Translate

Rabu, 25 Maret 2026

Perselisihan Sunni & Syiah bermula Dari Suksesi kepemimpinan

 Perbedaan antara Sunni dan Syi'ah sudah terjadi sejak dahulu kala. Awal perselisihan antara Sunni dan Syiah bermula dari perdebatan politik suksesi kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M.

 

 

 

 

 

 

 

 

----- 

Rabu, 25 Maret 2026

 

Perselisihan Sunni & Syiah bermula Dari Suksesi kepemimpinan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Perbedaan antara Sunni dan Syi'ah sudah terjadi sejak dahulu kala. Awal perselisihan antara Sunni dan Syiah bermula dari perdebatan politik suksesi kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Kelompok yang kemudian menjadi Sunni meyakini pemimpin dipilih melalui musyawarah (terpilih Abu Bakar), sementara kelompok Syiah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah penerus sah berdasarkan penunjukan ilahi.

Sejarah perselisihan inilah yang sering dijadikan isu global sebagai senjata "invasi politik" bagi barat khususnya AS, untuk menekan dan menguasai negara-negara Teluk demi kepentingan dagang dan pangsa pasar prodak barat pada negara-negara Arab di Teluk Persia (Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, Oman, dan terkadang Irak).

Invasi politik adalah tindakan penyerangan militer oleh satu negara ke negara lain dengan tujuan menguasai wilayah, mengubah pemerintahan, atau menggulingkan rejim yang berkuasa. Ini merupakan ancaman militer serius yang melibatkan angkatan bersenjata dalam skala besar maupun kecil.

"Senjata" dan Taktik dalam Invasi tidak hanya menggunakan senjata fisik, tetapi juga taktik politik dan informasi, seperti: (a). Propaganda dan Framing: Media digunakan untuk membentuk persepsi negatif terhadap negara yang akan diserang, menciptakan kesan "pelaku pembelaan diri" bagi penyerang. (b). Bahasa Halus (Eufemisme): Penggunaan kalimat pasif untuk menggambarkan serangan agar terlihat seperti bencana alam, mengurangi kesan tanggung jawab pelaku. (c). Serangan Siber dan Intelijen: Operasi untuk melumpuhkan infrastruktur kritis sebelum serangan fisik. (d). Invasi Gabungan: Menggunakan angkatan darat, laut, dan udara secara serentak (e). Senjata Khusus: Penggunaan teknologi rudal jarak jauh atau senjata modern lainnya rgquntuk unjuk kekuatan.

Contoh Historis dan Kontemporer, seperti; Invasi Irak (2003): AS melancarkan operasi untuk menjatuhkan Saddam Hussein yang tidak mau tunduk pada barat, dengan dalih pembebasan dan pemusnahan senjata pemusnah massal. Demikian juga agresi militer Israel-AS ke- Iran yang dapat diduga untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah, dan mengganti dengan pemerintahan yang pro barat.

Invasi seringkali dibenarkan dengan narasi politik untuk mendapatkan dukungan domestik maupun internasional, seringkali dengan menggambarkan musuh sebagai ancaman yang irasional.

Propaganda Barat terhadap Islam sering kali melibatkan pembingkaian media (media framing) yang negatif, menciptakan narasi Islamofobia, dan mengaitkan Islam dengan terorisme atau radikalisme. Propaganda ini bertujuan untuk melemahkan mental umat, menyebarkan keraguan, ketakutan, dan membenarkan kepentingan politik serta ekonomi Barat di negara-negara Muslim.

Berikut adalah bentuk propaganda Barat terhadap Islam:

1. Islamofobia dan Media:

Media Barat sering menggambarkan Islam sebagai ancaman bagi nilai-nilai Barat, memunculkan ketakutan dan prasangka terhadap Muslim.

2. Stereotip Negatif:

Propaganda menggunakan teknik name calling untuk menyamakan Islam dengan teroris, serta memotret ajaran Islam sebagai ancaman global atau tidak toleran.

3. Kaitannya dengan Konflik:

Propaganda digunakan untuk melemahkan perlawanan di dunia Islam dan memperkuat hegemoni Barat, sering kali dikaitkan dengan intervensi di Timur Tengah.

4. Film dan Budaya Populer:

Media seperti film (misalnya, Innocence of Muslims) digunakan untuk mendistorsi sejarah, menistakan simbol Islam, dan menyisipkan nilai-nilai sekularisme/liberalisme.

5. Tujuan Ekonomi & Politik:

Kampanye hitam ini bertujuan memecah belah umat Muslim, menjaga superioritas Barat, dan menguasai sumber daya di negara-negara Islam.

Propaganda ini memicu ketegangan dan membuat umat Islam sering berada dalam posisi defensif, terutama dalam menghadapi konflik di negara-negara mayoritas Muslim.

Propaganda barat berhasil menghasut penganut sunni terhadap pemerintahan Syi'ah, bahkan Bashar al-Assad juga pernah membantai puluhan ribu umat muslim penganut Sunni saat berkuasa secara otoriter.

Bashar al-Assad adalah mantan Presiden Suriah (bukan Iran) yang berkuasa dari tahun 2000 hingga digulingkan pada Desember 2024. Dia mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Hafez al-Assad, dan memerintah secara otoriter, yang memicu perang saudara panjang sejak 2011.

Awalnya tidak berniat masuk politik, namun dipanggil kembali ke Suriah setelah kakaknya, Basil, tewas dalam kecelakaan mobil pada 1994. Menggantikan ayahnya pada tahun 2000 dan awalnya diharapkan membawa reformasi, namun justru melanjutkan pemerintahan otoriter.

Menanggapi protes tahun 2011 dengan kekerasan, menyebabkan konflik bersenjata yang merenggut ratusan ribu nyawa. Digulingkan dari jabatan presiden pada 8 Desember 2024.

Meskipun Suriah menjalin hubungan erat dengan Iran, Bashar al-Assad adalah pemimpin Suriah, bukan Iran.

Pemerintahan Iran pernah dikuasai oleh barat (Boneka AS) saat Reza Pahlevi berkuasa. Reza Pahlavi adalah putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan, hidup di AS, dan menjadi tokoh oposisi utama yang menyerukan demokrasi sekuler serta menjatuhkan rezim Islam Iran. Sebagai mantan pilot tempur, ia aktif menggalang dukungan internasional, pro-Barat, serta vokal dalam isu hak asasi manusia dan pemulihan hubungan Iran-Israel.

Campur Tangan Amerika-Israel di Nusantara

Invasi politik atau campur tangan Amerika Serikat dan Israel di Indonesia, terutama secara historis maupun konteks geopolitik saat ini, umumnya didorong oleh kepentingan strategis, keamanan, dan ideologi. Berikut adalah alasan-alasan utamanya berdasarkan analisis sejarah:

1. Era Perang Dingin dan Anti-Komunisme (AS):

Selama era Sukarno, Amerika Serikat melalui CIA melakukan operasi rahasia untuk menggoyahkan pemerintahan karena dianggap terlalu kiri atau dekat dengan komunis. Operasi seperti RIPLEY bertujuan memecah belah politik Indonesia dan mendukung kelompok anti-komunis untuk memastikan Indonesia tidak jatuh ke pengaruh Uni Soviet.

2. Aliansi Strategis dan Kebijakan Luar Negeri (AS-Israel):

Hubungan erat AS dan Israel sejak tahun 1960-an membuat AS sering kali membawa agenda kepentingan Israel dalam kebijakan luar negerinya di berbagai negara, termasuk lobi-lobi politik untuk mendukung kebijakan Israel.

3. Pengaruh Lobi Yahudi (AIPAC):

Kelompok lobi Yahudi seperti AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri AS, mendorong dukungan politik dan ekonomi bagi Israel di tingkat internasional, yang sering kali berdampak pada sikap AS terhadap negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.

4. Konteks Konflik Timur Tengah (Israel):

Tindakan politik Israel di Indonesia sering berkaitan dengan upaya membendung dukungan Indonesia terhadap Palestina. Israel berusaha menekan pandangan publik dan pemerintah Indonesia yang pro-Palestina, terutama dalam isu-isu sensitif seperti di Gaza.

5. Hegemoni dan Keamanan Regional:

AS dan Israel sering berkolaborasi untuk mempertahankan hegemoni di Timur Tengah dan Asia, serta melakukan tekanan politik atau militer terhadap negara-negara yang dianggap mengancam kepentingan mereka, yang dampaknya terasa hingga ke kebijakan politik luar negeri Indonesia.

Secara keseluruhan, keterlibatan politik ini didasari oleh keinginan untuk mempertahankan stabilitas kawasan sesuai kepentingan AS/Israel dan membendung pengaruh ideologi yang dianggap berlawanan termasuk idiologi islam. Akibatnya calon pemimpin Indonesia haruslah orang yang mau menerima paham sekuler (pemisahan agama dengan politik), bukan paham islami.

AS berupaya mengadu domba negara-negara Arab di Teluk Persia (Sunni) dengan negara Iran yang berpaham Syi'ah yang tidak mau tunduk pada barat.

Pembangunan pangkalan militer di beberapa negara Pan Arab seperti; Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Oman,

adalah bukti adanya hegemoni Amerika di negara Teluk. Sedangkan Iran (Syiah) bukan negara yang mau dikuasai oleh barat, sehingga tidak ada pangkalan militer AS di Iran.

Iran menyerang pangkalan militer AS di beberapa negara Teluk, untuk melumpuhkan kekuatan militer Israel-AS yang ingin mengganti pemerintahan Iran menjadi pemerintahan yang pro Amerika.

AS Mempropokasi Timur Tengah Karena Takut Islam Bersatu

Wilayah Timur Tengah termasuk negara-negara Arab yang kaya dengan minyak dan gas bumi, merupakan wilayah yang sangat strategis bagi industri AS. Siapa saja yang menguasai wilayah ini berarti menguasai dunia, karena minyak merupakan urat nadi dunia itu sendiri. Oleh karena itu AS berupaya menguasai wilayah ini, dengan membiayai pembangunan kilan-kilan migas dan pangkalan Militer di beberapa negara teluk tersebut.

Inggris kala itu berhasil membubarkan Khilafah di Turki lewat antek asingnya yang bernama Mustafa Kemal Atatürk. Khilafah yang membentang seluas 2/3 dunia ini runtuh setelah 14 abad berkuasa. Wilayah nya hancur berkeping-keping atas nama nasionalisme. 53 negeri Islam tak kuasa melawan adidaya AS saat ini.

Mustafa Kemal Atatürk namanya aslinya adalah Gazi Mustafa Kemal Paşa, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki setelah Khilafah Islam ditumbangkan. Ideologinya yang sekuler dan nasionalis serta teorinya dikenal sebagai Kemalisme.

Inggris dengan angkuhnya mengatakan jangan khawatir dengan Republik Turki. Turki yang sekarang hanya negara kecil. Umat Islam tidak akan bangkit lagi karena kita telah menghancurkan Islam dan Khilafah. 

Jangan biarkan umat Islam bangkit dengan Ideologinya kemudian menegakkan kembali Khilafah yang akan mengusir penjajahan modern AS dan sekutunya. Rencananya pun dibuat Timur tengah dijadikan 3 kubu yang terus diadu domba.

Pertama menjadikan Isrel sebagai negara Zionis Yahudi yang harus menguasai Palestina dan kemudian menjadi penguasa tunggal menjajah seluruh Timur Tengah termasuk Mesir dan Iran. Di sisi lain AS memprovokasi Arab Saudi dan Sekutu teluknya yang berpaham Sunni, agar waspada dannmau memerangi Iran yang menganut paham Syi'ah.

Iran sebelumnya merupakan negara Sekutu AS ketika dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi, juga dikenal sebagai Mohammad Reza Shah, adalah Syah Iran dari 16 September 1941 hingga digulingkan dalam Revolusi Islam Iran pada 11 Februari 1979. Ia merupakan raja kedua dari Dinasti Pahlavi dan syah terakhir

Setelah AS melihat ada kemungkinan Iran akan memperkaya nuklir sebagai senjata, AS merasa ketakutan jika Iran akan jadi negara terkuat kedua setelah Pakistan dengan hulu ledak nuklirnya. Dan bahkan bayangan tegaknya Khilafah menghantui AS.

AS bersama Israel melakukan agresi Militer (menggempur) Iran, karena AS sebenarnya tidak ingin Iran atau Saudi cs nantinya melawan mereka.

Akhirnya Iran pun memerangi AS  sebagai balasan dari agresi. Militernya, dan tampaknya AS kewalahan menghadapi gempuran Iran yang sangat daksat itu. AS ingin mengakhiri perang namun ditolak oleh Iran karena Iran ingin mengakhiri perang secara total, dengan melumpuhkan kekuatan Militer AS dan Israel terlebih dahulu. Termasuk kekuatan militer AS di negara-negara teluk, dengan.enyetsng pangkalan militer AS dibeberapa negara teluk tersebut.

Tidak adanya dukungan Kongres AS terhadap Trump, kebencian masyarakat AS kepada skandal moral pemimpinnya, perang yang menguras ekonomi dan menaikkan harga minyak membuat posis AS semakin lemah menghadapi Iran.

AS pun terus Mempropokasi negara-negara Arab dan mensupport penjajahan Israel atas Palestina agar Israel punya kendali penuh atas negeri Syam. Namun hingga saat ini Gaza tak pernah dapat ditaklukkan. AS khawatir benih tumbuhnya Khilafah malah dari dalam Palestina.

Apa jadinya jika Palestina menginginkan persatuan global. Bagaimana jika Arab Saudi cs. menjatuhkan penguasa bonekanya  dan Iran mau bergabung dengan negara-negara Sunni?

Perang dengan Iran sudahlah kewalahan apalagi perang dengan gabungan 53 negeri Islam yang dimulai dari Timur tengah. Yang paling penting bagi umat Islam adalah bukan kemenangan militer tapi bagaimana ukhuwah Islamiyah itu terjalin. Ini memerlukan suatu peristiwa yang memantik api persatuan.

 

Makassar, 25 Maret 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar