Translate

Sabtu, 31 Januari 2026

Said Didu Ingin Rebut Kembali Kedaulatan Rakyat


Tidak semua pejuang kemerdekaan Indonesia dimasa lalu memiliki rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme, kecuali tokoh-tokoh bangsa yang ikhlas dan tulus berjuang karena iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Demikian juga di zaman penjajahan modern sekarang ini, hanya tokoh-tokoh yang kuat iman dan taqwanya yang mampu merasakan wujud penjajahan modern.




-----

Minggu, 01 Pebruari 2026


Said Didu Ingin Rebut Kembali Kedaulatan Rakyat

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

SOSOK Muhammad Said Didu menjadi perbincangan hangat terutama di media sosial, setelah dirinya terlibat pembelaan terhadap warga di pesisir Tangerang, Banten, yang terdampak proyek pembangunan di kawasan Pantai Indah Kapuk. Said Didu, yang memiliki pengalaman panjang dalam birokrasi dan dunia politik, mengambil pilihan berbeda dari banyak pensiunan birokrat pada umumnya, dengan mengadvokasi warga yang menuntut keadilan dari negara. Sebelumnya, Said Didu memang sudah dikenal luas di kalangan birokrat dan penggiat sosial. Kini ia makin mendapat perhatian publik setelah intensitas kemunculannya di media sosial dengan hastag #SaveSaidDidu menuai respons masif. Baca juga: Said Didu Buka Suara Setelah Dipolisikan karena Kritik PSN PIK 2, Tanah Rakyat Dijual Rp 50.000 Per Meter Pilihannya mendukung warga untuk mendapatkan hak-haknya yang terabaikan oleh pengembang proyek, yang menurutnya tidak adil terutama dalam kompensasi tanah yang digusur. (Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2024).

Tidak semua pejuang kemerdekaan Indonesia dimasa lalu memiliki rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme, kecuali tokoh-tokoh bangsa yang ikhlas dan tulus berjuang karena iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Demikian juga di zaman penjajahan modern sekarang ini, hanya tokoh-tokoh yang kuat iman dan taqwanya yang mampu merasakan wujud penjajahan modern.

Jika di masa lalu para pejuang berhadapan dengan musuh yang nyata dari luar, yang ingin menguasai hasil bumi dan wilayah nusantara seperti petugis dan Spanyol (kaum imperealis) serta Belanda & Jepang (kaum kolonialisme). Namun di zaman penjajahan modern sekarang musuh tidak jelas, karena berhadapan dengan bangsa sendiri yaitu para pecundang dan penghianat bangsa. Karena bangsa lain (kaum kapitalis) menggunakan orang dalam sebagai pihak ketiga seperti para influencer dan buzzer-buzzer untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.

Buzzer dan influencer sama-sama penyebar konten di media sosial, tapi influencer punya kredibilitas dan audiens loyal (ribuan-jutaan pengikut) yang dipengaruhi secara autentik, sementara buzzer seringkali orang biasa/anonim, bekerja tim, fokus menyebar pesan berulang agar viral tanpa harus punya followers banyak, dan bisa dianggap lebih manipulatif. Influencer membangun citra, sementara buzzer mengamplifikasi pesan secara masif. Inilah yang dimaksud dengan perang proxy (proxy war) dimana rakyat masih terlena dalam tidurnya, namun tidak menyadari kalau bangsanya sedang diserang oleh musuh yang tidak tampak.

Perang proxy (proxy war) adalah konfrontasi antar-kekuatan besar yang menggunakan pihak ketiga (negara lain, milisi, atau aktor non-negara) untuk bertempur, guna menghindari konfrontasi langsung yang berisiko kehancuran fatal. Perang ini menyasar berbagai aspek seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan siber, seringkali tanpa terlihat siapa lawan yang sebenarnya.

Salah satu kalimat paling ikonik dan dianggap nubuat dari Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Bunyi kutipan tersebut secara lengkap adalah:

"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Konteks & Maksud : Kutipan ini diucapkan sebagai peringatan bahwa setelah kemerdekaan fisik tercapai, tantangan bangsa Indonesia tidak selesai. Musuh selanjutnya bukan lagi negara asing, melainkan tantangan internal seperti perpecahan, korupsi, egoisme, dan konflik antargolongan. Bung Karno menekankan bahwa melawan bangsa sendiri lebih berat karena musuhnya tidak terlihat jelas, bisa jadi merupakan saudara sebangsa yang mementingkan kelompok atau kekuasaan pribadi.

Kalau para tokoh bangsa dimasa kolonialisme berjuang merebut dan mempertahankan kedaulatan rakyat dari tangan penjajah, sekarang tokoh-tokoh politik bersama-sama berjuang membantu kaum kapitalis dengan menggadaikan kedaulatan rakyat dan bangsanya. Karena para tokoh politik tersebut telah menjual moral dan integritasnya, dengan materi dan kepentingan politik kepada kaum kapitalis.

Terkait kondisi geopolitik nasional tersebut, Said Didu dalam sambutannya didepan para Tokoh Civil Society pada akhir Januari 2026, menyampaikan bahwa tadi malam ia bersama Abraham Samad dipanggil oleh pimpinan tertinggi negara di Hambalan. Dihadapan Presiden Prabowo Said Didu melaporkan, kalau mereka (kami) akan berada diluar menghimpun diri dalam gerakan untuk merebut kembali kedaulatan rakyat. Spontan dalam hitungan detik, Prediden merespon dan menyatakan "saya akan berdiri didepan". Undangan yang hadir memberikan tepuk tangan memberi aplus tanda kegembiraan, atas pernyataan Said Didu tersebut.

Merebut kembali kedaulatan NKRI berarti berhadapan dengan "one Piece" (Kerajaan bajak laut) yang dipimpin oleh "Raja Jawa" Sebagai raja bajak laut.

One Piece atau Kerajaan Bajak Laut, adalah istilah bagi kelompok perompah dan perampok sumber daya alam nusantara baik dilaut maupun didarat. Dan perlu diketahui kalau dapat diduga, bahwa kelompok one Piece inilah yang mengatur dan membiayai cost politic bagi para elit dan pimpinan parpol dalam Koalisi oligarki. Akibatnya berdampak kaburnya tugas dan fungsi anggota DPR, tidak lagi berfungsi sebagai lembaga perwakilan rakyat melainkan menjadi alat legalitas bisnis dan dagang kaum kapitalis.

 

 

Makassar, 01 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar