Terjadinya pro dan kontra atas pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, kare Terjadinya pro dan kontra atas pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, karena adanya perbedaan sudut pandang dan kepentingan politik Global. Soeharto dituduh bertanggungjawab atas rangkaian peristiwa 1965-1966 (pasca G30S PKI) yang dianggap sebagai pelanggaran HAM berat dimasa lalu. Sementara publik menilai alasan pertimbangan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional sudah tepat dan pantas atas jasa-jasanya sebagai bapak pembangunan nasional.
----
Kamis, 01 Januari 2026
New Komunis Gagal Menulis Sejarah Bangsa
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Dengan ditetapkannya mantan Presiden RI kedua H.
Soeharto sebagai "Pahlawan Nasional" oleh Presiden Prabowo Subianto,
dapat dipastikan kalau kelompok new komunis gagal menulis sejarah baru bagi
bangsa Indonesia. Sebab Soeharto dituduh bertanggungjawab atas rangkaian
peristiwa 1965-1966 (periode pasca G30S PKI) yang dianggap sebagai pelanggaran
Hak Asasi Manusia (HAM) berat dimasa lalu.
Sementara publik menilai alasan pertimbangan
pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional
sudah tepat dan pantas atas jasa-jasanya sebagai bapak pembangunan nasional.
Antara lain karena jasa-jasa kepemimpinan dan militernya dalam perjuangan
kemerdekaan seperti Serangan Umum 1 Maret 1949, serta kontribusinya dalam
pembangunan ekonomi di masa Orde Baru, termasuk swasembada pangan. Pemberian
gelar ini juga dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh
pendahulu bangsa, meskipun tetap ada perdebatan mengenai kontroversi masa
pemerintahannya, seperti:
1. Jasa kepahlawanan dan militer.
Serangan Umum 1 Maret 1949: Peran Soeharto dalam
peristiwa ini dianggap sebagai tonggak penting yang membuat Indonesia diakui
secara internasional. Jejak militer: Keterlibatan dalam pertempuran lain
seperti Ambarawa, pertempuran lima hari di Semarang, serta memimpin operasi
Mandala perebutan Irian Barat juga menjadi faktor pertimbangan.
2. Jasa pembangunan dan ekonomi.
"Bapak Pembangunan": Soeharto mendapat
julukan ini karena dianggap berhasil membawa Indonesia dari negara miskin
menjadi negara berkembang, terutama melalui program REPELITA. Swasembada
pangan: Di masa kepemimpinannya, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras,
yang menjadi salah satu alasan utama dukungan publik. Stabilitas ekonomi:
Keberhasilan menekan inflasi yang sempat sangat tinggi (hingga 600% pada tahun
1966) dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai pencapaian besar.
Pembangunan pendidikan: Mendirikan banyak sekolah dan menyediakan akses
pendidikan yang terjangkau dianggap sebagai kontribusi positif.
3. Jasa politik dan diplomasi.
Stabilitas politik: Berhasil menghentikan
pemberontakan Gerakan 30 September (G30S/PKI) dan mengembalikan stabilitas
politik setelah periode krisis di era Orde Baru.
4. Peran regional.
Soeharto dianggap sebagai salah satu arsitek pendirian
ASEAN, serta berperan dalam diplomasi internasional yang membuat Indonesia
disegani di tingkat regional dan global.
Pertimbangan lain; Penghormatan terhadap pendahulu:
Pemberian gelar ini juga dinilai sebagai bagian dari upaya menghormati para
pemimpin bangsa terdahulu yang memiliki jasa besar bagi negara, seperti yang
disampaikan oleh juru bicara Istana.
5. Memenuhi kriteria formal.
Pemerintah menilai Soeharto telah memenuhi kriteria
formal berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan
Tanda Kehormatan (GTK). Jasa Soeharto dalam bidang pembangunan, seperti
meningkatkan kesejahteraan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, dan menekan inflasi
pada masa kepemimpinannya. Jasa di masa revolusi: Soeharto juga memiliki peran
dan jasa sebagai pejuang kemerdekaan, seperti terlibat dalam Serangan Umum 1
Maret 1949 dan menjadi Komandan Operasi Mandala untuk perebutan Irian Barat.
Walaupun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa
terjadinya kontroversi di kalangan publik, disebabkan oleh dua faktor utama,
yaitu; (1) karena perbedaan sudut
pandang, dan (2) adanya kepentingan politik global.
1.
Perbedaan Sudut Pandang.
Kontroversi adalah keadaan perselisihan atau
perdebatan publik yang berkepanjangan mengenai masalah dengan sudut pandang
yang saling bertentangan, yang dapat menimbulkan konflik. Kontroversi bisa
muncul dari perbedaan pendapat, pertentangan norma, atau informasi yang belum
jelas kebenarannya, dan biasanya melibatkan perdebatan publik yang tajam.
Mengapa peristiwa 1965-1966 (Pasca G30S PKI) ini
diklasifikasikan sebagai pelanggaran HAM berat: Berdasarkan hasil penyelidikan
Komnas HAM: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah melakukan
penyelidikan mendalam dan menyimpulkan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM
berat dalam peristiwa 1965-1966. Kejahatan Kemanusiaan (Crimes against
Humanity): Pelanggaran yang terjadi mencakup kejahatan terhadap kemanusiaan
dan, menurut beberapa analisis, juga kejahatan genosida yang bertujuan untuk
menghancurkan kelompok yang dituduh terkait PKI.
Namun Komnas, HAM tidak menyimpulkan siapa
penanggungjawab dari gerakan kejahatan kemanusiaan (pelanggaran HAM berat)
tersebut. Sebab gerakan anti PKI 1965-1966 dimotori oleh aksi Mahasiswa melalui
"Tri Tuntutan Rakyat" atau Tritura adalah peristiwa demonstrasi yang
diajukan mahasiswa dan masyarakat kepada rezim Soekarno untuk memulihkan
keadaan bangsa. Latar belakang aksi "Tritura" adalah ketidakpuasan
mahasiswa dan masyarakat atas kebijakan pemerintahan Soekarno saat itu.
Sejarah Tritura: Dikutip dari modul Sejarah Indonesia
Kemdikbud kelas XII oleh M.Th. Yetti Pudiyantari, hal yang menyebabkan
terjadinya aksi Tritura yaitu dari adanya ketidakpuasan dari Kesatuan Aksi
Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan masyarakat terhadap sikap dan kebijakan
pemerintah.
Gerakan moral yang dimunculkan para mahasiswa ini
dilakukan untuk menegakkan keadilan dan mengembalikan kebenaran. Tapi,
pemerintah justru mencurigai gerakan tersebut dan kemudian sejumlah tokoh KAMI
juga Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) ditangkap. Masa tersebutlah
yang melahirkan sebuah generasi baru yaitu angkatan '66. Bisa disebut, angkatan
'66 menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa nasional.
Ketidakpuasan tersebut akhirnya memuncak, sehingga
mereka turun ke jalan menyerukan aksi Tritura yang dimulai pada 10 Januari
1966. Pembacaan tuntutan dari aksi Tritura terjadi di halaman Fakultas
Kedokteran UI. Tujuan dari gerakan tersebut yaitu supaya aktivis mahasiswa
Indonesia bisa menggalang aksi, salah satunya melancarkan demonstrasi menuntut
pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tritura berisikan 3 tuntutan yang dipelopori oleh
KAMI, KAPPI, dan kesatuan-kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila:
1). Pembubaran PKI
Isi Tritura yang pertama adalah terkait pembubaran PKI
beserta ormas-ormasnya. Pasalnya, pada saat itu PKI sebagai partai politik yang
ikut menjadi pemenang Pemilu I 1955, namun PKI malah terlibat menjadi dalang
dalam pemberontakan G30S/PKI. Diperkuat lagi dengan sejarah aksi pemberontakan
PKI pada Tahun 1948 di Madium. Hal tersebutlah yang mendorong masyarakat, yang
diwakilkan kaum muda (mahasiswa) agar pemerintah membubarkan PKI dan seluruh
ormas di bawahnya.
2). Perombakan Kabinet Dwikora
Perombakan kabinet tersebut dilakukan dalam upaya
untuk pembersihan kabinet dari unsur-unsur G30S PKI. Karena saat itu, anggota
maupun simpatisan kabinet Dwikora sebagian besar berasal dari PKI. Sehingga,
mereka dianggap menjadi kekuatan politik yang dekat dengan pemerintah. Adanya
kondisi tersebutlah yang sorotan, dari adanya tuntutan untuk dibubarkan.
3). Turunkan Harga
Tuntutan penurunan harga (terutama harga pangan) di
sini bertujuan untuk perbaikan ekonomi. Pasalnya, kondisi perekonomian saat itu
cukup buruk dan meresahkan. Di mana, banyak harga kebutuhan pokok melambung
tinggi. Oleh karena situasi inilah, yang membuat kaum muda bersama sama partai
politik, serta organisasi pemuda, melakukan gerakan moral (moral force).
Dampak aksi Tritura terbukti mampu membawa perubahan
politik mendasar bangsa Indonesia, termasuk proses kepemimpinan nasional dari
Ir. Soekarno ke Soeharto. Di mana, momen ini mendorong terjadinya perubahan
politik dan ketatanegaraan. Dampak Tritura terhadap orde lama yaitu mampu
mengakhirkan masa sistem pemerintahan Demokrasi Terpimpin (Orde Lama) sejak
tahun 1959 sampai 1966. Berakhirnya pemerintahan Ir. Soekarno yang diganti
Soeharto (Orde Lama) yang kemudian menjadi Demokrasi Pancasila. Hal tersebut
tak lepas dari aksi Tritura diperjuangkan mahasiswa secara konsisten sejak awal
Januari 1966.
Diprakarsai KAMI yang berhasil memformulasikan
tuntutan Tritura, hal tersebut mampu menumbuhkan perjuangan bersama kekuatan
mahasiswa se-Indonesia. Sejak dicetuskannya Tritura pula, aksi-aksi demonstrasi
mahasiswa semakin intens. Bisa disebut, tuntutan Tritura menjadi bermakna
dengan dukungan pemuda, rakyat, serta angkatan bersenjata. Insiden Tritura
menjadi momen bersejarah bangsa Indonesia, oleh karena 10 Januari diperingati
sebagai Hari Tritura.
Dengan demikian, Tritura merupakan istilah yang
berisikan 3 tuntutan rakyat pada gelombang aksi yang menjadi tombak lahirnya
orde baru bagi bangsa Indonesia. Sementara korban G30S PKI yang dibunuh secara
sadis tanpa perikemanusiaan oleh PKI, termasuk faktor utama yang menjadi latar
belakang lahirnya gelombang aksi Mahasiswa dan masyarakat sipil.
Namun diluar dugaan para tokoh dan pejuang reformasi
setelah berhasil meruntuhkan Orde Baru, ternyata kekuatan komunis gaya baru
(new komunis), secara diam-diam membangkitkan dendam politik lama serta
membangun kekuatan dan strategi dengan berupaya menggali lubang tikus yang
sudah ditutup rapat oleh Orde Baru sejak 1967. Hubungan diplomatik Indonesia
dengan RRC diputuskan Pada 30 Oktober 1967, pemutusan hubungan ini terjadi
karena dua alasan: *Pertama* ; Indonesia menuduh RRC memberikan dukungan kepada
Partai Komunis Indonesia. *Kedua* ; Pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto
menganggap RRC sebagai ancaman dan terlibat dalam peristiwa G30S/PKI. Sehingga
Indonesia membekukan hubungan diplomatik dengan RRC.
Demikian juga terjadinya skenario politik yang dimotori
oleh salah satu kekuatan parpol, yang berupaya memutarbalikkan fakta sejarah
bangsa melalui penggiringan opini publik bahwa; PKI adalah korban politik dari
ambisi kekuasaan (perebutan kekuasaan) dari Soekarno ke- Soeharto, dan
pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Sorharto,
telah melakukan pembunuhan massal (genosida) terhadap anggota PKI dan
pendukungnya.
Sebab Soeharto dianggap pelaku pelanggaran HAM berat
dimasa lalu, dan bertanggungjawab atas rangkaian peristiwa 1965-1966 (periode
pasca G30S PKI) yang dianggap sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat
karena terjadinya pembunuhan massal, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan
penghilangan orang secara paksa dalam skala yang sangat luas, yang sebagian
besar dilakukan oleh aparat negara dan kelompok sipil yang didukung oleh pemerintah
Orde Baru saat itu.
2.
Adanya Kepentingan Global
Sejarah mencatat bahwa terdapat pengaruh signifikan
dari dukungan Republik Rakyat Tiongkok (RRC) terhadap perkembangan PKI di masa
lalu, terutama pada periode 1960 hingga 1965. Dukungan ini bersifat diplomatik,
ideologis, dan, menurut beberapa sumber, juga berpotensi melibatkan bantuan
militer.
1). Dukungan Diplomatik dan Politik:
RRC memandang Indonesia di bawah Soekarno sebagai
mitra penting dalam tatanan dunia non-blok dan anti-imperialis, terutama
setelah perpecahan Sino-Soviet. RRC memberikan dukungan antusias terhadap
Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai komunis terbesar ketiga di dunia
saat itu, menjadikannya sekutu penting di Asia Tenggara.
2). Pengaruh Ideologis:
PKI di bawah D.N. Aidit mulai mengalihkan orientasi
ideologisnya dari Uni Soviet ke RRC pada awal 1960-an, mengadopsi pendekatan
politik yang lebih sejalan dengan Mao Zedong.
3). Peningkatan Pengaruh PKI:
Hubungan dekat antara Presiden Soekarno dan RRC,
ditambah dengan dukungan politik dari Beijing, memungkinkan PKI untuk tumbuh
menjadi kekuatan politik yang sangat kuat di Indonesia, dengan basis massa di
seluruh negeri. PKI semakin menekan lawan-lawan politiknya, terutama Angkatan
Darat, yang memicu ketegangan politik yang memuncak pada tahun 1965.
4). Potensi Bantuan Militer (Kontroversial):
Ada klaim bahwa Mao Zedong menjanjikan bantuan militer
kepada Aidit, terutama terkait usulan pembentukan Angkatan Kelima (mempersenjatai
buruh dan petani) yang ditentang oleh Angkatan Darat Indonesia. Isu ini menjadi
salah satu pemicu konflik internal yang berujung pada peristiwa G30S.
5). Dampak Pasca-G30S:
Keterlibatan (baik nyata atau dugaan) RRC dalam
peristiwa G30S menyebabkan hubungan diplomatik antara Indonesia dan RRC
memburuk drastis dan akhirnya dibekukan. Sentimen anti-komunis dan
anti-Tiongkok meningkat tajam di Indonesia setelah peristiwa tersebut.
Singkatnya, dukungan RRC secara signifikan memperkuat
posisi politik PKI dan memperdalam polarisasi politik di Indonesia, yang
menjadi salah satu faktor kunci dalam tragedi G30S dan dampaknya. Dan
sepertinya pasca runtuhnya Orde Baru, jalan tikus yang sudah lama tertutup
telah dibuka kembali yang diprakarsai oleh PDIP.
Alasan kepentingan Global inilah kekuatan new komunis
berupaya menorehkan tinta emas dalam sejarah baru bangsa Indonesia, bahwa PKI
adalah korban pelanggaran HAM berat dimasa lalu sehingga perlu mendapatkan hak
rehabikitasi dan santunan bagi keluarganya. Inilah yang melandasi sehingga
Presiden Jokowi menandatangani Keputusan Presiden (KEPPRES) Nomor 17 Tahun 2022
Tentang Pembentukan Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia
yang Berat Masa Lalu.
Berikut adalah poin-poin kunci mengapa peristiwa
1965-1966 ini diklasifikasikan sebagai pelanggaran HAM berat:
(a) Penyelidikan Komnas HAM: Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM) telah melakukan penyelidikan mendalam dan menyimpulkan
bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat dalam peristiwa 1965-1966. (b)
Kejahatan Kemanusiaan (Crimes against Humanity): Pelanggaran yang terjadi
mencakup kejahatan terhadap kemanusiaan dan, menurut beberapa analisis, juga
kejahatan genosida yang bertujuan untuk menghancurkan kelompok yang dituduh
terkait PKI.
Namun Komnas HAM tidak bisa menyimpulkan, bahwa
terjadinya pelanggaran HAM berat dan kejahatan kemanusiaan (Crimes against
Humanity) tersebut sepenuhnya tanggungjawab TNI AD. Karena adanya aksi
solidaritas mahasiswa dan pemuda yang melahirkan "Tri Tura" saat itu.
Kesimpulan
:
Terjadinya pro dan kontra atas pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, kare Terjadinya pro dan kontra atas pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, karena adanya perbedaan sudut pandang dan kepentingan politik Global. Soeharto dituduh bertanggungjawab atas rangkaian peristiwa 1965-1966 (pasca G30S PKI) yang dianggap sebagai pelanggaran HAM berat dimasa lalu. Sementara publik menilai alasan pertimbangan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional sudah tepat dan pantas atas jasa-jasanya sebagai bapak pembangunan nasional.
Atas kepentingan dukungan Global kekuatan new komunis
berupaya menorehkan tinta emas dalam sejarah baru bangsa Indonesia, bahwa PKI
adalah korban pelanggaran HAM berat dimasa lalu sehingga perlu mendapatkan hak
rehabikitasi. Hal inilah yang melandasi lahirnya Keputusan Presiden (KEPPRES)
Nomor 17 Tahun 2022 Tentang Pembentukan Tim Penyelesaian Non-Yudisial
Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat Masa Lalu.
Tetapi upaya new komunia menggiring opini publik guna
memutarbalikkan fakta-fakta sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) dimasa lalu,
sepertinya gagal dan tidak berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa
Indonesia. Karena publik sudah mulai cerdas dan melek politik sehingga dengan
diangkatnya mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional, kelompok new komunis
gagal menulis sejarah bangsa.
Makassa, 1 Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar