Saat ini kebijakan ekonomi dan politik Indonesia dikendalikan oleh kapitalis. Indonesia harus selalu tergantung pada utang luar negeri yang mengikat, agar sumber daya alamnya tetap dikuasai sebagai bahan baku negara industri pemberian utang.
-----
Selasa, 7 April 2026
Belajar Dari Kemandirian Iran Membangun Potensi
Ketahanan
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Potensi ketahanan nasional Indonesia bertumpu pada
Astagatra (tiga aspek alamiah dan lima aspek sosial) yang mencakup kekayaan
geografis, SDA, demografi, serta stabilitas ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya, dan pertahanan. Ketahanan ini diwujudkan melalui pendekatan
komprehensif, mengelola ancaman tradisional (invasi) dan non-tradisional
(siber, ekonomi) demi kedaulatan NKRI.
Trigatra (Aspek Alamiah), yaitu: Posisi silang
strategis, kekayaan alam melimpah, dan bonus demografi/SDM. Sedangkan Pancagatra
(Aspek Sosial), meliputi: Ideologi Pancasila, sistem politik demokratis,
ekonomi yang mandiri, ketahanan sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Untuk itu, agar Indonesia bisa bangkit menjadi negara
maju sejajar dengan negara-negara industri global, harus berani melepaskan
tambatan perahu pinisi serta pemandangan indah di pantai. Dengan mengedepankan
keberanian berlayar ke laut bebas, menggapai kemandirian dan cita-cita seperti
kemandirian negara Iran. Indonesia harus belajar dari kemandirian Iran, yang
telah terbukti berhasil membangun potensi dan ketahanan nasionalnya.
Saat ini kebijakan ekonomi dan politik Indonesia
dikendalikan oleh kapitalis. Indonesia harus selalu tergantung pada utang luar
negeri yang mengikat, agar sumber daya alamnya tetap dikuasai sebagai bahan
baku negara industri pemberian utang. Sama seperti negara-negara Arab di Timur
Tengah harus selalu tergantung pada utang barat, agar harga prodak minyak
buminya dikuasai dan ditentukan oleh pemilik modal (AS) sebagai bahan baku industri.
Kapitalis adalah individu atau kelompok yang memiliki
modal, alat produksi, dan aset ekonomi, serta menginvestasikannya untuk
memperoleh keuntungan maksimal. Mereka adalah penggerak utama dalam sistem
ekonomi kapitalisme, di mana pasar bebas dan kepemilikan swasta memegang peranan
penting, bukan negara.
Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana alat-alat
produksi, seperti modal dan bisnis, dimiliki dan dikelola oleh pihak swasta
atau individu bukan oleh negara, dengan tujuan mencari keuntungan dalam pasar
bebas. Sistem ini mengandalkan mekanisme permintaan dan penawaran serta
mengakui hak milik pribadi atas aset. Sementara modal utang global yang
beredar, dan sistem perbankan dikuasai oleh kapitslis sekuler Yahudi.
Setelah membaca analisis yang dibuat oleh Fathimah Al
Ma'shumah di akun Threads (@fatimah.almashumah), dapat dipahami mengapa negara
Iran bisa kuat bahkan sangat kuat menghadapi tekanan, ancaman bahkan teror dan
agresi dari Amerika-Israel dan negara sekutunya.
Padahal Iran telah dikenakan berbagai bentuk embargo
dan sanksi oleh Amerika Serikat dan sekutunya selama hampir lima dekade,
dimulai sejak krisis sandera tahun 1979-1981. Sanksi ini kemudian terus
berlanjut dan diperketat selama beberapa dekade, terutama terkait dengan
program nuklir dan rudal Iran.
Tahun 2000-an: Sanksi semakin keras menyasar sektor
energi dan perbankan karena isu nuklir. 2015-2017: Sanksi sempat dilonggarkan
setelah JCPOA (perjanjian nuklir), namun diperketat kembali oleh AS pada tahun
2017.
2020-2026: Meskipun embargo senjata PBB berakhir pada
Oktober 2020, AS dan beberapa negara lain tetap memberlakukan sanksi unilateral
yang intensif hingga saat ini.
Meskipun diembargo selama 47 tahun, Iran terus
bertahan dengan mengalihkan tujuan ekspor, terutama ke Asia (seperti China).
Iran, dengan nama resmi Republik Islam Iran, juga
dikenal sebagai Persia, adalah sebuah negara yang terletak di Asia Barat. Meski
negara ini telah dikenal penduduk lokal sebagai "Iran" sejak zaman
kuno, hingga tahun 1935 Iran masih disebut sebagai "Persia" di dunia
Barat.
Secara teori negara, kondisi Iran seharusnya sudah
hancur lebur diembargo selama 47 tahun. Tapi nyatanya, justru negara ini
semakin kuat menyaingi Amerika dan Cina bahkan menjadi negara super power tidak
hanya di kawasan Timur Tengah tetapi di dunia global saat ini.
Berikut ini analisis Fathimah Al Ma'shumah tentang
Iran. Amerika dengan segala sistem kapitalisme tidak berdaya menghadapi
kedikjayaan negara Republik Islam Iran.
IRAN
& PARADOKS EMBARGO
oleh: Fathimah Al Ma'shumah
_(PhD graduate in Statistics & Machine Learning)_
https://www.threads.com/@fathimah.almashumah/post/DWl7xgdiTXs
Kalau kita cari di Google: Iranian Rials to USD...
Kita akan lihat: IRR = 0.00 USD (!)
Mata uangnya seolah nggak ada harganya.
Seolah hyperinflasi.
Seolah negara sekarat.
Tapi kok 47 tahun diembargo, masih tegak berdiri?
Kehidupan masih berjalan, bergulir. Chill. Santuyyy.
Di balik itu semua, ada strategi-strategi yang
mindblowing — yang justru berbalik jadi keunggulan Iran dibanding hampir semua
negara di dunia.
Mohon disimak,
Banyak pelajarannya jang buat kita tetkagum-kagum.
1. Iran tidak berdagang pakai SWIFT, tapi tetap
berdagang.
Waktu Iran dikeluarkan
dari sistem pembayaran internasional SWIFT, dunia barat pikir:
"selesai."
Ternyata Iran justru
membangun jaringan barter bilateral langsung — dengan China, Rusia, India,
Turki, Iraq.
Minyak ditukar beras.
Gas ditukar
infrastruktur.
Komoditas ditukar
komoditas.
Tanpa dolar. Tanpa izin
Washington.
2. Iran tidak bergantung pada VISA, Mastercard, atau
sistem pembayaran Barat.
Ini bukan kelemahan.
Ini ternyata kedaulatan
penuh. Negara-negara yang bergantung pada VISA/Mastercard = negara yang bisa
"dimatikan tombolnya" kapan saja dari luar. Iran punya sistem
pembayaran domestik sendiri: Shetab — jaringan interbank nasional yang sepenuhnya
di bawah kendali Iran.
Sanksi keuangan Barat?
Tidak bisa menyentuh transaksi dalam negeri mereka sama sekali.
3. Kejatuhan mata uang ≠ kejatuhan negara.
Ini yang paling sering
disalahpahami. Rial Iran memang jatuh nilainya terhadap dolar.
Tapi rakyat Iran masih
makan. Listrik masih nyala. Pabrik masih jalan.
Kenapa?
Karena backup sebuah
negara bukan pada jumlah kertas yang beredar —
tapi pada jumlah produksi
dan jumlah aktivitas ekonomi riil di dalamnya.
Selama ladang gandum
masih panen, selama pabrik baja masih produksi, selama dokter masih praktik —
negara itu hidup.
4. Iran membangun ekonomi yang sengaja de-dollarized.
Ini yang sekarang
dikejar-kejar negara lain (BRICS, dll) —
Iran sudah melakukannya
terpaksa sejak 1979.
Hasilnya?
Mereka SUDAH KEBAL
terhadap senjata paling ampuh Amerika:
manipulasi nilai tukar
dan pembekuan aset.
Russia baru belajar ini
tahun 2022. Iran sudah menguasainya sejak dekade lalu.
5. Sanksi memaksa Iran menjadi salah satu negara paling
self-sufficient di dunia.
Obat-obatan?
Iran produksi sendiri —
sekarang salah satu eksportir farmasi di kawasan.
Militer?
Iran tidak bisa beli
senjata, maka mereka buat sendiri — drone Shahed kini dipakai puluhan negara.
Pangan?
Iran adalah salah satu
produsen pistachio, saffron, dan gandum terbesar dunia.
Embargo mengajarkan
mereka: jangan pernah bergantung pada musuhmu untuk kebutuhanmu.
6. Iran bermain di ekonomi bayangan yang lebih besar
dari yang kita kira.
Jaringan perdagangan
informal Iran — melalui UAE, Oman, Iraq — nilainya diperkirakan puluhan miliar
dolar per tahun.
Bukan ilegal di mata
mereka. Ini survival strategy yang sudah diwariskan turun-temurun sejak jalur
sutra.
Pedagang Iran sudah ahli
berputar di antara celah-celah sistem global jauh sebelum embargo modern ada.
7. Yang paling paradoks:
Negara-negara yang tidak
diembargo — yang bergantung penuh pada SWIFT, VISA, IMF, dan dtekan--justru
lebih rentan terhadap tekanan geopolitik. Satu keputusan Washington bisa
melumpuhkan ekonomi mereka dalam semalam.
Iran sudah imun dari
skenario itu.
Jadi: IRR = 0.00 USD di
Google bukan tanda kematian. Itu tanda bahwa Iran sudah keluar dari permainan
yang memang dirancang untuk mengendalikan mereka.
Mereka tidak menang di
papan catur yang sama. Mereka membangun papan catur sendiri.
Setuju atau tidak setuju,
strategi ketahanan ekonomi Iran adalah salah satu studi kasus paling menarik
dalam sejarah geopolitik modern.
Negara yang kuat lahir dari setiap bagian negara dan
juga setiap satuan individu yang tidak mudah dikendalikan oleh sistem luar.
Sementara Umat Islam Indonesia masih lebih banyak yang "buta politik dan
bodoh politik", akibat propaganda barat dan Zionis Yahudi, melalui
pendekatan materi, uang, dan kepentingan, sehingga tidak bisa membedakan antara
kelompok Islamopobhia/sekuler dengan sesamanya muslim. Akibatnya kaum kapitalis
(pemilik modal/bisnis), mampu menerapkan strategi politik "de vide at invera
(pecah belah lalu kuasai)."
Istilah "buta politik" (dan "bodoh
politik") adalah sindiran tajam dari penyair Jerman, Bertolt Brecht, yang
menggambarkan orang yang tidak peduli, bangga membenci politik, atau apatis
terhadap kebijakan negara. Mereka dianggap "bodoh" karena tidak
menyadari bahwa biaya hidup, pendidikan, dan nasib sehari-hari ditentukan oleh
keputusan politik (Kebijakan publik).
Makassar, 7 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar