Translate

Kamis, 22 Januari 2026

Kecerdasan Agus Salim Membungkam Mulut Islamophobia

 

Kebencian terhadap islam sudah menjadi tradisi dan ciri khas bagi kaum (bangsa) pemilik modal (kapitalis), dan politik devide et invera adalah senjata ampuh untuk memecah belah kekuatan dan persatuan umat muslim. 






-----

Jum'at, 23 Januari 2026


Kecerdasan Agus Salim Membungkam Mulut Islamophobia

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Kebencian terhadap islam sudah menjadi tradisi dan ciri khas bagi kaum (bangsa) pemilik modal (kapitalis), dan politik devide et invera adalah senjata ampuh untuk memecah belah kekuatan dan persatuan umat muslim. Kebencian ini didasari, karena islam melarang penjajahan, imperealisme serta perdagangan haram, sementara Indonesia berpenduduk mayoritas muslim.

Islamofobia di Indonesia adalah fenomena kompleks yang melibatkan ketakutan, prasangka, atau kebencian terhadap Islam dan Muslim, seringkali dipicu oleh informasi yang bias atau stereotip, dan bermanifestasi dalam bentuk diskriminasi, stigma sosial, hingga isu politik, meskipun ada pandangan yang menyatakan tidak ada Islamofobia masif karena mayoritas Muslim. Namun para ahli mengkhawatirkan dampaknya pada harmonisasi, pendidikan, dan kebebasan berekspresi, sehingga diperlukan literasi, dialog antaragama, dan regulasi untuk mengatasinya. Bukan sebaliknya, melahirkan regulasi yang menghilangkan iman dan taqwa kepada Tuhan YME dalam ketatanegaraan (pemisahan agama dengan negara). Kareha hal itu akan melahirkan sekulerisme dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Politik devide et impera juga disebut politik pecah belah atau politik adu domba, yaitu strategi untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan, seringkali dengan memicu konflik di antara mereka, seperti yang sering dilakukan VOC di Indonesia.

Arti harfiah: Devide et impera dari bahasa Latin berarti "pecah belah dan kuasai". Tujuannya untuk mencapai keuntungan, kekuasaan, atau monopoli dagang dengan memanfaatkan perselisihan yang sudah ada atau sengaja diciptakan di antara pihak-pihak yang berkuasa lokal (kerajaan-kerajaan).

Contoh di Indonesia: Belanda (VOC) menggunakannya untuk melemahkan kerajaan-kerajaan Nusantara, misalnya dengan membantu salah satu pihak yang bertikai untuk mendapatkan wilayah dan hak dagang.

Tapi pernahkah kita bertanya, kenapa para pejuang bangsa bisa membawa nusantata kedalam pintu kemerdekaan bangsa Indonesia?. Itu karena mereka memiliki karakter iman (keyakinan) yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu diaplikasikan serta rela berkorban (nasionalisme) demi bangsa dan negaranya. Bukan rela mengorbankan bangsa dan negaranya, demi kepentingan pribadi atau golongannya.

Masihkah para pemimpin bangsa sekarang, memiliki  karakter iman dan taqwa serta nasionalisme?.

 

Apalagi sikap anti islam (islamopbobia) semakin dipertontonkan secara euphoria, baik dalam  komunikasi sosial maupun dalam tatanan sosial politik. Sikap anti islam ini juga dialami oleh H. Agus Salim dimasa penjajahan dan setelah kemerdekaan NKRI.

Dalam sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, nama Haji Agus Salim selalu dikenang sebagai sosok cendekiawan, diplomat ulung, dan pejuang kemerdekaan yang menjunjung tinggi nilai demokrasi. Semangatnya dalam memperjuangkan keadilan, moralitas, dan kebebasan berpikir menjadi inspirasi bagi bangsa hingga kini, termasuk dalam kehidupan politik modern Indonesia.

Kehidupan dan Perjuangan Awal Haji Agus Salim

Haji Agus Salim lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan menguasai banyak bahasa asing, termasuk Inggris, Belanda, Jerman, dan Arab. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan semangat keislamannya membentuk kepribadian yang moderat dan terbuka terhadap perbedaan.

Setelah menamatkan pendidikan di Hoogere Burgerschool (HBS), ia menolak bekerja di pemerintahan kolonial dan memilih berjuang untuk kemerdekaan bangsa melalui jalan politik dan pendidikan.

Peran Haji Agus Salim dalam Perjuangan Kemerdekaan

Sebagai tokoh Sarekat Islam dan anggota Volksraad, Haji Agus Salim aktif menyuarakan hak-hak rakyat Indonesia di hadapan pemerintah kolonial Belanda. Ia juga dikenal sebagai diplomat tangguh yang berhasil memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di dunia internasional.

Dalam sidang-sidang diplomatik, Haji Agus Salim menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan luar biasa. Ia bukan hanya berjuang dengan senjata, tetapi dengan ide, kata, dan prinsip moral yang kuat. Sikapnya mencerminkan semangat musyawarah dan toleransi yang menjadi fondasi demokrasi Indonesia. Kecerdikan Agus Salim, ditunjukkan ketika bertemu Pangerang Philip dan Tokoh PKI Muso.

Ketika Tembakau Membungkam Mulut Pangeran Philip

Pada acara perjamuan di Westminster Abbey, London tersebut dihadiri banyak tokoh penting dari berbagai negara. Mereka memanfaatkan perayaan itu untuk membangun komunikasi ringan dengan perwakilan-perwakilan dari negara lain. Pada suatu kesempatan, sambil berbincang-bincang santai, Agus Salim menyalakan sebatang rokok yang dibawanya dari Indonesia.

Bukan hanya Agus Salim yang merokok waktu itu, sejumlah tamu undangan juga melakukannya. Namun, rupanya asap rokok yang diisap Agus Salim menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Tidak banyak orang yang akrab dengan baunya. Rokok jenis kretek itu pun seketika mengundang perbincangan.

Ketika asap rokok kretek Agus Salim telah memenuhi ruangan perjamuan, Pangeran Philip, suami Elizabeth II, melakukan protes. Duke of Edinburgh itu keberatan dengan aroma yang tidak mengenakan itu.

“Para hadirin, dari manakan bau yang tidak sedap ini berasal?” tanya Pangeran Philip.

Alih-alih tersinggung, dengan tenang Agus Salim mendekat seraya menjawab: “Yang Mulia, bau tidak sedap itu adalah bau rokok kretek yang sedang saya isap yang dibuat dari tembakau dan cengkeh. Boleh saja Yang Mulia tidak menyukainya. Tapi justru bau inilah yang menarik minat pelaut-pelaut Eropa datang ke negeri kami tiga abad yang lalu.”

Jawaban Agus Salim itu membuat Pangeran Philip terdiam. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Lalu sambil mencoba mencairkan suasana, ia pun meminta seluruh hadirin menikmati acara dan melanjutkan aktifitas yang sedang dilakukan.

Muso Dibungkam Dengan Senjatanya Sendiri

HAJI Agus Salim dan janggutnya adalah satu paket yang tak terpisahkan—sekaligus sasaran empuk bagi lawan politiknya untuk melempar ejekan. Di masa pergerakan, ketika ideologi sedang panas-panasnya beradu di bawah bendera Sarekat Islam (SI), ejekan tak jarang meluncur lebih dulu sebelum argumen dimulai.

Musso, gembong komunis yang dikenal meledak-ledak, pernah mencoba memojokkan Salim dalam sebuah rapat SI. Dengan gaya agitasi yang khas, Musso naik ke atas podium dan melemparkan tanya-jawab retoris kepada hadirin.

"Orang yang berjenggot itu seperti apa?" teriak Musso. "Kambing!" sahut massa kompak. "Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?" "Kucing!"

Musso tersenyum puas. Bidikannya jelas,  Salim yang berjenggut adalah kambing, dan Tjokroaminoto yang berkumis tebal adalah kucing. Namun, Salim bukanlah lawan yang mudah dikuliti. Dengan ketenangan seorang diplomat ulung, ia naik ke mimbar setelah Musso turun. Tanpa nada marah, ia menyisir kerumunan dengan tatapan tajamnya.

"Saudara-saudara, tadi ada yang kurang lengkap," ujar Salim tenang. "Lalu, yang tidak berjenggot dan tidak berkumis itu seperti apa?"

Hadirin terdiam. Salim menjawab pertanyaannya sendiri dengan telak: "Anjing." Ruangan seketika riuh. Musso, sang penghasut, justru terjebak dalam perangkap verbal yang ia buat sendiri.

Kelincahan lidah Salim tidak hanya muncul dalam rapat-rapat politik yang kaku. Di atas kapal USS Renville, di tengah ketegangan perundingan antara Indonesia dan Belanda, Salim masih sempat menebar humor satir. Saat itu, dalam kondisi haus yang menyengat, ia meminta minum kepada seorang nona Amerika.

"Hampir saya jatuh pingsan," gurau Salim, merujuk pada rasa hausnya. Si nona Amerika menyambut candaan itu dengan genit, "Kalau nanti Tuan jatuh pingsan, biarlah saya peluk." Tanpa kehilangan ritme, Salim menimpali kalem, "Untuk apa dipeluk kalau saya sudah pingsan?"

Puncak dari "diplomasi kambing" ini terjadi dalam sebuah forum lain. Saat Salim hendak bicara, beberapa orang di kerumunan mencoba melakukan sabotase dengan seruan "mbeek... mbeek..." mengikuti ritme suara kambing. Salim tak lantas memanggil petugas keamanan atau turun dari podium. Ia justru mendekat ke pengeras suara dan membuka pidatonya dengan kalimat yang kini melegenda:

"Para hadirin sekalian... dan kambing-kambing yang terhormat."

Bagi Salim, janggut mungkin menjadikannya bahan olokan, tapi kecerdasannya membuat para pengejeknya terlihat seperti kawanan ternak yang kehilangan arah. Ia membuktikan bahwa di tangan seorang intelektual, humor bukan sekadar bahan tawa, melainkan senjata paling mematikan untuk membungkam lawan tanpa perlu mengangkat suara.

Iman dan taqwa wajib dibarengi dengan kecerdasan dan melek politik, agar tidak selalu menjadi kelinci percobaan ibarat ikan dalam kolam yang selalu bentrok jika airnya diaduk atau dikeruhkan.

 

 

Makassar, 23 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar