Translate

Kamis, 26 Maret 2026

Amerika Minta Gencatan Senjata Tanda Menyerah

 

Ilustrasi Amerika mengajukan 15 syarat penghentian perang, merupakan isyarat gencatan senjata sebagai tanda mengibarkan bendera putih (menyerah). Berarti Dahlan Iskan keliru dalam melakukan analisis, karena menganggap kedua-duanya kalah.







-----

Jum'at, 27 Mret 2026


Amerika Minta Gencatan Senjata Tanda Menyerah

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Ilustrasi Amerika mengajukan 15 syarat penghentian perang, merupakan isyarat gencatan senjata sebagai tanda mengibarkan bendera putih (menyerah). Berarti Dahlan Iskan keliru dalam melakukan analisis, karena menganggap kedua-duanya kalah.

Setelah 25 hari Israrl-Amerika vs Iran siapa yang menang? Demikian pertanyaan Dahlan Iskan, setidaknya untuk sementara? Dua-duanya kalah Itu kesimpulan saya, menurut Dahlan Iskan.

Banyak yang menilai Amerika kalah. Tapi tidak ada yang menilai Iran sudah menang.

Amerika dinilai kalah karena tujuannya menyerang Iran gagal total: mengganti pemerintahan dari yang anti-Amerika ke pro-Amerika.

Kalau toh Iran dikatakan menang, itu karena tidak ada negara lain yang mampu melawan Amerika (plus Israel) sehebat Iran.

Demikian kesimpulan opini menurut Dahlan Iskan.

Sudah dihujani bom selama 25 hari, Iran masih bisa terus membalasnya. Bahkan kian ke belakang kian modern senjata balistik yang diluncurkan ke Israel.

Iran ingin melumpuhkan kekuatan militer AS-Israel dibeberapa negara teluk, untuk menghentikan dan mengakhiri perang dengan melumpuhkan kekuatsn militet AS. Namun Iran pun siap untuk perang panjang jika Amerika tidak sadar. Amerika yang justru kelihatannya tidak siap.

Tiba-tiba saja di hari ke-25 Presiden Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran sangat memberi harapan dan produktif.

Tentu saja Iran kaget: kapan ada pembicaraan dengan Amerika. Bahkan Iran menegaskan: sudah tidak ada lagi ruang untuk diplomasi, walaupun Amerika bersikeras berupaya terjadinya diplomasi melalui perantara Pakistan.

Anda sudah tahu, dari media internasional, apa saja yang diminta Amerika. Total ada 15 permintaan. Pakistan mengatakan daftar keinginan Amerika itu sudah pula diserahkan ke pihak Iran.

Yang menarik, tidak ada satu pun permintaan Amerika untuk mengganti pemerintahan. Padahal tujuan utama penyerangan terhadap Iran, justru untuk itu mengganti pemerintahan yang sah menjadi pemerintahan yang boro Amerika, seperti yang pernah dilakukan AS terhadap Irak yang juga menganut paham Syi'ah.

Iran pun belajar dari perundingan sebelum serangan Israel-Amerika ke Iran: banyak hal sudah disepakati. Tapi ketika perundingan sudah mendekati final, justru Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 yang didukung oleh Amerika.

Sampai-sampai ada analis yang menyimpulkan: setiap kali perundingan Amerika-Iran hampir selesai, ada saja ulah Israel untuk menghambatnya. Misalnya dengan cara membunuh ahli nuklir yang terlibat dalam perundingan.

Permintaan nomor 1 dari 15 permintaan Amerika adalah: gencatan senjata selama satu bulan. Nomor 2 sampai nomor 4 soal nuklir. Apakah permintaan Amerika i i merupakan siasat menunda peperangan, sampai negara-negara teluk dan Anggota NATO dapat diberdayakan kembali?.

Permintaan berikutnya agak berat bagi Iran: yaitu membatasi produksi senjata balistik sampai pada jangkauan tertentu. Senjata seperti itulah yang saat ini ditakuti karena sangat mengancam Israel dan para sahabat Amerika di Teluk.

Permintaan berikutnya ringan, tapi melumpuhkan dukungan Iran dalam membela palestina: jangan lagi membantu gerakan anti-Amerika di luar negeri seperti Houti di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.

Nomor berikutnya lebih politis lagi: jangan menyerang pusat-pusat minyak di negara-negara tetangga. Iran pasti setuju ini. Karenacsejak awal Iran tidak mau menyerang kilan-kilan minyak, kecuali pangkalan militer Amerika di sana.

Permintaan berikutnya juga enteng: membuka kembali selat Hormuz. Itu enteng karena Iran sendiri perlu uang dari minyak. Tapi khusus bagi negara-negara yang bukan Sekutu Amerika.

Nomor berikutnya rasanya juga tidak berat, v tapi jebajan: kalau Iran ingin membangun pembangkit listrik nuklir harus melibatkan Amerika.

Kita belum tahu daftar permintaan Iran. Tapi selama ini Anda sudah tahu: Iran meminta agar semua kerusakan di Iran diberi ganti rugi.

Dari daftar permintaan Amerika itu, terlihat sekali bahwa posisi Iran lebih kuat daripada perundingan sebelum serangan 28 Februari. Tentu kita tidak tahu masih seberapa kuat persenjataan Iran untuk terus membalas serangan Israel dan Amerika.

Begitu banyak tokoh termasuk pemimpin khatismatik Iran, yang gugur akibat serangan Israel-Amerika selama 25 hari. Tapi Amerika tidak juga bisa mengumumkan dirinya telah menang melawan Iran. Hal ini pertanda bahwa Amerika menganggap enteng kekuatan Iran yang telah di embargo selama ini.

Iran telah dikenakan berbagai bentuk embargo dan sanksi internasional, terutama oleh Amerika Serikat, sejak tahun 1979, tak lama setelah Revolusi Islam yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan krisis penyanderaan di kedutaan AS. Sanksi ini terus berlanjut, meluas, dan diperketat hingga saat ini.

Amerika memang negara besar, tetapi sekarang terbukti bisa dikendalikan oleh negara kecil seperti Iran.

Dengan demikian ilustrasi Amerika mengajukan 15 syarat penghentian perang, merupakan isyarat gencatan senjata sebagai tanda mengibarkan bendera putih (menyerah).

Beberapa Indikator Tanda Kekalahan Amerika

Analisis Dahlan Iskan adalah upaya menggiring "Opini Publik Keseimbangan", sekaligus pembelaan terhadap Amerika-Israel agar tidak jatuh martabatnya di dunia internasional.

Pada hal beberapa indikator, AS kalah telak dari Iran, seperti:

(1). Iran telah dikenakan berbagai bentuk embargo dan sanksi internasional, terutama oleh Amerika Serikat, sejak tahun 1979. Sanksi tersebut mencakup pembekuan aset, embargo minyak, hingga pembatasan sektor keuangan, yang kemudian diperketat pada tahun 1980, 1995, dan secara signifikan meningkat sejak 2005-2006 terkait program nuklirnya dalam embargo AS, namun tidak lumpuh, justeru memperlihatkan kemampuannya melawan AS.

(2). AS-Israel melakukan agresi milter pada satu negara, untuk meruntuhkan pemerintahan Iran. Tetapi Iran tidak jatuh dan lebih memperlihatkan ketangguhannya, membombardir pangkalan militernya di beberapa negara teluk sebagai pangkalan kekuatan AS.

(3). Beberapa negara Sekutu (NATO) lambang kekuatan AS, menarik diri dan tidak bersedia ikut serta berperang dengan Iran.

(4). AS tidak berhasil mengadu domba negara-negara islam Sunni di Teluk Persia, untuk berpeng melawan Republik Islam Iran yang menganut paham Syi'ah.

(5). AS telah mengangkat bendera putih tanda kekalahan, dengan meminta gencatan senjata.

Iran bukan tidak mau menang melawan AS-Israel, malainkan karena kemanusiaan dan Iran ingin mengakhiri perang untuk selama-lamanya. Karena Iran adalah negara Islam yang memiliki semangat jihad dan tidak takut mati, karena kematian husnul khotimah (sahid) merupakan tujuan akhir secara individu setiap umat muslim.

Untuk mengakhiri perang, Amerika mengajukan 15 Syarat, sedangkan Iran cuma mengajukan lima Tuntutan.

Sementara itu, Iran tidak mau kalah dalam lomba absurditas ini. Mereka menolak proposal tersebut dan mengajukan lima tuntutan versi mereka sendiri. Secara jumlah memang cuma lima, tapi isinya seperti lima bab undang-undang yang bikin kepala cenat-cenut.

Iran meminta jaminan tegas. Perang tidak akan terjadi lagi di masa depan. Kedengarannya masuk akal, tapi di dunia perang, janji seperti ini sering kali cuma formalitas dengan masa berlaku “selama belum marah lagi”. Lalu mereka ingin pengaturan baru di Selat Hormuz yang secara efektif menempatkan kawasan itu di bawah kendali penuh mereka.

Tidak berhenti di situ, Iran juga menuntut penutupan pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah. Ini bukan sekadar “silakan pulang”, tapi “sekalian bongkar semua dan jangan balik lagi.” Sebagai penutup yang dramatis, Iran meminta kompensasi finansial besar atas kerusakan selama perang. Karena kalau sudah porak-poranda, minimal dompet jangan ikut hancur.

Di titik ini, filsafat perang berubah total. Ini bukan lagi soal siapa menang atau kalah, tapi siapa yang paling tahan mempertahankan tuntutan paling tidak masuk akal. Amerika dengan 15 poinnya, Iran dengan lima tuntutannya.

Mojtaba dalam pidatonya, mengungkapkan:​"Kemenangan Iran adalah kemenangan bagi martabat Islam. Dan kemerdekaan Palestina adalah janji suci yang akan segera kita saksikan bersama. Biarkan sejarah mencatat bahwa hari ini, kita berhenti menjadi pecahan yang terpisah, dan mulai menjadi satu tubuh yang tak tergoyahkan!".

 

 

Makassar, 27 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar