Kondisi politik nasional sekarang sedang tidak kondusif, dimana pemerintahan Prabwio masih berada dibawah tekanan politik transaksional koalisi oligarki yang dipimpin oleh "Raja Jawa".
-----
Senin, 19 Januari 2026
Berpikirlah Secara Global Jangan Sulut Perpecahan
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Kondisi politik nasional sekarang sedang tidak kondusif, dimana pemerintahan Prabowo masih berada di bawah tekanan politik transaksional koalisi oligarki yang dipimpin oleh "Raja Jawa". Hal ini terjadi karena; di satu sisi nusantara sudah tergadai (terjual) secara politik dan ekonomi, kepada kaum pemilik modal (kapitslis).
Di sisi lain nusantara
diperebutkan (dipertaruhkan) oleh dua kekuatan Global, yaitu barat (AS) dan
selatan (China Komunis). Oleh karena itu sangat dibutuhkan upaya pencerahan
menjadikan masyarakat melek politik, agar politik adu domba (the vide et
impera) kaum kapitalis tidak mampu memecah persatuan dan kesatuan bangsa yang
majemuk.
Melek politik sangat
dibutuhkan bagi publik, agar bisa menekan prosentase masyarakat yang buta
politik. Oleh karena itu cerdaslah dalam menganalisis dan memandang politik
saat ini. Apalagi kondisi geopolitik menunjukkan indikasi adanya gerakan
islamophobia secara masif.
Gerakan masif artinya
gerakan yang berskala sangat besar, melibatkan banyak orang atau elemen,
terjadi secara luas dan intens, serta memiliki dampak yang signifikan dan
mendalam, tidak hanya secara fisik tetapi juga dalam hal pengaruh sosial,
politik, atau konseptual.
Prabowo adalah Presiden
terbaik saat ini yang wajib dijaga dan dipertahankan dalam kondisi politik
transaksional, jika tidak ingin menyesal seumur hidup. Sebab jika Prabowo
jatuh, maka hilang keseimbangan politik global dan akan muncul geomono politik
(Geo ekonomi) China Komunis yang akan mendominasi Indonesia.
"Geomono
politik" merujuk pada Geoekonomi (sering disebut geoeconomics dalam bahasa
Inggris), yaitu penggunaan instrumen ekonomi (perdagangan, investasi, sanksi,
bantuan) oleh negara untuk mencapai tujuan geopolitik. Ini adalah perpaduan
antara faktor geografis, politik, dan ekonomi dalam hubungan internasional.
Perlu masyarakat pahami
bahwa yang menjadi ancaman terbesar bangsa, adalah upaya penanaman idiologi
sekuler dan komunis oleh dua kekuatan kaum kapitalis demi bisnis dan invasi
ekonomi. Bukan idiologi islam yang menjadi ancaman, karena islam itu rahmatan
lil-alamin dan umat agama lain tidak akan terganggu atau terusir.
Namun jika paham sekuler
dan Komunis mendominasi nusantara, maka umat muslim akan dijadikan musuh
bersama, dan tidak menutup kemungkinan akan terusir dari rumahnya sendiri.
Mari bersama-sama menangkal gerakan
islamophobia, yang dapat merobohkan pondasi peradaban Global.
Pondasi peradaban global
dibangun dari berbagai pilar fundamental seperti Iman dan Moralitas (etika
& nilai luhur), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (sains dasar, inovasi
digital), Seni dan Budaya (identitas & keharmonisan), serta Struktur Sosial
(keluarga, gotong royong, pendidikan berkualitas) yang saling terintegrasi
untuk menciptakan masyarakat yang beradab, inklusif, dan berkelanjutan dalam
menghadapi tantangan zaman.
Sangat penting bagi publik untuk dicerdaskan agar tidak selalu buta pilitik, sehingga masyarakat bisa belajar dari sejarah penjajahan bangsanya oleh kaum kapitalis. Sjarah mencatat bahwa sebelum datangnya imperealisme dan kolonialisme, nusantara yang beraneka ragam suku bangsa dan agama selama berabad-abad masyarakatnya hidup aman dan tenteram tanpa komplik "SARA".
Hal ini karena mereka saling
hormat menghormati antara satu dannlainnya, serta tidak ada pihak asing yang
berkepentingan untuk menguasai hasil bumi dan wilayah Nusantara. Namun
setelah Belanda datang menjajah
nusantara, perang saudara fannkomplik SARA mulai dirancang melalui strategi politik
pecah belah lalu kuasai.
Konflik SARA adalah
perselisihan atau pertentangan yang muncul akibat perbedaan mendasar pada aspek
Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan, seringkali dipicu oleh sentimen negatif,
diskriminasi, atau manipulasi politik, yang dapat merusak keharmonisan sosial
dan keberagaman di Indonesia. Konflik ini dapat berbentuk kerusuhan fisik,
gesekan sosial, atau isu sensitif di media, seringkali terjadi karena kurangnya
toleransi, kaderisasi partai politik yang lemah, atau kebijakan yang timpang.
Salah satu strategi
politik "pecah belah bambu" untuk menjaga eksistensi penjajahannya di
Indonesia, Belanda menggunakan taktik divide et impera (memecah-belah lalu
menguasai). Dengan cara itu kerajaan di nusantara diintrik, berselisih lalu perang,
akhirnya Belanda datang mendamaikan dan tampil sebagai pemenang.
Di zaman sekarang untuk
menghadapi kelompok Islam dan oposisi, kaum kapitalis anti islam (islamophobia)
juga mengambil strategi serupa, tetapi dengan taktik lain yaitu dengan politik
‘belah bambu’ (yang tidak mendukung diinjak yang lain diangkat walaupun
sebelumnya adalah musuh/koruptor).
Semoga bisa mencerahkan!
Makassar, 19 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar