Sejarah mencatat Datuk ri Bandang bersama saudaranya dengan keahlian masing-masing yang berbeda, tetapi sepakat berdakwah dengan menggunakan pendekatan politik kekuasaan, kultur dan budaya masyarakat setempat (budaya Bugis/Makassar). Sedangkan para Wali Songo di Pulau Jawa, juga berdakwah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan. Sama seperti Datuk ri Bandang, Wali Songo juga menyebarkan agama Islam menggunakan " pendekatan kebudayaan "
-----
Kamis, 22 Januari 2026
Strategi Dakwah Datuk
Ri Bandang Lahirkan Pemimpin Amanah
Oleh
: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Datuk ri Bandang
merupakan mubaligh pertama penyebar Islam di wilayah Sulawesi Selatan, atas
jasanya Islam menjadi agama mayoritas rakyat Gowa-Tallo pada awal abad ke- 17.
Datuk ri Bandang (Abdul Makmur) dengan gelar "Khatib Tunggal "
seorang ulama dari Minangkabau yang menyebarkan agama Islam
ke-Kerajaan-Kerajaan di wilayah Timur Nusantara, yaitu; Kerajaan Luwu, Gowa,
Tallo, dan Kerajaan Gantang (Sulawesi), serta kerajaan Kutai (Kalimantan) dan
kerajaan Bima (Nusa Tenggara).
Sejak kedatangannya
pada penghujung abad ke-16 Datuk ri Bandang bersama dua orang saudaranya yang
juga ulama, yaitu: Datuk Patimang (Datuk Sulaiman) dengan gelar " Khatib
Sulung " dan Datuk ri Tiro (Nurdin Ariyani) dengan gelar " Khatib
Bungsu " bersama temannya "Tuan Tunggang Parangan" melaksanakan
dakwah Islam hingga akhir hayatnya. Pada mulanya "Datuk ri Bandang"
bersama "Datuk Patimang" melaksanakan dakwah Islam di wilayah
kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara yang menganut agama
Islam. Dengan pendekatan dan metode yang sesuai, dakwah Islam yang dilakukan
Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya.
Pada awalnya Datuk ri
Bandang berdakwah di Makassar (Kerajaan Gowa-Sulsel), tetapi karena situasi
politik kolonialisme yang belum kondusif dan belum memungkinkan meneruskan
dakwahnya, maka Datuk ri Bandang memilih pindah ke-kerajaan Kutai (Kalimantan)
dan melaksanakan dakwah Islam bersama temannya Tuan Tunggang Parangan di
kerajaan tersebut. Namun akhirnya dia kembali lagi ke- Gowa karena melihat
kondisi politik yang juga belum kondusif. Sedangkan temannya Tuan Tunggang
Parangan tetap bertahan dikutai, dan pada akhirnya berhasil mengajak Raja Kutai
(Raja Mahkota) beserta seluruh petinggi kerajaan masuk Islam. Setelah kembali
lagi ke- Makassar Datuk ri Bandang bersama dua orang saudaranya, yaitu; "
Datuk Patimang dan Datuk ri Tiro " menyebarkan agama islam dengan cara
membagi wilayah dakwah mereka berdasarkan keahlian masing-masing yang mereka
miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sul-Sel atau budaya Bugis/Makassar
ketika itu.
Datuk ri Bandang yang
" Ahli Fikih " berdakwah di kerajaan Gowa dan Tallo, sedangkan Datuk
Patimang yang " Ahli Tauhid " melakukan dakwah Islam di kerajaan
Luwu, sementara Datuk ri Tiro "Ahli Tasawuf ", di daerah Tiro
(Bantaeng) dan Bulukumba. Pada mulanya Datuk ri Bandang bersama Datuk Patimang
melaksanakan dakwah Islam di wilayah kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan
itu sebagai kerajaan pertama di Sul-Sel, Sul-Tengah, dan Sul-Teng yang menganut
agama islam.
Dengan pendekatan dan
metode yang sesuai, dakwah Islam yang dilakukan Datuk ri Bandang dan Datuk
Patimang dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya. Bermula dari masuk
islam-nya seorang petinggi kerajaan yang bernama " Tandi Pau ", lalu
berlanjut dengan masuk islam-nya raja Luwu yang bernama "La Pattiware
Daeng Parabung " pada 4-5 Februari 1605, beserta seluruh pejabat istananya
setelah melalui " dialog yang panjang " antara sang ulama dan raja
tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu. Setelah itu agama Islam-pun
dijadikan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam-pun dijadikan
sumber hukum bagi kerajaan.
Datuk ri Bandang
merupakan ulama yang pertama kali memperkenalkan orang Makassar dengan Islam.
Pada sejumlah literatur disebutkan, Datuk ri Bandang berperan memperkenalkan
ajaran Islam kepada Raja Tallo dan Raja Gowa di awal abad ke- 17. Berkat
pengaruhnya , Mallingkaan Daeng Manyonri
yang juga Raja Tallo XV, bersedia memeluk Islam. Dia merupakan orang
pertama di Sul-Sel yang memeluk Islam melalui pengaruh Datuk ri Bandang. Oleh
karena itu pula kerajaan Tallo sering disebut-sebut sebagai pintu pertama Islam
di daerah ini.
Setelah Raja Tallo
memeluk Islam, menyusul " Raja Gowa XIV Sultan Alauddin " yang
mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah proses pengislaman berlangsung
dikalangan istana, raja Gowa kemudian secara resmi mengumumkan bahwa kerajaan
Gowa dan seluruh daerah kekuasaannya resmi beragama Islam. Sejak saat itu pula,
Datuk ri Bandang diberi keleluasaan untuk mengajarkan Islam kepada rakyat
Gowa-Tallo.
Sebelum masuknya agama
Islam di Sul-Sel, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Setelah
memeluk Islam, Sultan Alauddin juga berusaha
menyebarkan Islam ke-Kerajaan tetangganya, antara lain; kerajaan Soppeng
(1607), Wajo (1610), dan Bone (1611). Sultan Alauddin bahkan masih melanjutkan penyebaran Islam ke- Buton,
Dompu (Sumbawa), dan Kengkelu (Tambora, Sumbawa). Dispersip.kamparkab.go.id.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Datuk_R)
Begitu juga dakwah
para Wali Songo di pulau Jawa, mereka berdakwah dengan damai penuh kelembutan
dan menggunakan pendekatan budaya masyarakat setempat dan berbagai macam media
dalam penyampaiannya. Dakwah yang santun dan tidak menggunakan kekerasan,
dimana saat Wali Songo berdakwah belum ada agama lain yang masuk di Pulau Jawa.
Tertulis melalui tinta
emas dalam sejarah Islam di Indonesia, bahwa Datuk ri Bandang bersaudara sangat
mahir dan lihai memainkan strategi politik dakwahnya sehingga mampu melakukan
pendekatan kekuasaan kepada raja-raja penguasa dibelahan timur Nusantara.
Akibatnya, raja-raja dibelahan timur nusantara berhasil mengislamkan rakyatnya
secara totalitas melalui kekuasaannya. Demikian juga secara nasional para ulama
telah berhasil melakukan pendekatan strategi politik dakwah yang jitu, guna
membentuk watak dan karakter nasionalis-islami bagi para pemimpin Nusantara
(raja-raja).
Sejarah mencatat Datuk
ri Bandang bersama saudaranya dengan keahlian masing-masing yang berbeda,
tetapi sepakat berdakwah dengan menggunakan pendekatan politik kekuasaan,
kultur dan budaya masyarakat setempat (budaya Bugis/Makassar). Sedangkan para
Wali Songo (wali sembilan) di Pulau Jawa, juga berdakwah dengan menggunakan
pendekatan kebudayaan. Sama seperti Datuk ri Bandang, Wali Songo juga
menyebarkan agama Islam menggunakan " pendekatan kebudayaan " dengan
menyerap seni budaya lokal (ajaran Hindu-Budha) yang dipadukan dengan ajaran
Islam seperti tembang Jawa, gamelang, wayang, upacara adat yang digabungkan
dengan unsur-unsur Islam. Mereka memasukkan nilai-nilai agama Islam kedalam
budaya tersebut sehingga kedua unsur dalam ajaran Hindu-Budha bergabung bersama
unsur ajaran Islam membentuk sebuah keserasian. Strategi dakwah Wali Songo pun
masih dapat dilakukan di era globalisasi sekarang melalui seni budaya dan
medsos seperti berdakwah melalui syair lagu bernuansa islami, mempublish
kata-kata yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam, hal tersebut tentu akan
membawa pengaruh kepada masyarakat yang lebih luas.
Wali Songo menggunakan
kebudayaan sebagai metode penyebaran Islam, seperti Sunan Kalijaga mengenalkan
ajaran Islam lewat pertunjukan wayang. Dia memiliki kemampuan yang menakjubkan
sebagai " dalang wayang " yang ahli memainkan wayang. Bahkan dulu
dalam sejarah kita mengenal "Samudra Pasai " sebagai kerajaan Islam
tertua setelah " Kerajaan Perlak " di Aceh. Kerajaan Perlak yang
berlokasi di Aceh bagian timur, yang didirikan pada tahun 840 Masehi.
(http://Indonesia baik.id.infografis).
Berdasarkan sejarah bangsa
tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa Nusantara dan bangsa Indonedia dibangun
oleh para ulama, diatas fundasi nilai-nilai dan peradaban Islam. Untuk itu
tidak sepantasnya kekuatan politik dan kelompok tertentu (Oligarki),
mencita-citakan atau merubah pundasi
bangsa Indonesia yang berketuhanan YME menjadi negara yang berhaluan
kemerdekaan dan kebebasan mutlak diatas paham sekuler-sosialis, melalui
pendekatan kepentingan (politik transaksional), amandemen UUD dan kudeta
konstitusi.
Dari sejarah pula kita
mengenal bahwa karena kebodohan rakyat dan buta politik, sehingga dapat dipecah
belah melalui politik devide et invera oleh Belanda di zaman kolonialisme
(ronrongan dari luar). Begitu juga rakyat berhasil dipecah dan diadu domba
melalui politik pecah belah bambu, oleh PKI di Masa Orde Baru (ronrongan dari
dalam).
Sekarang disaat bangsa
kita maju disegala aspek, justeru diperhadapkan pada ancaman, tantangan,
hambatan, dan gangguan (ATHG) yang lebih serius, akibat percaturan politik
global dan kepentingan ekspansi negara kapitalis pada negara yang memiliki
kekayaan alam (SDA) yang melimpah seperti Indonesia. Di sisi lain secara
internal, munculnya indikasi kebijakan publik yang cenderung melahirkan konsep
sekulerisme, yang memisahkan antara agama dan politik kekuasaan.
Karena secara
prosfektif bisa berdampak pada runtuhnya kedaulatan negara, dan bubarnya bangsa
Indonesia sendiri. Artinya kedepan bangsa kita bisa mengalami degradasi dan
dekadensi moral, karena kebijakan publik yang memisahkan antara politik atau
sistem pemerintahan dan agama, dimana agama menjadi urusan pribadi
masing-masing khususnya terkikisnya peradaban Islam dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Makassar, 20 Maret
2023
Penulis :
Achmad Ramli Karim, Ketua Dewan Kehormatan & Kode Etik APSI
Provinsi Sul-Sel,

Tetapi agama Islam tidak sebatas ritual tanpa makna. Agama adalah sistem pemerintahan itu sendiri
BalasHapus