Banyak guru yang tahu bagaimana menjadi guru yang baik, tetapi tidak semua guru tahu bagaimana cara menjadi guru yang benar dan profesional. Ini bukan soal metodologi, melainkan soal paedagogik (seni mengajar).
-----
Sabtu, 14 Pebruari 2026
Degradasi Moral & Kognitif Ciri Merdeka Belajar
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Pokitik & Pendidikan)
Banyak guru yang tahu bagaimana menjadi guru yang
baik, tetapi tidak semua guru tahu bagaimana cara menjadi guru yang benar dan
profesional. Ini bukan soal metodologi, melainkan soal paedagogik (seni
mengajar).
Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak berlakunya
Kurikulum merdeka belajar, anta konsep dan faktual bagaikan Das sollen dan das
sein.
Pada hal "Konsep Merdeka Belajar" adalah
kebijakan pendidikan yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek RI, yang berfokus
pada kebebasan berpikir, kreativitas, dan kemandirian bagi guru dan siswa.
Pendekatan ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,
fleksibel, dan inklusif, disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik,
serta berpusat pada pengembangan karakter serta kompetensi siswa. Lalu dimana letak
kesalahannya dan siapa yang salah, sehingga terjadi kesenjangan antara harapan
(das sollen) dengan out put pendidikan (das sein).
Das sollen (apa yang seharusnya) adalah norma, aturan,
atau harapan ideal yang dicita-citakan, sedangkan das sein (apa yang
senyatanya) adalah realitas, fakta, atau kejadian nyata di lapangan. Keduanya
sering menunjukkan kesenjangan, di mana peraturan (das sollen) belum tentu
sesuai dengan implementasi di masyarakat (das sein).
Fakta yang paling kongkrit pada umumnya dialami anak,
adalah terjadinya degradasi kognitif dan degradasi moral pada peserta didik
dalam kehidupan sosial.
Degradasi kognitif (penurunan kognitif) adalah
hilangnya kemampuan berpikir secara bertahap seperti memori, perhatian, bahasa,
dan nalar sesorang yang pada umunya disebabkan dengan penuaan, gaya hidup tidak
sehat, atau penyakit. Lalu bagaimana dengan gejala penurungan kognitif
(degraradasi cognitive), yang melanda siswa disemua jenjang pendidikan dewasa
ini?. Apakah karena kesalahan Kurikulum (pemerintah), kesalahan Guru, atau
kesalahan orang tua?.
Sedangkan degradasi moral adalah penurunan atau
kemerosotan nilai-nilai moral, etika, dan budi pekerti dalam individu atau
masyarakat, yang ditandai dengan penyimpangan perilaku seperti kekerasan, kejahatan,
dan perilaku tidak etis lainnya.
Degradasi moral pada anak adalah penurunan kualitas
akhlak dan perilaku yang ditandai dengan ketidaktaatan, ketidaksopanan, dan
pergaulan bebas, sering dipicu oleh pengaruh negatif teknologi, kurangnya
perhatian keluarga, serta budaya asing. Bentuknya meliputi krisis karakter,
seperti bullying, kebohongan, kekerasan, pornografi, hingga penyalahgunaan
narkoba.
Menjawab tantangan diatas, diperlukan sikap, arif dari
semua komponen bangsa dan tidak perlu saling menyalahkan. Karena tanggungjawab
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang dipikul oleh tiga pilar utama,
yaitu; orang tua (keluarga), sekolah (pendidik/guru), serta pemerintah &
masyarakat. Sinergi antara ketiga komponen (pilar pendidikan) ini krusial, di
mana keluarga mendidik dan menanamkan nilai dasar seperti etika & moral
(karakter), sekolah memberikan ilmu pengetahuan akademik (kognitif) dan
pemerintah/masyarakat menciptakan iklim kondusif dan memfasilitasi
terselenggaranya sistem pendidikan yang berkualitas.
Selain faktor kemajuan teknologi dan pengaruh budaya
asing, kemerosotan moral anak faktor utamanya, adalah kurangnya pendidikan
karakter yang memadai, sehingga membutuhkan upaya kolektif dari keluarga,
sekolah, dan masyarakat untuk mengatasinya.
Namun sekarang anak-anak kita diperhadapkan pada
tantangan globalisasi yang serba instan, akibat pengaruh perkembangan teknologi
dan komunikasi. Gejala utamanya meliputi penurunan daya ingat dan pelupa,
kesulitan fokus, dan kebingungan. Demikian juga kecenderungan pada gaya hidup
glamor, menari dan bergoyang, minuman
beralkohol, dan mengunjungi tempat-tempat hiburan malam.
Jika pada orang tua yang karena faktor usia, maka
pencegahan melibatkan pola hidup sehat, nutrisi seimbang, olahraga, dan stimulasi
otak. Lalu bagaimana solusi bagi generasi pelanjut cita-cita bangsa yang sudah
kecanduan menari dan bergoyang, narkoba, sex bebas, dan gaya hidup glamor?.
Banyak guru yang tahu bagaimana menjadi guru yang
baik, tetapi tidak semua guru tahu bagaimana cara menjadi guru yang benar dan
profesional. Ini bukan soal metodologi, melainkan soal paedagogik (seni
mengajar).
Dampak
Negatif Perkembangan Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi dan komunikasi membawa dampak
negatif signifikan, meliputi kecanduan internet/gawai, berkurangnya interaksi
sosial tatap muka, dan gangguan kesehatan fisik (mata lelah, kurang tidur)
maupun mental. Selain itu, risiko cyberbullying, penyebaran hoaks, pencurian
data pribadi, serta maraknya konten negatif menjadi ancaman serius.
Berbagai dampak negatif teknologi dan komunikasi,
antara lain:
1. Dampak Sosial dan Interaksi:
Keterasingan Sosial: Kecanduan gadget menyebabkan individu
kurang berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar (antisosial).
2. Cyberbullying:
Perundungan di media sosial yang berdampak serius pada
kesehatan mental.
3. Berkurangnya Empati:
Interaksi digital sering kali menghilangkan nuansa
emosional, mengurangi kepedulian sosial.
4. Dampak Kesehatan:
Masalah Kesehatan Fisik: Mata lelah, nyeri leher, dan
kegemukan (obesitas) akibat kurang aktivitas fisik. Gangguan Kesehatan Mental:
Kecemasan, stres, dan depresi akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.
5. Dampak Keamanan dan Informasi:
Penyebaran Hoaks: Informasi palsu dan berita bohong
mudah menyebar dan memicu konflik. Cybercrime: Risiko pembajakan akun,
pencurian data pribadi, dan penipuan online.
6. Dampak Budaya dan Produktivitas:
Penurunan Produktivitas: Gangguan notifikasi yang
menyebabkan hilangnya fokus saat bekerja atau belajar. Degradasi Budaya:
Masuknya budaya asing yang tidak sesuai dan lunturnya nilai-nilai budaya lokal.
7. Gaya Hidup Instan:
Ketergantungan pada teknologi menimbulkan rasa malas
dan hilangnya kreativitas.
Kalau kita cermati media sosial dewasa ini khususnya
terkait dunia pendidikan, batas antara lembaga pendidikan dengan manajemen
artis sudah beda tipis. Karena lembaga pendidikan berlomba-lomba untuk cepat
terkenal (viral) di medsos, dengan mengapload video kegiatan goyang dan menari.
Fakta paling mencengangkan melalui media sosial,
banyak anak usia sekolah tidak tahu matematika dasar baik siswa SD, SMP,
ataupun SMA, tetapi bangga karena viral berjoget dan berdansa melalui medsos.
Otaknya kosong karena kecanduan validasi (validation addicti), akibat mengejar
viral=sukses daripada moral dan attitude.
Dunia pendidikan dihinggapi penyakit sosial, dimana
penorehan prestasi sudah digantikan dengan persoalan validasi. Bahkan siswa SMA
pun tidak tahu perkalian, bagaimana dengan menghadapi soal matematika yang
lebih rumit.
Guru seharusnya menjadi garda terdepan dalam
memberantas kebingungan, malah jadi sponsor dari kebingungan itu sendiri.
Mungkin pendidikan kita bisa sehancur ini, karena kecenderungan guru-guru lebih
bangga jika video mereka tembus jutaan pix, daripada mengajarkan 5 + 5 = berapa
ditambah berapa atau berapa dikali berapa. Sebab menurut Rocky Gerung
"ijazah adalah tanda pernah bersekolah, bukan tanda pernah berpikir".
Penyakit atau dampak negatif media sosial (medsos)
merujuk pada gangguan mental dan fisik akibat penggunaan berlebihan, seperti
brain rot (penurunan fokus/kemampuan berpikir), kecemasan/depresi, FOMO (Fear
of Missing Out), doomscrolling (candu berita buruk), serta selfitis (candu selfie).
Kondisi ini sering memicu gangguan tidur, rasa kesepian, dan penurunan produktivitas.
Oleh karena itu penggunaan teknologi yang bijak dan
pengawasan yang ketat, sangat diperlukan untuk memitigasi dampak-dampak
tersebut pada anak. Serta perlunya guru-guru berpikir kritis, untuk melahirkan
inovasi dan seni mengajar yang menyenangkan. Sebab konsep pendidikan Pancasila
mengutamakan mengisi nurani dan akal, bukan memenuhi otak dan kesejahteraan
(materi) seperti ala barat (sekuler).
Makassar, 14 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar