Ilustrasi Amerika mengajukan 15 syarat penghentian perang, merupakan isyarat gencatan senjata sebagai tanda mengibarkan bendera putih (menyerah). Berarti Dahlan Iskan keliru dalam melakukan analisis, karena menganggap kedua-duanya kalah.
-----
Jum'at, 27 Mret 2026
Amerika Minta Gencatan Senjata Tanda Menyerah
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Ilustrasi Amerika mengajukan 15 syarat penghentian
perang, merupakan isyarat gencatan senjata sebagai tanda mengibarkan bendera
putih (menyerah). Berarti Dahlan Iskan keliru dalam melakukan analisis, karena menganggap kedua-duanya kalah.
Setelah 25 hari Israrl-Amerika vs Iran siapa yang
menang? Demikian pertanyaan Dahlan Iskan, setidaknya untuk sementara?
Dua-duanya kalah Itu kesimpulan saya, menurut Dahlan Iskan.
Banyak yang menilai Amerika kalah. Tapi tidak ada yang
menilai Iran sudah menang.
Amerika dinilai kalah karena tujuannya menyerang Iran
gagal total: mengganti pemerintahan dari yang anti-Amerika ke pro-Amerika.
Kalau toh Iran dikatakan menang, itu karena tidak ada
negara lain yang mampu melawan Amerika (plus Israel) sehebat Iran.
Demikian kesimpulan opini menurut Dahlan Iskan.
Sudah dihujani bom selama 25 hari, Iran masih bisa terus
membalasnya. Bahkan kian ke belakang kian modern senjata balistik yang
diluncurkan ke Israel.
Iran ingin melumpuhkan kekuatan militer AS-Israel
dibeberapa negara teluk, untuk menghentikan dan mengakhiri perang dengan
melumpuhkan kekuatsn militet AS. Namun Iran pun siap untuk perang panjang jika
Amerika tidak sadar. Amerika yang justru kelihatannya tidak siap.
Tiba-tiba saja di hari ke-25 Presiden Donald Trump
mengatakan pembicaraan dengan Iran sangat memberi harapan dan produktif.
Tentu saja Iran kaget: kapan ada pembicaraan dengan
Amerika. Bahkan Iran menegaskan: sudah tidak ada lagi ruang untuk diplomasi,
walaupun Amerika bersikeras berupaya terjadinya diplomasi melalui perantara
Pakistan.
Anda sudah tahu, dari media internasional, apa saja
yang diminta Amerika. Total ada 15 permintaan. Pakistan mengatakan daftar
keinginan Amerika itu sudah pula diserahkan ke pihak Iran.
Yang menarik, tidak ada satu pun permintaan Amerika
untuk mengganti pemerintahan. Padahal tujuan utama penyerangan terhadap Iran,
justru untuk itu mengganti pemerintahan yang sah menjadi pemerintahan yang boro
Amerika, seperti yang pernah dilakukan AS terhadap Irak yang juga menganut
paham Syi'ah.
Iran pun belajar dari perundingan sebelum serangan
Israel-Amerika ke Iran: banyak hal sudah disepakati. Tapi ketika perundingan
sudah mendekati final, justru Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 yang
didukung oleh Amerika.
Sampai-sampai ada analis yang menyimpulkan: setiap
kali perundingan Amerika-Iran hampir selesai, ada saja ulah Israel untuk
menghambatnya. Misalnya dengan cara membunuh ahli nuklir yang terlibat dalam
perundingan.
Permintaan nomor 1 dari 15 permintaan Amerika adalah:
gencatan senjata selama satu bulan. Nomor 2 sampai nomor 4 soal nuklir. Apakah
permintaan Amerika i i merupakan siasat menunda peperangan, sampai
negara-negara teluk dan Anggota NATO dapat diberdayakan kembali?.
Permintaan berikutnya agak berat bagi Iran: yaitu
membatasi produksi senjata balistik sampai pada jangkauan tertentu. Senjata
seperti itulah yang saat ini ditakuti karena sangat mengancam Israel dan para
sahabat Amerika di Teluk.
Permintaan berikutnya ringan, tapi melumpuhkan dukungan
Iran dalam membela palestina: jangan lagi membantu gerakan anti-Amerika di luar
negeri seperti Houti di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.
Nomor berikutnya lebih politis lagi: jangan menyerang
pusat-pusat minyak di negara-negara tetangga. Iran pasti setuju ini.
Karenacsejak awal Iran tidak mau menyerang kilan-kilan minyak, kecuali pangkalan
militer Amerika di sana.
Permintaan berikutnya juga enteng: membuka kembali
selat Hormuz. Itu enteng karena Iran sendiri perlu uang dari minyak. Tapi
khusus bagi negara-negara yang bukan Sekutu Amerika.
Nomor berikutnya rasanya juga tidak berat, v tapi
jebajan: kalau Iran ingin membangun pembangkit listrik nuklir harus melibatkan
Amerika.
Kita belum tahu daftar permintaan Iran. Tapi selama
ini Anda sudah tahu: Iran meminta agar semua kerusakan di Iran diberi ganti
rugi.
Dari daftar permintaan Amerika itu, terlihat sekali
bahwa posisi Iran lebih kuat daripada perundingan sebelum serangan 28 Februari.
Tentu kita tidak tahu masih seberapa kuat persenjataan Iran untuk terus membalas
serangan Israel dan Amerika.
Begitu banyak tokoh termasuk pemimpin khatismatik
Iran, yang gugur akibat serangan Israel-Amerika selama 25 hari. Tapi Amerika
tidak juga bisa mengumumkan dirinya telah menang melawan Iran. Hal ini pertanda
bahwa Amerika menganggap enteng kekuatan Iran yang telah di embargo selama ini.
Iran telah dikenakan berbagai bentuk embargo dan
sanksi internasional, terutama oleh Amerika Serikat, sejak tahun 1979, tak lama
setelah Revolusi Islam yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan krisis
penyanderaan di kedutaan AS. Sanksi ini terus berlanjut, meluas, dan diperketat
hingga saat ini.
Amerika memang negara besar, tetapi sekarang terbukti
bisa dikendalikan oleh negara kecil seperti Iran.
Dengan demikian ilustrasi Amerika mengajukan 15 syarat
penghentian perang, merupakan isyarat gencatan senjata sebagai tanda mengibarkan
bendera putih (menyerah).
Beberapa
Indikator Tanda Kekalahan Amerika
Analisis Dahlan Iskan adalah upaya menggiring
"Opini Publik Keseimbangan", sekaligus pembelaan terhadap
Amerika-Israel agar tidak jatuh martabatnya di dunia internasional.
Pada hal beberapa indikator, AS kalah telak dari Iran,
seperti:
(1). Iran telah dikenakan berbagai bentuk embargo dan
sanksi internasional, terutama oleh Amerika Serikat, sejak tahun 1979. Sanksi
tersebut mencakup pembekuan aset, embargo minyak, hingga pembatasan sektor
keuangan, yang kemudian diperketat pada tahun 1980, 1995, dan secara signifikan
meningkat sejak 2005-2006 terkait program nuklirnya dalam embargo AS, namun
tidak lumpuh, justeru memperlihatkan kemampuannya melawan AS.
(2). AS-Israel melakukan agresi milter pada satu
negara, untuk meruntuhkan pemerintahan Iran. Tetapi Iran tidak jatuh dan lebih
memperlihatkan ketangguhannya, membombardir pangkalan militernya di beberapa
negara teluk sebagai pangkalan kekuatan AS.
(3). Beberapa negara Sekutu (NATO) lambang kekuatan
AS, menarik diri dan tidak bersedia ikut serta berperang dengan Iran.
(4). AS tidak berhasil mengadu domba negara-negara
islam Sunni di Teluk Persia, untuk berpeng melawan Republik Islam Iran yang
menganut paham Syi'ah.
(5). AS telah mengangkat bendera putih tanda
kekalahan, dengan meminta gencatan senjata.
Iran bukan tidak mau menang melawan AS-Israel,
malainkan karena kemanusiaan dan Iran ingin mengakhiri perang untuk
selama-lamanya. Karena Iran adalah negara Islam yang memiliki semangat jihad
dan tidak takut mati, karena kematian husnul khotimah (sahid) merupakan tujuan
akhir secara individu setiap umat muslim.
Untuk mengakhiri perang, Amerika mengajukan 15 Syarat,
sedangkan Iran cuma mengajukan lima Tuntutan.
Sementara itu, Iran tidak mau kalah dalam lomba
absurditas ini. Mereka menolak proposal tersebut dan mengajukan lima tuntutan
versi mereka sendiri. Secara jumlah memang cuma lima, tapi isinya seperti lima
bab undang-undang yang bikin kepala cenat-cenut.
Iran meminta jaminan tegas. Perang tidak akan terjadi
lagi di masa depan. Kedengarannya masuk akal, tapi di dunia perang, janji
seperti ini sering kali cuma formalitas dengan masa berlaku “selama belum marah
lagi”. Lalu mereka ingin pengaturan baru di Selat Hormuz yang secara efektif
menempatkan kawasan itu di bawah kendali penuh mereka.
Tidak berhenti di situ, Iran juga menuntut penutupan
pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah. Ini bukan sekadar “silakan
pulang”, tapi “sekalian bongkar semua dan jangan balik lagi.” Sebagai penutup
yang dramatis, Iran meminta kompensasi finansial besar atas kerusakan selama
perang. Karena kalau sudah porak-poranda, minimal dompet jangan ikut hancur.
Di titik ini, filsafat perang berubah total. Ini bukan
lagi soal siapa menang atau kalah, tapi siapa yang paling tahan mempertahankan
tuntutan paling tidak masuk akal. Amerika dengan 15 poinnya, Iran dengan lima
tuntutannya.
Mojtaba dalam pidatonya,
mengungkapkan:"Kemenangan Iran adalah kemenangan bagi martabat Islam. Dan
kemerdekaan Palestina adalah janji suci yang akan segera kita saksikan bersama.
Biarkan sejarah mencatat bahwa hari ini, kita berhenti menjadi pecahan yang
terpisah, dan mulai menjadi satu tubuh yang tak tergoyahkan!".
Makassar, 27 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar