Ketua Komisi I DPR 2010-2017 Mahfuz Sidik mendorong negara-negara Teluk perlu segera memikirkan aliansi baru, membangun aliansi bersama untuk menghilangkan hegemoni Amerika Serikat (AS) di Kawasan Timur Tengah (Timteng) baik secara ekonomi, politik dan militer.
-----
Rabu, 1 April 2026
Aliansi Bersama Negara Teluk Mengakhiri Hegemoni Amerika
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Aliansi adalah hubungan kerja sama, persekutuan, atau
ikatan formal antara dua pihak atau lebih—baik individu, kelompok, organisasi,
maupun negara—yang bergabung untuk mencapai tujuan bersama yang saling
menguntungkan. Anggota aliansi sering disebut sebagai sekutu, dan ikatan ini
umumnya didasarkan pada perjanjian atau komitmen strategis jangka panjang.
Ketua Komisi I DPR 2010-2017 Mahfuz Sidik mendorong
negara-negara Teluk perlu segera memikirkan aliansi baru, membangun aliansi
bersama untuk menghilangkan hegemoni Amerika Serikat (AS) di Kawasan Timur
Tengah (Timteng) baik secara ekonomi, politik dan militer.
Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam acara diskusi
Bola Liar Kompas TV dengan tema ‘Iran Unggul Strategis, Trump Mau Invasi Darat
atau Negosiasi?’ di Jakarta, Jumat (27/3/2026) malam.
”Negara-negara Teluk ini perlu memikirkan aliansi baru
pasca perang untuk menghilangkan hegemoni Amerika di kawasan tersebut. Iran
sudah mengajukan proposal untuk membangun aliansi bersama,” kata Mahfuz Sidik,
dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Mahfuz, aliansi ini tidak hanya beranggotakan
enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Arab Saudi, Uni Emirat
Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain saja, tetapi negara-negara lain di
kawasan Timteng ada Iran, Irak, Turki dan lain-lain.
“Perang ini adalah gong yang menandakan berakhirnya
hegemoni ekonomi, politik dan militer Amerika di kawasan Timur Tengah,” kata
Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini.
Dengan adanya aliansi bersama ini, maka kata Mahfuz,
secara tidak langsung AS-Israel telah mengakui kekalahan dalam perang dengan
Iran yang telah berlangsung selama satu bulan ini.
“Trump (Presiden AS Donald Trump) menelan pil pahit.
Trump benar-benar salah kalkulasi, tidak bisa memenangkan perang dengan Iran.
Trump sekarang berpikir bagaimana perang ini segera berakhir.,” katanya.
Amerika, lanjut Mahfuz, mengalami kekalahan secara
strategis dalam perang asimetris dengan Iran. Ia yakin Trump tidak akan
melakukan seragan darat.
Dalam perkembangannya, Amerika berhasil menanamkan pengaruhnya (hegemoni
Barat) kepada negara-negara islam dikawasan Teluk Persia, melalui propaganda
keamanan kawasan atas perlindungan NATO. Pada hal sasaran utama Amerika, adalah
menancapkan kekuatan hegemoninya dengan membangun pangkalan militer dibeberapa
negara Teluk tersebut.
Hegemoni Barat adalah dominasi pengaruh politik,
ekonomi, militer, dan budaya negara-negara Barat (AS & Eropa) secara
global, terutama di Asia dan Afrika. Dominasi ini melanda berbagai aspek
kehidupan seperti bahasa, teknologi, serta pola konsumsi masyarakat melalui
globalisasi. Pengaruhnya sering memicu ketimpangan ekonomi dan resistensi
budaya.
Karakteristik Utama Hegemoni Barat, seperti:
(1). Dominasi Ekonomi; Penggunaan dolar AS sebagai
mata uang internasional dan kontrol terhadap lembaga keuangan dunia. (2).
Pengaruh Budaya; Adopsi gaya hidup Barat, bahasa Inggris sebagai bahasa
internasional, dan dominasi media. (3). Politik dan Teknologi; Penguasaan
teknologi canggih membolehkan negara Barat memaksakan kebijakan di panggung
internasional, bahkan terhadap negara berkembang. (4). Globalisasi; Proses
penyatuan dunia di bawah standar budaya dan ekonomi yang ditentukan oleh
peradaban Barat.
Dampaknya, kini hegemoni ini sering dikritik sebagai
bentuk "penjajahan modern (neo-imperialisme)" yang merusak ekonomi
global demi kepentingan negara industri, meminggirkan budaya lokal, norma agama
dan moral, serta menciptakan ketergantungan bagi negara berkembang kepada
negara industri. Namun, saat ini pengaruh tersebut dinilai mulai menurun
seiring munculnya kekuatan baru di Asia.
Iran semakin diakui sebagai kekuatan regional yang
signifikan di Asia Barat (Timur Tengah) dan muncul sebagai kekuatan menengah
dengan pengaruh geopolitik dan militer yang meningkat. Berdasarkan perkembangan
terkini hingga awal 2026, berikut beberapa alasan mengapa Iran dianggap sebagai
kekuatan baru:
1. Kekuatan Militer Utama:
Iran menempati peringkat
ke-13 dalam Global Firepower Index. Iran memiliki sekitar 534.000 hingga 600.000
personel militer aktif.
2. Teknologi Rudal Tercanggih:
Iran memiliki kemampuan
rudal balistik yang maju, termasuk rudal Fattah-1 dan Kheybar Shekan yang sulit
dicegat.
3. "Adidaya Energi":
Iran memiliki cadangan
gas alam terbesar kedua dan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia,
memberikan pengaruh ekonomi dan geopolitik yang besar.
4. Pengaruh Regional (Poros Perlawanan):
Iran membangun
"kekaisaran" atau pengaruh di Asia Barat melalui jaringan sekutu dan
proksi, yang membuat mereka menjadi pemain kunci dalam keamanan regional.
5. Kemandirian Pertahanan:
Doktrin militer Iran
bergeser dari defensif ke ofensif dengan penggunaan senjata buatan dalam
negeri.
Meskipun demikian, Iran menghadapi tantangan ekonomi
akibat sanksi internasional dan isolasi politik yang membatasi ambisinya. Di
tahun 2026, Iran juga menghadapi ketegangan militer yang meningkat dengan
Amerika Serikat dan Israel. Namun Iran menguasai Selat Hormuz sebagai kekuatan
prnekan dan pengendali ekonomi global.
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang sangat
strategis di Timur Tengah, terletak di antara Iran (utara) dan Oman/Uni Emirat
Arab (selatan), menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra
Hindia. Ini adalah jalur pelayaran minyak mentah dan LNG paling vital di dunia,
yang melayani sekitar 20-30% pasokan energi global harian.
Hampir 20% konsumsi minyak dunia melewati selat ini,
menjadikannya jalur utama bagi eksportir Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Qatar,
dan Iran.
Posisi Geografis: Lebarnya hanya sekitar 33 km (21
mil) pada titik tersempit, dengan jalur pelayaran yang terbatas. Karena
lokasinya yang krusial, ketegangan politik, khususnya yang melibatkan Iran,
sering kali mengancam keamanan jalur ini, yang berpotensi melambungkan harga
minyak dunia.
Meski diapit negara-negara tertentu, selat ini
dianggap sebagai jalur pelayaran internasional berdasarkan hukum laut (UNCLOS),
yang memberikan hak transit passage bagi kapal-kapal dunia.
Selat ini sering digambarkan sebagai urat nadi
ketahanan energi global, di mana gangguan kecil sekalipun dapat berdampak
signifikan pada pasokan energi, terutama bagi negara-negara industri di Asia.
Oleh karena itu, pasca agresi militer Amerika-Israel
kepada Iran, aliansi militer negata-negara islam di kawasan Teluk, sangat perlu
dibentuk sebagai respons terhadap potensi ancaman dari Israel-Amerika Serikat.
Aliansi tersebut juga sekaligus menghentikan hegemoni Amerika di kawasan Teluk.
Negara pendirinya meliputi “Negara Teluk Arab (Arab Gulf States)” adalah
kelompok negara Arab yang berbatasan langsung dengan Teluk Persia/Arab,
terutama berfokus pada enam negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC): Arab
Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman. Terkadang Irak
dimasukkan dalam definisi geografis yang lebih luas.
Negara-negara ini dikenal memiliki tradisi budaya dan
struktur politik yang mirip, serta mayoritas tergolong negara kaya minyak. Negara-negara
Islam di kawasan Teluk Arab utamanya enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk
(GCC) yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni: (Arab Saudi, Kuwait, Bahrain,
Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman). Termasuk Irak dan Iran juga berbatasan
dengan Teluk Persia tetapi sering dikategorikan terpisah secara geopolitik
karena mayoritas penduduknya muslim Syi'ah.
Makassar, 1 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar