Perjuangan lokal orang-orang Limbung di Bajeng, Kabupaten Gowa, merupakan bagian integral dari perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme Belanda, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan RI (1945-1949).
-----
Senin, 09 Pebruari 2026
Seorang Pejuang Dieksekusi Tapi Tidak
Terima Hak Veteran
(Kekecewaan
Sejarah)
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Perjuangan lokal
orang-orang Limbung di Bajeng, Kabupaten Gowa, merupakan bagian integral dari
perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme Belanda, khususnya
dalam mempertahankan kemerdekaan RI (1945-1949). Daerah Limbung, yang merupakan
bagian dari wilayah Bajeng, dikenal sebagai basis Tubarani (kesatria) yang
gigih melawan NICA (Netherland Indies Civil Administration) setelah proklamasi.
Dalam tulisan sejarah
"Perjuangan Orang-Orang Limbung Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI
(1945-1949)", diperoleh informasi dari hasil penelitian yang ditulis oleh
Syamsul Bahri (Koresponden DOI): Bahwa secara abstrak, perjuangan orang-orang
Limbung dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun
1945-1949, dipelopori oleh beberapa tokoh masyarakat di Limbung seperti Pattola
Bali, Sultan Daeng Mile, dan Baharuddin Sarro, dalam kelaskaran BUKA Limbung.
Pattola Bali memiliki
peran sebagai pemimpin ketua kelaskaran dengan tugas memimpin setiap
penyerangan, mengatur strategi, memberikan instruksi, mengarahkan,
mengkoordinasikan setiap tindakan yang akan diambil dalam melakukan penyerangan
terhadap pihak Belanda, KNIL. Sultan Mile berperan sebagai sekretaris, yang
bertugas untuk mengurusi hal persuratan ketika akan melakukan hubungan atau memberi
kabar/pesan kepada prajurit lainnya, selain itu Sultan Mile hanya mengikuti
setiap perintah yang diamanahkan kepadanya.
Sedangkan Baharuddin
Sarro yang memiliki peran sebagai komandan pasukan yang bertugas menjalankan
setiap instruksi atau perintah dari ketua kelaskaran, mengatur dan
mempersiapkan pasukan yang akan digunakan dalam melakukan penyerangan. Limbung
salah menjadi satu daerah pusat basis perjuangan rakyat dalam menggempur setiap
serangan yang dilancarkan Belanda untuk membangkitkan perjuangan masyarakat
setempat. Perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia telah
memberikan dampak tersendiri bagi para pejuang kemerdekaan hingga dampak yang
diterima bagi pihak kolonial Belanda dalam mencoba ingin kembali berkuasa di
Indonesia. (Syamsul Bahri).
Berikut adalah poin-poin
penting mengenai perjuangan lokal Limbung, Gowa:
Basis Pertahanan
Kemerdekaan (1945-1949): Masyarakat Limbung aktif menentang kembalinya Belanda.
Setelah proklamasi, wilayah Bajeng (termasuk Limbung) menjadi pusat perlawanan
fisik terhadap tentara NICA yang ingin menguasai kembali Gowa.
Tokoh Pejuang Lokal
Pattola Bali: Salah satu
tokoh pejuang dari Kampung Kutulu, Mata Allo, Distrik Limbung, yang lahir pada
1908 dan aktif melawan penjajah hingga masa mempertahankan kemerdekaan.
Rahing Daeng Ngalle:
Pejuang asal Limbung
Bajeng yang dikenal gigih dalam perang melawan agresi Belanda.
I Tolo Daeng Magassing: Tokoh Tubarani dari Bajeng yang menginspirasi pemuda
setempat pada awal abad ke-20.
Karakteristik Perjuangan:
Perlawanan dilakukan dengan menggunakan strategi gerilya, memanfaatkan
pengetahuan medan yang baik, serta didorong oleh semangat adat dan budaya Tubarani
(pemberani) yang kuat.
Peran Wanita Pejuang:
Terdapat sosok wanita seperti Sabanong,
yang berani melakukan perlawanan terhadap tokoh-tokoh kerajaan Gowa yang
pro-Belanda, sehingga ia diasingkan selama 23 tahun.
Perjuangan di Limbung Utara
Perjuangan di Limbung,
Gowa, menunjukkan bahwa perlawanan tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi
juga digerakkan secara masif oleh rakyat di tingkat lokal atau kampung
(distrik). Seperti perjuangan yang digerakkan oleh 4 (empat) sekawan pejuang di
Limbung Utara (sekarang Desa Panciro), masing-masing "Sariba Tiro, Makkarani,
Rongke, dan Baso Tappa". Mereka adalah para pejuang lokal, yang berfungsi
menjadi basis pertahanan di pintu masuk perbatasan limbung utara. Sariba Tiro
dkk rela mati dieksekusi (ditembak mati) demi membela dan mempertahankan
kedaulatan bangsanya dari tentara NICA yang ingin menguasai kembali Gowa.
Mereka dari kampung perbatasan yang tidak ragu menerima amamah untuk bertahan
di pintu perbatasan, dan siap mati demi bangsa dan negaranya. Sehingga
nama-nama mereka ddiabadikan melalui jalan-jalan Desa di Desa Panciro sekarang.
Masing-masing (1). Jln. Sariba Tiro, (2). Jln. Makkarani, dan (3). Jln. Rongke
yang terletak di Dusun Bontoramba, serta (4). Jln. Baso Tappa yang ada di Dusun
Kampung Parang.
Cerita rakyat terkait kisah
paling heroik dari ke-empat pejuang tersebut, ketika menghadang pasukan musuh di perbatasan Limbung Utara
(Panciro sekarang), sehingga pasukan musuh tidak dapat memasuki Wilayah Limbung.
Untuk menghormati
ke-empat pejuang lokal ini atas kisah heroik dan jasa-jasanya dalam
mempertahankan kemerdekaan RI, pemerintah membangun "Tuguh Pahlawan
Limbung Utara" Di Panciro.
Namun anak-anak dari
Sariba Tiro masih menyimpan rasa kekecewaan, dari kasus yang mereka tidak
sangka-sangka dan pernah ada jawabannya. Mengapa Sariba Tiro sendiri yang tidak
diberi hak gaji atau tunjaangan veteran untuk isterinya yang ditinggalkan.
Mereka merasa kecewa dan mempertanyakan, kenapa ahli warisnya tidak mendapatkan
tunjangan veteran. Pada hal Sariba Tiro nyata-nyata dieksekusi (ditembak mati)
dalam posisi tangan terikat kebelakan
dan mata tertutup, dipinggir pengairan (kanal) Pattingngalloan (Jalan menuju
Bontocinde) Kecamatan Pallangga.
Kejadian ini dikisahkan
oleh anak perempuan Sariba Tiro bernama Siti Rabi'ah Dg. Tarriing yang
mengambil sarung yang penuh lumuran darah ayahnya di Pattingngalloan, lalu
mencuci dan membersihkan lumuran darah disarung Sariba Tiro. Anaknya tersebut
menuturkan kalau Sariba Tiro, adalah sosok tokoh yang sangat dihormati dan
disegani oleh masyarakat. Dan juga sebagai tokoh agama setelah bergabung menjadi
anggota Muhammadiyah.
Kisah heroik, prinsip
tegas, pejuang yang disegani dan menjadi
ulama setelah bergabung dan menjadi anggota Muhammadiyah, diceritakan kembali
oleh Mantan Kades Pancito Anwar Malolo, SE., M.M seperti apa yang pernah ia
dengar dari ibunya. Anwar Malolo, SE., MM adalah salah seorang cucu Sariba
Tiro, anak dari Siti Rabi'ah DG. Tarring di hadapan keluarga besar ".
Bahkan ketokohan, karakter ulama serta silsilah keluarga Sariba Tiro, dijadikan
kisi-kisi pertanyaan pada acara kuis keluarga, saat berlangsungnya kegiatan
silaturahmi keluarga 7-8 Pebruari 2026 di Malino Kota Kembang Kab. Gowa, dalam
rangkan menyambut bulan suci Ramadhon 1447 H. Acara lomba dan kuis ini biasanya
dilakukan dalam rangka perayaan 17 Agustus setiap tahun oleh Keluarga Besar di
Jalan Sariba Tiro Panciro.
Makassar, 09 Pebruari
2026.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar