Translate

Sabtu, 20 Desember 2025

Kedaulatan Ekonomi Terpasung Ulah Musuh dalam Selimut

Kedaulatan ekonomi adalah kemampuan suatu negara untuk mengendalikan perekonomiannya sendiri, membuat keputusan ekonomi secara mandiri, dan mengelola sumber daya nasional untuk kepentingan bangsa tanpa campur tangan asing, yang bertujuan untuk mencapai kemandirian, kesejahteraan rakyat, dan mengatasi masalah kemiskinan serta pengangguran, melalui kebijakan seperti penguatan industri dalam negeri, diversifikasi ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam secara adil.






 


Kedaulatan Ekonomi Terpasung Ulah Musuh dalam Selimut

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Kedaulatan ekonomi adalah kemampuan suatu negara untuk mengendalikan perekonomiannya sendiri, membuat keputusan ekonomi secara mandiri, dan mengelola sumber daya nasional untuk kepentingan bangsa tanpa campur tangan asing, yang bertujuan untuk mencapai kemandirian, kesejahteraan rakyat, dan mengatasi masalah kemiskinan serta pengangguran, melalui kebijakan seperti penguatan industri dalam negeri, diversifikasi ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam secara adil.

Namun sangat disayangkan bahwa kedaulatan ekonomi Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir, terpasung karena ulah musuh dalam selimut. Dalam pengertian politik, "musuh dalam selimut" (enemy within) merujuk pada individu (pejabat publik) atau kelompok yang terlihat sebagai bagian dari internal kekuasaan, sekutu, atau bahkan pimpinan, namun diam-diam memiliki agenda politik yang bertentangan dengan konstirusi, sabotase, atau berniat menjatuhkan dari dalam, seringkali dengan cara memecah belah, menyebarkan disinformasi, atau mengkhianati kepentingan publik demi keuntungan pribadi atau faksi mereka sendiri. Mereka adalah ancaman yang sulit dideteksi karena posisinya yang strategis dan kepercayaan yang telah diberikan.

Adapun karakteristik Politikus "Musuh dalam Selimut", seperti: (1) Berpura-pura Setia: Sering kali menampilkan kesetiaan dan dukungan di depan publik, tapi di belakang layar melakukan sabotase. (2) Penyabotase Internal: Merusak program, kebijakan, atau koalisi dari dalam, misalnya dengan membocorkan informasi, menolak dukungan, atau menciptakan konflik antar kelompok. (3) Manipulatif: Menggunakan posisi dan kepercayaan publik untuk memanipulasi keputusan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya (faksi). (4) Penyebar Disinformasi: Menyebarkan isu dan opini atau berita palsu (hoax) untuk menciptakan ketidakpercayaan dan perpecahan dari dalam. (5) Menghancurkan dari Dalam: Tujuannya adalah menguasai atau menghancurkan organisasi/partai/pemerintahan dari dalam, daripada dari luar.

Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, telah mengungkapkan berbagai modus kejahatan di bidang kepabeanan dan memberikan ancaman reformasi drastis jika Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tidak berbenah. Purbaya tidak secara pribadi "mengungkap" kasus-kasus tunggal dalam kapasitas penegakan hukum, melainkan membeberkan praktik curang secara sistemik dan mendorong penindakan.

Beberapa hal utama yang diungkap dan disoroti oleh Menkeu Purbaya, meliputi: (1). Modus Penghindaran Bea Keluar: Purbaya membeberkan empat modus yang digunakan eksportir untuk menghindari kewajiban bea keluar komoditas, yang merugikan keuangan negara. (2). Akal-akalan Importir Pakaian Bekas (Balpres): Ia membongkar praktik licik importir balpres (pakaian bekas) yang tidak pernah membayar pajak dan melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) nol, meskipun aktivitasnya marak. (3). Ancaman Pembekuan Instansi: Purbaya mengancam akan membekukan DJBC dan merumahkan belasan ribu pegawainya jika reformasi internal gagal, mencontoh kebijakan era Orde Baru yang menggunakan jasa perusahaan swasta Swiss untuk pengawasan kepabeanan. (4). Keterlibatan Oknum Internal: Ia menegaskan akan menindak tegas pejabat atau pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan dan Bea Cukai yang terlibat dalam praktik ilegal, seperti impor rokok ilegal. Dukungan Penegakan Hukum Eksternal: Purbaya menyambut baik penggeledahan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung di kantor Bea Cukai terkait dugaan korupsi, menunjukkan komitmennya terhadap pemberantasan korupsi di instansi tersebut.

Purbaya lebih dikenal karena sikap kerasnya dalam mendorong reformasi dan pengawasan internal di Bea Cukai daripada mengumumkan penangkapan spesifik, yang biasanya menjadi wewenang aparat penegak hukum (Polri, Kejaksaan, atau penyidik internal DJBC). Ia ingin citra Bea Cukai yang sering dianggap "sarang pungutan liar" bisa diperbaiki. Sepertinya Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ingin mewujudkan target dan cita-cita Presiden Prabowo Subianto, untuk mewujudkan pemerintahan Merah Putih yang bersih dari unsur KKN dan korupsi. Yaitu; "Good governance" (tata kelola pemerintahan yang baik) adalah konsep manajemen publik yang menekankan pada transparansi, akuntabilitas, partisipasi, supremasi hukum, efektivitas, efisiensi, dan responsivitas dalam pengelolaan urusan negara untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, melayani, dan membangun pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil.

Pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah pemerintahan yang transparan, akuntabel, bebas KKN, menegakkan hukum, efisien, berorientasi pelayanan, dan partisipatif; intinya, pemerintah yang jujur, bertanggung jawab, tidak korupsi, serta dihormati rakyat karena mampu memberikan pelayanan publik yang baik dan berkeadilan, sesuai aturan, serta mengedepankan kepentingan rakyat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Namun sayang seribu sayang niat dan tekad Presiden tersebut untuk membersihkan NKRI dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), sangat sulit diwujudkan karena kedaulatan ekonomi Indonesia terpasung oleh kekuatan bajak laut (one piece) akibat ulah musuh dalam selimut atau para penghianat babgsa. Sebab mereka telah menggadaikan integritas, moralitas, dan amanah rakyat, demi keuntungan dan kepentingan melalui politik transaksional.

Politik transaksional adalah praktik politik yang didasarkan pada transaksi atau barter timbal balik antara elit politik, pemodal, dan pemilih, di mana ada pemberian dan penerimaan imbalan (materi atau non-materi) untuk mencapai tujuan politik, seperti mendapatkan suara atau kekuasaan, yang sering kali merusak integritas demokrasi dan berpotensi memicu korupsi karena mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok di atas pelayanan publik.

Kedaulatan ekonomi terpasung adalah kondisi di mana suatu negara kehilangan kendali atas kebijakan ekonominya sendiri, sering kali karena ketergantungan yang tinggi pada pihak asing (utang luar negeri, investasi, barang impor), krisis ekonomi berkepanjangan, inflasi ekstrem, atau taktik blokade seperti masa awal kemerdekaan Indonesia yang memaksa negara tunduk pada kepentingan luar dan menghambat pertumbuhan mandiri. Ini membuat negara tidak berdaya menentukan arah ekonomi nasionalnya, terhambat oleh kekuatan eksternal, dan membuat rakyatnya semakin miskin serta bergantung.

 

Manipulasi Komplik Internal Bahagian Politik Adu Domba

 

Strategi utama yang digunakan Belanda sebagai kaum kapitalus untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara, sering digambarkan sebagai taktik "adu domba" atau secara resmi dikenal sebagai Devide et Impera. Strategi ini melibatkan manipulasi konflik internal atau perbedaan di masyarakat untuk memecah belah kekuatan lokal sehingga lebih mudah ditaklukkan dan dikuasai. Dan strategi ini digunakan kembali oleh kapitalis global melalui oligarki, untuk mencegah kekuatan persatuan dengan memanipulasi Komplik internal kelompok masyarakat melalui politik Adu domba.

Berikut adalah mekanisme bagaimana strategi ini diterapkan di Nusantara oleh Belanda dimasa lalu:

1. Memanfaatkan Konflik Internal (Musuh dalam Selimut).

Belanda sering kali mendekati salah satu pihak yang sedang bersengketa dalam sebuah kerajaan untuk menghancurkan pihak lainnya. Aliansi dengan Pihak Lokal: Belanda memberikan dukungan militer atau legitimasi kepada salah satu tokoh atau kelompok agar mereka mau bekerja sama melawan penguasa yang sah atau pesaingnya. Contoh Perang Padri: Di Minangkabau, Belanda mengapitalisasi polarisasi antara kelompok Islam puritan (Kaum Padri) dan kelompok adat (Kaum Adat), yang memicu terjadinya perang saudara dan memudahkan Belanda untuk masuk.

2. Memecah Belah Masyarakat

Taktik ini tidak hanya menyasar para penguasa, tetapi juga struktur sosial masyarakat: Manipulasi Identitas: Belanda memecah belah masyarakat berdasarkan perbedaan etnis, agama, dan kepentingan lokal. Mencegah Persatuan: Strategi ini bertujuan mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi kekuatan besar yang lebih kuat untuk melawan penjajah.

3. Kombinasi Taktik Militer dan Psikologis

Selain adu domba, Belanda menggunakan strategi lain untuk memperkuat cengkeramannya, antara lain: (a) Indirect Rule (Pemerintahan Tidak Langsung): Memanfaatkan elite lokal sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan kolonial. (b) Siasat Benteng Stelsel: Digunakan untuk melumpuhkan pertahanan Pangeran Diponegoro dengan membangun jaringan benteng guna mempersempit ruang gerak lawan. (c) Perang Psikologis: Menggunakan intimidasi, propaganda, dan cara-cara persuasif selain penggunaan alat militer seperti tank dan ranjau darat.

4. Dampak Strategi Devide et Impera

Strategi ini terbukti sangat efektif bagi Belanda karena berhasil menghancurkan soliditas bangsa Indonesia, menyebabkan perang saudara, dan melemahkan perlawanan lokal secara drastis. Dampak sosialnya meliputi hilangnya kepercayaan antar kelompok dan rusaknya hubungan sosial dalam masyarakat.

 

Makassar, 14 Desember 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar