Muhammadiyah menganggap dirinya sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang memadukan pemurnian dan modernisasi, bukan sekadar Wahabi. Mereka membuktikan diri melalui karya nyata di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, sambil menolak label yang dinilai tidak sesuai dengan semangat progresif dan moderat mereka.
-----
Senin, 05 Januari 2026
Muhammadiyah Lebih Moderat Dari Paham Wahabi
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Paham Wahabi adalah gerakan keagamaan Islam yang
menekankan pemurnian akidah dengan kembali murni pada Al-Quran dan Sunnah,
menolak praktik yang dianggap bid'ah (inovasi) atau syirik (menyekutukan Allah)
seperti tawasul, ziarah makam berlebihan, dan peringatan Maulid, yang sering
kali bersinggungan dengan praktik mayoritas Muslim Indonesia seperti tahlilan,
sehingga menimbulkan perdebatan sengit dan dianggap ketat serta puritan oleh
sebagian kalangan, namun mereka menganggap diri sebagai Salafi yang mengikuti
jejak Ibnu Taimiyah untuk membersihkan agama dari kesesatan.
Prinsip
Utama Paham Wahabi
(1). Tauhid Murni: Fokus utama pada keesaan Allah
(tauhid) dan membersihkan segala bentuk penyekutuan. (2) Penolakan Bid'ah:
Menolak praktik keagamaan yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad SAW,
seperti perayaan tertentu atau ritual di makam. (3). Anti-Syirik: Sangat keras
terhadap segala bentuk pemujaan atau persembahan kepada selain Allah, termasuk
mengunjungi makam wali dengan niat ibadah. (4). Kembali ke Salafush Shalih:
Mengikuti pemahaman dan praktik kaum salaf (pendahulu Islam yang saleh).
Perbedaan dengan Mayoritas Muslim (Ahlussunnah wal
Jamaah)
1). Ziarah Kubur: Wahabi melarang ziarah kubur yang
dianggap berpotensi syirik atau bid'ah, sementara Ahlussunnah wal Jamaah
memperbolehkannya dengan adab tertentu.
2). Tahlilan & Istighosah: Dianggap bid'ah oleh
Wahabi, namun amalan umum di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).
3). Maulid & Perayaan Lain: Banyak perayaan
seperti Maulid Nabi, Isra' Mi'raj (jika berlebihan), atau tahlilan di anggap
inovasi (bid'ah).
4). Tawasul: Menolak tawasul (meminta perantaraan)
kepada Nabi atau wali, berbeda dengan mayoritas yang mengizinkannya.
5). Sebutan dan Istilah
Wahabi: Sebutan yang diberikan berdasarkan nama
pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab.
6). Salafi: Istilah yang lebih disukai oleh
penganutnya, karena mengacu pada metode kembali kepada 'salafush shalih'
(pendahulu yang saleh). “Semua Wahabi adalah Salafi, tapi tidak semua
Salafi adalah Wahabi”
7). Pengaruh dan Persepsi
Ketat dan Puritan: Sering dianggap puritan, ketat, dan
keras karena penolakannya terhadap berbagai tradisi lokal.
8). Pengaruh: Berpengaruh kuat di Arab Saudi dan
menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, melalui dakwah dan pengaruh
sosial-politik.
9). Sumber Perdebatan: Menjadi subjek perdebatan
hangat dengan ormas Islam di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah karena
perbedaan fundamental dalam praktik keagamaan.
Bagaimana
Dengan Paham Ahlussunnah wal Jamaah
Konsep Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) adalah
pendekatan Islam yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad SAW (ajaran dan
tradisi) serta ajaran para sahabatnya (Al-Jamaah), mencakup akidah, ibadah, dan
akhlak, dengan prinsip utama moderasi (tawasuth), keseimbangan (tawazun),
keadilan (ta'adul), dan toleransi (tasamuh), serta mengimani Al-Qur'an dan
Sunnah sebagai sumber utama dan mengakui mazhab fikih empat.
Inti Konsep Aswaja:
(a). Ahlus Sunnah (Ahli Sunnah): Mereka yang mengikuti
sunnah (tradisi, ajaran, perilaku) Nabi Muhammad SAW. (b). wal Jamaah (dan
Jamaah): Mereka yang mengikuti jalan dan kesepakatan para sahabat Nabi (Khulafaur
Rasyidin) setelah Nabi SAW.
Dasar Utama:
(1). Al-Qur'an dan Sunnah: Landasan utama akidah,
ibadah, dan muamalah. (2). Hadis Jibril: Menjadikan pilar Iman, Islam, dan
Ihsan sebagai dasar pembagian ilmu (akidah, fikih, suluk).
Muhammadiyah
Berbeda dan Bukan Wahabi
Menurut Muhammadiyah, tuduhan bahwa mereka adalah
Wahabi adalah salah dan tendensius, meskipun ada kesamaan dalam gerakan
pemurnian Islam (purifikasi), tetapi keduanya memiliki perbedaan fundamental
dalam pendekatan, metodologi, dan penerapan, di mana Muhammadiyah fokus pada
pembaruan dengan memadukan pemikiran modern dan budaya lokal secara damai,
sementara Wahabisme cenderung lebih keras dan kaku terhadap tradisi lokal.
Poin Kunci Perbedaan:
Fokus & Metode:
Wahabisme: Menekankan purifikasi akidah kembali ke
Al-Qur'an dan Sunnah secara harfiah, seringkali menolak tradisi lokal secara
mutlak (bid'ah) dan terkadang keras.
Muhammadiyah: Menggabungkan pemurnian dengan
modernisasi (tajdid), menerima aspek ilmu pengetahuan modern, serta lebih
fleksibel dalam menerima tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat
(misalnya bid'ah hasanah), melalui dakwah persuasif dan amal usaha.
Sikap terhadap Tradisi Lokal:
Wahabisme: Cenderung anti-TBC (Takhayul, Bid'ah,
Churafat) dan menganggap banyak tradisi lokal sebagai kesesatan.
Muhammadiyah: Memilah antara bid'ah yang merusak dan
yang bisa diterima, serta menempatkan diri di tengah antara Wahabisme dan
modernisme (Abduhisme).
Sejarah Tuduhan: Tuduhan ini sudah ada sejak lama
(sekitar 1920-an) di Mekkah dan Indonesia, namun Muhammadiyah membantahnya
dengan karya nyata dan konsistensi gerakannya, menegaskan tidak ada afiliasi
langsung.
Tuanku
Imam Bonjol Bukan Wahabi
Pernyataan bahwa Tuanku Imam Bonjol bukan penganut
ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi) didukung oleh beberapa temuan sejarah
dan perspektif yang sering dibahas dalam forum-forum kajian Islam, termasuk dalam
lingkungan Muhammadiyah :
- Afiliasi Akidah dan Fikih : Berdasarkan data sejarah
dan naskah peninggalannya, Tuanku Imam Bonjol menganut akidah Ahlusunah wal
Jamaah (Asy’ariyah) dan bermazhab Syafii. Hal ini terlihat dari ajarannya
kepada putranya, Sultan Chago, yang memuat materi Sifat 20, sebuah ciri khas
pengajaran tauhid Asy’ariyah yang justru ditolak dalam ajaran Wahabi.
- Praktik Tasawuf : Beliau diketahui mengamalkan
tasawuf dan bertarekat. Sebaliknya, gerakan Wahabi di Arab Saudi pada masa itu
cenderung sangat kritis bahkan menentang praktik-praktik tarekat dan tasawuf
tertentu.
- Konteks Tanwir Muhammadiyah : Meskipun narasi
spesifik mengenai "Tafsir Tanwir Muhammadiyah" tentang Imam Bonjol
tidak muncul secara eksplisit dalam data publik singkat, Muhammadiyah sendiri
sering menegaskan perbedaan metodologi antara gerakannya dengan Wahabi,
terutama dalam hal toleransi terhadap budaya dan pendekatan tajdid (pembaharuan)
yang lebih inklusif.
- Salah Kaprah Sejarah : Anggapan bahwa Imam Bonjol
adalah Wahabi sering kali berasal dari keterkaitan gerakan Padri dengan
"tiga haji" (Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang) yang membawa
semangat pemurnian dari Hijaz. Namun, para sejarawan mencatat bahwa Imam Bonjol
kemudian mengambil jalan yang lebih moderat dan berdamai dengan kaum adat
melalui konsensus *Adat Basandi Syarak,
Syarak Basandi Kitabullah*
Secara ringkas, bukti-bukti internal dari naskah
tulisan tangannya menunjukkan bahwa beliau tetap teguh pada tradisi Mazhab
Syafii dan Akidah Asy’ariyah, yang berbeda dari ideologi Wahabi.
Kesimpulan:
Muhammadiyah menganggap dirinya sebagai gerakan tajdid
(pembaruan) yang memadukan pemurnian dan modernisasi, bukan sekadar Wahabi.
Mereka membuktikan diri melalui karya nyata di bidang pendidikan, kesehatan,
dan sosial, sambil menolak label yang dinilai tidak sesuai dengan semangat
progresif dan moderat mereka.
Perbedaan mendasar antara Muhammadiyah dan Wahabi
terletak pada metode memahami teks agama, sikap terhadap modernitas dan budaya
lokal, serta pendekatan dakwah; Muhammadiyah lebih moderat dan adaptif
(modernisasi dalam bingkai Islam) menggunakan akal dalam memahami teks,
menerima budaya lokal, dan berdakwah inklusif; sementara Wahabi (Salafi) lebih
puritan, literal, menolak banyak unsur budaya lokal/modern (kecuali teknologi),
dan cenderung eksklusif dalam dakwah, berfokus pada purifikasi akidah dan
ibadah secara ketat.
Makassar, 04 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar