Translate

Selasa, 31 Maret 2026

Aliansi Bersama Negara Teluk Mengakhiri Hegemoni Amerika

 

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 Mahfuz Sidik mendorong negara-negara Teluk perlu segera memikirkan aliansi baru, membangun aliansi bersama untuk menghilangkan hegemoni Amerika Serikat (AS) di Kawasan Timur Tengah (Timteng) baik secara ekonomi, politik dan militer.






-----

Rabu, 1 April 2026


Aliansi Bersama Negara Teluk Mengakhiri Hegemoni Amerika

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Aliansi adalah hubungan kerja sama, persekutuan, atau ikatan formal antara dua pihak atau lebih—baik individu, kelompok, organisasi, maupun negara—yang bergabung untuk mencapai tujuan bersama yang saling menguntungkan. Anggota aliansi sering disebut sebagai sekutu, dan ikatan ini umumnya didasarkan pada perjanjian atau komitmen strategis jangka panjang.

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 Mahfuz Sidik mendorong negara-negara Teluk perlu segera memikirkan aliansi baru, membangun aliansi bersama untuk menghilangkan hegemoni Amerika Serikat (AS) di Kawasan Timur Tengah (Timteng) baik secara ekonomi, politik dan militer.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam acara diskusi Bola Liar Kompas TV dengan tema ‘Iran Unggul Strategis, Trump Mau Invasi Darat atau Negosiasi?’ di Jakarta, Jumat (27/3/2026) malam.

”Negara-negara Teluk ini perlu memikirkan aliansi baru pasca perang untuk menghilangkan hegemoni Amerika di kawasan tersebut. Iran sudah mengajukan proposal untuk membangun aliansi bersama,” kata Mahfuz Sidik, dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026).

Menurut Mahfuz, aliansi ini tidak hanya beranggotakan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain saja, tetapi negara-negara lain di kawasan Timteng ada Iran, Irak, Turki dan lain-lain.

“Perang ini adalah gong yang menandakan berakhirnya hegemoni ekonomi, politik dan militer Amerika di kawasan Timur Tengah,” kata Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini.

Dengan adanya aliansi bersama ini, maka kata Mahfuz, secara tidak langsung AS-Israel telah mengakui kekalahan dalam perang dengan Iran yang telah berlangsung selama satu bulan ini.

“Trump (Presiden AS Donald Trump) menelan pil pahit. Trump benar-benar salah kalkulasi, tidak bisa memenangkan perang dengan Iran. Trump sekarang berpikir bagaimana perang ini segera berakhir.,” katanya.

Amerika, lanjut Mahfuz, mengalami kekalahan secara strategis dalam perang asimetris dengan Iran. Ia yakin Trump tidak akan melakukan seragan darat.

Dalam perkembangannya, Amerika  berhasil menanamkan pengaruhnya (hegemoni Barat) kepada negara-negara islam dikawasan Teluk Persia, melalui propaganda keamanan kawasan atas perlindungan NATO. Pada hal sasaran utama Amerika, adalah menancapkan kekuatan hegemoninya dengan membangun pangkalan militer dibeberapa negara Teluk tersebut.

Hegemoni Barat adalah dominasi pengaruh politik, ekonomi, militer, dan budaya negara-negara Barat (AS & Eropa) secara global, terutama di Asia dan Afrika. Dominasi ini melanda berbagai aspek kehidupan seperti bahasa, teknologi, serta pola konsumsi masyarakat melalui globalisasi. Pengaruhnya sering memicu ketimpangan ekonomi dan resistensi budaya.

Karakteristik Utama Hegemoni Barat, seperti:

(1). Dominasi Ekonomi; Penggunaan dolar AS sebagai mata uang internasional dan kontrol terhadap lembaga keuangan dunia. (2). Pengaruh Budaya; Adopsi gaya hidup Barat, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dan dominasi media. (3). Politik dan Teknologi; Penguasaan teknologi canggih membolehkan negara Barat memaksakan kebijakan di panggung internasional, bahkan terhadap negara berkembang. (4). Globalisasi; Proses penyatuan dunia di bawah standar budaya dan ekonomi yang ditentukan oleh peradaban Barat.

Dampaknya, kini hegemoni ini sering dikritik sebagai bentuk "penjajahan modern (neo-imperialisme)" yang merusak ekonomi global demi kepentingan negara industri, meminggirkan budaya lokal, norma agama dan moral, serta menciptakan ketergantungan bagi negara berkembang kepada negara industri. Namun, saat ini pengaruh tersebut dinilai mulai menurun seiring munculnya kekuatan baru di Asia.

Iran semakin diakui sebagai kekuatan regional yang signifikan di Asia Barat (Timur Tengah) dan muncul sebagai kekuatan menengah dengan pengaruh geopolitik dan militer yang meningkat. Berdasarkan perkembangan terkini hingga awal 2026, berikut beberapa alasan mengapa Iran dianggap sebagai kekuatan baru:

1. Kekuatan Militer Utama:

Iran menempati peringkat ke-13 dalam Global Firepower Index. Iran memiliki sekitar 534.000 hingga 600.000 personel militer aktif.

2. Teknologi Rudal Tercanggih:

Iran memiliki kemampuan rudal balistik yang maju, termasuk rudal Fattah-1 dan Kheybar Shekan yang sulit dicegat.

3. "Adidaya Energi":

Iran memiliki cadangan gas alam terbesar kedua dan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, memberikan pengaruh ekonomi dan geopolitik yang besar.

4. Pengaruh Regional (Poros Perlawanan):

Iran membangun "kekaisaran" atau pengaruh di Asia Barat melalui jaringan sekutu dan proksi, yang membuat mereka menjadi pemain kunci dalam keamanan regional.

5. Kemandirian Pertahanan:

Doktrin militer Iran bergeser dari defensif ke ofensif dengan penggunaan senjata buatan dalam negeri.

Meskipun demikian, Iran menghadapi tantangan ekonomi akibat sanksi internasional dan isolasi politik yang membatasi ambisinya. Di tahun 2026, Iran juga menghadapi ketegangan militer yang meningkat dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun Iran menguasai Selat Hormuz sebagai kekuatan prnekan dan pengendali ekonomi global.

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang sangat strategis di Timur Tengah, terletak di antara Iran (utara) dan Oman/Uni Emirat Arab (selatan), menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Ini adalah jalur pelayaran minyak mentah dan LNG paling vital di dunia, yang melayani sekitar 20-30% pasokan energi global harian.

Hampir 20% konsumsi minyak dunia melewati selat ini, menjadikannya jalur utama bagi eksportir Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Qatar, dan Iran.

Posisi Geografis: Lebarnya hanya sekitar 33 km (21 mil) pada titik tersempit, dengan jalur pelayaran yang terbatas. Karena lokasinya yang krusial, ketegangan politik, khususnya yang melibatkan Iran, sering kali mengancam keamanan jalur ini, yang berpotensi melambungkan harga minyak dunia.

Meski diapit negara-negara tertentu, selat ini dianggap sebagai jalur pelayaran internasional berdasarkan hukum laut (UNCLOS), yang memberikan hak transit passage bagi kapal-kapal dunia.

Selat ini sering digambarkan sebagai urat nadi ketahanan energi global, di mana gangguan kecil sekalipun dapat berdampak signifikan pada pasokan energi, terutama bagi negara-negara industri di Asia.

Oleh karena itu, pasca agresi militer Amerika-Israel kepada Iran, aliansi militer negata-negara islam di kawasan Teluk, sangat perlu dibentuk sebagai respons terhadap potensi ancaman dari Israel-Amerika Serikat. Aliansi tersebut juga sekaligus menghentikan hegemoni Amerika di kawasan Teluk. Negara pendirinya meliputi “Negara Teluk Arab (Arab Gulf States)” adalah kelompok negara Arab yang berbatasan langsung dengan Teluk Persia/Arab, terutama berfokus pada enam negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC): Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman. Terkadang Irak dimasukkan dalam definisi geografis yang lebih luas.

Negara-negara ini dikenal memiliki tradisi budaya dan struktur politik yang mirip, serta mayoritas tergolong negara kaya minyak. Negara-negara Islam di kawasan Teluk Arab utamanya enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni: (Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman). Termasuk Irak dan Iran juga berbatasan dengan Teluk Persia tetapi sering dikategorikan terpisah secara geopolitik karena mayoritas penduduknya muslim Syi'ah.

 

 

Makassar, 1 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar