Translate

Minggu, 08 Februari 2026

Seorang Pejuang Dieksekusi Tapi Tidak Terima Hak Veteran

Perjuangan lokal orang-orang Limbung di Bajeng, Kabupaten Gowa, merupakan bagian integral dari perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme Belanda, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan RI (1945-1949). 




-----

Senin, 09 Pebruari 2026


Seorang Pejuang Dieksekusi Tapi Tidak Terima Hak Veteran

(Kekecewaan Sejarah)

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Perjuangan lokal orang-orang Limbung di Bajeng, Kabupaten Gowa, merupakan bagian integral dari perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme Belanda, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan RI (1945-1949). Daerah Limbung, yang merupakan bagian dari wilayah Bajeng, dikenal sebagai basis Tubarani (kesatria) yang gigih melawan NICA (Netherland Indies Civil Administration) setelah proklamasi.

Dalam tulisan sejarah "Perjuangan Orang-Orang Limbung Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI (1945-1949)", diperoleh informasi dari hasil penelitian yang ditulis oleh Syamsul Bahri (Koresponden DOI): Bahwa secara abstrak, perjuangan orang-orang Limbung dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945-1949, dipelopori oleh beberapa tokoh masyarakat di Limbung seperti Pattola Bali, Sultan Daeng Mile, dan Baharuddin Sarro, dalam kelaskaran BUKA Limbung.

Pattola Bali memiliki peran sebagai pemimpin ketua kelaskaran dengan tugas memimpin setiap penyerangan, mengatur strategi, memberikan instruksi, mengarahkan, mengkoordinasikan setiap tindakan yang akan diambil dalam melakukan penyerangan terhadap pihak Belanda, KNIL. Sultan Mile berperan sebagai sekretaris, yang bertugas untuk mengurusi hal persuratan ketika akan melakukan hubungan atau memberi kabar/pesan kepada prajurit lainnya, selain itu Sultan Mile hanya mengikuti setiap perintah yang diamanahkan kepadanya.

Sedangkan Baharuddin Sarro yang memiliki peran sebagai komandan pasukan yang bertugas menjalankan setiap instruksi atau perintah dari ketua kelaskaran, mengatur dan mempersiapkan pasukan yang akan digunakan dalam melakukan penyerangan. Limbung salah menjadi satu daerah pusat basis perjuangan rakyat dalam menggempur setiap serangan yang dilancarkan Belanda untuk membangkitkan perjuangan masyarakat setempat. Perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia telah memberikan dampak tersendiri bagi para pejuang kemerdekaan hingga dampak yang diterima bagi pihak kolonial Belanda dalam mencoba ingin kembali berkuasa di Indonesia. (Syamsul Bahri).

Berikut adalah poin-poin penting mengenai perjuangan lokal Limbung, Gowa:

Basis Pertahanan Kemerdekaan (1945-1949): Masyarakat Limbung aktif menentang kembalinya Belanda. Setelah proklamasi, wilayah Bajeng (termasuk Limbung) menjadi pusat perlawanan fisik terhadap tentara NICA yang ingin menguasai kembali Gowa.

Tokoh Pejuang Lokal

Pattola Bali: Salah satu tokoh pejuang dari Kampung Kutulu, Mata Allo, Distrik Limbung, yang lahir pada 1908 dan aktif melawan penjajah hingga masa mempertahankan kemerdekaan.

Rahing Daeng Ngalle:

Pejuang asal Limbung Bajeng yang dikenal gigih dalam perang melawan agresi Belanda.

I Tolo Daeng Magassing: Tokoh Tubarani dari Bajeng yang menginspirasi pemuda setempat pada awal abad ke-20.

Karakteristik Perjuangan: Perlawanan dilakukan dengan menggunakan strategi gerilya, memanfaatkan pengetahuan medan yang baik, serta didorong oleh semangat adat dan budaya Tubarani (pemberani) yang kuat.

Peran Wanita Pejuang: Terdapat sosok wanita seperti Sabanong, yang berani melakukan perlawanan terhadap tokoh-tokoh kerajaan Gowa yang pro-Belanda, sehingga ia diasingkan selama 23 tahun.

Perjuangan di Limbung Utara

Perjuangan di Limbung, Gowa, menunjukkan bahwa perlawanan tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi juga digerakkan secara masif oleh rakyat di tingkat lokal atau kampung (distrik). Seperti perjuangan yang digerakkan oleh 4 (empat) sekawan pejuang di Limbung Utara (sekarang Desa Panciro), masing-masing "Sariba Tiro, Makkarani, Rongke, dan Baso Tappa". Mereka adalah para pejuang lokal, yang berfungsi menjadi basis pertahanan di pintu masuk perbatasan limbung utara. Sariba Tiro dkk rela mati dieksekusi (ditembak mati) demi membela dan mempertahankan kedaulatan bangsanya dari tentara NICA yang ingin menguasai kembali Gowa. Mereka dari kampung perbatasan yang tidak ragu menerima amamah untuk bertahan di pintu perbatasan, dan siap mati demi bangsa dan negaranya. Sehingga nama-nama mereka ddiabadikan melalui jalan-jalan Desa di Desa Panciro sekarang. Masing-masing (1). Jln. Sariba Tiro, (2). Jln. Makkarani, dan (3). Jln. Rongke yang terletak di Dusun Bontoramba, serta (4). Jln. Baso Tappa yang ada di Dusun Kampung Parang.

Cerita rakyat terkait kisah paling heroik dari ke-empat pejuang tersebut, ketika menghadang  pasukan musuh di perbatasan Limbung Utara (Panciro sekarang), sehingga pasukan musuh tidak dapat memasuki  Wilayah Limbung.

Untuk menghormati ke-empat pejuang lokal ini atas kisah heroik dan jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan RI, pemerintah membangun "Tuguh Pahlawan Limbung Utara" Di Panciro.

Namun anak-anak dari Sariba Tiro masih menyimpan rasa kekecewaan, dari kasus yang mereka tidak sangka-sangka dan pernah ada jawabannya. Mengapa Sariba Tiro sendiri yang tidak diberi hak gaji atau tunjaangan veteran untuk isterinya yang ditinggalkan. Mereka merasa kecewa dan mempertanyakan, kenapa ahli warisnya tidak mendapatkan tunjangan veteran. Pada hal Sariba Tiro nyata-nyata dieksekusi (ditembak mati) dalam posisi  tangan terikat kebelakan dan mata tertutup, dipinggir pengairan (kanal) Pattingngalloan (Jalan menuju Bontocinde) Kecamatan Pallangga.

Kejadian ini dikisahkan oleh anak perempuan Sariba Tiro bernama Siti Rabi'ah Dg. Tarriing yang mengambil sarung yang penuh lumuran darah ayahnya di Pattingngalloan, lalu mencuci dan membersihkan lumuran darah disarung Sariba Tiro. Anaknya tersebut menuturkan kalau Sariba Tiro, adalah sosok tokoh yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat. Dan juga sebagai tokoh agama setelah bergabung menjadi anggota Muhammadiyah.

Kisah heroik, prinsip tegas,  pejuang yang disegani dan menjadi ulama setelah bergabung dan menjadi anggota Muhammadiyah, diceritakan kembali oleh Mantan Kades Pancito Anwar Malolo, SE., M.M seperti apa yang pernah ia dengar dari ibunya. Anwar Malolo, SE., MM adalah salah seorang cucu Sariba Tiro, anak dari Siti Rabi'ah DG. Tarring di hadapan keluarga besar ". Bahkan ketokohan, karakter ulama serta silsilah keluarga Sariba Tiro, dijadikan kisi-kisi pertanyaan pada acara kuis keluarga, saat berlangsungnya kegiatan silaturahmi keluarga 7-8 Pebruari 2026 di Malino Kota Kembang Kab. Gowa, dalam rangkan menyambut bulan suci Ramadhon 1447 H. Acara lomba dan kuis ini biasanya dilakukan dalam rangka perayaan 17 Agustus setiap tahun oleh Keluarga Besar di Jalan Sariba Tiro Panciro.



Makassar, 09 Pebruari 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar