Translate

Minggu, 11 Januari 2026

Indonesia Krisis Kepemimpinan Dan Degradasi Moral

 

Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan penataan berupan kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.







-----

Minggu, 11 Januari 2026



Indonesia Krisis Kepemimpinan Dan Degradasi Moral

 

Oleh : Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan penataan berupan kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Pemimpin adalah seorang karena kepercayaan atau amanah memprakarsai system perilaku social dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir, dan mengontrol individu dan kelompok melalui prestise, kekuasaan, dan posisi untuk mencapai tujuan dan sasaran. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, sedangkan “degradasi moral” dapat diartikan sebagai kemuduran, kemorosotan, penurunan. Sehingga dapat diartikan “degradasi moral adaah kemorosotan atau lunturnya nilai dan perilaku moral yang berlaku didalam masyarakat”. Degradasi berarti kemunduran, kemorosotan atau penurunan dari suatu hal, sedangkan moral adalah akhlak atau budi pekerti luhur. Berbicara masalah kepemimpinan kita tidak bisa mengasosiasikan pada jabatan seseorang atau sosok pemimpin saja seperti Presiden, Gubernur, Bupati, atau Kepala Desa. Melainkan memeiliki makna yang lebih luas, yakni berkaitan dengan tugas-tugas seorang pemimpin, apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin, serta sifat-sifat (karakter) yang seharusnya melekat pada diri seorang pemimpin.

Kawasan Malanesia khususnya nusantara (Indonesia) selama berabad-abad sebelum kemerdekaan masyarakatnya yang beraneka ragam suku, agama, ras, dan antar golongan bisa hidup tenteram dan damai, tanpa banyak regulasi hukum dan  perundang-undangan yang mengaturnya. Jika kita mengkaji sejarah peradaban manusia dimasa lalu dan masa ke-emasan pemerintahan dalam bentuk kerajaan (monarki) yang dipimpin oleh seorang Raja, maka akan kita temukan terjadinya siklus kehidupan social yang aman, tenteram, dan damai karena ditunjang oleh tatanan hidupmasyarakat yang terpelihara. Hubungan interaksi antar individu dan masyarakat dengan pemimpin, saling menghargai dan saling menghormati (social enjenering). Kejayaan Majapahit saat dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk, berhasil memperluas daerah kekuasaannya yang terbentang mulai dari Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia Timur. Selanjtnya Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim dengan corak Budha ini, mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa, yang mampu menguasai jalur perdangan strategis sampai ke wilayah Thailand dan Kamboja.  Begitu pula Sultan Hasanuddin (Raja Gowa) sebagai pahlawan nasional Indonesi yang teakhir, yang karena keberaniannya ia dijuluki “De Haantjes van Het Osten” oleh Belanda yang artinya “Ayam Jantan dari Timur”.

Dimasa pemerintahan kerajaan (monarki) dimana seorang pemimpin (raja) lebih mengedepankan sifat keteladanan dalam bersikap dan bertindak sesuai dengan norma-norma social khususnya norma agama yang berlaku dalam masyarakat setempat. Dimana etika pergaulan antar pemipmpin, maupun antar pemimpin dan masyarakat dalam berinteraksi social terpelihara dan dijunjung tinggi oleh masyarakat (rakyat) serta rakyat ikut meneladani pemimpinnya. Sifat-sifat atau karakter yang ditampilkan oleh seorang pemimpin, akan menjadi suri tauladan bagi rakyat yang dipimpinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kemampuan pemimpin menanamkan nilai-nilai dan karakter hidup melalui keteladanan sikap dan perilakunya dalam masyarakat, menyebabkan titahnya selalu diikuti dan dijunjung tinggi oleh masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang arif dan bijak, jujur dan adil, tidak memerluhkan banyak aturan dan regulasi dalam mengatur pepemrintahan, tetapi mereka hanya menerapkan sikap dan perilaku keteladanan yang bersumber dari hati nuraninya untuk menakar kebenaran serta keadilan dari tindakan dan perilakunya tesebut. Sikap dan perilaku inilah yang dimiliki oleh pemimpin dimasa lalu khususnya bagi raja-raja, sehingga mampu menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang berkarakter dan berbudaya sebagai tradisi (cultural) masyarakat, dalam rangka membangun peradaban hidup manusia yang bermoral dan berbudi pekerti luhur. 

Bangsa Indonesia kini sedang dilanda krisis kepemimpinan, yang sedang berada dijung tanduk. Mau dibawa kearah mana bangsa Indonesia ini jika para pemimpinnya banyak melakukan penyimpangan dan kejahatan secara berjamaah, dengan mengedepankan kepentingan kelompok diatas kepentingan publik. Telah menjadi kebiasaan dalam birokrasi pemerintahan, dimana seorang bawahan diukur loyalitasnya berdasarkan kesetiaan kepada atasannya dan bukan diukur dari kesetiaannya kepada bangsa dan negara serta kepatuhannya kepada aturan dan hukum yang berlaku. Yang lebih parah lagi promosi seorang aparat dan abdi negara untuk bisa menduduki jabatan dalam birokrasi, indeks penilaian komulatif (IPK) salah satu indek penilaiannya, adalah kemampuan sesorang menjadi ATM berjalan yaitu kemanpuan seseorang mengambil inisiatif untuk mampu mengumpulkan sejumlah dana yang bisa disetor saat dibutuhkan (kolusi dan nepotisme). Apa yang terjadi pada kasus konsorsium 303 serta beberapa kasus korupsi dan kejahatan lainnya, adalah contoh kongkrit kemorosotan etiks dan perilaku menyimpan para pemimpin bangsa yang secara sengaja dan bersama-sama melakukan kejahatan serta penghianatan terhadap amanah bangsa dan negaranya (degradasi moral). Inilah yang terjadi saat ini, dimana integritas dan nasionalisme bangsa dipertaruhkna, karena indonesi sedang krisis kepemiminan dan degradasi moral. Krisis kepemimpinan dan degradasi moral ini, sangat dipengaruhi akibat sebahagian besar pemimpin bangsa mengedepankan kecerdasan intlegnsi yang bersumber dari akal (logika) daripada kecerdasan spiritual yang bersumber dari hati nurani (moral). Akibatnya banyak pemimpin yang dikuasi oleh sifat keserakahan yang tidak pernah puas, serta hilangnya rasa syukur dan kecukupan atas reski dan nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Baru-baru ini sejumlah guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta berkumpul di University Club Cafe - Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Sabtu, 27 Agustus 2022. Pertemuan mereka berawal dari keprihatinan berbagai persoalan dalam negeri yang mengarah pada indikasi krisis kepemimpinan bangsa. Belasan profesor senior dan puluhan akademisi dari beragam kampus negeri dan swasta itu bersepakat untuk lebih kencang lagi menyerukan pentingnya restorasi kepemimpinan Indonesia. “Kami memiliki keprihatinan mendalam atas krisis kepemimpinan akhir-akhir ini, merujuk pada berbagai kasus hukum para pejabat publik, pelanggaran moral dan etika serta praktik koruptif para pemimpin di berbagai tingkatan. Kami mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang amanah, kompeten dan menjunjung tinggi integritas,” ujar Suwarsih Madya, profesor Universitas Negeri Yogyakarta dalam keterangannya, Minggu (28/8/2022).

Para guru besar menilai, kekecewaan publik akibat perilaku dan kinerja pemimpin seharusnya tak perlu terjadi ketika masyarakat dan berbagai lembaga memiliki kriteria kepemimpinan yang tepat. Kriteria kepemimpinan semacam itu dapat digunakan dalam mempersiapkan maupun memilih kandidat pemimpin. “Kriteria seseorang yang duduk dalam kepemimpinan tingkat nasional, misalnya, harus memiliki kecakapan dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum. Di samping itu, sebagai bangsa yang memiliki posisi strategis dalam percaturan geopolitik global, amat wajar juga jika kemampuan diplomasi internasional ditempatkan sebagai kompetensi bernilai tinggi,” kata Suwarsih. Sepekan sebelumnya, para guru besar itu bertemu dengan sejumlah pimpinan partai politik di Jakarta, di antaranya Ketua Umum Partai Nasdem dan Presiden PKS, untuk menyampaikan aspirasi terkait kepemimpinan bangsa ke depan. Menurut Chairil Anwar, Guru Besar UGM, gerakan para profesor itu merupakan salah satu ikhtiar kalangan akademisi ikut membangun politik kebangsaan melalui sumbangan pemikiran dalam bidang kepemimpinan. “Para  founding fathers memperdebatkan gagasan pendirian negara serta penyatuan bangsa Indonesia secara ilmiah dan demokratis. Kita juga harus terbuka mendiskusikan persoalan kepemimpinan sebagai upaya untuk menumbuhkan ilmu yang berwatak bangsa,” ujarnya.

Soroti Praktik Politik Transaksional. Heru Kurnianto Tjahjono, guru besar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menyoroti akutnya praktik politik transaksional saat ini yang mengakibatkan sirkulasi kepemimpinan hanya menyentuh lingkaran kerabat elite politik serta kroni pengusaha. Sehubungan dengan hal itu, ia meminta kalangan akademisi berperan dalam merumuskan etika politik sebagai panduan praktis bagi politisi atau pemimpin. Siti Chamamah Soeratno, profesor dari UGM yang memungkasi perbicangan sore itu menyampaikan bahwa kegelisahan terhadap arah perkembangan bangsa saat ini perlu dijawab dengan langkah-langkah prioritas yang berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya inisiatif dari ormas dan parpol untuk rajin menyerap aspirasi serta mencermati kenyataan di tengah kehidupan masyarakat. Apalagi, penyelenggaraan Pemilu semakin dekat. “Inisiatif semacam itu relevan untuk menyambungkan pusat-pusat pengambilan kebijakan yang keputusannya berdampak pada nasib ratusan juta rakyat dengan aspirasi sesungguhnya dari rakyat Indonesia,” tandasnya.

 

Makassar, 11 September 2022

 

Penulis :

>Kabid. Advokasi & Perlindungan Hukum APSI Pusat (2012-2017 & 2017-2022)

 >Ketua APSI Prov. Sul-Sel Periode 2016-2021

 >Angk. 1 Civic Hukum/PMP FKIS IKIP UP – Angk. 92 Fak. Hukum UMI Makassa

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar