Politik identitas seringkali disematkan kepada kelompok muslim yang berjuang dan beramar ma'ruf nahi mungkar berdasarkan kesamaan ciri khas yaitu iman dan taqwa kepada Tuhan YME (identitas).
-----
Senin, 05 Januari 2026
Politik Identitas Senjata Kapitalisme Akan Tenggelam
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Politik identitas
seringkali disematkan kepada kelompok muslim yang berjuang dan beramar ma'ruf
nahi mungkar berdasarkan kesamaan ciri khas yaitu iman dan taqwa kepada Tuhan
YME (identitas).
Politik identitas adalah
praktik politik yang menjadikan identitas kelompok (seperti suku, agama, ras,
gender, atau etnis) sebagai dasar perjuangan untuk meraih kekuasaan atau
pengaruh politik. Isu politik identitas ini sering digunakan oleh kaum
kapitalis (pemilik modal), untuk menggiring opini miring dan mengadu domba
kelompok muslim melalui kelompok sekuler dan islamofobia. Kelompok inilah yang
sering melempar isu politik identitas melalui medsos, kepada kelompok muslim
yang memobilisasi dukungan berdasarkan keyakinan (agama) atau kesamaan
identitas.
Secara geopolitik
Indonesia sekarang sedang terjadi penguburan massal identitas agama dalam
persoalan politii (kebijakan publik), oleh kaum pemilik modal (kapitalis) yang
didukung oleh kelompok sekuler, islamofobia, dan komunisme. Sementara di benua
barat sedang terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan, dari nilai-nilai (kebebasan individu) yang dianggap semu dan
mencari identitas islam yang dinilai memanusiakan manusia. Seperti warga New
York yang bosan dengan kebebasan individu (universal declaration of human
rights) dan butuh pemimpin yang bisa mengajarkan nilai religius, cinta sesama,
dan ketenangan hidup individu. Sehingga warga, New York lebih rela memenangkan
Zohran Mamdani calon pemimpin dari penganut islam ketimbang dukungan Zionis
yang mengajarkan nilai-nilai sekuler.
Sementara pemimpin
negara-negara kapitalis di dunia barat, tidak menginginkan kemenangan Zohran
Mamdani, sebab ia seorang penganut islam. Sebab Zionis dan kelompok islamofobia
tidak senang jika tokoh Islam fanatik menjadi pemimpin suatu bangsa termasuk di
Indonesia. Oleh karena itu mereka akan menghalalkan segala cara menggiring isu
dan opini demi menjatuhkan Zohran Mamdani, seperti yang dilakukan terhadap
pemimpin Irak dan Libia.
Saddam Hussein meninggal
karena dieksekusi dengan cara digantung pada tanggal 30 Desember 2006, setelah
dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Pengadilan Khusus
Irak. Hukuman ini dijatuhkan terkait pembantaian 148 warga Syiah di kota Dujail
pada tahun 1982 sebagai pembalasan atas upaya pembunuhan terhadapnya.
Muammar Khadafi meninggal
karena luka tembak setelah ditangkap dan disiksa oleh pasukan Dewan Transisi
Nasional (NTC) pada 20 Oktober 2011 di Sirte, Libya. Ia ditangkap hidup-hidup,
namun meninggal beberapa menit sebelum mencapai rumah sakit karena cedera yang
dialaminya.
Sedangkan di Indonesia
baik barat (AS) maupun Selatan (RRT) sepertinya ada transaksi politik, untuk
menghalangi dan menjegal calon pemimpin negara dari tokoh islam fanatik (kuat
iman dan taqwanya). Kecuali dari tokoh muslim yang menerima paham sekuler (pemisahan
agama dengan politik).
Strategi Barat dalam
politik identitas terbagi menjadi dua pendekatan utama: (1) mendukung gerakan
identitas minoritas seperti LGBT untuk menuntut kesetaraan dan hak di dalam
masyarakat dominan, serta (2) menggunakan identitas yang dipersenjatai untuk
memanipulasi sentimen kelompok dan memicu konflik. Pendekatan pertama bertujuan
untuk merebut posisi dalam masyarakat, sementara pendekatan kedua menggunakan
imajinasi budaya untuk mengadu domba kelompok dengan mengatasnamakan identitas.
Disatu sisi barat
mendukung politik identitas jika berkaitan dengan kelompok minoritas, persamaan
gender, dan gerakan separatisme. Disisi lain barat berkaki ganda, karena ingin
membumihanguskan identitas itu jika berhubungan dengan keyakinan umat muslim
(islam). Gerakan ini juga menuntut pengakuan atas perbedaan budaya, bahasa, dan
hak-hak kolektif seperti pemerintahan mandiri regional, seperti yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok adat.
Negara industri khususnya dunia Barat
menggunakan "identitas yang dipersenjatai", untuk melawan kelompok
identitas lainnya demi kepentingan bisnis dan perdagangan global. Akibatnya
kedua kelompok atau antar negara saling menyerang dengan menggunakan alat
persenjataan prodak industinya. Negara industri mempromosikan perlengkapan
perang mencakup berbagai jenis alat tempur, mulai dari senjata ringan (seperti
pistol dan senapan) hingga kendaraan tempur (seperti tank dan pesawat),
amunisi, alat komunikasi, dan perlengkapan khusus (seperti seragam dan alat bertahan
hidup).
Barat menjalankan
strategi politik de vide et invera, dengan tujuan: (1) Memanipulasi sentimen:
Melalui "identitas yang dipersenjatai," politik identitas digunakan
untuk memanipulasi perasaan kelompok dengan meyakinkan mereka bahwa mereka
adalah korban dan harus memusuhi kelompok lain. (2) Memicu konflik: Strategi
ini dapat menciptakan perpecahan sosial dan konflik berdasarkan identitas
(misalnya ras, etnis, atau agama) untuk keuntungan politik dagang kaum kapitslis.
Kapitalisme adalah sistem
ekonomi di mana individu atau pihak swasta memiliki dan mengendalikan alat
produksi (seperti pabrik dan bisnis) dan pasar bebas menentukan harga melalui
penawaran dan permintaan. Dalam sistem ini, motif utama adalah keuntungan, dan
kegiatan ekonomi (produksi, distribusi, dan penetapan harga) sebagian besar
diatur oleh interaksi pasar, bukan oleh perencanaan terpusat pemerintah.
Karakteristik utama
kapitalisme
Kepemilikan pribadi:
Individu atau perusahaan swasta memiliki dan mengendalikan sebagian besar modal
dan properti.
Pasar bebas: Harga barang
dan jasa ditentukan oleh interaksi antara penawaran dan permintaan di pasar,
dengan campur tangan pemerintah yang minimal dalam mengatur pasar.
Motif keuntungan: Tujuan
utama kegiatan ekonomi adalah mencari keuntungan bagi pemilik modal.
Persaingan: Terjadi
persaingan antar individu atau perusahaan untuk menawarkan produk atau jasa,
yang mendorong inovasi dan efisiensi.
Waspadai Proyek Terselubung Cina Di Nusantara
Cina Komunis sepertinya
tidak mau pusing dengan budaya korupsi para elit politik di Indonesia, sehingga
tidak mempersoalkan utang proyek strategis nasional (PSN) seperti Whoosh di
korupsi. Karena cina Komunis berharap kepada pemerintah Indonesia untuk
meloloskan proyek terselubung berupa imigran
berkedok tenaga kerja asing (TKA). Hal ini dapat vdiduga untuk mengatasi
masalah demografi yang dihadapi oleh pemerintah RRT, yaitu; masalah kepada yang
penduduk yang sudah tidak bisa lagi teratasi, sehingga memerluhkan wilayah
pulau atau pesisir pantai nusantara sebagai tempat pemukiman baru. Akibatnya
semua Proyek Strategi Nasional (PSN) pada dasarnya adalah bisnis to bisnis
(B2B) sehingga tidak perlu melalui ratifikasi DPR, agar gampang di korupsi
untuk biaya politik (cost politics).
"Cost Politics" inilah yang diduga
digunakan untuk menaklukkan para elit politik dan pimpinan parpol, termasuk
menutup mulut para pengawas dan penyelenggara pemilu. Sehingga setiap pemilu di
era oligarki bisa dimenangkan berdasarkan kesepakatan politik bukan berdasarkan
suara nurani rakyat. Inilah inti dari implementasi "politik
transaksional".
Makassar, 05 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar