarkan rasa
persaudaraan dan solidaritas kemanusiaan. Prinsip ini menuntut seseorang untuk
ikut merasakan penderitaan orang lain, yang diwujudkan dalam bentuk tolong
menolong, gotong royong atau saling membantu saat ada kerabat atau tetangga
yang tertimpa musibah.
Suku Makassar percaya bahwa seseorang yang seutuhnya
memiliki Siri' Na Pacce akan dihormati oleh lingkungannya.
Konsep Siri' na Pacce yang menjadi pedoman moral,
harga diri, dan solidaritas sosial. Falsafah ini menyatukan keteguhan prinsip
dengan kepedulian terhadap sesama. Nilai ini mengatur keseimbangan antara sikap
tegas menjaga kehormatan dan kepekaan peduli terhadap sesama.
Filosofi ini berakar pada dua unsur utama:
Pertama;
Siri’ (Harga Diri/Malu): Konsep moral yang berarti malu melakukan perbuatan
tercela (seperti mencuri atau menipu). Jika martabat seseorang atau keluarganya
dilecehkan, mereka berkewajiban untuk membela dan mempertahankannya.
Kedua;
Pacce (Empati/Solidaritas): Rasa kemanusiaan, kepedulian, dan rasa sakit yang
mendalam saat melihat penderitaan orang lain. Sikap ini mendorong semangat rela
berkorban, gotong royong, dan membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan.
Dalam praktiknya, Siri’ na Pacce mengajarkan bahwa
manusia yang tidak memiliki rasa malu dan iepedulian tidak layak disebut
manusia. Kedua nilai ini saling melengkapi: Siri’ menjaga harkat dan martabat
(integritas) pribadi agar tidak egois, sementara Pacce memastikan seseorang
tetap memiliki hati nurani dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
oleh sebab itu, orang yang berbuat meseum atau
perselingkuhan secara terbuka, adalah sikap yang meruntuhkan harkat dan
martabatnya, karena perbuatan amoral menempatkan diri seperti hewan yang tidak
memiliki harga diri. Namun mengumumkan aib sesorang (siri'), adalah perbuatan
yang melanggar prinsip hidup suku Makassar (Siri' na Pacce). Karena mengumumkan
aib seseorang ke- publik, menunjujkan sikap tidak memiliki sifat empati
(pacce).
Sejumlah prinsip hidup orang Makassar yang diturunkan
dari leluhur masih dijunjung tinggi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip ini juga membangun karakter orang Makassar dalam menjalani kehidupan.
Prinsip hidup orang Makassar merupakan buah pikirian,
pengalaman jiwa serta pertimbangan tentang sifat-sifat yang baik dan buruk dari
para leluhur. Prinsip ini juga kerap digunakan sebagai semboyan bagi masyarakat
Makassar.
Melansir laman Dinas Pariwisata Kota Makassar, tidak
sedikit prinsip hidup orang Makassar yang sering digaungkan. Salah satunya
prinsip "sipakatau, sipakainge dan sipakalebbi" yang selalu
digemakan.
Untuk mendalami bagaimana falsafah ini diterapkan
dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari dan tatanan adat istiadat setempat,
ada baiknya kita pahami 9 prinsip hidup orang Makassar yang dilansir dari
detikSulsel.
Berikut ada 9 Prinsip Hidup orang Makassar yang masih
dijunjung tinggi hingga kini, yaitu:
1. Teai Mangkasara' punna Bokona Loko'
Melansir jurnal Universitas Negeri Makassar dengan
judul "Nilai-Nilai dan Kearifan Lokal Suku Makassar Sebagai Sumber
Pendidikan Ekonomi Informal dalam Keluarga", Teai Mangkasara' punna Bokona
Loko' adalah salah satu prinsip orang Makassar yang hingga kini masih
diterapkan di tengah masyarakat. Artinya, bukan orang Makassar bila punggung
belakangnya yang terluka.
Prinsip ini mengajarkan agar dalam menjalani hidup
tidak pasrah dengan keadaan. Sebagai orang Makassar, diajarkan untuk pantang
lari dari masalah dan apapun yang terjadi harus siap dihadapi. Melalui prinsip
hidup ini orang Makassar diajarkan untuk terus berjuang. Menghadapi masalah
secara langsung dan menyelesaikannya. Sebuah kegagalan merupakan hal biasa bagi
orang Makassar. Justru hal itu dijadikan sebagai cambuk untuk mencoba kembali
hingga akhirnya berhasil.
2. A'bulo Sibatang
Prinsip hidup orang Makassar selanjutnya adalah A'bulo
Sibatang. Sebuah prinsip solidaritas dan kebersamaan. A'bulo Sibatang artinya
sebatang bambu. Dimaknai sebagai suatu kebersamaan yang sangat kuat.
Hal ini dimaknai dari sebuah batang bambu yang
memiliki akar yang sangat kuat dan menyebar luas dalam tanah. Sehingga menjadi
pondasi yang kuat dalam menopang batang bambu yang ke
permukaan tanah.A'bulo Sibatang yang memiliki batang bambu yang lurus, tidak
mudah patah dan lentur. Yang berarti memiliki sifat jujur, teguh dan fleksibel.
3. Sipakatau
Sipakatau artinya memanusiakan manusia. Sebuah prinsip
yang masih dipegang teguh hingga saat ini oleh orang Makassar. Konsep Sipakatau
telah dijabarkan dalam pancasila yaitu sila ketiga, kemanusiaan yang adil dan
beradab. Kemudian dijadikan prinsip orang terdahulu dengan sebutan Sipakatau.
Prinsip Sipakatau menjadi nilai etika orang Makassar.
Prinsip yang dapat diterapkan di segala sektor kehidupan. Sipakatau inilah yang
menjadikan kehidupan masyarakat suku Makassar jadi harmonis. Bentuk perwujudan
kualitas manusia ialah dengan menghargai manusia lainnya.
4. Sipakalebbi
Prinsip hidup orang Makassar berikutnya adalah
Sipakalebbi. Prinsip hidup ini juga diturunkan dari nenek moyang dan masih
menjadi pegangan untuk generasi saat ini. Sipakalebbi artinya saling
menghargai. Demi menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, orang Makassar
menerapkan sifat saling memuji dan menghargai sesama manusia.
Seperti yang diketahui, manusia memiliki hati nurani
yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan dan senang dengan
keindahan seperti pujian. Seperti mengungkapkan atau mengakui kelebihan orang
lain. Akan tetapi menutup mata terhadap kekurangan orang lain.
5. Sipakainge
Sipakainge salah satunya adalah prinsip hidup yang
dijunjung tinggi oleh orang Makassar. Prinsip dari leluhur yang mengajarkan
sifat saling mengingatkan sesama manusia. Pasalnya, manusia sering kali lalau
atau lupa akan suatu hal. Sehingga disebutkan bahwa sudah seharusnya manusia
saling mengingatkan satu sama lain.
Tidak hanya itu, dalam sebuah jurnal Universitas Islam
Negeri Alauddin Makassar dengan judul "Internalisasi Budaya Sipakatau,
Sipakainge, Sipakalebbi, dan pammali pada kegiatan operasional perusahaan dalam
upaya peningkatan efektivitas sistem pengendalian internal", juga
disebutkan bahwa prinsip Sipakainge berguna untuk memberikan masukan kepada
orang lain. Baik itu kritik maupun saran yang membangun.
6. Siri na Pacce
Bagi masyarakat suku Makassar, siri perlu ditegakkan
dalam meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Melansir laman
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, secara harfiah, sirik artinya malu
atau kehormatan. Kata siri' ini juga disertai dengan pacce, yang berarti pedih
dan perih yang mendalam ketika melihat penderitaan orang lain.
Sirik na Pacce diibaratkan satu mata uang dengan dua
sisi yang saling melengkapi. Hal tersebut merupakan konsep ideal dalam berperilaku
dan menentukan pola pikir. Sirik na Pacce dijunjung tinggi oleh orang Makassar.
Pasalnya Sirik na Pacce dapat dijadikan sebagai barometer penilaian terkait
seseorang tersebut layak tidaknya disebut manusia.
7. Kareso
Terakhir, prinsip hidup orang Makassar adalah kareso.
Kareso memiliki arti kerja keras. Kerja keras merupakan salah satu prinsip yang
masih ditanamkan oleh orang Makassar. Dipercaya oleh para leluhur, jika prinsip
tersebut dipegang teguh dan dilaksanakan, maka yang diinginkan akan tercapai.
Berikut prinsip Kareso Tamatappuk dijelaskan dalam
sebuah ungkapan:
Akbulo sibatangpakik
Na mareso tamatappuk
Na nampak niak
Sannang la ni pusakai
Artinya:
Hanya dengan persatuan
Disertai kerja keras
barulah kebahagiaan tercapai
8. Ejapi Na Doang
Mengutip dalam jurnal Universitas Muhammadiyah
Makassar yang berjudul "Telaah Makna Peribahasa dalam Bahasa
Makassar", salah satu prinsip yang dipegang oleh orang Makassar adalah
"Ejapi na Doang". Yang artinya nanti kalau sudah berwarna merah baru
disebut udang.
Petuah ini mengajarkan bahwa seseorang tidak dapatt
dipercaya hanya dengan ucapan saja, namun harus disertai dengan tindakan. Tanpa
bukti, seseorang tidak bisa dipercaya perkataannya.
9. Kualleangi Tallanga na Toalia
Adapun prinsip hidup lain yang dipegang teguh oleh
orang Makassar yaitu kualleangi tallanga na toalia. Dilansir jurnal Universitas
Gadjah Mada Jogjakarta yang berjudul "Pemaknaan Self pada Orang
Bugis-Makassar", kualleangi tallanga na toalia berarti lebih baik
tenggelam di lautan daripada kembali ke pantai.
Berarti orang Makassar lebih memilih mati berkalangan
tanah daripada hidup menanggun malu. Dalam hal ini, orang Makassar harus
memiliki sifat pantang menyerah sebelum niatnya tercapai apapun resikonya.
Ungkapan "pantang pulang sebelum sukses"
sangat lekat dengan filosofi suku Bugis-Makassar, yaitu Siri' na Pacce. Ini
adalah kompas moral yang menjunjung tinggi harga diri (siri') dan
solidaritas/kerja keras (pacce atau pesse). Nilai ini menjadi pendorong utama
semangat merantau (meru) dan daya juang tinggi masyarakat di Sulawesi Selatan.
Makassar, 10 Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar