Translate

Minggu, 24 Mei 2026

Negara Kehilangan Arah Karena Keserakahan Elit Politik

 

Negara besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan arah. Saat ini kita kehilangan arah, kehilangan keteladanan dan keberanian melakukan koreksi. Kalau kita kritis dan ingin melakukan koreksi, sebentar dibilang membangkan, nanti dibilang makar.






-----

Senn, 25 Mei 2026


Negara Kehilangan Arah Karena Keserakahan Elit Politik

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Negara besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan arah. Saat ini kita kehilangan arah, kehilangan keteladanan dan keberanian melakukan koreksi. Kalau kita kritis dan ingin melakukan koreksi, sebentar dibilang membangkan, nanti dibilang makar. Karena itu respon Indonesia mestinya ditujukan hususnya pada isu, memperkuat institusi demokrasi, menjaga transparansi kebijakan, memastikan pembangunan inklusif, dan menghindari kultus kekuasaan. Semuanya normatif mau ngomong apa?.

Indonesia belum menuju jurang secara pasti ngenyem-nyem bathin ini, Bapak/Ibu kita harus optimistis dan positif.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Siti Zuhro. Ia menilai bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan hilangnya arah dalam kehidupan bernegara.

Sungguh sangat penting direnungkan khususnya oleh para elit politik dan politisi tanah air, karena Indonesia sedang krisis arah dan keteladanan. Negara besar tidak akan runtuh karena miskin sumber daya, melainkan karena kehilangan arah, kehilangan sosok teladan, serta hilangnya keberanian untuk melakukan koreksi.

Sementara ruang kritik dan kebebasan menyampaikan pendapat, dijegal dengan ancaman pasal-pasal pidana pencemaran nama baik atau upaya makar. Upaya untuk mengoreksi kebijakan pemerintah saat ini kerap dipersepsikan secara negatif, bahkan sering kali dituduh sebagai tindakan makar atau pembangkangan.

Solusi yang ditawarkan: Untuk mencegah pelemahan tata kelola pemerintahan, Indonesia perlu memperkuat institusi demokrasi, menjaga transparansi kebijakan, memastikan pembangunan yang inklusif, dan menghindari kultus kekuasaan.

Sebab rusaknya suatu bangsa bukan karena kesalahan dan kebodohan masyarakatnya, melainkan karena ambisi dan keserakahan para elit politik. Sebab mereka telah menggadaikan integritas dan nasionalisme kepada pemilik modal (kapital), demi kepentingan pribadi atau kelompok dengan menghianati tujuan dan cita-cita bangsanya.

Ambisi dan keserakahan memiliki makna yang berbeda; ambisi berfokus pada dorongan atau motivasi untuk berprestasi dan berkembang. Sedangkan keserakahan adalah nafsu yang berlebihan terhadap harta atau kekuasaan dengan menghalalkan csegala cara tanpa mengenal batas.Nafsu adalah dorongan dari dalam diri sendiri yang cenderung menyukai kesenangan duniawi dan keburukan.

Menurut Presiden: ada relasi antara kapital, kekuasaan, dan Aparat membentuk jejaring oligarki, untuk pengamanan bisnis. Presiden Prabowo Subianto menyatakan secara tegas adanya relasi antara kapital (modal), kekuasaan politik, dan aparat penegak hukum yang selama ini membentuk jejaring oligarki. Relasi ini dimanfaatkan untuk mengamankan praktik dan kepentingan bisnis tertentu. Pernyataan ini menyoroti sejumlah fakta krusial mengenai jejaring oligarki tersebut.

Presiden menilai budaya aparat penegak hukum yang menjadi "beking" perusahaan dan kapitalis adalah sebuah masalah besar. Aparat ditegaskan harus selalu berpihak kepada rakyat, bukan menjadi pelindung kepentingan bisnis segelintir pihak. Para oligark dinilai kerap melibatkan oknum pemegang kekuasaan dan aparat demi mengamankan perlindungan hukum, memuluskan praktik bisnis, dan melipatgandakan kekayaan.

Peringatan keras ini disampaikan Presiden saat meresmikan Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Jawa Timur.

Politisi adalah individu yang aktif di bidang politik, baik sebagai anggota partai, juru kampanye, maupun pemegang jabatan publik. Sebaliknya, elit politik adalah kelompok minoritas dalam masyarakat yang memiliki kekuasaan dan pengaruh sangat besar dalam menentukan kebijakan serta mengendalikan jalannya pemerintahan.

Negara kehilangan arah bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena penghianatan para "Elit dan Politisi" Yang diperbodoh oleh keserakahan atas uang, materi, dan kepentingan duniawi.

 

 

Makassar, 25 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar