-----
Selasa, 24 Pebruari 2026
Sejarah Kepanduan & Hizbul Wathan Melebur Jadi
Parmuka
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Mantan
Gudep Pramuka IKIP UP)
22 Februari. Hari Kepanduan Sedunia menjadi momen
untuk mengenang Robert Baden-Powell sekaligus meneguhkan semangat membentuk
generasi yang berkarakter, mandiri, dan peduli sesama.
A.
Pengalaman Baden Powell
Baden Powell lahir pada tanggal 22 Februari 1857 di
London. Namun nama sesungguhnya adalah Robert Stephenson Smyth, sedangkan nama
Baden Powell adalah nama ayahnya, seorang Profesor Geometri di Universitas
Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil. Pengalaman-pengalaman
Baden Powell sejak kecil yang berpengaruh pada adanya kegiatan kepramukaan
banyak sekali dan cukup menarik, diantaranya:
1. Ditinggal mati Bapak sejak kecil, dan mendapat
pembinaan watak dari ibunya. Sifat kasih sayang seorang ibulah yang menurun
kepada Baden Powell sehingga berhasil membina, mengembangkan kepramukaan dengan
semangat, jiwa kasih sayang yang berkepantasan.
2. Latihan ketrampilan berlayar, berenang, berkemah,
olah raga dan lain-lainnya didapat dari kakak-kakaknya.
3. Sifat Baden Powell yang selalu gembira, lucu,
cerdas, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar.
4. Pengalaman di India sebagai Pembantu Letnan pada
Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang dan
diketemukan di puncak gunung serta keberhasilan melalui panca indera Kimbal
O’Hara. Pengalaman ini dibukukan dalam ketrampilan mencari jejak.
5. Pengalaman terkepung Bangsa Boer di Kota Mafeking,
Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan. Bagaimana bias bertahan
hidup dan mengalahkan kerajaan Zulu di Afrika serta mengambil kalung manik kayu
milik Raja Dinizulu.
Pengalaman tersebut ditulisnya dalam sebuah buku
berjudul “Aids to Scouting”. Buku tersebut ditulis untuk memberi petunjuk
kepada tentara muda Inggris agar dapat melakukan tugas penyelidikan dengan
baik. Buku ini sangat menarik, tidak hanya bagi para pemuda, bahkan juga orang
dewasa. Tuan William Smith sebagai salah seorang Pimpinan Boys Brigade di
Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan ceritera
pangalaman beliau. Maka dipanggillah 21 orang pemuda dari Boys Brigade dari
berbagai wilayah negeri Inggris, diajak berkemah dan belatih di Pulau Brownsea
pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari. Tahun 1910 Baden Powell pension dari
tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Beliau mendapat title Lord
dari Raja George pada tahun 1929. Baden Powell menikah dengan Olave St. Clair
Soames pada tahun 1912 dan dianugerahi 3 orang anak. Baden Powell meninggal
pada tanggal 9 Januari 1941 di Nyeri, Afrika.
B. Sejarah Kepramukaan Sedunia
1. Pada awal tahun 1908 Baden Powell selalu menulis
cerita pengalamannya sebagai bungkus acara latihan kepramukaan yang
dirintisnya. Kumpulan tulisannya itu kemudian terbit sebagai buku “Scouting for
Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris, bahkan ke negara-negara lainnya
dimana-mana berdirilah organisasi kepramukaan, yang semula untuk anak laki-laki
seusia penggalang yang disebut Boy Scout.
2. Kemudian disusul organisasi kepramukaan putri yang
diberi nama Girls Guides atas bantuan Agnes, adik perempuan Baden Powell, yang
kemudian diteruskan oleh Ny. Baden Powell.
3. Tahun 1916 berdiri kelompok Pramuka seusia Siaga,
yang disebut Cub (anak srigala) dengan buku The Jungle Book, berisi tentang
Mowgli anak didikan rimba (anak yang dipelihara di hutan oleh didikan induk
srigala) karangan Rudyyard Kipling sebagai cerita pembungkus Cub.
4. Tahun 1918bp membentuk Rover Scout (Pramuka usia
Penegak) untuk menampung mereka yang sudah lewat usia 17 tahun, tapi masih
senang giat dibidang kepramukaan. Tahun 1922 Baden Powell menerbitkan buku
Rovering to Success (mengembara menuju kebahagiaan) yang berisi petunjuk bagi
para Pramuka Penegak dalam menghadapi tantangan hidupnya untuk mencapai
kebahagiaan. Di hadapannya terdapat karang-karang berbahaya, yaitu: karang
perjudian, karant wanita, karang minuman keras dan merokok, karang mementingkan
diri sendiri dan mengorbankan orang lain/munafik, karang tak ber-Tuhan.
5. Tahun 1920 dislenggarakan Jambore Sedunia, di arena
Olympia, London. Baden Powell telah mengundang Pramuka dari 27 negara, dan pada
saat itu Baden Powell diangkat sebagai BAPAK PANDU SEDUNIA (CHIEF SCOUT OF THE
WORLD). Kelak Jambore Dunia tersebut diselenggarakan 5 tahun sekali.
6. Tahun 1914 Baden Powell mulai menulis petunjuk
untuk kursus Pembina Pramuka. Rencana ini baru dapat dilaksanakan tahun 1919.
Dari sahabatnya yang bernama W.F. De Boys Mac Leren, Baden Powell mendapat
sebidang tanahdi Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina
Pramuka. Tempat ini terkenal dengan nama GILWELL PARK.
7. Tahun 1920 dibentuk Dewan Internasional dengan 9
orang anggota dan Biro Sekretariatnya yang berada di London, Inggris. Biro
kepramukaan sedunia memiliki tenaga staf yang dapat diandalkan.
8. Gerakan Baden Powell itu ditiru oleh negara-negara
lain. Belanda mendirikan Padvinder dan Padvinderij di negerinya.
Pemerintah Belanda yang berada di Indonesia juga
mendirikan Padvinder dan Padvinderij, seperti NIPV (Netherland Indische
Padvinders Vereniging/Persatuan Pandu-Pandu Belanda). Tokoh Pergerakan Nasional
Indonesia mendirikan Gerakan Kepanduan yang jumlahnya mencapai 100 organisasi
kepanduan, antara lain:
– JPO (Javaanese Padvinders Organisaatie)
– JJP (Jong Java Padvinderij)
– SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvinderij)
– NATIPI (Nasionale Islamitische Padvinderij)
– HW (Hisbul Wathon)
C.
Hizbul Wathan Melebur Menjadi Pramuka
Mengenal Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah
Hari Pramuka setiap 14 Agustus, perlu mempelajari
kembali gerakan kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad
Dahlan.
Dikutip dari - TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, 14
Agustus merupakan Hari Pramuka. Salah satu gerakan kepanduan yang ada di
Indonesia adalah Hizbul Wathan atau yang lebih dikenal dengan HW. HW merupakan
salah satu organisasi otonom di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.
Dibentuknya HW berawal dari perjalanan dakwah Kyai
Haji Ahmad Dahlan yang sedang mengikuti pengajian SAFT (Sidiq, Amananah,
Fathonah, Tabligh) di Surakarta pada 1916. Pengajian tersebut diadakan secara
rutin di rumah Kyai Haji Imam Mukhtar Bukhari.
Berdasarkan hizbulwathan.or.id, Di kota tersebut, Kyai
Haji Ahmad Dahlan melihat anak-anak JPO (Javansche Padvinders Organisatie),
dengan pakaian seragam, latihan baris berbaris di halaman Mangkunegaran.
Sesampainya di Jogja, Kyai Haji Ahmad Dahlan segera menceritakan apa yang telah
ia lihat ketika perjalanan dakwah tersebut.
“Alangkah baiknya kalau Muhammadiyah memiliki
padvinder untuk mendidik anak-anak mudanya agar memiliki badan sehat serta jiwa
yang luhur untuk mengabdi kepada Allah,” begitulah gagasan Kyai Haji Ahmad
Dahlan yang juga disepakati oleh para pemimpin Muhammadiyah, seperti KH Muchtar,
KH Hisyam, hingga KRH Hadjid.
Hal ini ia bicarakan juga kepada kedua muridnya,
Sumodirjo dan Sarbini. Ia berharap para pemuda Muhammadiyah, dapat latihan
kepanduan utnuk berbakti kepada Allah subahanahu wa ta’ala. Ketika itu pula
Sumodirjo dan Sarbini segera merintis berdirinya kepanduan di Muhammadiyah
dengan latihan pertama kali baris berbaris, olah raga, dan pertolongan pertama
pada kecelakaan.
Latihan berbaris dan berolahraga setiap hari Ahad sore
di halaman Sekolah Muhammadiyah Suronatan. Seiring berjalannya waktu, pengikut
HW semakin bertambah dan tidak lagi terbatas pada guru saja, juga banyak para
pemuda Kauman yang ikut berlatih. Yang cukup menarik perhatian masyarakat yaitu
barisan Padvinder Muhammadiyah yang tegap, disiplin, dan rapi, yang merupakan
hal yang sangat menarik bagi masyarakat saat itu.
Menukil dari arsip.muhammadiyah.or.id, semboyan Hizbul
Wathan pada waktu itu ialah setia kepada util amri; sungguh berhajat akan
menjadi orang utama; tahu akan sopan santun dan tidak akan membesarkan diri;
boleh dipercaya; bermuka manis; hemat dan cermat; penyayang; suka pada sekalian
kerukunan; tangkas, pemberani, tahan, serta terpercaya; kuat pikiran menerjang
segata kebenaran; ringan menolong dan rajin akan kewajiban; menetapi akan
undang-undang Hizbul Wathan (Almanak Muhammadiyah, 1924: 50).
Hizbul Wathan (HW) adalah gerakan kepanduan Islam di
bawah Muhammadiyah yang menjadi salah satu inspirator dan pendahulu gerakan
kepanduan di Indonesia, termasuk Pramuka. Pada tahun 1961, HW melebur ke dalam
Gerakan Pramuka (peleburan), namun kemudian aktif kembali (reorganisasi)
pasca-reformasi sebagai organisasi otonom yang tetap berfokus pada pendidikan
karakter berbasis keislaman.
Kaitan Utama Hizbul Wathan dan Pramuka:
Sejarah Pendahulu (Inspirator): HW didirikan pada
tahun 1918 (sebelum era Pramuka) dan perannya sangat krusial dalam membentuk
kepanduan nasional, dengan tokoh seperti Panglima Besar Soedirman yang
merupakan pandu HW.
Peleburan (Tahun 1961): HW meleburkan diri ke dalam
Gerakan Pramuka pada tahun 1961 berdasarkan Keppres No. 238 tahun 1961 yang
menyatukan seluruh organisasi kepanduan, dan sempat vakum selama puluhan tahun.
Reorganisasi.
(Pasca-Reformasi): HW diaktifkan kembali sebagai
organisasi otonom di bawah Muhammadiyah yang bergerak berdampingan dengan
Pramuka, bukan sebagai pesaing, melainkan saling melengkapi dalam pembentukan
karakter bangsa.
Persamaan Dasar: Keduanya memiliki metode pendidikan
yang sama, yaitu learning by doing, berinteraksi dengan alam, disiplin, dan
cinta tanah air.
Perbedaan Fokus: Pramuka lebih menekankan pada
nilai-nilai kebangsaan secara umum (Pancasila), sedangkan HW menguatkan
internalisasi nilai-nilai Islam (rahmatan lilalamin) dalam setiap kegiatannya.
Meskipun pernah melebur, Hizbul Wathan tetap
mempertahankan identitasnya sebagai gerakan kepanduan yang berbasis pada Janji Pandu
HW dan Undang-undang HW.
Semoga jasa-jasa Baden Powell dalam melahirkan
kepanduan, menjadi pondasi pembentukan karakter bangsa (character building),
dan peradaban dunia yang memanusiakan manusia ditengah ancaman globalisasi.
Makassar, 22 Pebruari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar