Translate

Senin, 05 Januari 2026

Kisah Heroik Pengabdian Achmad Karim Majja

Achmad Karim Majja merupakan sosok panutan dan teladan bagi anak-anaknya, sungguh sangat susah melupakan kasih sayang dan didikannya yang berbekas tak bisa hilang karena dicuci. Ayahanda ditakdirkan oleh Allah SWT sebagai seorang pendidik dan tokoh panutan masyarakat, sebab ia selalu dirindukan wejangan dan bimbimgannya oleh masyaraka serta guru-guru ditempat ia pernah bertugas.







-----

Rabu, 07 Januari 2026


Kisah Heroik Pengabdian Achmad Karim Majja

 

Achmad Karim Majja bersama Takudaeng Dg. Ti’no adalah pasangan suami isteri merupakan sosok orang tua yang memiiki karakter dan sifat sosial suka membantu orang lain, sebagai karakter yang membanggakan bagi anak-anaknya. Semasa hidupnya, keduanya memiliki sifat sabar, ikhlas, dan tulus namun tegas dalam mendidik serta membersarkan anak-anaknya tanpa pamri yang berjumlah 7 Orang (6 Laki-Laki & 1 Perempuan).  

Ayah adalah seorang tokoh masyarakat Panciro pendidik (Guru, Kepala Sekolah & Penilik TK/SD) di Kab. Gowa Sul-Sel, sedangkan ibunda seorang ibu Rumah Tangga yang setia serta patuh pada Allah SWT dan suaminya. Takudaeg anak dari “Sariba Tiro” seorang pejuang bangsa (Veteran Pejuang) yang memiliki piagam dari pemerintah. Sariba Tiro nenek dari Ibu, gugur sebagai pejuan dengan cara dijejerkan beberapa orang dipinggir saluran peraran dalam posisi tangan terikat dan mata tertutup, lalu ditembak mati dipinggir jalan antara Boka Pattingngalloan. (dikisahka oleh anak-anaknya). Ia menjadi pahlawan perjuangan di wilayah Limbung Utara (Panciro) bersama  3 rekannya masing-masing Makkarani, ,Baso Tappa, dan Rongke. Untuk menghormati jasa-jasa ke-empat pejuang tersebut, pemerintah membangun “Tuguh Pahlawan  Limbung Utara” di Panciro dan mengabadikan keempatnya melalui nama-nama Jalan Desa, yaitu; Jln. Sariba Tiro, Jln. Makkarani, Jln.Baso Tappa, dan Jln. Rongke.

Achmad Karim Majja merupakan sosok panutan dan teladan bagi anak-anaknya, sungguh sangat susah melupakan kasih sayang dan didikannya yang berbekas tak bisa hilang karena dicuci. Ayahanda ditakdirkan oleh Allah SWT sebagai seorang pendidik dan tokoh panutan masyarakat, sebab ia selalu dirindukan wejangan dan bimbimgannya oleh masyaraka serta guru-guru ditempat ia pernah bertugas. Baik di Kecamatan Pallangga, Parang Loe, dan Somba Opu, maupun di Kecamatan Bajeng khususnya masyarakat Panciro tempat tinggalnya. Sebab ia merupakan seorang pendidik yang menguasai kompetensi paedagogik, cerdas, bersahaja, inisiator, dan pembimbing sejati, karena ia seorang ulama (Da’i), Pelatih Pramuka, KOKAM, dan HW di Sulawesi Selatan. Ia adalah tulang punggung dari Ketua Kwarda gerakan Pramuka Sul-Sel HM Yasin Limpo (Ayah DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH.,MH,.M.Si).

Sejarah Singkat Heroik Pejuang Peradaban

Achmad Karim Majja bersama Mantasya Nganang Dg. Ngeppe (Mantan Kades pertama setelah PLT Kades Panciro Makkaranu Dg. Bombong) menjadi dua tokoh sentral membangun pundasi moral, integritas, serta menanamkan nilai-nilai religius yang menjadi ciri khas masyarakat Panciro sebagai masyarakat religius melaui Masjid Nurul Jihad Panciro. Masjid yang di prakarsai oleh tokoh sentral bersama seorang pengusaha minyak (donatur) yang bernama H. Sallala Dg. Tayang, dibangun diatas tanah wakaf orang tua Mantasya Nganang (PD Muhammadiyah Gowa), yang selanjutnya diwakafkan kepada PCM Lempangan.

Masih teringat ketika ia membubarkan pertemuan PKI di Masjid Nurul Jihad Panciro yang saat itu sudah dinyatakan organisasi terlarang, menyebabkan ia dijemput oleh tentara satu truk dari Dandim Gowa yang mendatangi kediaman yang sekarang menjadi “Tuguh Pahlawan Limbung Utara” di Desa Panciro Kecamatan Bajeng. Namun besoknya dilepas dengan alasan “Saya hanya mengatakan PKI jalan terus umat islam jangan terjerumus”, serta bantuan dari Kepala Inpeksi (Kanin) Pendidikan Kabupaten Jeneponto Bakka Dg. ToboBegitu juga sekitar  Tahun 1978 ketika Guru-Guru Se-Kec. Pallangga memilih mogok mengajar di hari kerja, karena ingin beramai-ramai mengantar Sang pejuang peradaban “Achmad Karim Majja” yang dimutasi Ke- SD Borisallo di Kec. Parang Loe gara-gara membela pemotongan gaji guru-guru. 

Achad Karim Majja adalah salah seorang tokoh masyarakat, tokoh pendidik, serta pelatih gerakan Pramuka di Kab. Gowa khususnnya dan Sul-Sel pada umunnya, yang aktif dan konsisten membangun peradaban umat melalui dakwah amar ma'ruf nahimungkar ditengah-tengah masyarakat dimana ia bertugas. Minggu pertama ditempat tugas, ia melakukan survey pada Masjid yang terletak di depan Pasar Bontojai. Alangkah kagetnya, ketika mendapati Masjid yang didalamnya ditempati kambing-Kambing bdan penuh kotoran kambing, yang menadakan kalua Masjid itu jarang digunakan untuk beribadah. Lalu sang guru mengambil inisiatif mengajak kaum laki-laki yang ada dipasar untuk gotong royong membersihkan Masijd itu dengan maksud untuk digunakan sholat jum’at berikutnya. Alhamdulillah, Jum’at pertama dengan khotib Achmad Karim Majja.Sang guru panutan, namun diluar dugaan dan  atas pertolongan Allah SWT seorang Kepala Desa menadapat ilham yang mendengarkan khubbah Jum’at dari jendela rumahnya disamping masjit tersebut. Akhirnya Kepala Desa Borisalo (Karaeng Ngopu) menjadi orang beriman dan taat mengerjakan sholat lima waktu. Bahkan Kepala Desa tersebut sebeum ajal menjemputnya, berhasil menyempurnakan keislaman masyarakatnya dengan rajin sholat berjamaah dan berhasi membangun Masjid besar didepan SDN Borisallo tempat Achmad Karim Majja mengabdi selama 8 tahun lamanya.


                           (Achad Karim Majja lahir: di Panciro 18 Juli 1938 - Wafat: Jum'at 13 Juli 2012 di Panciro).

Bagi Kepala Desa (Mappasossong Karaeng Ngopu), Achmad Karim Majja digelari "Tuan Guru Krg. Majja" gara-gara isi khubbah Jum'at pertama disamping rumahnya, berhasil menggugah nurani dan kesadaran spritualnya. Bahkan siang hari itu juga Kepala Desa memerintahkan anggota Siskamling, untuk menangkap ayam kesayangannya (Ayam petarung) untuk dijadikan jamuan siang bersama Tuan Guru.  Ayahanda pernah mengisahkan: Suatu saat Krg. Ngopu mau mengahiri jabatannya lalu memanggil Tuan Guru, dan meminta kesediaannya agar berkenan menggantikannya karena masyarakat Desa sudah menyetujui keinginannya. Apa jawaban Tuan Guru; Secara halus menolak dengan mengusulkan H.Abd. Kadir Karaeng Mone sebagai Calon Kades yang menggantikannya. Karaeng Ngopu kaget dan marah ! Apa tuan guru tahu siapa orang itu ?, sangat tahu sifat dan kepribadiannya seperti yang Karaeng Ketahui. Namun jika Karaeng masih percaya kepada saya, Inshaa Allah ia akan berubah seratus porsen. Akhirnya H. Abd. Kadir Karaeng Mone menjadi Kepala dan memjadi pemimpin yang paling beriman di Desa Borisallo. Bahkan beriutnya menjadi anggota DPRD Kab. Gowa, dan dikabarkan anak-anaknya disekolahkan di Pesantren.

Ketika Achmad Karim Majja dimutasi ke-Kecamatan Somba Opu setelah 8 tahun mengabdi di Parang Loe, ia menemui Karaeng Opu yang telah memberinya sebuah rumah beserta sertifikat tanahnya atas jasa-jasanya mencerahkan masyarakat Desa Borisallo dengan pendidikan dan dakwahnya. Lalu ia menyerahkan kembali sertifikat tanah beserta rumahnya dengan amanah agar dijadikan tempat untuk kemaslahatan masyarakat, Krg. Ngopu kaget dan berucap “Majja ini sudah menjadi miikmu karena ini rumah pribadiku yang sudah saya serahkan kepadamu. Terimakasih demikian juga saya Karaeng, ingin milikku ini dijadikan fasiitas social (Fasos) agar bernila amal jariyah. Alhamduillah rumah itu sekarang menjadi Pos Yandu didepan Pasar Bontojai Desa Borisallao Kec. Parang Loe. Allah membalas jasa guru-guru Kec. Pallangga yang mengantar Achad Kari Majja ke- Parang Loe bagaikan pejabat publik, karena pada akhirnya Achmad Karim Majja kembali kekampung halamannya di Panciro, setelah resepsi malam pelepasan juga diantar beramai-ramai oleh masyarakat Desa Bontojai diwaktu pagi bagaikan pengantin baru.

Bagi kalangan pendidik khususnya guru-guru di Kab. Gowa, ia dijuluki sebagai "GURU GANNA" yang berarti guru serba bisa. Sebab selain ia cerdas dalam mendidik juga sangat mahir dalam membimbing guru, Kepala Sekolah, & sesamanya penilik TK/SD secara profesional. Selain itu ia juga mahir berdakwah, bahkan mampu menghapal kisah-kisah para nabi dan para sahabat Rasulullah serta para pejuang di jalan Allah. Dibidang seni ia mampu menguasai berbagai kompetensi dan bakat, seperti: memainkan piano, seruling bambu, dan harmonica serta bisa menulis puisi dan cerpen. Dan mampu menghapal serta menyanyikan lagu-lagu turiolo (Makassar) dan lagu kepanduan Pramuka.


                                                      (Ia mampu melukis Photo sendiri)

Ayahanda telah membuktikan prinsip dan sikap hidupnya, bahwa carilah rezki yang halal dan jangan cari yang haram karena hal itu tidak ada berkahnya. Sebab rrezki Allah itu akan berberkah jika diterima dengan ikhlas serta disyukuri apa adanya dan dibelanjakan pada jalan halal. Dan sebisa mungkin, jangan kasih makan anak dan keluargamu, jika rezki yang kau terima meragukan kehalalannya tetapi belanjakan pada barang atau jadikan sedekah.


                                                            Anak & Menantu

(1) Drs. Achmad Rami K, SH,.MH & Ny. (2) Drs. Arsul Arifin K, S.Pd,.MM & Ny. (3) Bukhari Muslim & Ny. (4) Hj. Karuniati Karim. (5) Salahuddin Al-Karima, S.KM & Ny. (6) Ahmad Islamil, SH,.MH & Ny. (7) Ahmad Hamka, A.Md & Ny.

Semasa hidupnya, beliau pernah menitipkan pesan khusus kepada anak sulungnya ketika terangkat jadi PNS. Kutitipkan pesan padamu nak !, Begitulah wasiat orang tuaku (Achmad Karim Majja), diawal aku jadi PNS Guru: Carilah nafkah atau uang sebanyak mungkin dengan cara-cara " jujur, tidak menyalahgunakan wewenang, dan halal bagi keluargamu ", karena uang tersebut akan memiliki "BERKAH". 

 Saya titipkan pesan padamu nak:

-Nak ! Jangan kejar banyaknya nafkah dan materi, karena makin banyak kamu dapat makin banyak keluarnya. Namun jika kamu cari berkahnya, maka Allah SWT akan melipat gandakan reskimu.

-Jika suatu saat Allah memurahkan reskimu maka jangan lupa kewajiban sedekahmu, karena kamu tidak akan  miskin karena sedekah. Dan yakinlah, jika kamu kejar berkahnya maka reskimu akan mengalir terus karena rahmatNYA.

Ia wafat pada Kamis malam, 16 Juni 2012 dirumahnya degan terlebih dahulu menitipkan pesan pada saudara perempuannya Hj. Nursih Dg. Kebo ; Siapa yang memandikan mayatnya, memasukkan keliang lahat, serta tokoh-tokoh yang memberikan ceramah taksiah tiga malam berturut-turut mulai dari PWM, PDM saat itu, dan sahabat karibnya "Mantasya Nganang, BA. Selanjutnya mengamanahkan kepada saudara kesayangannya Hj. Nursiah Dg. Kebo, untuk mewakili keluarga menutup acara taksiah dimalam terakhir. Bahkan sempat meminta kepada adiknya itu agar membersihkan Jalan Barombong sampai Perumahan TPI, karena besok akan dilewati oleh orang bayak. Ternyata Jalan itu yang dilewati oleh pengantar mayatnya yang dihadiri banyak orang yang tak bisa dihitung banyaknya (membludak), entah darimana datangnya. Sungguh maha besr kuasamu ya Allah ! Sehingga Almarhum mengetahui hari dan waktu kematiannya. Masyaa Allah !.


Gowa, 22 Mei 2023


 Achmad Ramli Karim

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar