-----
Sabtu, 26 Juli 2026
Indonesia Diatas Meja Politik Transaksional
Kata Pengantar
Pertama-tama saya mengungkapkan rasa kebahagiaan bathin yang tidak bisa diukur dengan materi dan rasa syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan pertolongannya memberi inspirasi dan bisikan hati, instuisi, serta gagasan yang tiba-tiba muncul menggerakkan pikiran hamba sehingga bisa menulis. Tulisan dalam buku ini adalah kumpulan opini, yang merupakan gambaran kepedulian penulis atas kondisi ekonomi dan politik nasional, yang dibangun diatas meja politik transaksional oleh para elit politik bersama kelompok pemilik modal (investor). Dan berupaya memberikan pencerahan kepada public, agar masyarakat umum yang kebanyakan buta politik dapat cerdas membaca kondisi bangsanya sehingga bisa menjadi msyarakat yang melek politik. Tulisan ini juga diperuntukkan untuk melawan propaganda New Komunis dan kaum islamiphobia, yang menggerakkan para influencer dan buzzer-buzzer bayaran untuk melemahkan kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka melancarkan politik adu domba atau membenturkan antar kelompok tertentu khususnya kelompok muslim garis lurus, selanjutnya menyusun strategi pendekatan melalui bantuan sosial dan kepentingan politik agar lebih muda ditakukkan.
Buku yang sedang anda baca ini sekedar bacaan ringan bukanlah buku yang “full” ilmiah hasil penelitian, tetapi kumpulan opini penulis atas lunturnya moral, integritas, dan etika politik para elit dan pimpinan parpol, yang rela menggadaikan kedaulatan rakyat dan bangsanya melalui politik transaksional, demi kepentingan politik dan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Buku saku politik ini, dimaksudkan lebih mengenal system politik traksasional yang diterapkan oleh kekompok oligarki dalam mengendalikan politik dan system pemerintahan Indonesia, yang sangat bertentangan dengan sistem demokrasi Pancasila.
Lewat buku ini diharapkan bisa memberikan pencerahan dan kesadaran politik bagi masyaraka luas agar tidak selalu menjadi objek permainan politik dalam era penjajahan modern sekarang ini, yaitu era politik pecah belah lalu kuasai (Devide et impera). Sebab praktik sejarah yang paling terkenal dari taktik ini diterapkan dinusantara oleh kongsi dagang VOC dan pemerintah colonial Belanda. Mereka mengeksploitasi perbedaan suku, agama, dan budaya untuk mengadu domba kerajaan-kerajaan local. Beberapa contoh sejarah, meliputi: Komplik Kerajaan Mataram: Belanda memanfaatkan intrik internal hingga kerajaan terbagi menjadi empat wilayah. Perang Makassar: VOC memecah belah dan menaklukkan Kerajaan Gowa pada tahun 1669. Perang Jawa (Diponegoro): Menggunakan strategi hasutan dan memanipulasi tokoh-tokoh local.
Hal ini sangat penting dipahami oleh masyarakat agar makin cerdas membaca politik globalisasi, karena sejarah sepertinya akan terulang, dimana masyarakat diadu domba untuk menghindari bersatunya kekuatan politik nasional agar negara industry (pemiik modal/pinjaman) tetap menguasai potensi dan sumberdaya alam nusantara. Oleh sebab itu, masyarakat sangat perlu disadarkan agar tidak selalu buta politik, karena kebutaan politik berdampak pada posisi bangsa Indonesia yang selalu dikuasai oleh simtem kapitalisme. Buku ini juga banyak terinspirasi dari upaya melawan dan membungkam narasi atau konten negative yang sengaja digiring oleh para influencer dan buzzer-buzer di berbagai platform median social, yaitu aplikasi atau situs web berbasis digital yang memfasilitasi pembuatan, berbagai konten (teks, foto, vodeo), dan interaksi social..
Untuk itu, ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini. Dan ucapan cterimakasih khusus kepada teman-teman media baik media cetak maupun media online, yang telah menerbitkan opini-opini penulis yang terangkum dalam buku yang berjudul “Indonesia Diatas Meja Politik Transaksional.”
Seoga buku ini dapat memberi manfaat dalam khzanah bacaan tentang hukum dan politik dengan tetap mengingat ”Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna.” Yang berarti, segala sesuatu tidak ada yang sempurna, pasti ada cacatnya dan setiap kita pasti pernah melakukan kesalahan.
Penulis,
Drs. Achmad Ramli Karim, SH.,MH
Daftar Isi
1. Indonesia Dalam Genggaman Kapitalis ……………………......... 1
2. Presidential Threshold Kepentingan Politik Transaksional . ..... 7
3. Indonesia Krisis Kepemimpinan dan Degradasi Moral ……...... 13
4. Menakar Hukum dan Demokrasi Pancasila Lewat Kekuasaan ...17
5. Praktik Politik Menjadikan Indonesia Negara Kapitalis ……… 24
6. Jangan Belokkan Jalan Sejarah Nusantara ……………………. 30
7. Kebijakan Publik dan Politik Ototritarian …………………….. 39
8. Era Nadiem Kebija Pendidikan Paling Amburadul …………... 44
9. Kepres 17/2022 Menyudutkan TNI Mengulang Sejarah Fitnah ..48
10. TNI adalah Benteng Terakhir Idiologi Pancasila …………….. 53
11. Hak Inisiatif DPR Melumpuhkan MK & KPK ………………. 56
12. Pemimpin Bertauhid Semua Golongan Terlindungi …………..59
13. Operasi Senyap Imigran Berkedok TKA Cina di Indonesia ….. 61
14. Pahlawan Surabaya Idolaku Anti Islamophobia ……………… 66
15. Para Koruptor Memilih Aman Berlindung di Singapura ………71
16. Pemimpin Harus Mampu Membangun Peradaban Bangsa …… 75
17. Kelemahan Pemilu Sistem Proporsional Terbuka Dan Tertutup 80
18. Islamofobia dan Ancaman Sekularisasi di Indonesia ………… 84
19. Presidential Threshold dan Politik Transaksional Anti Demokrasi 88
20. Das Sein Das Sollen Antara Politik & Kekuasaan Kontradiktif …..93
21. Proyek Sekularisasi Dibalik Isu Politik Identitas …………………99
22. UU Jika Tidak Dibarengi Moralitas Hukum Akan Hampa ………105
23. Menunda Pilkada Diluar Darurat Sipil Menghianati Kedaulatan Rakyat 110
24. Politik Identitas & Strategi Pecah Belah Kaum Kapitalis……………… 119
25. PN Memutus Tunda Pemilu Dalam Yurisdiksi PTUN …………………. 122
26. Membangun Tanpa Idealisme Menghidupkan Kekuatan Azazil ………. 126
27. Proyek Tunda Pemilu Rekayasa Politik & Kudeta Konstitusi …………. 130
28. Resolusi PBB Anti Islamophobia Menyadarkan Masyarakat Global ……133
29. Komunisme Bangkit Lewat Regulasi dan Amandemen UUD …………. 137
30. Pancasila Lahir Menjadi Perisai Ketahanan Bangsa …………………… 145

Tidak ada komentar:
Posting Komentar