Translate

Kamis, 09 Juli 2026

Siri' na Pacce Falsafah Hidup Suku Makassar

 

Siri' Na Pacce adalah falsafah hidup Suku Makassar yang mengikat moral, martabat, dan solidaritas sosial. Secara harfiah berarti rasa malu dan pedih, falsafah ini mengajarkan bahwa hilangnya harga diri (siri') membuat manusia tak ada bedanya dengan hewan, sementara rasa pedih (pacce) mendorong tolong-menolong dalam masyarakat. 





-----

Jum'at, 10 Juli 2026



Siri' na Pacce Falsafah Hidup Suku Makassar

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan) 

 

Siri' Na Pacce adalah falsafah hidup Suku Makassar yang mengikat moral, martabat, dan solidaritas sosial. Secara harfiah berarti rasa malu dan pedih, falsafah ini mengajarkan bahwa hilangnya harga diri (siri') membuat manusia tak ada bedanya dengan hewan, sementara rasa pedih (pacce) mendorong tolong-menolong dalam masyarakat. Nilai luhur ini dibagi menjadi dua prinsip utama:

1. Siri' (Harga Diri dan Kehormatan): Siri' adalah benteng pertahanan moral, harga diri, dan rasa malu yang mulia. Dalam budaya masyarakat Bugis-Makassar, siri' berfungsi sebagai kompas moral agar individu bertindak jujur, bertanggung jawab, serta pantang menyerah. Pelanggaran terhadap norma adat atau keluarga—seperti melakukan kejahatan atau merendahkan martabat—dianggap memalukan atau "membawa siri'".

2. Pacce (Solidaritas dan Empati): Jika siri' berkaitan dengan kehormatan diri sendiri, maka pacce (atau pesse) berkaitan dengan rasa iba dan kepedulian terhadap sesama. Pacce mengajarkan rasa persaudaraan dan solidaritas kemanusiaan. Prinsip ini menuntut seseorang untuk ikut merasakan penderitaan orang lain, yang diwujudkan dalam bentuk tolong menolong, gotong royong atau saling membantu saat ada kerabat atau tetangga yang tertimpa musibah.

Suku Makassar percaya bahwa seseorang yang seutuhnya memiliki Siri' Na Pacce akan dihormati oleh lingkungannya.

Konsep Siri' na Pacce yang menjadi pedoman moral, harga diri, dan solidaritas sosial. Falsafah ini menyatukan keteguhan prinsip dengan kepedulian terhadap sesama. Nilai ini mengatur keseimbangan antara sikap tegas menjaga kehormatan dan kepekaan peduli terhadap sesama.

Filosofi ini berakar pada dua unsur utama:

Pertama; Siri’ (Harga Diri/Malu): Konsep moral yang berarti malu melakukan perbuatan tercela (seperti mencuri atau menipu). Jika martabat seseorang atau keluarganya dilecehkan, mereka berkewajiban untuk membela dan mempertahankannya.

Kedua; Pacce (Empati/Solidaritas): Rasa kemanusiaan, kepedulian, dan rasa sakit yang mendalam saat melihat penderitaan orang lain. Sikap ini mendorong semangat rela berkorban, gotong royong, dan membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Dalam praktiknya, Siri’ na Pacce mengajarkan bahwa manusia yang tidak memiliki rasa malu dan iepedulian tidak layak disebut manusia. Kedua nilai ini saling melengkapi: Siri’ menjaga harkat dan martabat (integritas) pribadi agar tidak egois, sementara Pacce memastikan seseorang tetap memiliki hati nurani dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

oleh sebab itu, orang yang berbuat meseum atau perselingkuhan secara terbuka, adalah sikap yang meruntuhkan harkat dan martabatnya, karena perbuatan amoral menempatkan diri seperti hewan yang tidak memiliki harga diri. Namun mengumumkan aib sesorang (siri'), adalah perbuatan yang melanggar prinsip hidup suku Makassar (Siri' na Pacce). Karena mengumumkan aib seseorang ke- publik, menunjujkan sikap tidak memiliki sifat empati (pacce).

Sejumlah prinsip hidup orang Makassar yang diturunkan dari leluhur masih dijunjung tinggi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip ini juga membangun karakter orang Makassar dalam menjalani kehidupan.

Prinsip hidup orang Makassar merupakan buah pikirian, pengalaman jiwa serta pertimbangan tentang sifat-sifat yang baik dan buruk dari para leluhur. Prinsip ini juga kerap digunakan sebagai semboyan bagi masyarakat Makassar.

Melansir laman Dinas Pariwisata Kota Makassar, tidak sedikit prinsip hidup orang Makassar yang sering digaungkan. Salah satunya prinsip "sipakatau, sipakainge dan sipakalebbi" yang selalu digemakan.

Untuk mendalami bagaimana falsafah ini diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari dan tatanan adat istiadat setempat, ada baiknya kita pahami 9 prinsip hidup orang Makassar yang dilansir dari detikSulsel.

Berikut ada 9 Prinsip Hidup orang Makassar yang masih dijunjung tinggi hingga kini, yaitu:

1. Teai Mangkasara' punna Bokona Loko'

Melansir jurnal Universitas Negeri Makassar dengan judul "Nilai-Nilai dan Kearifan Lokal Suku Makassar Sebagai Sumber Pendidikan Ekonomi Informal dalam Keluarga", Teai Mangkasara' punna Bokona Loko' adalah salah satu prinsip orang Makassar yang hingga kini masih diterapkan di tengah masyarakat. Artinya, bukan orang Makassar bila punggung belakangnya yang terluka.

Prinsip ini mengajarkan agar dalam menjalani hidup tidak pasrah dengan keadaan. Sebagai orang Makassar, diajarkan untuk pantang lari dari masalah dan apapun yang terjadi harus siap dihadapi. Melalui prinsip hidup ini orang Makassar diajarkan untuk terus berjuang. Menghadapi masalah secara langsung dan menyelesaikannya. Sebuah kegagalan merupakan hal biasa bagi orang Makassar. Justru hal itu dijadikan sebagai cambuk untuk mencoba kembali hingga akhirnya berhasil.

2. A'bulo Sibatang

Prinsip hidup orang Makassar selanjutnya adalah A'bulo Sibatang. Sebuah prinsip solidaritas dan kebersamaan. A'bulo Sibatang artinya sebatang bambu. Dimaknai sebagai suatu kebersamaan yang sangat kuat.

Hal ini dimaknai dari sebuah batang bambu yang memiliki akar yang sangat kuat dan menyebar luas dalam tanah. Sehingga menjadi pondasi yang kuat dalam menopang batang bambu yang   ke permukaan tanah.A'bulo Sibatang yang memiliki batang bambu yang lurus, tidak mudah patah dan lentur. Yang berarti memiliki sifat jujur, teguh dan fleksibel.

3. Sipakatau

Sipakatau artinya memanusiakan manusia. Sebuah prinsip yang masih dipegang teguh hingga saat ini oleh orang Makassar. Konsep Sipakatau telah dijabarkan dalam pancasila yaitu sila ketiga, kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemudian dijadikan prinsip orang terdahulu dengan sebutan Sipakatau.

Prinsip Sipakatau menjadi nilai etika orang Makassar. Prinsip yang dapat diterapkan di segala sektor kehidupan. Sipakatau inilah yang menjadikan kehidupan masyarakat suku Makassar jadi harmonis. Bentuk perwujudan kualitas manusia ialah dengan menghargai manusia lainnya.

4. Sipakalebbi

Prinsip hidup orang Makassar berikutnya adalah Sipakalebbi. Prinsip hidup ini juga diturunkan dari nenek moyang dan masih menjadi pegangan untuk generasi saat ini. Sipakalebbi artinya saling menghargai. Demi menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, orang Makassar menerapkan sifat saling memuji dan menghargai sesama manusia.

Seperti yang diketahui, manusia memiliki hati nurani yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan dan senang dengan keindahan seperti pujian. Seperti mengungkapkan atau mengakui kelebihan orang lain. Akan tetapi menutup mata terhadap kekurangan orang lain.

5. Sipakainge

Sipakainge salah satunya adalah prinsip hidup yang dijunjung tinggi oleh orang Makassar. Prinsip dari leluhur yang mengajarkan sifat saling mengingatkan sesama manusia. Pasalnya, manusia sering kali lalau atau lupa akan suatu hal. Sehingga disebutkan bahwa sudah seharusnya manusia saling mengingatkan satu sama lain.

Tidak hanya itu, dalam sebuah jurnal Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan judul "Internalisasi Budaya Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, dan pammali pada kegiatan operasional perusahaan dalam upaya peningkatan efektivitas sistem pengendalian internal", juga disebutkan bahwa prinsip Sipakainge berguna untuk memberikan masukan kepada orang lain. Baik itu kritik maupun saran yang membangun.

6. Siri na Pacce

Bagi masyarakat suku Makassar, siri perlu ditegakkan dalam meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Melansir laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, secara harfiah, sirik artinya malu atau kehormatan. Kata siri' ini juga disertai dengan pacce, yang berarti pedih dan perih yang mendalam ketika melihat penderitaan orang lain.

Sirik na Pacce diibaratkan satu mata uang dengan dua sisi yang saling melengkapi. Hal tersebut merupakan konsep ideal dalam berperilaku dan menentukan pola pikir. Sirik na Pacce dijunjung tinggi oleh orang Makassar. Pasalnya Sirik na Pacce dapat dijadikan sebagai barometer penilaian terkait seseorang tersebut layak tidaknya disebut manusia.

7. Kareso

Terakhir, prinsip hidup orang Makassar adalah kareso. Kareso memiliki arti kerja keras. Kerja keras merupakan salah satu prinsip yang masih ditanamkan oleh orang Makassar. Dipercaya oleh para leluhur, jika prinsip tersebut dipegang teguh dan dilaksanakan, maka yang diinginkan akan tercapai.

Berikut prinsip Kareso Tamatappuk dijelaskan dalam sebuah ungkapan:

Akbulo sibatangpakik

Na mareso tamatappuk

Na nampak niak

Sannang la ni pusakai

Artinya:

Hanya dengan persatuan

Disertai kerja keras

barulah kebahagiaan tercapai

8. Ejapi Na Doang

Mengutip dalam jurnal Universitas Muhammadiyah Makassar yang berjudul "Telaah Makna Peribahasa dalam Bahasa Makassar", salah satu prinsip yang dipegang oleh orang Makassar adalah "Ejapi na Doang". Yang artinya nanti kalau sudah berwarna merah baru disebut udang.

Petuah ini mengajarkan bahwa seseorang tidak dapatt dipercaya hanya dengan ucapan saja, namun harus disertai dengan tindakan. Tanpa bukti, seseorang tidak bisa dipercaya perkataannya.

9. Kualleangi Tallanga na Toalia

Adapun prinsip hidup lain yang dipegang teguh oleh orang Makassar yaitu kualleangi tallanga na toalia. Dilansir jurnal Universitas Gadjah Mada Jogjakarta yang berjudul "Pemaknaan Self pada Orang Bugis-Makassar", kualleangi tallanga na toalia berarti lebih baik tenggelam di lautan daripada kembali ke pantai.

Berarti orang Makassar lebih memilih mati berkalangan tanah daripada hidup menanggun malu. Dalam hal ini, orang Makassar harus memiliki sifat pantang menyerah sebelum niatnya tercapai apapun resikonya.

Ungkapan "pantang pulang sebelum sukses" sangat lekat dengan filosofi suku Bugis-Makassar, yaitu Siri' na Pacce. Ini adalah kompas moral yang menjunjung tinggi harga diri (siri') dan solidaritas/kerja keras (pacce atau pesse). Nilai ini menjadi pendorong utama semangat merantau (meru) dan daya juang tinggi masyarakat di Sulawesi Selatan.

 

 

Makassar, 10 Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar