Undang-undang perlindungan anak ikut mempengaruhi sikap dan peran guru disatuan pendidikan, dimana guru pada umumnya hanya mengutamakan mengajar dan tidak lagi mendidik atau menanamkan charakter building untuk menghindari unsur tindak pidana. Indikasi ini dikaitkan dengan maraknya kasus perundungan (bullying) dan perkelahian antar siswa di era digitalisasi sekarang ini. Hal ini menunjukkan bahwa ruh pendidikan mulai sirna dalam dunia pendidikan.
Hilangnya Ruh Pendidikan Anak Secara Holistik
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Undang-undang perlindungan anak ikut mempengaruhi sikap dan peran guru disatuan pendidikan, dimana guru pada umumnya hanya mengutamakan mengajar dan tidak lagi mendidik atau menanamkan charakter building untuk menghindari unsur tindak pidana. Indikasi ini dikaitkan dengan maraknya kasus perundungan (bullying) dan perkelahian antar siswa di era digitalisasi sekarang ini. Hal ini menunjukkan bahwa ruh pendidikan mulai sirna dalam dunia pendidikan.
"Ruh pendidikan" merujuk pada jiwa, esensi, atau nilai-nilai fundamental yang seharusnya menghidupi proses pendidikan, seperti pembentukan karakter (adab), akhlak mulia, keikhlasan, dan spiritualitas, yang seringkali melampaui sekadar transfer ilmu kognitif atau kecerdasan akal, dan kini dikaitkan dengan semangat transformasi digital melalui platform seperti "Rumah Pendidikan" Kemendikbud. Ini tentang bagaimana pendidikan menanamkan nilai-nilai luhur untuk menciptakan insan paripurna, seimbang antara akal, jiwa, dan raga.
Adapun makna "Ruh Pendidikan" Meliputi: (1) Nilai Spiritual & Karakter: Pendidikan yang membentuk akhlak, keikhlasan, dan ketakwaan kepada Tuhan YME, seringkali bersumber dari nilai agama dan kearifan lokal. (2) Proses Menanamkan Adab: Mengembalikan esensi pendidikan sebagai penanaman adab, yaitu kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. (3) Transformasi Digital: Platform seperti "Rumah Pendidikan" dari Kemendikbud juga bisa disebut sebagai "ruh" baru pendidikan yang mengusung digimeluncurk Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan kurikulum ini sebagai ruh pendidikan, menekankan kasih sayang dalam pembelajaran (Kurikulum Berbasis Cinta).
Karakter adalah sifat, watak, dan kepribadian yang dimiliki oleh setiap orang. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter itu sendiri merupakan suatu sikap, akhlak, dan budi pekerti seseorang yang baik terhadap Tuhan, terhadap dirinya sendiri, serta terhadap sesama manusia.
Character Building atau yang biasa kita sebut Pembangunan Karakter adalah suatu proses penanaman nilai-nilai sikap dan perilaku positif pada diri seorang individu. Tujuannya adalah untuk mengembangkan prinsip-prinsip moral dan etika, keterampilan sosial, serta kualitas pribadi yang membantu kita menjadi orang yang berkualitas, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, berempati, dan berwawasan luas.
Character Building atau pembangunan karakter memiliki peran penting dalam membangun, memperbaiki, dan membentuk kebiasaan, moral, akhlak, dan sifat sosial manusia untuk mewujudkan tingkah laku serta budi pekerti yang baik.
Konsep dan Nilai-nilai yang Terkandung dalam Character Building
Membangun Karakter . Character Building bertujuan untuk membangun karakter seseorang agar memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik:
1). Moral dan Etika; Character Building bertujuan untuk membentuk moral dan etika yang baik pada seseorang, seperti jujur, Integritas, dan tanggung jawab.
2). Kemandirian; Character Building berarti mendorong kemandirian dan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab atas sesuatu yang telah dilakukan.
3). Kepemimpinan; Character Building dapat mengembangkan kemampuan untuk memimpin dengan menjadi teladan, menginspirasi orang lain, dan mengambil inisiatif.
4). Nilai-nilai Pancasila; Character Building berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila yang menjadi landasan moral bagi Masyarakat Indonesia. Nilai-nilai tersebut meliputi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan.
Pembangunan karakter di lingkungan keluarga, memberikan teladan yang baik. Orang tua harus menunjukkan sikap dan perilaku yang baik seperti jujur, tanggung jawab, dan disiplin agar anak bisa ikut mencontohkan apa yang dilakukan oleh orang tua. Orang tua harus membangun komunikasi yang baik dengan anak agar anak merasa nyaman dan memiliki keberanian untuk berbicara tentang masalah dan perasaannya
Memberikan Penghargaan. Saat anak melakukan hal kecil atau besar, orang tua bisa memberikan pujian atau sanjungan agar anak merasa dihargai dan ingin berbuat lebih baik.
Peran Character Building dalam Masyarakat
Penanaman character building dalam masyarakat sangat penting dan urgen, karena berfungsi untuk: (1) Membentuk karakter yang baik; Hal ini bertujuan untuk membentuk masyarakat yang berbudi pekerti dan rajin berkontribusi dalam lingkungan sekitar. (2) Meningkatkan kualitas SDM; Dengan memiliki karakter yang kuat dan baik, individu akan menjadi SDM yang berkualitas, mampu beradaptasi dan berkontribusi di berbagai bidang, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan negara. (3) Membangun Masyarakat yang Harmonis; Character Building mengacu pada sikap positif yang ditanam dalam diri sendiri dan orang lain seperti empati, kerja sama, dan toleransi. Dengan karakter tersebut, masyarakat akan menciptakan lingkungan yang harmonis.
Tantangan dalam Membangun Character Building
Orientasi Pendidikan yang masih mengutamakan aspek keberhasilan daripada kognitif, sehingga Pendidikan belum menjadi prioritas utama. Praktek Pendidikan yang masih menggunakan metode konvensional, sehingga kurang memperhatikan aspek karakter. Kurangnya dukungan dari orang tua dan masyarakat dalam pembentukan karakter. Maraknya budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat dan mengancam karakter bangsa
Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya kualitas personalisasi. Selain itu, karakter pendidikan harus diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran di sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan model pembelajaran pembentukan karakter yang membantu siswa menghadapi dunia luar sekolah, dunia kerja, lingkungan masyarakat, dan lingkungan pertemanan. Dengan demikian, bangsa Indonesia akan mampu mengembangkan karakter yang sesuai dengan Pancasila dan mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan lebih baik.
Di era globalisasi saat ini, pembangunan karakter semakin penting untuk pengembangan diri. Hal ini karena karakter yang baik dapat membantu seseorang mengatasi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap orang untuk memperhatikan pendidikan karakter dalam proses pengembangan diri. Melalui pembangunan karakter, kami berharap dapat menciptakan masyarakat yang baik dengan karakter dan integritas yang positif.
Mengapa "Ruh Pendidikan" Penting
"Ruh Pendidikan" Adalah jiwa, esensi, atau nilai-nilai fundamental yang seharusnya menghidupi proses pendidikan itu sendiri. Sementara di era globalisasi dan digitalisasi sekarang yang mengedepankan kebebasan individu, ruh pendidikan itu bukan saja memudar tetapi berangsur-angsur sirna akibat pengaruh materialisme dan kebebasan HAM. Ruh Pendidikan itu sangat penting, untuk menciptakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual (akal) dan kecerdasan spiritual (ruh). Menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berakhlak mulia dan berkarakter kuat.
Menjadi fondasi bagi kualitas bangsa, karena kualitas pendidikan menentukan kualitas bangsa. Intinya, "ruh pendidikan" adalah semangat dan substansi mendalam di balik proses belajar mengajar, memastikan pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiawikan dan membentuk insan yang beradab.
Aspek-aspek terpenting yang terkandung dalam pendidikan mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang bertujuan untuk mengembangkan individu secara holistik. Berikut adalah aspek-aspek utama tersebut:
1. Aspek Kognitif (Pengetahuan dan Intelektual)
Ini berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir, pemahaman, dan pengetahuan. Aspek ini mencakup: (1) Akuisisi Pengetahuan: Memperoleh fakta, informasi, dan teori dari berbagai disiplin ilmu. (2) Keterampilan Berpikir Kritis: Kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara objektif. (3) Pemecahan Masalah: Menggunakan pengetahuan dan logika untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan tantangan atau masalah. (4) Kreativitas dan Inovasi: Mengembangkan cara berpikir baru dan menghasilkan ide-ide orisinal.
2. Aspek Afektif (Sikap dan Nilai)
Aspek ini berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, etika, dan perkembangan moral. Ini sangat penting untuk interaksi sosial dan pembentukan karakter, meliputi: (1) Pendidikan Karakter dan Etika: Menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, dan empati. (2) Pengembangan Sikap Positif: Memupuk motivasi, kepercayaan diri, dan sikap terbuka terhadap pembelajaran dan keragaman. (3) Kecerdasan Emosional: Memahami dan mengelola emosi diri sendiri serta mengenali emosi orang lain. (4) Wawasan Sosial: Membangun kesadaran akan peran seseorang dalam masyarakat dan mempromosikan kewarganegaraan yang aktif dan bertanggung jawab.
3. Aspek Psikomotorik (Keterampilan Fisik dan Praktis)
Aspek ini melibatkan koordinasi fisik, keterampilan teknis, dan kemampuan praktis yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari dan karier, seperti: (1) Keterampilan Motorik: Pengembangan koordinasi mata-tangan, keseimbangan, dan ketangkasan fisik (misalnya, dalam olahraga atau seni). (2) Keterampilan Praktis/Vokasional: Kemampuan menggunakan alat, mengoperasikan mesin, atau melakukan tugas-tugas spesifik yang relevan dengan pekerjaan atau kehidupan sehari-hari. (3) Kesehatan dan Kebugaran: Memahami pentingnya gaya hidup sehat dan aktivitas fisik untuk kesejahteraan jangka panjang.
4. Aspek Keterampilan Abad ke-21
Di zaman modern, beberapa aspek baru menjadi krusial, antara lain: (1) Kolaborasi dan Komunikasi: Kemampuan bekerja sama dalam tim dan menyampaikan ide secara efektif. (2) Literasi Digital: Keterampilan menggunakan teknologi informasi dan media digital secara efektif dan etis. (3) Adaptabilitas dan Fleksibilitas: Kesiapan untuk belajar hal-hal baru dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang cepat.
Secara keseluruhan, pendidikan yang ideal harus menyeimbangkan semua aspek ini untuk menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara emosional, terampil secara praktis, dan siap menjadi anggota masyarakat yang produktif dan beretika.
Kesimpulan
Sikap dan peran guru mulai bergeser sejak diberlakukannya undang-undang perlindungan anak, dimana guru pada umumnya hanya mengutamakan mengajar dan tidak lagi mendidik atau menanamkan charakter building untuk menghindari unsur tindak pidana. Indikasi ini dikaitkan dengan maraknya kasus perundungan (bullying) dan perkelahian antar siswa.
Character Building atau pembangunan karakter memiliki peran penting dalam membangun, memperbaiki, dan membentuk kebiasaan, moral, akhlak, dan sifat sosial manusia untuk mewujudkan tingkah laku serta budi pekerti yang baik (ruh pendidikan). Oleh karena itu "Ruh Pendidikan" Sebagai jiwa, esensi, atau nilai-nilai fundamental, seharusnya menghidupi proses pendidikan itu sendiri.
Sementara di era globalisasi dan digitalisasi sekarang ini, konsep pendidikan modern mengedepankan kebebasan individu yang dilandasi oleh HAM dan nilai-nilai sekuler. Akibatnya ruh pendidikan itu bukan saja memudar tetapi berangsur-angsur sirna akibat pengaruh materialisme dan kebebasan HAM. Ruh Pendidikan itu sangat penting, untuk menciptakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual (akal) dan kecerdasan spiritual (ruh), untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berakhlak mulia dan berkarakter kuat.
Makassar, 18 Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar