Kebencian terhadap islam sudah menjadi tradisi dan ciri khas bagi kaum (bangsa) pemilik modal (kapitalis), dan politik devide et invera adalah senjata ampuh untuk memecah belah kekuatan dan persatuan umat muslim.
-----
Jum'at, 23 Januari 2026
Kecerdasan Agus Salim Membungkam Mulut Islamophobia
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Kebencian terhadap islam sudah menjadi tradisi dan
ciri khas bagi kaum (bangsa) pemilik modal (kapitalis), dan politik devide et
invera adalah senjata ampuh untuk memecah belah kekuatan dan persatuan umat
muslim. Kebencian ini didasari, karena islam melarang penjajahan, imperealisme
serta perdagangan haram, sementara Indonesia berpenduduk mayoritas muslim.
Islamofobia di Indonesia adalah fenomena kompleks yang
melibatkan ketakutan, prasangka, atau kebencian terhadap Islam dan Muslim,
seringkali dipicu oleh informasi yang bias atau stereotip, dan bermanifestasi
dalam bentuk diskriminasi, stigma sosial, hingga isu politik, meskipun ada
pandangan yang menyatakan tidak ada Islamofobia masif karena mayoritas Muslim.
Namun para ahli mengkhawatirkan dampaknya pada harmonisasi, pendidikan, dan
kebebasan berekspresi, sehingga diperlukan literasi, dialog antaragama, dan
regulasi untuk mengatasinya. Bukan sebaliknya, melahirkan regulasi yang
menghilangkan iman dan taqwa kepada Tuhan YME dalam ketatanegaraan (pemisahan
agama dengan negara). Kareha hal itu akan melahirkan sekulerisme dalam sistem
pemerintahan Indonesia.
Politik devide et impera juga disebut politik pecah
belah atau politik adu domba, yaitu strategi untuk mendapatkan dan
mempertahankan kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi
kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan, seringkali dengan memicu
konflik di antara mereka, seperti yang sering dilakukan VOC di Indonesia.
Arti harfiah: Devide et impera dari bahasa Latin
berarti "pecah belah dan kuasai". Tujuannya untuk mencapai
keuntungan, kekuasaan, atau monopoli dagang dengan memanfaatkan perselisihan
yang sudah ada atau sengaja diciptakan di antara pihak-pihak yang berkuasa
lokal (kerajaan-kerajaan).
Contoh di Indonesia: Belanda (VOC) menggunakannya
untuk melemahkan kerajaan-kerajaan Nusantara, misalnya dengan membantu salah
satu pihak yang bertikai untuk mendapatkan wilayah dan hak dagang.
Tapi pernahkah kita bertanya, kenapa para pejuang
bangsa bisa membawa nusantata kedalam pintu kemerdekaan bangsa Indonesia?. Itu
karena mereka memiliki karakter iman (keyakinan) yang kuat kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan mampu diaplikasikan serta rela berkorban (nasionalisme) demi
bangsa dan negaranya. Bukan rela mengorbankan bangsa dan negaranya, demi
kepentingan pribadi atau golongannya.
Masihkah para pemimpin bangsa sekarang, memiliki karakter iman dan taqwa serta nasionalisme?.
Apalagi sikap anti islam (islamopbobia) semakin
dipertontonkan secara euphoria, baik dalam
komunikasi sosial maupun dalam tatanan sosial politik. Sikap anti islam
ini juga dialami oleh H. Agus Salim dimasa penjajahan dan setelah kemerdekaan
NKRI.
Dalam sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia,
nama Haji Agus Salim selalu dikenang sebagai sosok cendekiawan, diplomat ulung,
dan pejuang kemerdekaan yang menjunjung tinggi nilai demokrasi. Semangatnya
dalam memperjuangkan keadilan, moralitas, dan kebebasan berpikir menjadi
inspirasi bagi bangsa hingga kini, termasuk dalam kehidupan politik modern
Indonesia.
Kehidupan dan Perjuangan Awal Haji Agus Salim
Haji Agus Salim lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat,
pada 8 Oktober 1884. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan menguasai banyak
bahasa asing, termasuk Inggris, Belanda, Jerman, dan Arab. Kecintaannya
terhadap ilmu pengetahuan dan semangat keislamannya membentuk kepribadian yang
moderat dan terbuka terhadap perbedaan.
Setelah menamatkan pendidikan di Hoogere Burgerschool
(HBS), ia menolak bekerja di pemerintahan kolonial dan memilih berjuang untuk
kemerdekaan bangsa melalui jalan politik dan pendidikan.
Peran Haji Agus Salim dalam Perjuangan Kemerdekaan
Sebagai tokoh Sarekat Islam dan anggota Volksraad,
Haji Agus Salim aktif menyuarakan hak-hak rakyat Indonesia di hadapan
pemerintah kolonial Belanda. Ia juga dikenal sebagai diplomat tangguh yang
berhasil memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di dunia internasional.
Dalam sidang-sidang diplomatik, Haji Agus Salim
menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan luar biasa. Ia bukan hanya berjuang
dengan senjata, tetapi dengan ide, kata, dan prinsip moral yang kuat. Sikapnya
mencerminkan semangat musyawarah dan toleransi yang menjadi fondasi demokrasi
Indonesia. Kecerdikan Agus Salim, ditunjukkan ketika bertemu Pangerang Philip
dan Tokoh PKI Muso.
Ketika
Tembakau Membungkam Mulut Pangeran Philip
Pada acara perjamuan di Westminster Abbey, London
tersebut dihadiri banyak tokoh penting dari berbagai negara. Mereka
memanfaatkan perayaan itu untuk membangun komunikasi ringan dengan
perwakilan-perwakilan dari negara lain. Pada suatu kesempatan, sambil
berbincang-bincang santai, Agus Salim menyalakan sebatang rokok yang dibawanya
dari Indonesia.
Bukan hanya Agus Salim yang merokok waktu itu,
sejumlah tamu undangan juga melakukannya. Namun, rupanya asap rokok yang diisap
Agus Salim menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Tidak banyak orang yang
akrab dengan baunya. Rokok jenis kretek itu pun seketika mengundang
perbincangan.
Ketika asap rokok kretek Agus Salim telah memenuhi
ruangan perjamuan, Pangeran Philip, suami Elizabeth II, melakukan protes. Duke
of Edinburgh itu keberatan dengan aroma yang tidak mengenakan itu.
“Para hadirin, dari manakan bau yang tidak sedap ini berasal?”
tanya Pangeran Philip.
Alih-alih tersinggung, dengan tenang Agus Salim
mendekat seraya menjawab: “Yang Mulia, bau tidak sedap itu adalah bau rokok
kretek yang sedang saya isap yang dibuat dari tembakau dan cengkeh. Boleh saja
Yang Mulia tidak menyukainya. Tapi justru bau inilah yang menarik minat
pelaut-pelaut Eropa datang ke negeri kami tiga abad yang lalu.”
Jawaban Agus Salim itu membuat Pangeran Philip
terdiam. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Lalu sambil mencoba mencairkan
suasana, ia pun meminta seluruh hadirin menikmati acara dan melanjutkan
aktifitas yang sedang dilakukan.
Muso
Dibungkam Dengan Senjatanya Sendiri
HAJI Agus Salim dan janggutnya adalah satu paket yang
tak terpisahkan—sekaligus sasaran empuk bagi lawan politiknya untuk melempar
ejekan. Di masa pergerakan, ketika ideologi sedang panas-panasnya beradu di
bawah bendera Sarekat Islam (SI), ejekan tak jarang meluncur lebih dulu sebelum
argumen dimulai.
Musso, gembong komunis yang dikenal meledak-ledak,
pernah mencoba memojokkan Salim dalam sebuah rapat SI. Dengan gaya agitasi yang
khas, Musso naik ke atas podium dan melemparkan tanya-jawab retoris kepada
hadirin.
"Orang yang berjenggot itu seperti apa?"
teriak Musso. "Kambing!" sahut massa kompak. "Lalu, orang yang
berkumis itu seperti apa?" "Kucing!"
Musso tersenyum puas. Bidikannya jelas, Salim yang berjenggut adalah kambing, dan
Tjokroaminoto yang berkumis tebal adalah kucing. Namun, Salim bukanlah lawan
yang mudah dikuliti. Dengan ketenangan seorang diplomat ulung, ia naik ke
mimbar setelah Musso turun. Tanpa nada marah, ia menyisir kerumunan dengan
tatapan tajamnya.
"Saudara-saudara, tadi ada yang kurang
lengkap," ujar Salim tenang. "Lalu, yang tidak berjenggot dan tidak
berkumis itu seperti apa?"
Hadirin terdiam. Salim menjawab pertanyaannya sendiri
dengan telak: "Anjing." Ruangan seketika riuh. Musso, sang penghasut,
justru terjebak dalam perangkap verbal yang ia buat sendiri.
Kelincahan lidah Salim tidak hanya muncul dalam
rapat-rapat politik yang kaku. Di atas kapal USS Renville, di tengah ketegangan
perundingan antara Indonesia dan Belanda, Salim masih sempat menebar humor
satir. Saat itu, dalam kondisi haus yang menyengat, ia meminta minum kepada
seorang nona Amerika.
"Hampir saya jatuh pingsan," gurau Salim,
merujuk pada rasa hausnya. Si nona Amerika menyambut candaan itu dengan genit,
"Kalau nanti Tuan jatuh pingsan, biarlah saya peluk." Tanpa
kehilangan ritme, Salim menimpali kalem, "Untuk apa dipeluk kalau saya
sudah pingsan?"
Puncak dari "diplomasi kambing" ini terjadi
dalam sebuah forum lain. Saat Salim hendak bicara, beberapa orang di kerumunan
mencoba melakukan sabotase dengan seruan "mbeek... mbeek..."
mengikuti ritme suara kambing. Salim tak lantas memanggil petugas keamanan atau
turun dari podium. Ia justru mendekat ke pengeras suara dan membuka pidatonya
dengan kalimat yang kini melegenda:
"Para hadirin sekalian... dan kambing-kambing
yang terhormat."
Bagi Salim, janggut mungkin menjadikannya bahan
olokan, tapi kecerdasannya membuat para pengejeknya terlihat seperti kawanan
ternak yang kehilangan arah. Ia membuktikan bahwa di tangan seorang
intelektual, humor bukan sekadar bahan tawa, melainkan senjata paling mematikan
untuk membungkam lawan tanpa perlu mengangkat suara.
Iman dan taqwa wajib dibarengi dengan kecerdasan dan
melek politik, agar tidak selalu menjadi kelinci percobaan ibarat ikan dalam
kolam yang selalu bentrok jika airnya diaduk atau dikeruhkan.
Makassar, 23 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar