Presiden Prabowo Subianto, mengaku dirinya tidak menyukai sosok pemimpin yang hanya pandai berbicara, namun tidak disertai dengan tindakan nyata alias "omon-omon".
-----
Sabtu, 24 Januari 2026
Prabowo: Tidak Suka Pemimpin Hanya Pandai Berbicara
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Penulis masih teringat ketika Presiden Prabowo
Subianto, mengaku dirinya tidak menyukai sosok pemimpin yang hanya pandai
berbicara, namun tidak disertai dengan tindakan nyata alias
"omon-omon". Prabowo lantas menceritakan saat dirinya ditetapkan
sebagai pemenang Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Prabowo mengaku saat
itu, dirinya langsung membentuk tiem kecil yang bekerja secara intensif selama
5 bulan untuk merancang seluruh program pemerintahan. Dimana seluruh proses
tersebut dilakukan secara tertutup dan tidak disorot media.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya di
acara sarasehan ekonomi di Jakarta, Selasa, 8 April 2025 lalu. Prabowo juga
menyinggung omon-omon yang pernah ia lontarkan, kini sudah menjadi ungkapan
populer di tengah masyarakat.
Sekarang--
Pemerintah mencabut perizinan 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran
kerusakan hutan dan memicu bencana Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, pada
Selasa (20/1/2026).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan
setelah terjadi bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Satuan Tugas Penertiban
Kawasan Hutan (Satgas PKH) mempercepat proses audit di tiga provinsi tersebut. Prasetyo
mengatakan Prabowo menerima laporan hasil investigasi dari Satgas PKH terkait
perusahaan yang terindikasi melakukan pelanggaran.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto dalam rapat
terbatas melalui zoom meeting dari London, Inggris pada Senin 19 Januari,
memutuskan mencabut izin 28 perusahaan tersebut.
"Bapak presiden mengambil keputusan mencabut izin
28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran," kata Menteri
Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan
Jakarta.
Prasetyo menyebut 28 perusahaan tersebut terdiri dari
22 perusahaan berusaha pemanfaatan hutan atau PBPH hutan alam dan hutan tanaman
seluas 1.010.592 hektare serta 6 perusahaan di bidang tambang, perkebunan, dan
perizinan berusaha pemanfaatan hasil hutan kayu atau PBPHHK. (CNN Indonesia).
Dalam kurun waktu satu tahun, Satgas PKH berhasil
menertibkan dan menguasai kembali 4,09 juta hektare perkebunan sawit di kawasan
hutan. Sebanyak 900 ribu hektare di antaranya dikembalikan menjadi hutan
konservasi, termasuk 81.793 hektare di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Selain
itu, Satgas melaporkan 28 izin perusahaan yang terbukti melanggar aturan, yang
kemudian dicabut langsung oleh Presiden Prabowo.
Penegakan hukum yang konsisten dan kerja efektif
Satgas PKH ini menjadi harapan baru bagi masa depan kawasan hutan Indonesia
yang lebih lestari, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Ketegasan
Presiden Terbukti Tidak Suka Omon-Omon
Langkah tegas Presiden Prabowo Subianto mencabut izin
28 perusahaan yang menjadi penyebab banjir dan longsor di Sumatera dan Aceh,
bagaikan petir di siang bolong atau gempa 9 skala richter. Karena telah
melampaui tuntutan aktivis gerakan sosial. Demikian diungkapkan oleh Haris
Rusly Moti pemrakarsa aktivis gerakan sosial. (Jakarta, aktual.com).
Diantara izin perusahaan yang dicabut tersebut adalah
emiten PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) dan pengelola Tambang Emas Martabe PT
Agincourt Resources, demikian bunyi rilis media 98 Resolution Network melalui
salah satu pemrakarsanya, Haris Rusly Moti.
“Sebagai seorang aktivis, saya sendiri terkejut dan
terhentak. Saya tidak menduga, Presiden Prabowo bisa setegas dan seberani
seperti ini dalam menghadapi raksasa kapital,” ujar Haris Rusly Moti.
“Kami pikir kebijakan tegas dan berani Presiden
Prabowo tersebut di luar dari perkiraan semua pihak, baik para pengusaha
serakahnomic maupun aktivis gerakan sosial, aktivis lingkungan dan advokasi
tambang,” tulis Haris.
Sangat mengejutkan kita semua ketika Perintah Presiden
Prabowo untuk mencabut dan menindak tegas izin 28 perusahaan perusak hutan dan
lingkungan di tiga daerah bencana sumatera dan Aceh. Kebijakan tersebut ibarat
petir di siang bolong, atau semacam gempa 9 skala richter yang mengguncang
sumber penguasa kapital di negeri ini,” tegas Haris.
“Haris menjelaskan sumber utama kapital yang membentuk
kekayaan berlimpah segelintir oligarki serakahnomic di negeri ini adalah
penguasaannya terhadap jutaan hektar lahan dan kawasan hutan yang diperoleh
baik secara legal maupun ilegal. Mereka kaya raya bukan karena hasil inovasi
dan industrialisasi, tapi karena keserakahan mereka menguasai jutaan hektar
lahan,” tegas Haris.
Haris menilai kebijakan Presiden Prabowo dalam
menertibkan kawasan lahan dan hutan, telah melampaui tuntutan aktivis gerakan
sosial sepanjang era Orde Baru hingga Era Reformasi.
Sebagaimana cerita burung sebelumnya, banyak pihak
yang meragukan sikap tegas Prabowo hanya sekedar omon-omon dan tidak berani
membuktikannya dalam aksi nyata. Seperti pertanyaan: Pemerintah ajukan gugatan
Rp4,8 triliun dan cabut izin perusahaan terkait bencana di Sumatra, apakah akan
efektif?
Sekarang Presiden Prabowo telah banyak membuktikan
kerja nyata dan kongkrit untuk kepentingan rakyat banyak, mulai dari
pembentukan koprasi merah putih ditingkat Desa/Kelurahan, pemberantasan
korupsi, pembersihan BUMN dan Bea Cukai, sampai program MBG. Dan terakhir
mencabut izin 28 perusahaan yang menjadi penyebab banjir dan longsor di
Sumatera dan Aceh, jadi bukan hanya sekedar omon-omon.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,
kehadiran negara dalam memastikan perlindungan kawasan hutan semakin nyata dan
efektif. Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang dibentuk atas arahan
Presiden bergerak cepat dan tegas, menerjemahkan komitmen tersebut ke dalam
langkah konkret di lapangan.
Rakyat berharap agar setelahnya pemerintah
"jangan sampai kembali mengalihkan penguasaan lahan dan Tambang yang
menguasai hayat hidup orang banyak, untuk jadi ladang bisnis kepada segelintir
pihak.”
"Sudah ada ribuan nyawa yang hilang akibat bencana,
dan pemerintah mesti menempatkan kepentingan rakyat di atas keuntungan
ekonomi,"
Apakah Presiden ingin memperlihatkan taring
kemandirian ekonomi Indonesia, dengan tetap menerima investasi asing tapi tidak
ingin investasi menjadi jeratan leher bagi kedaulatan bangsanya?.
Semoga dukungan publik serta rahmat Allah SWT, selalu
menyertai pemerintahan Prabowo Subianto. Aamiin...
Makassar, 24 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar