Solusi Satu Hari Satu Tanggal Hijriah Global
Disadur
Oleh:
Achmad Ramli Karim
(Aktivis
Muhammadiyah)
Kalender Hijriyah Global Tunggal adalah salah satu
solusi paling tepat, mempersatukan ibadah puasa umat muslim di seluruh dunia.
Seperti bersatunya umat non muslim memedomani Kalender Miladiah Global Tunggal.
Selain itu, hanya lembaga internasional atau Imam (Khalifah) yang bisa
mempersatukan umat islam secara global. Sebab, *Keputusan imam menghilangkan
perbedaan pendapat*
Kalender Miladiah adalah sebutan lain untuk kalender
Masehi yang didasarkan pada peredaran matahari (solar system), memiliki 12
bulan dalam setahun, dan digunakan secara internasional. Kalender ini berbeda
dengan Hijriah yang berbasis bulan (lunar), dengan total hari 365 atau 366
(kabisat) dalam satu tahun.
gagasan mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal
(KHGT) merupakan inisiatif besar yang diusung untuk menyatukan umat Islam di
seluruh dunia dalam satu penanggalan yang sama, satu hari satu tanggal.
PP Muhammadiyah secara resmi meluncurkan KHGT pada 25
Juni 2025 di Yogyakarta, sebagai wujud ikhtiar mewujudkan persatuan dunia
Islam. Konsep ini mendapat dukungan Internasional dimana lnovasi ini mendapat
apresiasi dari berbagai pihak, termasuk perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam
(OKI).
Konsep Dasar: KHGT didasarkan pada prinsip hisab
(perhitungan matematis) yang presisi, bukan lagi sekadar visibilitas hilal
lokal (rukyat), sehingga memungkinkan kesamaan waktu ibadah seperti Puasa
Ramadhan dan Idulfitri di seluruh belahan bumi. Konsep ini bertujuan mengatasi
perbedaan penentuan awal bulan Hijriah yang sering terjadi antarnegara atau antargolongan,
sehingga umat Islam bisa beribadah bersamaan secara global.
Kalender ini terus didorong sebagai solusi ilmiah dan
praktis untuk kesatuan ummah.
Beberapa negara dan lembaga Islam internasional sedang membahas dan mulai mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk menyatukan penetapan hari-hari ibadah penting seperti Ramadan dan Idul Fitri secara universal. KHGT menerapkan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, yang dirancang berbasis hisab dan mendukung penyatuan umat.
Tujuan
dan Landasan Inisiatif KHGT
Tujuan utama : Mewujudkan keseragaman, di mana tanggal
baru Hijriah jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia.
Dasar hukum : Mengadopsi kriteria Kongres
Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul (2016), yaitu seluruh muka
bumi sebagai satu matlak (kesatuan waktu) dengan metode hisab (astronomi).
Parameter: Bulan baru dimulai jika imkanu rukyat
(visibilitas hilal) mencapai ketinggian
dan elongasi
(IR 5+8) di mana pun sebelum pukul 00:00 UTC.
Pelopor : Muhammadiyah Indonesia secara resmi
meluncurkan dan menerapkan KHGT pada 2025/2026.
Dukungan Internasional : Inisiatif ini didukung oleh
berbagai tokoh dan perwakilan negara seperti Mesir dan Malaysia, serta
dipelopori secara konseptual oleh ahli falak dari Maroko.
Solusi Perbedaan : KHGT diharapkan mengatasi
ketidakkonsistenan kalender regional (seperti MABIMS) yang sering menyebabkan
perbedaan awal puasa.
KHGT dianggap sebagai solusi modern untuk menyatukan
kalender Islam yang saat ini masih bervariasi antar negara.
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) penting untuk mewujudkan keseragaman, kepastian, dan penyatuan waktu ibadah umat Islam sedunia, seperti awal Ramadan, Idul Fitri, dan Arafah. KHGT menyatukan umat melalui prinsip satu hari satu tanggal secara global, mengurangi perpecahan akibat perbedaan hisab-rukyat lokal, serta modernisasi peradaban.
Alasan
Pentingnya Kalender Hijriah Global Tunggal
1. Kepastian Waktu Ibadah:
Memberikan kepastian
jadwal ibadah umat Islam di seluruh dunia, sehingga tidak terjadi perbedaan
hari raya atau puasa Arafah.
2. Persatuan Umat Islam:
Menerapkan prinsip satu
hari, satu tanggal, satu matlak untuk seluruh dunia guna memperkuat solidaritas
dan persaudaraan umat.
3. Mengatasi Perbedaan Lokal:
Menghindari kekacauan dan
perbedaan penetapan awal bulan yang sering terjadi karena perbedaan wilayah
rukyat (matlak).
4. Efisiensi dan Modernisasi:
Menjadikan penanggalan
Islam lebih sistematis, ilmiah, dan modern, setara dengan kalender Masehi.
5. Misi Sosial-Keagamaan:
Mempermudah pengaturan
hari-hari besar dan kegiatan muamalah di tingkat global, serta mencerminkan
Islam sebagai agama yang teratur (rahmatan lil 'alamin).
Dengan KHGT, bulan baru ditentukan melalui kriteria
imkanu rukyat (kemungkinan hilal terlihat) secara global, yang memungkinkan
hari yang sama bagi seluruh Muslim di dunia.
Tantangan
Terberat Penetapan KHGT
Meskipun memungkinkan secara sains, tantangan utamanya
terletak pada penerimaan otoritas keagamaan yang berbeda-beda, seperti:
a, Otoritas Nasional.
Banyak negara, termasuk
Indonesia melalui Pemerintah dan organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), masih
menggunakan kriteria MABIMS ( Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia,
Malaysia, Singapura)(ketinggian 3° dan elongasi 6,4°) yang berbasis wilayah lokal/regional.
b. Perbedaan Fikih.
Masih ada perdebatan
antara penganut Rukyatul Hilal (melihat langsung) dan Hisab (perhitungan
matematis), serta perbedaan pandangan mengenai apakah satu penampakan di suatu
tempat berlaku untuk seluruh dunia (Matlak Global vs Matlak Lokal).
c. Kritik Astronomi,
Beberapa pakar
berpendapat bahwa garis batas tanggal global dalam KHGT masih memerlukan
pengkajian lebih lanjut agar benar-benar merepresentasikan kondisi geografis
dunia.
d. Tradisi dan Kebiasaan Lokal.
Banyak negara Muslim
memiliki tradisi yang kuat dalam penetapan awal bulan Hijriyah yang telah
berlangsung lama. Perubahan ke sistem global tunggal mungkin menimbulkan
resistensi karena dianggap mengganggu kebiasaan dan identitas lokal.
e. Koordinasi Politik dan Global.
Mencapai kesepakatan di
antara semua negara Muslim dan organisasi keagamaan memerlukan kerja sama yang
intensif. Hingga saat ini, belum ada lembaga global yang memiliki otoritas
untuk memaksakan penerapan kalender tunggal, sehingga proses penyatuan
memerlukan waktu dan dialog yang berkelanjutan.
Namun perlu diketahui bahwa Gagasan pragmatis yang
digagas oleh Muhammadiyah ini sebagai pendekatan pemikiran yang menitikberatkan
pada kegunaan praktis, manfaat nyata, dan hasil akhir, daripada teori abstrak
atau idealisme. Sesuatu dianggap benar atau bernilai jika dapat diterapkan,
memecahkan masalah, dan memberikan solusi efektif dalam kehidupan nyata.
Hal ini bukan sekadar wacana atau konsep teoritis,
karena sejarah telah membuktikan beberapa inovasi pembaharuan yang digagas oleh
Muhammadiyah dimasa lalu, telah menjadi tradisi umat islam dewasa ini, seperti;
(1) Melahirkan sekolah modern meniru lembaga pendidikan kolonial Belanda. (2)
Menggagas pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di tanah lapang
(lapangan terbuka), merombak tradisi pelaksanaan sholat Id di Surou atau Masjid
dsb.
Semoga kedepan ada lembaga internasional yang menjadi
wadah penyatuan hari- hari besar keagamaan bagi umat muslim secara global,
sebelum lahirnya sistem kekhalifaan dimuka bumi. Aamiin...
Makassar, 21 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar