Translate

Kamis, 15 Januari 2026

Influencer Berperan Membunuh Karakter Tokoh Muslim

 

Umat islam seharusnya sadar bahwa mereka menjadi objek politik global adu domba kaum kapitalis, agar tidak bisa kuat bersatu secara politik demi menguasai pangsa pasar dan perdagangan global.






----

Jum,at, 16 Januari 2026



Influencer Berperan Membunuh Karakter Tokoh Muslim 

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Umat islam seharusnya sadar bahwa mereka menjadi objek politik global adu domba kaum kapitalis, agar tidak bisa kuat bersatu secara politik demi menguasai pangsa pasar dan perdagangan global. Dimana kaum pemilik modal (kapitalis) dalam upaya menguasai pangsa pasar dan perdagangan dunia, menggunakan pihak ketiga dalam negeri suatu negara, yaitu;  influencer dan buzzer-buzzer bayaran untuk menggiring opini publik yang bersifat black campaign di platform digital atau media sosial.

Influencer adalah individu di media sosial atau platform digital lain yang memiliki pengikut signifikan dan kemampuan memengaruhi opini, perilaku, atau keputusan audiensnya, seringkali bekerja sama dengan merek untuk promosi produk/layanan, dan bisa berasal dari berbagai latar belakang seperti blogger, YouTuber, atau selebritas, dengan jenisnya bervariasi berdasarkan jumlah pengikut (nano, mikro, makro, mega) atau niche konten (kecantikan, teknologi, dll.).

Pengertian Ifluencer

Seseorang yang memanfaatkan popularitas dan keahliannya di platform digital (Instagram, YouTube, TikTok, dll.) untuk membuat konten yang menginspirasi, menghibur, atau menginformasikan. Termasuk memengaruhi opini publik dibidang ekonomi dan politik sesuai pesanan pemilik modal atau usaha. Memiliki kredibilitas atau keahlian di bidang tertentu yang membuat pengikutnya percaya dan cenderung mengikuti rekomendasinya.

Peran dalam Pemasaran Prodak

Influencer Marketing: (1) Mempromosikan produk atau layanan merek kepada audiensnya sebagai bagian dari strategi pemasaran digital. (2) Meningkatkan Brand Awareness: Membantu merek menjangkau target pasar yang lebih luas dan membangun kesadaran merek. (3) Mendorong Penjualan: Mendorong pengikut untuk melakukan tindakan, seperti membeli produk yang direkomendasikan.

Jenis-jenis Influencer (Berdasarkan Pengikut): (a) Nano-influencer: Pengikut lebih kecil, tapi sangat loyal dan interaksi tinggi. (b) Mikro-influencer: Memiliki pengikut lebih banyak dari nano, dengan fokus niche tertentu. (c) Makro-influencer: 100.000 – 1 juta pengikut, cakupan luas, sering dilirik merek besar. (d) Mega-influencer/Selebritas: Jutaan pengikut, jangkauan masif, seringkali publik figur.

Dalam dunia bisis, ekonomi an politik tidak bisa dipisahkan karena bagaikan "Dua sisi mata uang" artinya suatu hal memiliki dua aspek atau sudut pandang yang berbeda namun saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, seperti sisi depan dan belakang koin; sering digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu isu punya sisi positif dan negatif, atau dua cerita yang sama-sama valid dari sudut pandang berbeda. Ini menggambarkan dualitas, di mana kemajuan di satu sisi (misalnya, teknologi) dapat membawa tantangan di sisi lain (misalnya, etika digital), atau dalam konflik, ada dua perspektif yang masuk akal. Bahkan ekonomi dapat mempengaruhi atau merubah kebijakan public karena kepentingan ekonomi dan politik globl.

Begitu juga kaum kapitalis mampu menggerakkan para influence dan buzzer-buzzer bayaran, untuk menggirin issu dan opini public melaui platform digital atau media social, untuk merutuhkan kekuatan social politik masyarakat suatu bagsa termasuk kekuatan politik islam di Indonesia. Hal ini tidak lain, guna menjamin keberlangsugan invasi ekonomi dan dagang kaum kapitalis di nusatara. Semetara kebayakan tokoh-tokoh muslim dan ulama lebih memilih menggadaikan moral dan integritasnya, daripada teurs-terusan diteror dan di itimidasi.

 

Kenapa Singa Allah Berasal Dari Muallaf

 

Dikutip dari dialog antara Achmad Ramli Karim dengan H. Irwas Abdullah, pada 12 Juni 2025 lalu:

Julukan yang diberikan kepada Hamzah bin Abdul Muthalib, paman sekaligus sahabat Nabi Muham 14 Abad yang lalu julukan "Singa Allah" (Asadullah) diberikan kepada tokoh-tokoh Islam yang dikenal dengan keberanian dan keperkasaannya dalam membela agama Islam.

"Singa Allah" (Asadullah) adalah julmad SAW. Julukan ini diberikan karena keberanian dan keberaniannya dalam membela Islam, khususnya dalam perang. Lebih lanjut, Hamzah dikenal sebagai seorang yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW dan selalu melindungi beliau dari bahaya. Ia juga berperan penting dalam perjuangan awal Islam dan menjadi pemimpin para syuhada di surga. Selain Hamzah, julukan "Singa Allah" juga diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal dengan keberaniannya dan keahliannya dalam strategi perang.

Jadi julukan "Singa Allah" (Asadullah) diberikan kepada para sahabat Rasulullah Muhammad SWA, yang dikenal dengan keberanian dan keperkasaannya dalam membela agama Islam. Lalu kenapa sekarang singa-singa Allah  daam Islam tersebut rara-rata berasal dari pendeta (minoritas) , ada apa dengan ulama dan Tokoh-Tokoh muslim (mayoritas) selain HRS, UAS, dan UAH?

Seiring dengan dinamika geopolitik global; yaitu studi tentang hubungan antara geografi dan kebijakan politik pada tingkat internasional. Ini mencakup bagaimana faktor-faktor geografis seperti lokasi, sumber daya alam, dan struktur wilayah memengaruhi dinamika politik dan strategi negara-negara di panggung dunia. Dan jika singa-singa Islam tersebut satu persatu dipanggil oleh Allah SWT, saya khawatir Indonesia akan dijalankan berdasarkan konsep sekulerisme. Yaitu paham sekuler yang ingin memisahkan norma agama dengan sistem pemerintahan NKRI, oleh kaum kapitalis.

Makassar, 12 Juni 2025

( Achmad Ramli Karim )

 

Jawaban …..

 

Karena sekarang ulama terbagi dua yakni ulama su' ( ulama dunia) dan ulama akhirat.

 

Pertama ; Ulama dunia ( Ulama Su’ )

Mereka yang mempergunakan ilmu pengetahuannya untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan duniawi semata, menjadikan sebagai jembatan untuk mencapai pangkat dan kedudukan semata. Pangkal kesesatan Ulama Su’ adalah pada niat dan amalan mereka, hati dapat diketahui dari indikator-indikator yang nampak dari amal perbuatannya. Ulama Su’ ini menyeleweng dari ajaran Allah SWT dan Rosul-Nya

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Ali Imran : 182, yang artinya: “Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya”.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah, maka itu seburuk-buruk jual-beli yang mereka lakukan”. (Al Qur’an Surat Ali Imron : 187)

Ciri-ciri Ulama dunia (ulama Su’) adalah :

1). Ulama yang menyembunyikan kebenaran (Q.S. Al Baqarah : 146

2). Ulama yang orientasinya hanyalah demi kebahagiaan duniawi sebagaimana yang dilarang agama dan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah (Q.S. Ali Imran : 187)

3). Ulama Su’ tertimpa kefakiran dan tidak puas dengan anugerah Allah.

4). Pikiran materialistis senantiasa mengendalikan jiwanya, sedangkan kehidupan ukhrawi hampir lenyap dari ingatannya. Memanipulasi kebenaran demik mendapatkan keuntungan duniawi yang sedikit (Q.S. Al Baqarah : 79).

Sifat lain Ulama dunia (ulama Su’) misalnya mencampuradukkan antara yang haq dan batil, suka mengingkari janji dan tidak takut kepada Allah,  menyuruh orang berbuat baik tetap melupakan diri sendiri, dan ciri-ciri negatif yang lainnya yang tidak pantas untuk diteladani.

Kedua ; Sedangkan ulama yang kedua adalah  Ulama akhirat (Ulama Rabbani),

Ciri-cirinya adalah:

1). Tidak mencari kemegahan dunia dengan memperdagangkan ilmunya untuk kepentingan dunia, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran : 199, yang artinya “Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya”

2). Konsekuen terhadap perkataannya, artinya perilakunya sesuai dengan ucapannya dan tidak menyuruh orang untuk berbuat kebaikan sebelum ia mengamalkannya, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S.  Al Baqarah : 44 yang artinya ”Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”

 3). Mengamalkan ilmunya untuk kepentingan akhirat, senantiasa mendalami ilmu pengetahuan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, dan menjauhi perdebatan yang sia-sia.

 4). Mengejar kehidupan dengan mengamalkan ilmunya dan menunaikan berbagai ibadah.

 5). Menjauhi godaan penguasa yang jahat.

 6). Tidak cepat mengeluarkan fatwa sebelum ia menemukan dalilnya dari Al Qur’an dan As-Sunnah.

 7). Senang terhadap ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt, cinta kepada musyahadah (ilmu yang menyingkap kebesaran Allah SWT, muraqabah (ilmu yang mencintai perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan optimis terhadap rahmat-Nya.

 8). Berusaha sekuat-kuatnya untuk mencapai derajat haqqul yaqin.

 9). Senantiasa khasyyah kepada Allah, ta’dzim atas segala kebesaran-Nya, tawadhu’ hidup sederhana dan berakhlak mulia terhadap Allah SWT.

10). Menjauhi ilmu yang dapat membatalkan amal dan kesucian hati.

11). Memiliki ilmu yang berpangkal dalam hati, sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan hal-hal yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

Ulama bukan orang yang memiliki ilmu melainkan harus disertai sikap istislam (menyerah), takut, dan tunduk kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, yang artinya   “ Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu hukum karena Allah, dan tidak mencarinya melainkan bukan karena Allah, maka Allah akan menempatkan ke dalam neraka”

“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Fathir : 28)

Wallahul Musta’an, semoga Allah menolong kita untuk selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya. Aamiinn ya Robb al alamiin.

( H. Irwas Abdullah ).

 

Makassar, 16 Januari 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar