Translate

Senin, 27 April 2026

Konflik Sunni-Syi'ah & Propaganda Kapitalisme

     

Devide et impera (pecah belah lalu kuasai) adalah strategi politik dagang dan militer, untuk memperluas kekuasaan dan ekspansi dengan memecah kelompok besar dan mencegah fraksi-fraksi kecil menjadi aliansi.






-----

Seasa, 28 April 2026



   Konflik Sunni-Syi'ah & Propaganda Kapitalisme

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Devide et impera (pecah belah lalu kuasai) adalah strategi politik dagang dan militer, untuk memperluas kekuasaan dan ekspansi dengan memecah kelompok besar dan mencegah fraksi-fraksi kecil menjadi aliansi. Taktik ini menciptakan permusuhan dan ketidakpercayaan antar kelompok untuk mencegah kekuatan aliansi yang mengancam penguasa atau kaum kapitalis.

Strategi ini digunakan secara efektif oleh Belanda bersama kapitalis atau pemilik modal (VOC) di Nusantara, untuk menguasai kerajaan-kerajaan lokal dengan campur tangan dalam konflik internal.

Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana alat produksi (seperti pabrik, mesin, dan modal) dimiliki dan dikendalikan oleh swasta atau individu, untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. ah sistem ekonomi terintegrasi secara transnasional di mana produksi, perdagangan, dan investasi dikendalikan oleh perusahaan (korporasi) swasta, melampaui batas-batas negara. Sistem ini mendorong akumulasi modal dan keuntungan melalui jaringan global, didorong oleh teknologi dan perdagangan bebas, namun juga dapat menimbulkan ketimpangan ekonomi dan krisis sosial.

Untuk keberlanjutan  produksi dan pemasaran prodak inilah, negara industri memerlukan bahan baku dan pangsa pangsar. Dan kebetulan juga, negara-negara muslim di Timur Tengah merupakan pangsa pasar terbesar dari prodak industri. Dengan demikian mereka menjadi sasaran utama dari sistem eksploitasi dan ekspansi dagang, karena selain sebagai negara konsumen juga penghasil terbesar sumber daya dan energi yang dibutuhkan oleh negara industri seperti AS.

Demi kepentingan eksploitasi sumber daya dan energi inilah, yang melahirkan sistem penjajahan (imperialisme & kolonialisme) dimasa lalu.

Eksploitasi adalah tindakan memanfaatkan, mendayagunakan, atau mengeruk sumber daya (alam atau manusia) secara berlebihan dan sewenang-wenang demi keuntungan pribadi/kelompok tanpa mempertimbangkan keadilan atau keberlanjutan. Istilah ini merujuk pada pengisapan tenaga, pemerasan, atau pengusahaan.

Sedangkan dimasa perang dingin penjajahan dan perang secara langsung, menggunakan pihak ketiga melalui perang proxy (proxy war).

Perang Dingin adalah periode ketegangan geopolitik (1947–1991) antara Amerika Serikat (Blok Barat/Kapitalisme) dan Uni Soviet (Blok Timur/Komunisme) pasca-Perang Dunia II. Disebut "dingin" karena tidak ada perang fisik langsung antara kedua negara adidaya, melainkan persaingan pengaruh, ideologi, ekonomi, spionase, dan perang proksi. Karakteristiknya seperti perlombaan senjata nuklir, perlombaan antariksa, pengendalian kekuasaan & politik negara Sekutu, propaganda, dan spionase.

Adapun contoh & bentuk perang proksi (Proxy War): Konflik di mana kedua negara adidaya mendukung pihak yang berlawanan, seperti Perang Korea (1950-1953), Perang Vietnam (1955-1975), dan perang saudara di Angola. Kemudian propaganda dilancarkan dengan memanfaatkan pihak ketiga atau kelompok minoritas dalam suatu negara, untuk melemahkan dan meruntuhkan kekuasaan yang anti barat.

Adapun bentuk eksploitasi sumber daya dan energi oleh negara industri, seperti: Kerjasama negara-negara Teluk (GCC: Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, Oman) dengan Amerika Serikat (AS) berfokus pada kemitraan strategis keamanan, militer, dan ekonomi yang erat sejak 1981, terutama menghadapi pengaruh Iran dan stabilitas energi. Hubungan ini mencakup dialog keamanan, penjualan senjata, dan operasi bersama, meskipun ada dinamika ketegangan regional dan upaya diversifikasi aliansi.

AS menyediakan payung keamanan termasuk pangkalan militer, untuk melindungi negara-negara Teluk dari ancaman eksternal (terutama Iran) dan menjaga stabilitas aliran minyak. GCC menjadi sekutu kunci dalam strategi pertahanan AS di Timur Tengah. Kedua pihak rutin menyelenggarakan pertemuan tingkat menteri (misal: Pertemuan Tingkat Menteri GCC-AS) untuk koordinasi kebijakan keamanan dan pertahanan bersama.

Inilah strategi imperialisme modern AS melalui ekspansi dagang, untuk mengendalikan aliran minyak dan menjadikan negara-negata teluk sebagai pangsa pasar dalam hal pemasaran/

Penjualan senjata. Dimana AS adalah pemasok utama senjata bagi negara-negara Arab (GCC) untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka. Sedangkan Irak dan Iran yang berpaham Syi'ah, tidak mau tunduk dan berkoalisi dengan Barat (AS).

Untuk menghadapi ancaman Syi'ah (Irak & Iran) dan melindungi kilan-kilan minyak, AS membangun pangkalan militer di Timur Tengah. Amerika Serikat mengoperasikan jaringan sekitar 20 pangkalan militer di Timur Tengah, termasuk yang utama di Kuwait, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, dan UEA , dengan total 40.000-50.000 pasukan. Pangkalan terbesar adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar (markas CENTCOM), sedangkan Kuwait menampung personel terbanyak, termasuk Camp Arifjan . Pangkalan ini dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran.

Oleh karena itu, bagaimana bisa umat muslim Indonesia menganggap Syi'ah bukan Islam, sementara Barat dan Yahudi membantai pemimpin pemipin muslim seperti; Saddam Husain (Irak), Muammar Qadafi (Libya), dan terakhir pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, karena mereka tidak mau tunduk menjadi Sekutu Barat dan Yahudi.

Bukankah para penghianat dan pemberontak di Irak, Libya, dan Iran di dukung dan di biayai oleh  pihak barat (NATO)?. Seperti Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara AS-Israel di Teheran pada 28 Februari/1 Maret 2026. Muammar Khadafi pemimpin Libya, tewas pada 20 Oktober 2011 setelah ditangkap oleh pasukan pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC) di tengah Perang Saudara Libya. Ia ditemukan bersembunyi di pipa saluran pembuangan, disiksa, dan dieksekusi secara brutal. Penangkapan: Setelah konvoi pelariannya diserang oleh jet tempur Prancis/NATO,Sementara negara-negara Arab (Sunni) di Teluk bersekutu dengan AS, membiarkan saudara se aqidahnya di Palestina dibantai lewat proyek genosida. Lebih ironis lagi ratusan kontainer bantuan makanan (logistik) dari UEA dan Mesir, dikirim ke-Tel Aviv (Israel) lewat jalur darat melewati Arab Saudi, Yordania, dan Mesir. Sedangkan ribuan kontiener bantua logistik untuk Gaza (Palestina) dibiarkan tertahan di Mesir, tidak bisa masuk ke-Gaza karena belum ada izin dari Israel.

 

 

Makassar, 28 April 2026     


                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar