Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat “Jasmerah” adalah semboyang yang terkenal yang diucapkan oleh Ir. Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada HUT RI tanggal 17 Agustus 1966. Menurut Jenderal A.H Nasution yang lolos dari penculikan, bahwa “Jasmerah” adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa terhadap pidato Presiden soekarno tersebut, dan bukan judul yang diberikan oleh Bung Karno atas pidatonya.
-----
Senin, 12 Jauari 2026
Jangan Belokkan Jalan
Sejarah Indonesia
Oleh
: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Jangan Sekali-kali
Meninggalkan Sejarah atau disingkat “Jasmerah”
adalah semboyang yang terkenal yang diucapkan oleh Ir. Soekarno, dalam
pidatonya yang terakhir pada HUT RI tanggal 17 Agustus 1966. Menurut Jenderal
A.H Nasution yang lolos dari penculikan, bahwa “Jasmerah” adalah judul yang
diberikan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa terhadap pidato Presiden soekarno
tersebut, dan bukan judul yang diberikan oleh Bung Karno atas pidatonya.
Suyatno, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta
menyebut, pidato “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah” pada 17 Agustus
1966 merupakan pidato kepresidenan terakhir Bung Karno. Dia mencatat, terdapat
89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan
betapa pentingnya revolusi dan sejarah bagi Bung Karno. Judul pidato Soekarno
ini penulis sengaja angkat untuk menguji dan meluruskan jalan sejarah yang
telah dirintis oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa dan rakyat bersama Bung Karno, yang
telah ditulis tinta emas dengan judul JASMERAH.
Selanjutnya
“Nawaksara” adalah sebuah judul pidato yang dilakukan Soekarno pada tanggal 22
Juni 1966 dalam Sidang Umum ke- IV MPRS. Pidato ini disampaikan oleh Presiden
Soekarno sebagai pertanggung jawabannya atas sikapnya dalam menghadapi Gerakan
30 September. Soekarno sendiri menolak istilah ini (G30S), menurutnya gerakan
itu terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, dan karena itu ia menyebutnya
dengan istilah gerakan satu oktober (Gestok). Pidato pertanggung jawaban
Soekarno ini ditolak oleh MPRS dan memberhentikan dari jabatannya sebagai
presiden seumur hidup, selanjutnya mengangkat Jenderal Soeharto sebagai
penggantinya.
Ada upaya terstruktur dan sistematis untuk
membelokkan jalan dan fakta sejarah G30S/PKI, dengan menyebarkan informasi
menyesatkan bahwa Partai Komunis Indonesi (PKI) adalah korban dari Gerakan 30
September tersebut. Caranya adalah menyebarkan informasi publik berdasarkan analisis subjektifitas dan
berupaya meyakinkan masyarakat umum dengan membalikkan fakta-fakta sejarah,
kalau Mayjen Suharto bersama TNI AD telah melakukan kudeta melalui Gerakan 30
September (G.30 S) untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Sukarno. Dengan
demikian mereka mengarang alibi kalau PKI adalah korban dari kudeta Suharto
yang didukung oleh TNI AD (Orde Baru). Selanjutnya beredar tulisan dari
seseorang yang juga berupaya membangun opini publik menyudutkan Suharto,
seakan-akan Suharto memanfaatkan Mahasiswa (BEM UI) untuk melakukan aksi
demontrasi kepada pemerintahan Sukarno terkait perombakan kabinet Dwi Kora
(Tritura). Peristiwa sejarah Tritura diperingati setiap tanggal 10 Januari. Apa
yang melatar belalanginya dan apa isi Tiga Tuntutan Rakyat tersebut ?. Berikut
ulasannya.
Tri
Tuntutan Rakyat
Sejarah. Tritura
dimotori oleh gerakan mahasiswa dengan seruan tiga tuntutan rakyat, yang
menjadi titik balik pergantian rezim, dari Orde Lama ke Orde Baru. Unjuk rasa
pada tanggal 10-13 Jnuari 1966 di Jakarta terjadi karena polemik yang terjadi
tidak lama setelah tragedy Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pemerintahan Orde
Lama yang dipimpin oleh Presiden Sukarno dianggap gagal sehingga prostespun
mengalir dimana-mana lewat gerakan mahasiswa yang tercatat dalam sejarah, yang
dikenal dengan nama tiga tuntutan rakyat (Tritura). Tri Tuntutan Rakyat adalah
3 tuntutan rakyat kepada pemerintah yang diserukan para mahasiswa pada tanggal
10 Januari 1966, yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Selanjutnya diikuti oleh kesatuan- kesatuan aksi yang lainnya seperti Kesatuan
Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI),
Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI),
Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI),
serta didukung penuh oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tiga tuntutan
rakyat tersebut mewakili masalah dan sebagai pernyataan sikap tegas atas
kinerja pemenrintah kala itu, yaitu; (1)
Bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya, (2) Perombakan
Kabinet Dwikora, dan (3) Turunkan harga pangan.
Latar
Belakang
Pertama ; mengenai
pembubaran PKI, hal ini disebabkan oleh lambannya pemerintah mengambil sikap
menindak tragedy berdarah G30S 1965 yang dituduhkan terhadap Partai Komunis
Indonesia (PKI) pimpinan D.N. Aidit. Ketika aksi gelombang demonstrasi menuntut
pembubaran PKI semakin keras, pemerintah tidak segera mengambil tindakan.
Keadaan negara Indonesia sudah sangat parah, baik dari segi ekonomi maupun
politik. Harga barang naik sangat tinggi terutama bahan bakar minyak (BBM).
Oleh karenanya, pada tanggal 12 Januari 1966, KAMI dan KAPPI memelopori
kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila mendatangi DPR-GR menuntut
Tritura tersebut.
Empat bulan setelah
penculikan dan pembunuhan para petinggi Angkatan Darat yang dituduh sebagai
“Dewan Jenderal”, Ir. Sukarno selaku Presiden RI masih juga bimbang untuk
mengambil keputusan tegas, padahal gelombang pergerakan masyarakat telah meluas
karena geram dengan sikap presiden tersebut. Akibatnya para pemuda dan
mahasiswa di seluruh Indonesia, terutama di Jakarta yang sebelumnya sudah
memiliki organisasi kemahasiswaan yan dikenal dengan nama “Prserikatan
Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), akhirnya terbelah menjai dua kubu
kelompok kekuatan mahasiswa. Yaitu; sebagian anggota yang berhaluan idiologi
kiri seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Gerakan Mahasiswa
Indonesia (Germindo), dan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PERHIMI), serta
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) turut ragu menuduh PKI sebagai
dalang peristiwa G30S 1965 karena belum ada bukti kuat. Sementara mahasiswa-mahasiswa
yang berhaluan kanan seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan
Mahasiswa Katolik Repoblik Indonesia (PMKR), serta Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), menuntut keras agar PKI segera ditindak tegas. Sebagaimana
dikutif dari “Pemuda Pembangunan dan Masa Depan” (1987) karya Babari, rapat
presidium PPMI digelar pada 10-23 Oktober 1965 untuk menentukan sikap gerakan
mahasiswa terhadap G30S.
Kedua ; tuntutan terhadap perombakan Kabinet
Dwikora muncul karena pemerintahan Ir. Sukarno dianggap tidak becus
mengendalikan goncangan terhadap stabilitas nasional, khusnya stabilitas social
ekonomi yang sedang mengalami penurunan drastic. Perombakan Kabinet Dwikora
juga dituntut karen di tubuh kabiner tersebut terdapat orang-orang PKI. Pada
hal sebagian besar masyarakat saat itu menghendaki dibersihkannya orang-orang
PKI yang masih bercokol di dalam Kabinet Dwikora.
Ketiga ; tuntutan turunkan harga disebabkan
karena kesalahan fatal kebijakan ekonomi saat itu, dimana Presiden Sukarno
mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 27 tahun 1965, untuk mengatur kembali
mata uang rupiah yang diumumkan pada tanggal 13 Desember 1965. Peraturan
Presiden ini merupakan inisiaif dari pejabat Kabinet Dwikora yang mendevaluasi
mata uang rupiah dari 1000 rupiah menjadi 1 (satu) rupiah. Akumulasi dari
berbagai masalah tersebut menjadikan masyarakat kian geram, akhirnya pada
tanggal 10 Januari 1066 ribuan mahasiswa bergerak kearah Gedung Sekretariat
Negara untuk meprotes ketidakstabilan negara, dan menyuarakan tiga tuntutan
rakyat (Tritura) tersebut.
Respon Pemerintah.
Oleh Pemerintah, unjuk rasa tersebut disambut dengan panser, bayonet, serta
semburan gas air mata. Tuntutan mahasiswa belum juga dijawab, akibatnya
demontrasi terus berlanjut dari tanggal 10 sampai 13 Januari 1966 hingga
akhirnya desakan Tritura sampai ke Presiden Sukarno. Lambannya respon
pemerintah menyebabkan tuntutan
demontrasi melebar ke issu atau desas desus yang brkembang, untuk
menurunkan Presiden Sukarno dari jabatanya sebagi presiden. Akibat desakan
tersebut, “maka pada tanggal 21 Februari 1966 Presiden Soekarno akhirnya
melakukan perombakan kabinet dan mengumumkan reshuffle kabinet barunya”. Dalam
kabinet itu masih duduk para simpatisan PKI. Kenyataan ini menyulut kembali
mahasiswa meningkatkan aksi demonstrasinya. Kemudian pada tanggal 24 Februari
1966 mahasiswa memboikot pelantikan kabineti baru tersebut, yang berakhir
bentrok antara mahasiswa dan Resimen Cakrabirawa (Pasukan Pengawal Presiden).
Dalam insiden yang terjadi dengan Resimen Tjakrabirawa Pasukan Pengawal
Presiden Soekarno, seorang mahasiswa bernama “Arif Rahman Hakim” tewas
tertembak. Pada tanggal 25 Februari 1966 KAMI dibubarkan, namun hal itu tidak
mengurangi gerakan-gerakan mahasiswa untuk melanjutkan Tri Tuntutan Rakyat
(Tritura). Rentetan demonstrasi yang terjadi menyuarakan Tritura akhirnya
diikuti dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 dikenal dengan nama
"Supersemar” oleh Presiden Soekarno yang memerintahkan kepada Mayor
Jenderal Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang
perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Dari peristiwa G30S
yang berakibat munculnya berbagai pergerakan mahasiswa melalui Tri Tuntutan
Rakyat (Tritura), lahir istilah mahasiswa yang beridiologi kiri, dan mahasiswa
yang beridiologi kanan sebagai dua kekuatan yang saling bertolak belakang (Kontradiktif)
dalam menyikapi G30S. Disatu sisi ada mahasiswa (berhaluan idiologi kiri) yang
beranggapan bahwa PKI bukanlah dalang dibalik gerakan tersebut, karena tidak
ada bukti kuat yang mendukungnya. Sementara mahasiswa (berhaluan idiologi
kanan) menganggap G30S didalangi oleh Partai Komunis Indonesi (PKI) karena
selama ini, kubu PKI yang selalu menyebarkan fitnah (hoax) yang bersifat
mengadu domba. Dimana hoax yang disebarkan untuk mengadu domba antar Presiden Sukarno dengan Angkatan Darat,
bahwa didalam tubuh Angkatan Darat dicurigai adanya “Dewan Jenderal yang ingin
melakukan kudeta untuk menjatuhkan Presiden Sukarno”. Sehingga dengan alasan
tuduhan (hoax) tersebut PKI menggerakkan anggota dan simpatisannya yang ada
dijajaran TNI khususnya pasukan Cakrabiwa (Pasukan Pengawal Presiden) untuk
melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap para Jenderal Angkatan Darat
(Dewan Jenderal), yang dibunuh secara sadis dan dikuburkan dalam satu sumur tua
(Lubang Buaya). Dalam tragedy itu tujuh perwira TNI AD yang kemudian disebut
sebagai Pahlawan Revolusi gugur akibat hoax tersebut.
Dalam buku Mata
Pelajaran : IPS/Sejarah, Kelas XII, materi BAB 2 – (Perjuangan Melawan Ancaman
Pemberontakan), tercatat sejarah bangsa bahwa pemberontakan PKI 1948 merupakan
upaya disintegrasi bangsa yang dilatarbelakangi oleh adanya idiologi komunis.
Pemberontakan PKI di Madium Meletus pada 18 September 1948, yang berpusat di
wilayah sekitar Madium, Jawa Timur. Selain di Madium PKI juga mengumumkan hal
yang sama di Pati, Jawa Tengah. Pemberontakan ini didalangi oleh PKI dan Front
Demokrasi Rakyat (FDR) yang beridiologi komunis. Aksi pemberontakan ini
merupakan reaksi terhadap hasil perjanjian Renville yang dianggap merugikan
Indonesia, karena perjanjian ini membuat dikuasainya banyak wilayah oleh
Belanda. Selain itu PKI juga menolak kebijakan rasionalisasi jumlah prajurit
TNI, karena dapat berdampak pada berkurangnya kader PKI ditubuh TNI.
Pemberontakan ini berhasil merebut kendali atas Madium. Salah satu korban PKI
di Madium adalah Gubernur Jawa Timur RM Suryo dan dokter pejuang kemerdekaan,
yaitu dr. Mawardi. Pemberontakan PKI di Madium berhasil dilumpuhkan dengan
mengerahkan pasukan dari Divisi Siliwangi yang dipimpin oleh Jenderal Abdul
Haris Nasution dan Kolnel Sungkono sebagai Gubernur Militer. Pasukan ini
berhasil mengepung pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin dan
Muso, dan bdrhasil memadamkan pemberontakan dalam waktu yang cepat.
Sejarah
G30S PKI
Peristiwa G30S PKI
terjadi pada tahun 1965 dan dimotori oleh Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit,
pemimpin terakhir PKI. Di bawah kendali DN Aidit, perkembangan PKI semakin
nyata walaupun diperoleh melalui sistem parlementer., menurut Arnold C.
Brackman, DN Aidit mendukung konsep Khrushchev, yakni "If everything
depends on the communist, we would follow the peaceful way (bila segalanya
bergantung pada komunis, kita harus mengikuti dengan cara perdamaian)."
Pandangan itu disebut bertentangan dengan konsep Mao Ze Dong dan Stalin yang
secara terbuka menyatakan bahwa komunisme dikembangkan hanya dengan melalui
perang. G30S PKI terjadi pada malam hingga dini hari, tepat pada akhir tanggal
30 September dan masuk 1 Oktober 1965. Gerakan pemberontakan yang dilakukan
oleh PKI mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang
menjadi target langsung dibunuh di kediamannya. Sedangkan lainnya diculik dan
dibawa menuju Lubang Buaya. Keenam perwira tinggi yang menjadi korban G30S PKI
antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden
Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo
Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan dan Brigadir Jenderal Sutoyo
Siswomiharjo. (Dikutip dari buku Api Sejarah 2 oleh Ahmad Mansur Suryanegara).
Tujuan G30S PKI.
Tujuan utama G30S PKI adalah menggulingkan pemerintahan era Soekarno dan
mengganti negara Indonesia menjadi negara komunis. Seperti diketahui, PKI
disebut memiliki lebih dari 3 juta anggota dan membuatnya menjadi partai
komunis terbesar ketiga di dunia, setelah RRC dan Uni Soviet. Selain itu,
dikutip dari buku Sejarah untuk SMK Kelas IX oleh Prawoto, beberapa tujuan G30S
PKI adalah sebagai berikut:
1.
Menghancurkan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara
komunis.
2. Menyingkirkan TNI Angkatan
Darat dan merebut kekuasaan pemerintahan.
3. Mewujudkan cita-cita PKI,
yakni menjadikan ideologi komunis dalam membentuk system
pemerintahan yang
digunakan sebagai alat untuk mewujudkan masyarakat komunis.
4. Mengganti ideologi Pancasila
menjadi ideologi komunis.
5. Kudeta yang dilakukan kepada
Presiden Soekarno tak lepas dari rangkaian kegiatan
komunisme internasional.
Kronologis G30S PKI.
Tindakan dan penyebarluasan ideologi komunis yang dilakukan oleh PKI
menimbulkan kecurigaan dari kelompok anti-komunis. Tindakan tersebut juga
mempertinggi persaingan antara elit politik nasional. Kecurigaan semakin
mencuat dan memunculkan desas-desus di masyarakat, terlebih menyangkut
kesehatan Presiden Soekarno dan Dewan Jenderal Angkatan Darat. Di tengah
kecurigaan tersebut, Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Kawal Resimen
Cakrabirawa, yakni pasukan khusus pengawal Presiden, memimpin sekelompok
pasukan dalam melakukan aksi bersenjata di Jakarta. Aksi tentara tersebut pada
tanggal 30 September 1965 berhasil menculik enam orang perwira tinggi Angkatan
Darat. Enam Jenderal yang gugur dalam peristiwa G30S PKI antara lain Letnan
Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal
Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal
Donald Isaac Panjaitan dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo. Di samping
itu, gugur pula ajudan Menhankam/Kasab Jenderal A.H. Nasution, Letnan Satu
Pierre Andreas Tendean dan pengawal Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena,
Brigadir Polisi Satsuit Tubun. Salah satu Jenderal yang berhasil selamat dari
serangan PKI adalah AH Nasution. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani
Nasution tidak bisa diselamatkan. Sementara itu, G30S PKI di Yogyakarta yang
dipimpin oleh Mayor Mulyono menyebabkan gugurnya TNI Angkatan Darat, Kolonel
Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono. Kolonel Katamso merupakan Komandan Korem
072/Yogyakarta. Sedangkan Letnan Kolonel Sugiyono merupakan Kepala Staf Korem.
Keduanya diculik dan gugur di Desa Kentungan, sebelah utara Yogyakarta.
Latar Belakang, G30S
PKI dilatarbelakangi oleh dominasi ideologi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme
(NASAKOM) yang berlangsung sejak era Demokrasi Terpimpin diterapkan, yakni
tahun 1959-1965 di bawah kekuasaan Presiden Soekarno. Beberapa hal lain yang
menyebabkan mencuatkan gerakan yang menewaskan para Jenderal ini adalah
ketidakharmonisan hubungan anggota TNI dan juga PKI. Pertentangan pun muncul di
antara keduanya. Selain itu, desas desus kesehatan Presiden Soekarno juga turut
melatar belakangi pemberontakan G30S
PKI. Itulah sejarah G30S PKI. Setelah gerakan tersebut berhasil ditumpas,
muncul berbagai aksi dari kalangan masyarakat untuk membubarkan PKI.
Hilangnya
Patung Para Jenderal dari Museum Dharma
Bhakti Kostrad
Adakah kaitan
antara penyebaran issu dan fitnah di
masyarakat, kalau PKI adalah korban Orde Baru yang didalangi oleh Soeharto,
dengan hilangnya patung para Jederal TNI pelaku sejarah penumpasan G.30 S /
PKI di Museum Dharma Bhakti Kostrad ?.
Sepertinya ada operasi terselubung oleh kelompok tertentu untuk memutarbalikkan
fakta sejarah yang berkaitan dengan
peristiwa G 30 S/PKI tersebut, guna membersihkan dan mengembalikan citra
PKI ditengah-tengah masyarakat di era globalisasi. Selain hilangnya patung para
jenderl di Museum Dharma Bhakti Kostrad, juga larangan pemutaran Film G. 30
S/PKI, sementara Jenderal Gatot Nurmanto selaku Panglima TNI, memerintahkan
untuk diputar ulang Film G30S/PKI setiap tanggal 30 September. Demikian juga
hilangnya tokoh-tokoh Islam pejuang
kemerdekaan yang dihapus dalam kamus sejarah Indonesia yang diterbitkan oleh
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Serta munculnya issu islamiphobia dan stiqma
terorisme, radikalisme, dan poltik identitas yang sengaja dilekatkan ke agama
islam utamanya para ulama dan tokoh
islam yang taat pada agamanya. Karena
stigma ini sesungguhnya bentuk teror yang dapat menimbulkan rasa takut serta
sikap saling curiga mencurigai satu sama lain didalam masyarakat yang pluralis.
Begitu pula menunjukkan indikasi bentuk politik adu domba dan pecah belah
seperti yang pernah diterapkan oleh penjajah Belanda sebelum kemerdekaan, dan
PKI pada tahun 1948 di Madium, di Parlemen konstituante hasil pemilu 1955,
serta saat meletusnya G30S/PKI 1965 guna
memecah belah kekuatan umat dan bangsa Indonesia. Sementara PBB telah
mengeluarkan resolusi tentang anti islamophobia yang harus di jalankan di
Indonesia.
Alibi yang yang
dibangun oleh seseorang dengan menyebarkan informasi bahwa PKI adalah korban
dari Orde Baru, adalah pembohongan publik yang dilakukan dengan sengaja. Fakta
yang tidak bisa terbantahkan adalah rencana penculikan dan pembunuhan terhadap
Jenderal Nasution yang gagal, kenapa ia tidak bergabung dengan pasukan
Cakrabirawa (Pasukan Pengawal Presiden Sukarno), tetapi memilih berlindung
dibalik Jenderal Suharto dan Angkatan Darat. Jika nurani Jenderal A. H.
Nasution menganggap Suharto berhianat, maka tidak mungkin ia bergabung dengan
Suharto. Itu berarti bahwa Jenderal A.H. Nasution yakin kalau G. 30 S di
dalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Fakta lain; Ulama, Mahasiswa, masyarakat, dan TNI bersatu
menggayang Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu.
Sekarang dengan
terbukanya hubungan kerjasama (MoU) antara dua negara (bilateral), yaitu
Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang diprakarsai oleh PDIP
dengan Partai Komunis Tiongkok, secara psihkologis membuka luka lama tentang
ajaran marxisme dan lenimisme (Komunisme) di Indonesia. Dimana hubungan
bilateral antara kedua negara ini, sudah diputus hubungan diplomatic sejak 1966
oleh Pemerintah Indonesia saat itu, setelah meletusnya G30S/PKI. Harian
Angkatan Bersendjata milik ABRI (25 April 1966), menerbitkan artikel bertajuk
“kisah gagalnya Coup Gestapu jang dimasak di Peking”. Ada pula tulisan di
harian Angkatan Bersendjata itu yang berjudul “Rezim Peking Perintahkan Bunuh 7
Djenderal & Semua Perwira Reaksioner”, dan RRT sanggupi pengiriman senjata
& perlengkapan untuk 30.000 Orang. Dimasa Orde Lama Partai Komunis
Indonesia (PKI) sangat kuat dan berkembang pesat, karena anggota dan simpatisan
PKI berada disemua lini kekuasaan. Petinggi dan anggota PKI ada di kekuasaan
(eksekutif), DPR (legislative), dan Lembaga peradilan (yudikatif). Dimana PKI
sangat dekat dengan kekuasaan dan penguasa khususnya Bung Karno sebagi
Presiden, sehingga segala kebijakan pemerintah menguntungkan PKI. Kekuatan
utama PKI adalah menguasai TNI dan Parlemen sehingga PKI menjadi partai
kekuatan dan benteng bagi penguasa (Bung Karno). Akankah terulang sejarah
tersebut ?.
Makassar, 16 September
2022
Penulis adalah Ketua Bid. Advokasi & Perlindungan Hukum APSI Pusat (2012/2017-2017/2022), Ketua APSI Prov. Sul-Sel Periode 2017-2022, Angkatan 81 Civic Hukum/PMP FKIS IKIP UP & Angk. 92 Fak. Hukum UMI Makassar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar