Negara besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan arah. Saat ini kita kehilangan arah, kehilangan keteladanan dan keberanian melakukan koreksi. Kalau kita kritis dan ingin melakukan koreksi, sebentar dibilang membangkan, nanti dibilang makar.
-----
Senn, 25 Mei 2026
Negara Kehilangan Arah Karena Keserakahan Elit Politik
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati Politik &
Pendidikan)
Negara besar tidak runtuh
karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan arah. Saat ini kita
kehilangan arah, kehilangan keteladanan dan keberanian melakukan koreksi. Kalau
kita kritis dan ingin melakukan koreksi, sebentar dibilang membangkan, nanti
dibilang makar. Karena itu respon Indonesia mestinya ditujukan hususnya pada
isu, memperkuat institusi demokrasi, menjaga transparansi kebijakan, memastikan
pembangunan inklusif, dan menghindari kultus kekuasaan. Semuanya normatif mau
ngomong apa?.
Indonesia belum menuju
jurang secara pasti ngenyem-nyem bathin ini, Bapak/Ibu kita harus optimistis
dan positif.
Pernyataan tersebut
disampaikan oleh Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof.
Siti Zuhro. Ia menilai bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukanlah
kekurangan sumber daya, melainkan hilangnya arah dalam kehidupan bernegara.
Sungguh sangat penting
direnungkan khususnya oleh para elit politik dan politisi tanah air, karena
Indonesia sedang krisis arah dan keteladanan. Negara besar tidak akan runtuh
karena miskin sumber daya, melainkan karena kehilangan arah, kehilangan sosok
teladan, serta hilangnya keberanian untuk melakukan koreksi.
Sementara ruang kritik
dan kebebasan menyampaikan pendapat, dijegal dengan ancaman pasal-pasal pidana
pencemaran nama baik atau upaya makar. Upaya untuk mengoreksi kebijakan
pemerintah saat ini kerap dipersepsikan secara negatif, bahkan sering kali
dituduh sebagai tindakan makar atau pembangkangan.
Solusi yang ditawarkan:
Untuk mencegah pelemahan tata kelola pemerintahan, Indonesia perlu memperkuat
institusi demokrasi, menjaga transparansi kebijakan, memastikan pembangunan
yang inklusif, dan menghindari kultus kekuasaan.
Sebab rusaknya suatu
bangsa bukan karena kesalahan dan kebodohan masyarakatnya, melainkan karena
ambisi dan keserakahan para elit politik. Sebab mereka telah menggadaikan
integritas dan nasionalisme kepada pemilik modal (kapital), demi kepentingan
pribadi atau kelompok dengan menghianati tujuan dan cita-cita bangsanya.
Ambisi dan keserakahan
memiliki makna yang berbeda; ambisi berfokus pada dorongan atau motivasi untuk
berprestasi dan berkembang. Sedangkan keserakahan adalah nafsu yang berlebihan
terhadap harta atau kekuasaan dengan menghalalkan csegala cara tanpa mengenal
batas.Nafsu adalah dorongan dari dalam diri sendiri yang cenderung menyukai
kesenangan duniawi dan keburukan.
Menurut Presiden: ada
relasi antara kapital, kekuasaan, dan Aparat membentuk jejaring oligarki, untuk
pengamanan bisnis. Presiden Prabowo Subianto menyatakan secara tegas adanya
relasi antara kapital (modal), kekuasaan politik, dan aparat penegak hukum yang
selama ini membentuk jejaring oligarki. Relasi ini dimanfaatkan untuk
mengamankan praktik dan kepentingan bisnis tertentu. Pernyataan ini menyoroti
sejumlah fakta krusial mengenai jejaring oligarki tersebut.
Presiden menilai budaya
aparat penegak hukum yang menjadi "beking" perusahaan dan kapitalis
adalah sebuah masalah besar. Aparat ditegaskan harus selalu berpihak kepada
rakyat, bukan menjadi pelindung kepentingan bisnis segelintir pihak. Para
oligark dinilai kerap melibatkan oknum pemegang kekuasaan dan aparat demi
mengamankan perlindungan hukum, memuluskan praktik bisnis, dan melipatgandakan
kekayaan.
Peringatan keras ini
disampaikan Presiden saat meresmikan Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan
Sukomoro, Jawa Timur.
Politisi adalah individu
yang aktif di bidang politik, baik sebagai anggota partai, juru kampanye,
maupun pemegang jabatan publik. Sebaliknya, elit politik adalah kelompok
minoritas dalam masyarakat yang memiliki kekuasaan dan pengaruh sangat besar
dalam menentukan kebijakan serta mengendalikan jalannya pemerintahan.
Negara kehilangan arah
bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena penghianatan para "Elit
dan Politisi" Yang diperbodoh oleh keserakahan atas uang, materi, dan
kepentingan duniawi.
Makassar, 25 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar