Translate

Jumat, 20 Februari 2026

Solusi Satu Hari Satu Tanggal Hijriah Global



 

Kalender Hijriyah Global Tunggal adalah salah satu solusi paling tepat, mempersatukan ibadah puasa umat muslim di seluruh dunia. Seperti bersatunya umat non muslim memedomani Kalender Miladiah Global Tunggal. Selain itu, hanya lembaga internasional atau Imam (Khalifah) yang bisa mempersatukan umat islam secara global.









-----
Sabtu, 21 Pebruari 2026



Solusi Satu Hari Satu Tanggal Hijriah Global

 

Disadur Oleh:

Achmad Ramli Karim

(Aktivis Muhammadiyah)

 

Kalender Hijriyah Global Tunggal adalah salah satu solusi paling tepat, mempersatukan ibadah puasa umat muslim di seluruh dunia. Seperti bersatunya umat non muslim memedomani Kalender Miladiah Global Tunggal. Selain itu, hanya lembaga internasional atau Imam (Khalifah) yang bisa mempersatukan umat islam secara global. Sebab, *Keputusan imam menghilangkan perbedaan pendapat*

Kalender Miladiah adalah sebutan lain untuk kalender Masehi yang didasarkan pada peredaran matahari (solar system), memiliki 12 bulan dalam setahun, dan digunakan secara internasional. Kalender ini berbeda dengan Hijriah yang berbasis bulan (lunar), dengan total hari 365 atau 366 (kabisat) dalam satu tahun.

gagasan mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) merupakan inisiatif besar yang diusung untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia dalam satu penanggalan yang sama, satu hari satu tanggal.

PP Muhammadiyah secara resmi meluncurkan KHGT pada 25 Juni 2025 di Yogyakarta, sebagai wujud ikhtiar mewujudkan persatuan dunia Islam. Konsep ini mendapat dukungan Internasional dimana lnovasi ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Konsep Dasar: KHGT didasarkan pada prinsip hisab (perhitungan matematis) yang presisi, bukan lagi sekadar visibilitas hilal lokal (rukyat), sehingga memungkinkan kesamaan waktu ibadah seperti Puasa Ramadhan dan Idulfitri di seluruh belahan bumi. Konsep ini bertujuan mengatasi perbedaan penentuan awal bulan Hijriah yang sering terjadi antarnegara atau antargolongan, sehingga umat Islam bisa beribadah bersamaan secara global.

Kalender ini terus didorong sebagai solusi ilmiah dan praktis untuk kesatuan ummah.

Beberapa negara dan lembaga Islam internasional sedang membahas dan mulai mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk menyatukan penetapan hari-hari ibadah penting seperti Ramadan dan Idul Fitri secara universal. KHGT menerapkan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, yang dirancang berbasis hisab dan mendukung penyatuan umat.

Tujuan dan Landasan Inisiatif KHGT

Tujuan utama : Mewujudkan keseragaman, di mana tanggal baru Hijriah jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia.

Dasar hukum : Mengadopsi kriteria Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul (2016), yaitu seluruh muka bumi sebagai satu matlak (kesatuan waktu) dengan metode hisab (astronomi).

Parameter: Bulan baru dimulai jika imkanu rukyat (visibilitas hilal) mencapai ketinggian

 dan elongasi (IR 5+8) di mana pun sebelum pukul 00:00 UTC.

Pelopor : Muhammadiyah Indonesia secara resmi meluncurkan dan menerapkan KHGT pada 2025/2026.

Dukungan Internasional : Inisiatif ini didukung oleh berbagai tokoh dan perwakilan negara seperti Mesir dan Malaysia, serta dipelopori secara konseptual oleh ahli falak dari Maroko.

Solusi Perbedaan : KHGT diharapkan mengatasi ketidakkonsistenan kalender regional (seperti MABIMS) yang sering menyebabkan perbedaan awal puasa.

KHGT dianggap sebagai solusi modern untuk menyatukan kalender Islam yang saat ini masih bervariasi antar negara.

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) penting untuk mewujudkan keseragaman, kepastian, dan penyatuan waktu ibadah umat Islam sedunia, seperti awal Ramadan, Idul Fitri, dan Arafah. KHGT menyatukan umat melalui prinsip satu hari satu tanggal secara global, mengurangi perpecahan akibat perbedaan hisab-rukyat lokal, serta modernisasi peradaban.

Alasan Pentingnya Kalender Hijriah Global Tunggal

1. Kepastian Waktu Ibadah:

Memberikan kepastian jadwal ibadah umat Islam di seluruh dunia, sehingga tidak terjadi perbedaan hari raya atau puasa Arafah.

2. Persatuan Umat Islam:

Menerapkan prinsip satu hari, satu tanggal, satu matlak untuk seluruh dunia guna memperkuat solidaritas dan persaudaraan umat.

3. Mengatasi Perbedaan Lokal:

Menghindari kekacauan dan perbedaan penetapan awal bulan yang sering terjadi karena perbedaan wilayah rukyat (matlak).

4. Efisiensi dan Modernisasi:

Menjadikan penanggalan Islam lebih sistematis, ilmiah, dan modern, setara dengan kalender Masehi.

5. Misi Sosial-Keagamaan:

Mempermudah pengaturan hari-hari besar dan kegiatan muamalah di tingkat global, serta mencerminkan Islam sebagai agama yang teratur (rahmatan lil 'alamin).

Dengan KHGT, bulan baru ditentukan melalui kriteria imkanu rukyat (kemungkinan hilal terlihat) secara global, yang memungkinkan hari yang sama bagi seluruh Muslim di dunia.

 

Tantangan Terberat Penetapan KHGT

Meskipun memungkinkan secara sains, tantangan utamanya terletak pada penerimaan otoritas keagamaan yang berbeda-beda, seperti:

a, Otoritas Nasional.

Banyak negara, termasuk Indonesia melalui Pemerintah dan organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), masih menggunakan kriteria MABIMS ( Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura)(ketinggian 3° dan elongasi 6,4°) yang berbasis wilayah lokal/regional.

b. Perbedaan Fikih.

Masih ada perdebatan antara penganut Rukyatul Hilal (melihat langsung) dan Hisab (perhitungan matematis), serta perbedaan pandangan mengenai apakah satu penampakan di suatu tempat berlaku untuk seluruh dunia (Matlak Global vs Matlak Lokal).

c. Kritik Astronomi,

Beberapa pakar berpendapat bahwa garis batas tanggal global dalam KHGT masih memerlukan pengkajian lebih lanjut agar benar-benar merepresentasikan kondisi geografis dunia.

d. Tradisi dan Kebiasaan Lokal.

Banyak negara Muslim memiliki tradisi yang kuat dalam penetapan awal bulan Hijriyah yang telah berlangsung lama. Perubahan ke sistem global tunggal mungkin menimbulkan resistensi karena dianggap mengganggu kebiasaan dan identitas lokal.

e. Koordinasi Politik dan Global.

Mencapai kesepakatan di antara semua negara Muslim dan organisasi keagamaan memerlukan kerja sama yang intensif. Hingga saat ini, belum ada lembaga global yang memiliki otoritas untuk memaksakan penerapan kalender tunggal, sehingga proses penyatuan memerlukan waktu dan dialog yang berkelanjutan.

Namun perlu diketahui bahwa Gagasan pragmatis yang digagas oleh Muhammadiyah ini sebagai pendekatan pemikiran yang menitikberatkan pada kegunaan praktis, manfaat nyata, dan hasil akhir, daripada teori abstrak atau idealisme. Sesuatu dianggap benar atau bernilai jika dapat diterapkan, memecahkan masalah, dan memberikan solusi efektif dalam kehidupan nyata.

Hal ini bukan sekadar wacana atau konsep teoritis, karena sejarah telah membuktikan beberapa inovasi pembaharuan yang digagas oleh Muhammadiyah dimasa lalu, telah menjadi tradisi umat islam dewasa ini, seperti; (1) Melahirkan sekolah modern meniru lembaga pendidikan kolonial Belanda. (2) Menggagas pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di tanah lapang (lapangan terbuka), merombak tradisi pelaksanaan sholat Id di Surou atau Masjid dsb.

Semoga kedepan ada lembaga internasional yang menjadi wadah penyatuan hari- hari besar keagamaan bagi umat muslim secara global, sebelum lahirnya sistem kekhalifaan dimuka bumi. Aamiin...

 

 

Makassar, 21 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar