Devide et impera (pecah belah lalu kuasai) adalah strategi politik dagang dan militer, untuk memperluas kekuasaan dan ekspansi dengan memecah kelompok besar dan mencegah fraksi-fraksi kecil menjadi aliansi.
-----
Seasa, 28 April 2026
Konflik Sunni-Syi'ah & Propaganda Kapitalisme
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Devide et impera (pecah
belah lalu kuasai) adalah strategi politik dagang dan militer, untuk memperluas
kekuasaan dan ekspansi dengan memecah kelompok besar dan mencegah fraksi-fraksi
kecil menjadi aliansi. Taktik ini menciptakan permusuhan dan ketidakpercayaan antar
kelompok untuk mencegah kekuatan aliansi yang mengancam penguasa atau kaum
kapitalis.
Strategi ini digunakan
secara efektif oleh Belanda bersama kapitalis atau pemilik modal (VOC) di
Nusantara, untuk menguasai kerajaan-kerajaan lokal dengan campur tangan dalam
konflik internal.
Kapitalisme adalah sistem
ekonomi di mana alat produksi (seperti pabrik, mesin, dan modal) dimiliki dan
dikendalikan oleh swasta atau individu, untuk memperoleh keuntungan semaksimal
mungkin. ah sistem ekonomi terintegrasi secara transnasional di mana produksi,
perdagangan, dan investasi dikendalikan oleh perusahaan (korporasi) swasta,
melampaui batas-batas negara. Sistem ini mendorong akumulasi modal dan
keuntungan melalui jaringan global, didorong oleh teknologi dan perdagangan
bebas, namun juga dapat menimbulkan ketimpangan ekonomi dan krisis sosial.
Untuk keberlanjutan produksi dan pemasaran prodak inilah, negara
industri memerlukan bahan baku dan pangsa pangsar. Dan kebetulan juga,
negara-negara muslim di Timur Tengah merupakan pangsa pasar terbesar dari prodak
industri. Dengan demikian mereka menjadi sasaran utama dari sistem eksploitasi
dan ekspansi dagang, karena selain sebagai negara konsumen juga penghasil
terbesar sumber daya dan energi yang dibutuhkan oleh negara industri seperti
AS.
Demi kepentingan
eksploitasi sumber daya dan energi inilah, yang melahirkan sistem penjajahan
(imperialisme & kolonialisme) dimasa lalu.
Eksploitasi adalah
tindakan memanfaatkan, mendayagunakan, atau mengeruk sumber daya (alam atau
manusia) secara berlebihan dan sewenang-wenang demi keuntungan pribadi/kelompok
tanpa mempertimbangkan keadilan atau keberlanjutan. Istilah ini merujuk pada
pengisapan tenaga, pemerasan, atau pengusahaan.
Sedangkan dimasa perang
dingin penjajahan dan perang secara langsung, menggunakan pihak ketiga melalui
perang proxy (proxy war).
Perang Dingin adalah
periode ketegangan geopolitik (1947–1991) antara Amerika Serikat (Blok
Barat/Kapitalisme) dan Uni Soviet (Blok Timur/Komunisme) pasca-Perang Dunia II.
Disebut "dingin" karena tidak ada perang fisik langsung antara kedua
negara adidaya, melainkan persaingan pengaruh, ideologi, ekonomi, spionase, dan
perang proksi. Karakteristiknya seperti perlombaan senjata nuklir, perlombaan
antariksa, pengendalian kekuasaan & politik negara Sekutu, propaganda, dan
spionase.
Adapun contoh &
bentuk perang proksi (Proxy War): Konflik di mana kedua negara adidaya
mendukung pihak yang berlawanan, seperti Perang Korea (1950-1953), Perang
Vietnam (1955-1975), dan perang saudara di Angola. Kemudian propaganda
dilancarkan dengan memanfaatkan pihak ketiga atau kelompok minoritas dalam
suatu negara, untuk melemahkan dan meruntuhkan kekuasaan yang anti barat.
Adapun bentuk eksploitasi
sumber daya dan energi oleh negara industri, seperti: Kerjasama negara-negara
Teluk (GCC: Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, Oman) dengan Amerika
Serikat (AS) berfokus pada kemitraan strategis keamanan, militer, dan ekonomi
yang erat sejak 1981, terutama menghadapi pengaruh Iran dan stabilitas energi.
Hubungan ini mencakup dialog keamanan, penjualan senjata, dan operasi bersama,
meskipun ada dinamika ketegangan regional dan upaya diversifikasi aliansi.
AS menyediakan payung
keamanan termasuk pangkalan militer, untuk melindungi negara-negara Teluk dari
ancaman eksternal (terutama Iran) dan menjaga stabilitas aliran minyak. GCC
menjadi sekutu kunci dalam strategi pertahanan AS di Timur Tengah. Kedua pihak
rutin menyelenggarakan pertemuan tingkat menteri (misal: Pertemuan Tingkat
Menteri GCC-AS) untuk koordinasi kebijakan keamanan dan pertahanan bersama.
Inilah strategi
imperialisme modern AS melalui ekspansi dagang, untuk mengendalikan aliran
minyak dan menjadikan negara-negata teluk sebagai pangsa pasar dalam hal
pemasaran/
Penjualan senjata. Dimana
AS adalah pemasok utama senjata bagi negara-negara Arab (GCC) untuk
meningkatkan kemampuan pertahanan mereka. Sedangkan Irak dan Iran yang berpaham
Syi'ah, tidak mau tunduk dan berkoalisi dengan Barat (AS).
Untuk menghadapi ancaman
Syi'ah (Irak & Iran) dan melindungi kilan-kilan minyak, AS membangun
pangkalan militer di Timur Tengah. Amerika Serikat mengoperasikan jaringan
sekitar 20 pangkalan militer di Timur Tengah, termasuk yang utama di Kuwait, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, dan UEA
, dengan total 40.000-50.000 pasukan. Pangkalan terbesar adalah Pangkalan Udara
Al Udeid di Qatar (markas CENTCOM), sedangkan Kuwait menampung personel
terbanyak, termasuk Camp Arifjan .
Pangkalan ini dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran.
Oleh karena itu,
bagaimana bisa umat muslim Indonesia menganggap Syi'ah bukan Islam, sementara
Barat dan Yahudi membantai pemimpin pemipin muslim seperti; Saddam Husain
(Irak), Muammar Qadafi (Libya), dan terakhir pemimpin Iran Ayatollah Ali
Khamenei, karena mereka tidak mau tunduk menjadi Sekutu Barat dan Yahudi.
Bukankah para penghianat
dan pemberontak di Irak, Libya, dan Iran di dukung dan di biayai oleh pihak barat (NATO)?. Seperti Ayatollah Ali
Khamenei tewas dalam serangan udara AS-Israel di Teheran pada 28 Februari/1 Maret
2026. Muammar Khadafi pemimpin Libya, tewas pada 20 Oktober 2011 setelah
ditangkap oleh pasukan pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC) di tengah
Perang Saudara Libya. Ia ditemukan bersembunyi di pipa saluran pembuangan,
disiksa, dan dieksekusi secara brutal. Penangkapan: Setelah konvoi pelariannya
diserang oleh jet tempur Prancis/NATO,Sementara negara-negara Arab (Sunni) di
Teluk bersekutu dengan AS, membiarkan saudara se aqidahnya di Palestina
dibantai lewat proyek genosida. Lebih ironis lagi ratusan kontainer bantuan
makanan (logistik) dari UEA dan Mesir, dikirim ke-Tel Aviv (Israel) lewat jalur
darat melewati Arab Saudi, Yordania, dan Mesir. Sedangkan ribuan kontiener
bantua logistik untuk Gaza (Palestina) dibiarkan tertahan di Mesir, tidak bisa
masuk ke-Gaza karena belum ada izin dari Israel.
Makassar, 28 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar