Dukungan dari elemen ulama dan santri dianggapnya sebagai modal spiritual yang sangat penting dalam menjalankan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
-----
Jum'at, 13 Pebruari 2026
Prabowo Ingin Wujudkan Good and Clean Governance
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Dukungan dari elemen ulama dan santri dianggapnya
sebagai modal spiritual yang sangat penting dalam menjalankan pemerintahan yang
bersih dan berwibawa.
Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan
komitmennya untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dari ancaman kemiskinan
dan kelaparan yang masih menghantui. Dalam acara Mujahadah Kubro Satu Abad
Nahdlatul Ulama, ia menyebut janji tersebut bukan sekadar janji politik,
melainkan bagian dari sumpah jabatan suci yang diucapkannya di bawah Al-Qur'an.
Prabowo untuk Indonesia menegaskan bahwa negara harus hadir untuk menjamin
kebutuhan dasar rakyat mulai dari pangan, kesehatan, hingga pendidikan yang
adil.
Sang Presiden menyoroti fakta pahit bahwa Indonesia
adalah negara yang sangat kaya secara sumber daya alam, namun kekayaan itu
belum sepenuhnya dinikmati rakyat kecil. Ia secara terang-terangan menyebut
adanya kebocoran anggaran dan praktik korporasi sistematis sebagai penghambat
utama kesejahteraan nasional.
Prabowo Menyapa berjanji tidak akan mundur sedikit pun
untuk memberantas para tikus kantor (tikus berdasi) yang mencoba memanipulasi
kekayaan negara demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Dukungan dari elemen ulama dan santri dianggapnya
sebagai modal spiritual yang sangat penting dalam menjalankan pemerintahan yang
bersih dan berwibawa. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu
menghapus stigma kemiskinan dari bumi nusantara melalui pengelolaan sumber daya
yang benar dan jujur. Optimisme terpancar dari pidatonya yang menekankan bahwa
Indonesia memiliki segala syarat untuk menjadi negara maju jika dikelola dengan
keteguhan hati.
Sungguh luar biasa komitmen Presiden Prabowo Subianto
untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dari kemiskinan, akibat perampokan
(one piece) dan operasi dari tikus-tikus berdasi. Apakah keteguhan hati
Presiden ini, menunjukkan kalau ia sudah keluar dari bayang-bayang Mulyono dan
oligarki, dan apakah Presiden tidak lagi ditekan oleh kelompok taipan yang di
dalamnya berlindung tikus-tikus berdasi?.
"Taipan" adalah sebutan untuk pengusaha
besar, konglomerat, atau pimpinan perusahaan senior yang memiliki pengaruh
ekonomi dan kekayaan sangat besar, sering kali merujuk pada pengusaha keturunan
Tionghoa atau pengusaha di wilayah Asia.
Janji besar ini kini ditunggu realisasinya oleh jutaan
pasang mata rakyat yang menaruh harapan besar pada kepemimpinan nasional yang
baru. Keberanian Presiden untuk mengakui adanya "penggarongan" harta
negara menunjukkan niat kuat untuk melakukan pembersihan total di berbagai sektor
birokrasi.
Kejadian ini membuktikan bahwa kepemimpinan yang tegas
dan berpihak pada rakyat adalah kunci utama untuk membawa Indonesia keluar dari
lingkaran kemiskinan yang selama ini menjerat.
Istilah untuk pemerintahan yang bersih dan berwibawa
adalah Good Governance dan Clean Government (tata kelola pemerintahan yang baik
dan bersih). Konsep ini menekankan pada penyelenggaraan negara yang bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), transparan, akuntabel, partisipatif,
serta menjunjung supremasi hukum untuk melayani kepentingan masyarakat.
Pemerintahan yang baik dan berwibawa adalah Good
Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang Baik) dan Clean Governance
(Pemerintahan yang Bersih). Dalam konteks Indonesia, kedua konsep ini sering
disatukan menjadi Good and Clean Governance, yang berarti:
(a). Good Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang
Baik): Proses penyelenggaraan pemerintahan yang menjunjung tinggi prinsip
transparansi, akuntabilitas, partisipasi, dan supremaasi hukum, serta
berorientasi pada kepentingan masyarakat.
(b). Clean Governance (Pemerintahan yang Bersih):
Pemerintahan yang bebas dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN),
serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis.
(c). Pemerintahan Berwibawa: Merujuk pada pemerintahan
yang dihormati dan dipatuhi karena kemampuannya menegakkan hukum secara adil,
memiliki akuntabilitas kinerja yang tinggi, serta efektif dalam pelayanan
publik.
Menurut hemat penulis, “Good and Clean Governance”
sangat sulit diwujudkan setelah pemerintaan Orde Baru, karena elit politik dan
para pemimpin bangsa telah kehilangan giroh idealisme diantara kepentingan
pragmatisme yang menggiurkan. Namun bagi Said Didu dalam wawancaa denga Rosi
(Kompas TV-12/2) sebagai orang luar dari pemerintahan Merah Putih, merasa yakin kalau suatu saat rakyat akan
bertepuk tangan dan berucap "inilah Presiden yang diharapkan rakyat
banyak' sesuai harapan Said Didu sendiri. Said Didu merasa yakin atas komitmen
Presiden Prabowo tersebut, karena Prabowo dari militer dan memiliki girh
idealisme, patriotisme, dan nasionalisme ang dapa vdiandalkan.
Giroh Idealisme adalah perpaduan antara semangat
membela agama/keyakinan secara mendalam (ghirah) dengan komitmen teguh terhadap
visi, prinsip, atau gagasan tertinggi (idealisme).
Menurut Buya Hamka, ghirah dalam islam adalah cemburu
dalam beragama. Ini bukan sekadar marah, melainkan perasaan tidak rela karena
hak-hak agama direnggut, harga dirinya diinjak, atau syariatnya diabaikan, yang
kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat.
Idealisme: Dalam konteks filsafat dan perjuangan,
idealisme adalah pandangan yang mengutamakan dunia ide-ide, visi, moral
tertinggi, atau prinsip iman di atas sekadar materialisme. Orang idealis selalu
berusaha untuk memperbaiki diri dan mewujudkan mimpinya untuk mencapai hasil
terbaik.
Prinsip-prinsip
Utama Good Governance
Menurut UNDP dan berbagai literatur, tata kelola yang
baik mencakup 8 pilar utama:
1. Partisipasi:
Melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
2. Supremasi Hukum (Rule of Law):
Penegakan hukum yang adil dan tidak memihak.
3. Transparansi:
Keterbukaan informasi publik.
4. Akuntabilitas:
Tanggung jawab atas kebijakan dan tindakan.
5. Berorientasi pada Konsensus:
Mengutamakan kepentingan bersama.
6. Kesetaraan & Inklusivitas:
Memberikan kesempatan yang sama.
7. Efektivitas & Efisiensi:
Pelayanan publik yang cepat, tepat, dan hemat biaya.
8. Responsif:
Cepat tanggap terhadap keluhan dan kebutuhan
masyarakat.
Penerapan Good and Clean Governance bertujuan untuk:
(a) mewujudkan birokrasi yang efektif, efisien, terpercaya, serta meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. (b) menciptakan kepercayaan publik
(trust), meningkatkan kesejahteraan, dan memastikan pelayanan publik yang
berkualitas.
Makassar, 13 Pebruati 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar