Translate

Senin, 05 Januari 2026

Mengubah Mindset Butuh Ketegasan & Keteladanan Pemimpin

 

Mindset adalah pola pikir atau seperangkat keyakinan yang membentuk cara seseorang memandang dan menyikapi suatu situasi, peristiwa, atau kehidupan. Pola pikir ini memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perilaku seseorang, serta dapat memengaruhi tujuan, kebahagiaan, dan kesuksesan seseorang.






-----

Selasa, 06 Januari 2026



Mengubah Mindset Butuh Ketegasan & Keteladanan Pemimpin

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Mindset adalah pola pikir atau seperangkat keyakinan yang membentuk cara seseorang memandang dan menyikapi suatu situasi, peristiwa, atau kehidupan. Pola pikir ini memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perilaku seseorang, serta dapat memengaruhi tujuan, kebahagiaan, dan kesuksesan seseorang.

Di era globalisasi sekarang ini, negara industri berupaya menguasai pangsa pasar dan sumber daya alam negara-negara berkembang melalui invasi. Bentuk "invasi" negara industri di Indonesia saat ini umumnya tidak bersifat militer, melainkan dalam bentuk neokolonialisme atau pengaruh yang bersifat non-militer, terutama di bidang ekonomi, teknologi, dan budaya. Adapun bentuk-bentuk utama pengaruh invasi tersebut, meliputi: invasi ekonomi, invasi teknologi dan digital, invasi budaya dan informasi.

Secara keseluruhan, "invasi" ini lebih kepada bentuk dominasi struktural di mana Indonesia, sebagai negara berkembang, menghadapi tantangan untuk mencapai kemandirian penuh di tengah sistem ekonomi dan teknologi global yang didominasi oleh negara-negara industri. Disisi lain, para pejabat publik masih berpikir komsumtif serta gaya hidup mewah. Berpikir konsumtif adalah kecenderungan untuk menghabiskan uang untuk barang dan jasa secara berlebihan dan tanpa pertimbangan matang, sering kali hanya didorong oleh keinginan sesaat, tren, atau status sosial. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh kaum pemilik modal (investor) untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin, melalui pendekatan kepentingan politik (politik transaksional). Menguasai para politikus dan calon pejabat publik melalui pendekatan kepentingan seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Penyebab utama budaya korupsi di Indonesia sangat kompleks, mencakup faktor internal seperti keserakahan, gaya hidup konsumtif, dan moralitas individu yang lemah, serta faktor eksternal seperti kelemahan sistem hukum dan penegakan hukum yang tidak efektif, biaya politik (cost politics) yang mahal, serta lingkungan organisasi yang korup. Faktor ekonomi yang tidak memadai dan norma sosial yang permisif terhadap korupsi juga turut memperburuk keadaan.

Faktor internal, meliputi: (1) Keserakahan: Sifat tamak dan keinginan untuk kaya tanpa kerja keras mendorong individu untuk menghalalkan segala cara. (2) Gaya hidup konsumtif: Tuntutan gaya hidup yang tidak sesuai dengan pendapatan dapat menjadi pemicu seseorang melakukan korupsi untuk memenuhi kebutuhan finansialnya. (3) Moral dan nilai agama yang lemah: Luntur nya nilai-nilai agama dan kejujuran membuat individu kurang memiliki landasan moral untuk menolak korupsi.

Faktor eksternal, antara lain: (1) Lemahnya sistem hukum: Koruptor dapat mencari celah dalam hukum untuk melakukan aksinya. (2) Hukuman yang tidak menimbulkan efek jera dan penegakan hukum yang lemah membuat koruptor semakin berani. (3) Belum disahkannya Undang-Undang Perampasan Aset: Hal ini semakin memperburuk lemahnya sistem hukum, karena banyaknya pimpinan parpol dan anggota DPR yang terindikasi terlibat KKN falamngurita korupsi.

Demikian juga faktor politik:

Biaya kampanye yang mahal menyebabkan biaya politik (cost politics) yang besar sehingga mendorong politisi untuk melakukan korupsi agar "balik modal". Politik uang (money politics): Adanya keyakinan bahwa politik adalah jalan untuk mendapatkan keuntungan besar melalui cara-cara seperti menyogok pemilih. Lingkungan kerja yang korup dapat menumbuhkan budaya korupsi, bahkan bagi individu yang awalnya berintegritas.

Kurangnya transparansi: Korupsi lebih mudah terjadi jika tidak ada transparansi dalam pengelolaan anggaran dan proses pengambilan keputusan. Sistem pengawasan yang tidak efektif, koordinasi yang lemah antara lembaga pengawas dan penegak hukum, serta lemahnya sistem pengendalian internal juga berkontribusi besar dalam menyuburkan budaya korupsi.

Sedangkan faktor yang memengaruhi mindset, seperti: (1) Pendidikan dan pengalaman hidup. (2) Lingkungan (keluarga, teman). (3) Media dan informasi yang dikonsumsi

Membasmi budaya korupsi adalah tantangan berat bagi Presiden Prabowo, karena sudah mengakar akibat prilaku buruk elit politik dan pejabat publik yang tidak lagi menggunakan etika moral dalam jabatan. Apalagi dilakukan secara politis, sistimatis, dan berjamaah, oleh pimpinan bersama bahawan.

Untuk itu dibutuhkan sosok pemimpin yang jujur, tegas, dan berani bertindak tanpa pandang bulu, karena ketegasan dan keteladanan pemimpin bangsa, mampu menjernihkan pola pikir (mindset) elit politik dan pejabat publik dari hulu kehilir.

"Hulu ke hilir" adalah istilah yang berarti dari awal hingga akhir suatu proses atau aliran. Secara harfiah, hulu adalah awal aliran sungai di daerah pegunungan atau dataran tinggi, sedangkan hilir adalah bagian akhir sungai tempat air bermuara, seperti laut atau danau. Dalam konteks industri atau ekonomi, hulu mengacu pada industri atau tahap awal yang menghasilkan bahan baku, sedangkan hilir merujuk pada industri atau tahap akhir yang mengolah bahan baku tersebut menjadi produk jadi siap pakai.

Pentingnya Keteladanan Seorang Pemimpin

Budaya korupsi di dalam birokrasi pemerintahan terbentuk karena kebiasaan yang dicontohkan oleh pemimpin birokrasi itu sendiri, sehingga secara tidak langsung bawahan terbiasa dengan budaya korupsi tersebut. Pemimpin yang jujur, tegas dan bersih hatinya, akan membersihkan pola pikir bawahan dari kebiasaan buruk dan penyimpangan. Sedangkan pemimpin yang terbiasa korup, akan membentuk budaya korupsi pada birokrasi yang dipimpinnya.

Keteladanan seorang pemimpin sangat penting karena berfungsi sebagai magnet yang menarik dan memotivasi bawahan untuk mengikuti dan mengimplementasikan nilai-nilai serta perilaku yang diinginkan dalam organisasi. Manfaat utama dari keteladanan seorang pemimpin meliputi:

(1) Membangun Budaya Organisasi yang Positif: Keteladanan menumbuhkan nilai-nilai seperti integritas, disiplin, kolaborasi, dan empati melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Hal ini membantu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan positif. (2) Meningkatkan Kredibilitas dan Kepercayaan: Ketika pemimpin mempraktikkan apa yang mereka harapkan, mereka mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari tim yang dipimpinnya. (3) Meningkatkan Motivasi dan Keterlibatan Karyawan: Pemimpin yang memberikan contoh yang baik dapat menginspirasi dan memotivasi timnya untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama. Karyawan yang merasa termotivasi dan terlibat cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi. (4) Mencapai Tujuan Organisasi: Kepemimpinan yang disertai keteladanan berdampak positif langsung pada pencapaian tujuan dan kesuksesan organisasi secara berkelanjutan. Tim yang terinspirasi oleh pemimpinnya akan bekerja lebih efisien dan produktif. (5) Mengembangkan Potensi dan Inisiatif: Dengan menunjukkan standar kerja dan perilaku yang tinggi, pemimpin membantu mengembangkan potensi anggota tim untuk mengambil inisiatif secara independen dan mengejar keunggulan dalam pekerjaan mereka. (6) Mengurangi Konflik dan Memperkuat Kerja Sama Tim: Keteladanan dalam komunikasi dan sikap hormat dapat membantu mengurangi konflik internal dan memperkuat ikatan serta kerja sama dalam tim.

Secara ringkas, keteladanan adalah bentuk "pengajaran" yang paling mendasar dan efektif dalam kepemimpinan, yang memastikan bahwa perilaku dan etika yang diinginkan tertanam kuat dalam seluruh aspek organisasi.

 

Makassar, 3 Nopember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar