Translate

Rabu, 21 Januari 2026

Strategi Dakwah Datuk Ri Bandang Lahirkan Pemimpin Amanah

 

Sejarah mencatat Datuk ri Bandang bersama saudaranya dengan keahlian masing-masing yang berbeda, tetapi sepakat berdakwah dengan menggunakan pendekatan politik kekuasaan, kultur dan budaya masyarakat setempat (budaya Bugis/Makassar). Sedangkan para Wali Songo di Pulau Jawa, juga berdakwah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan. Sama seperti Datuk ri Bandang, Wali Songo juga menyebarkan agama Islam menggunakan " pendekatan kebudayaan "





-----

Kamis, 22 Januari 2026



Strategi Dakwah Datuk Ri Bandang Lahirkan Pemimpin Amanah

 

Oleh : Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Datuk ri Bandang merupakan mubaligh pertama penyebar Islam di wilayah Sulawesi Selatan, atas jasanya Islam menjadi agama mayoritas rakyat Gowa-Tallo pada awal abad ke- 17. Datuk ri Bandang (Abdul Makmur) dengan gelar "Khatib Tunggal " seorang ulama dari Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke-Kerajaan-Kerajaan di wilayah Timur Nusantara, yaitu; Kerajaan Luwu, Gowa, Tallo, dan Kerajaan Gantang (Sulawesi), serta kerajaan Kutai (Kalimantan) dan kerajaan Bima (Nusa Tenggara).

Sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 Datuk ri Bandang bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu: Datuk Patimang (Datuk Sulaiman) dengan gelar " Khatib Sulung " dan Datuk ri Tiro (Nurdin Ariyani) dengan gelar " Khatib Bungsu " bersama temannya "Tuan Tunggang Parangan" melaksanakan dakwah Islam hingga akhir hayatnya. Pada mulanya "Datuk ri Bandang" bersama "Datuk Patimang" melaksanakan dakwah Islam di wilayah kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara yang menganut agama Islam. Dengan pendekatan dan metode yang sesuai, dakwah Islam yang dilakukan Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya.

Pada awalnya Datuk ri Bandang berdakwah di Makassar (Kerajaan Gowa-Sulsel), tetapi karena situasi politik kolonialisme yang belum kondusif dan belum memungkinkan meneruskan dakwahnya, maka Datuk ri Bandang memilih pindah ke-kerajaan Kutai (Kalimantan) dan melaksanakan dakwah Islam bersama temannya Tuan Tunggang Parangan di kerajaan tersebut. Namun akhirnya dia kembali lagi ke- Gowa karena melihat kondisi politik yang juga belum kondusif. Sedangkan temannya Tuan Tunggang Parangan tetap bertahan dikutai, dan pada akhirnya berhasil mengajak Raja Kutai (Raja Mahkota) beserta seluruh petinggi kerajaan masuk Islam. Setelah kembali lagi ke- Makassar Datuk ri Bandang bersama dua orang saudaranya, yaitu; " Datuk Patimang dan Datuk ri Tiro " menyebarkan agama islam dengan cara membagi wilayah dakwah mereka berdasarkan keahlian masing-masing yang mereka miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sul-Sel atau budaya Bugis/Makassar ketika itu.

Datuk ri Bandang yang " Ahli Fikih " berdakwah di kerajaan Gowa dan Tallo, sedangkan Datuk Patimang yang " Ahli Tauhid " melakukan dakwah Islam di kerajaan Luwu, sementara Datuk ri Tiro "Ahli Tasawuf ", di daerah Tiro (Bantaeng) dan Bulukumba. Pada mulanya Datuk ri Bandang bersama Datuk Patimang melaksanakan dakwah Islam di wilayah kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di Sul-Sel, Sul-Tengah, dan Sul-Teng yang menganut agama islam.

Dengan pendekatan dan metode yang sesuai, dakwah Islam yang dilakukan Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya. Bermula dari masuk islam-nya seorang petinggi kerajaan yang bernama " Tandi Pau ", lalu berlanjut dengan masuk islam-nya raja Luwu yang bernama "La Pattiware Daeng Parabung " pada 4-5 Februari 1605, beserta seluruh pejabat istananya setelah melalui " dialog yang panjang " antara sang ulama dan raja tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu. Setelah itu agama Islam-pun dijadikan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam-pun dijadikan sumber hukum bagi kerajaan.

Datuk ri Bandang merupakan ulama yang pertama kali memperkenalkan orang Makassar dengan Islam. Pada sejumlah literatur disebutkan, Datuk ri Bandang berperan memperkenalkan ajaran Islam kepada Raja Tallo dan Raja Gowa di awal abad ke- 17. Berkat pengaruhnya , Mallingkaan Daeng Manyonri  yang juga Raja Tallo XV, bersedia memeluk Islam. Dia merupakan orang pertama di Sul-Sel yang memeluk Islam melalui pengaruh Datuk ri Bandang. Oleh karena itu pula kerajaan Tallo sering disebut-sebut sebagai pintu pertama Islam di daerah ini.

Setelah Raja Tallo memeluk Islam, menyusul " Raja Gowa XIV Sultan Alauddin " yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah proses pengislaman berlangsung dikalangan istana, raja Gowa kemudian secara resmi mengumumkan bahwa kerajaan Gowa dan seluruh daerah kekuasaannya resmi beragama Islam. Sejak saat itu pula, Datuk ri Bandang diberi keleluasaan untuk mengajarkan Islam kepada rakyat Gowa-Tallo.

Sebelum masuknya agama Islam di Sul-Sel, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Setelah memeluk Islam, Sultan Alauddin juga berusaha  menyebarkan Islam ke-Kerajaan tetangganya, antara lain; kerajaan Soppeng (1607), Wajo (1610), dan Bone (1611). Sultan Alauddin bahkan  masih melanjutkan penyebaran Islam ke- Buton, Dompu (Sumbawa), dan Kengkelu (Tambora, Sumbawa). Dispersip.kamparkab.go.id. (http://id.wikipedia.org/wiki/Datuk_R)

Begitu juga dakwah para Wali Songo di pulau Jawa, mereka berdakwah dengan damai penuh kelembutan dan menggunakan pendekatan budaya masyarakat setempat dan berbagai macam media dalam penyampaiannya. Dakwah yang santun dan tidak menggunakan kekerasan, dimana saat Wali Songo berdakwah belum ada agama lain yang masuk di Pulau Jawa.

Tertulis melalui tinta emas dalam sejarah Islam di Indonesia, bahwa Datuk ri Bandang bersaudara sangat mahir dan lihai memainkan strategi politik dakwahnya sehingga mampu melakukan pendekatan kekuasaan kepada raja-raja penguasa dibelahan timur Nusantara. Akibatnya, raja-raja dibelahan timur nusantara berhasil mengislamkan rakyatnya secara totalitas melalui kekuasaannya. Demikian juga secara nasional para ulama telah berhasil melakukan pendekatan strategi politik dakwah yang jitu, guna membentuk watak dan karakter nasionalis-islami bagi para pemimpin Nusantara (raja-raja).

Sejarah mencatat Datuk ri Bandang bersama saudaranya dengan keahlian masing-masing yang berbeda, tetapi sepakat berdakwah dengan menggunakan pendekatan politik kekuasaan, kultur dan budaya masyarakat setempat (budaya Bugis/Makassar). Sedangkan para Wali Songo (wali sembilan) di Pulau Jawa, juga berdakwah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan. Sama seperti Datuk ri Bandang, Wali Songo juga menyebarkan agama Islam menggunakan " pendekatan kebudayaan " dengan menyerap seni budaya lokal (ajaran Hindu-Budha) yang dipadukan dengan ajaran Islam seperti tembang Jawa, gamelang, wayang, upacara adat yang digabungkan dengan unsur-unsur Islam. Mereka memasukkan nilai-nilai agama Islam kedalam budaya tersebut sehingga kedua unsur dalam ajaran Hindu-Budha bergabung bersama unsur ajaran Islam membentuk sebuah keserasian. Strategi dakwah Wali Songo pun masih dapat dilakukan di era globalisasi sekarang melalui seni budaya dan medsos seperti berdakwah melalui syair lagu bernuansa islami, mempublish kata-kata yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam, hal tersebut tentu akan membawa pengaruh kepada masyarakat yang lebih luas.

Wali Songo menggunakan kebudayaan sebagai metode penyebaran Islam, seperti Sunan Kalijaga mengenalkan ajaran Islam lewat pertunjukan wayang. Dia memiliki kemampuan yang menakjubkan sebagai " dalang wayang " yang ahli memainkan wayang. Bahkan dulu dalam sejarah kita mengenal "Samudra Pasai " sebagai kerajaan Islam tertua setelah " Kerajaan Perlak " di Aceh. Kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh bagian timur, yang didirikan pada tahun 840 Masehi. (http://Indonesia baik.id.infografis).

Berdasarkan sejarah bangsa tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa Nusantara dan bangsa Indonedia dibangun oleh para ulama, diatas fundasi nilai-nilai dan peradaban Islam. Untuk itu tidak sepantasnya kekuatan politik dan kelompok tertentu (Oligarki), mencita-citakan atau merubah pundasi  bangsa Indonesia yang berketuhanan YME menjadi negara yang berhaluan kemerdekaan dan kebebasan mutlak diatas paham sekuler-sosialis, melalui pendekatan kepentingan (politik transaksional), amandemen UUD dan kudeta konstitusi.

Dari sejarah pula kita mengenal bahwa karena kebodohan rakyat dan buta politik, sehingga dapat dipecah belah melalui politik devide et invera oleh Belanda di zaman kolonialisme (ronrongan dari luar). Begitu juga rakyat berhasil dipecah dan diadu domba melalui politik pecah belah bambu, oleh PKI di Masa Orde Baru (ronrongan dari dalam).

Sekarang disaat bangsa kita maju disegala aspek, justeru diperhadapkan pada ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang lebih serius, akibat percaturan politik global dan kepentingan ekspansi negara kapitalis pada negara yang memiliki kekayaan alam (SDA) yang melimpah seperti Indonesia. Di sisi lain secara internal, munculnya indikasi kebijakan publik yang cenderung melahirkan konsep sekulerisme, yang memisahkan antara agama dan politik kekuasaan.

Karena secara prosfektif bisa berdampak pada runtuhnya kedaulatan negara, dan bubarnya bangsa Indonesia sendiri. Artinya kedepan bangsa kita bisa mengalami degradasi dan dekadensi moral, karena kebijakan publik yang memisahkan antara politik atau sistem pemerintahan dan agama, dimana agama menjadi urusan pribadi masing-masing khususnya terkikisnya peradaban Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Makassar, 20 Maret 2023

 

Penulis :

Achmad Ramli Karim, Ketua Dewan Kehormatan & Kode Etik APSI Provinsi Sul-Sel,

 

1 komentar:

  1. Tetapi agama Islam tidak sebatas ritual tanpa makna. Agama adalah sistem pemerintahan itu sendiri

    BalasHapus