Translate

Senin, 06 April 2026

Belajar Dari Kemandirian Iran Membangun Potensi Ketahanan

 

Saat ini kebijakan ekonomi dan politik Indonesia dikendalikan oleh kapitalis. Indonesia harus selalu tergantung pada utang luar negeri yang mengikat, agar sumber daya alamnya tetap dikuasai sebagai bahan baku negara industri pemberian utang. 







-----

Selasa, 7 April 2026


Belajar Dari Kemandirian Iran Membangun Potensi Ketahanan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Potensi ketahanan nasional Indonesia bertumpu pada Astagatra (tiga aspek alamiah dan lima aspek sosial) yang mencakup kekayaan geografis, SDA, demografi, serta stabilitas ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan. Ketahanan ini diwujudkan melalui pendekatan komprehensif, mengelola ancaman tradisional (invasi) dan non-tradisional (siber, ekonomi) demi kedaulatan NKRI.

Trigatra (Aspek Alamiah), yaitu: Posisi silang strategis, kekayaan alam melimpah, dan bonus demografi/SDM. Sedangkan Pancagatra (Aspek Sosial), meliputi: Ideologi Pancasila, sistem politik demokratis, ekonomi yang mandiri, ketahanan sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

Untuk itu, agar Indonesia bisa bangkit menjadi negara maju sejajar dengan negara-negara industri global, harus berani melepaskan tambatan perahu pinisi serta pemandangan indah di pantai. Dengan mengedepankan keberanian berlayar ke laut bebas, menggapai kemandirian dan cita-cita seperti kemandirian negara Iran. Indonesia harus belajar dari kemandirian Iran, yang telah terbukti berhasil membangun potensi dan ketahanan nasionalnya.

Saat ini kebijakan ekonomi dan politik Indonesia dikendalikan oleh kapitalis. Indonesia harus selalu tergantung pada utang luar negeri yang mengikat, agar sumber daya alamnya tetap dikuasai sebagai bahan baku negara industri pemberian utang. Sama seperti negara-negara Arab di Timur Tengah harus selalu tergantung pada utang barat, agar harga prodak minyak buminya dikuasai dan ditentukan oleh pemilik modal (AS) sebagai bahan baku industri.

Kapitalis adalah individu atau kelompok yang memiliki modal, alat produksi, dan aset ekonomi, serta menginvestasikannya untuk memperoleh keuntungan maksimal. Mereka adalah penggerak utama dalam sistem ekonomi kapitalisme, di mana pasar bebas dan kepemilikan swasta memegang peranan penting, bukan negara.

Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana alat-alat produksi, seperti modal dan bisnis, dimiliki dan dikelola oleh pihak swasta atau individu bukan oleh negara, dengan tujuan mencari keuntungan dalam pasar bebas. Sistem ini mengandalkan mekanisme permintaan dan penawaran serta mengakui hak milik pribadi atas aset. Sementara modal utang global yang beredar, dan sistem perbankan dikuasai oleh kapitslis sekuler Yahudi.

Setelah membaca analisis yang dibuat oleh Fathimah Al Ma'shumah di akun Threads (@fatimah.almashumah), dapat dipahami mengapa negara Iran bisa kuat bahkan sangat kuat menghadapi tekanan, ancaman bahkan teror dan agresi dari Amerika-Israel dan negara sekutunya.

Padahal Iran telah dikenakan berbagai bentuk embargo dan sanksi oleh Amerika Serikat dan sekutunya selama hampir lima dekade, dimulai sejak krisis sandera tahun 1979-1981. Sanksi ini kemudian terus berlanjut dan diperketat selama beberapa dekade, terutama terkait dengan program nuklir dan rudal Iran.

Tahun 2000-an: Sanksi semakin keras menyasar sektor energi dan perbankan karena isu nuklir. 2015-2017: Sanksi sempat dilonggarkan setelah JCPOA (perjanjian nuklir), namun diperketat kembali oleh AS pada tahun 2017.

2020-2026: Meskipun embargo senjata PBB berakhir pada Oktober 2020, AS dan beberapa negara lain tetap memberlakukan sanksi unilateral yang intensif hingga saat ini.

Meskipun diembargo selama 47 tahun, Iran terus bertahan dengan mengalihkan tujuan ekspor, terutama ke Asia (seperti China).

Iran, dengan nama resmi Republik Islam Iran, juga dikenal sebagai Persia, adalah sebuah negara yang terletak di Asia Barat. Meski negara ini telah dikenal penduduk lokal sebagai "Iran" sejak zaman kuno, hingga tahun 1935 Iran masih disebut sebagai "Persia" di dunia Barat.

Secara teori negara, kondisi Iran seharusnya sudah hancur lebur diembargo selama 47 tahun. Tapi nyatanya, justru negara ini semakin kuat menyaingi Amerika dan Cina bahkan menjadi negara super power tidak hanya di kawasan Timur Tengah tetapi di dunia global saat ini.

Berikut ini analisis Fathimah Al Ma'shumah tentang Iran. Amerika dengan segala sistem kapitalisme tidak berdaya menghadapi kedikjayaan negara Republik Islam Iran.

 

IRAN & PARADOKS EMBARGO

 

oleh: Fathimah Al Ma'shumah

_(PhD graduate in Statistics & Machine Learning)_

 https://www.threads.com/@fathimah.almashumah/post/DWl7xgdiTXs

Kalau kita cari di Google: Iranian Rials to USD... Kita akan lihat: IRR = 0.00 USD (!)

Mata uangnya seolah nggak ada harganya.

Seolah hyperinflasi.

Seolah negara sekarat.

Tapi kok 47 tahun diembargo, masih tegak berdiri? Kehidupan masih berjalan, bergulir. Chill. Santuyyy.

Di balik itu semua, ada strategi-strategi yang mindblowing — yang justru berbalik jadi keunggulan Iran dibanding hampir semua negara di dunia.

Mohon disimak,

Banyak pelajarannya jang buat kita tetkagum-kagum.

1. Iran tidak berdagang pakai SWIFT, tapi tetap berdagang.

Waktu Iran dikeluarkan dari sistem pembayaran internasional SWIFT, dunia barat pikir: "selesai."

Ternyata Iran justru membangun jaringan barter bilateral langsung — dengan China, Rusia, India, Turki, Iraq.

Minyak ditukar beras.

Gas ditukar infrastruktur.

Komoditas ditukar komoditas.

Tanpa dolar. Tanpa izin Washington.

2. Iran tidak bergantung pada VISA, Mastercard, atau sistem pembayaran Barat.

Ini bukan kelemahan.

Ini ternyata kedaulatan penuh. Negara-negara yang bergantung pada VISA/Mastercard = negara yang bisa "dimatikan tombolnya" kapan saja dari luar. Iran punya sistem pembayaran domestik sendiri: Shetab — jaringan interbank nasional yang sepenuhnya di bawah kendali Iran.

Sanksi keuangan Barat? Tidak bisa menyentuh transaksi dalam negeri mereka sama sekali.

3. Kejatuhan mata uang ≠ kejatuhan negara.

Ini yang paling sering disalahpahami. Rial Iran memang jatuh nilainya terhadap dolar.

Tapi rakyat Iran masih makan. Listrik masih nyala. Pabrik masih jalan.

Kenapa?

Karena backup sebuah negara bukan pada jumlah kertas yang beredar —

tapi pada jumlah produksi dan jumlah aktivitas ekonomi riil di dalamnya.

Selama ladang gandum masih panen, selama pabrik baja masih produksi, selama dokter masih praktik — negara itu hidup.

4. Iran membangun ekonomi yang sengaja de-dollarized.

Ini yang sekarang dikejar-kejar negara lain (BRICS, dll) —

Iran sudah melakukannya terpaksa sejak 1979.

Hasilnya?

Mereka SUDAH KEBAL terhadap senjata paling ampuh Amerika:

manipulasi nilai tukar dan pembekuan aset.

Russia baru belajar ini tahun 2022. Iran sudah menguasainya sejak dekade lalu.

5. Sanksi memaksa Iran menjadi salah satu negara paling self-sufficient di dunia.

Obat-obatan?

Iran produksi sendiri — sekarang salah satu eksportir farmasi di kawasan.

Militer?

Iran tidak bisa beli senjata, maka mereka buat sendiri — drone Shahed kini dipakai puluhan negara.

Pangan?

Iran adalah salah satu produsen pistachio, saffron, dan gandum terbesar dunia.

Embargo mengajarkan mereka: jangan pernah bergantung pada musuhmu untuk kebutuhanmu.

6. Iran bermain di ekonomi bayangan yang lebih besar dari yang kita kira.

Jaringan perdagangan informal Iran — melalui UAE, Oman, Iraq — nilainya diperkirakan puluhan miliar dolar per tahun.

Bukan ilegal di mata mereka. Ini survival strategy yang sudah diwariskan turun-temurun sejak jalur sutra.

Pedagang Iran sudah ahli berputar di antara celah-celah sistem global jauh sebelum embargo modern ada.

7. Yang paling paradoks:

Negara-negara yang tidak diembargo — yang bergantung penuh pada SWIFT, VISA, IMF, dan dtekan--justru lebih rentan terhadap tekanan geopolitik. Satu keputusan Washington bisa melumpuhkan ekonomi mereka dalam semalam.

Iran sudah imun dari skenario itu.

Jadi: IRR = 0.00 USD di Google bukan tanda kematian. Itu tanda bahwa Iran sudah keluar dari permainan yang memang dirancang untuk mengendalikan mereka.

Mereka tidak menang di papan catur yang sama. Mereka membangun papan catur sendiri.

Setuju atau tidak setuju, strategi ketahanan ekonomi Iran adalah salah satu studi kasus paling menarik dalam sejarah geopolitik modern.

Negara yang kuat lahir dari setiap bagian negara dan juga setiap satuan individu yang tidak mudah dikendalikan oleh sistem luar. Sementara Umat Islam Indonesia masih lebih banyak yang "buta politik dan bodoh politik", akibat propaganda barat dan Zionis Yahudi, melalui pendekatan materi, uang, dan kepentingan, sehingga tidak bisa membedakan antara kelompok Islamopobhia/sekuler dengan sesamanya muslim. Akibatnya kaum kapitalis (pemilik modal/bisnis), mampu menerapkan strategi politik "de vide at invera (pecah belah lalu kuasai)."

Istilah "buta politik" (dan "bodoh politik") adalah sindiran tajam dari penyair Jerman, Bertolt Brecht, yang menggambarkan orang yang tidak peduli, bangga membenci politik, atau apatis terhadap kebijakan negara. Mereka dianggap "bodoh" karena tidak menyadari bahwa biaya hidup, pendidikan, dan nasib sehari-hari ditentukan oleh keputusan politik (Kebijakan publik).

 

 

Makassar, 7 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar