Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, baru-baru ini secara resmi menyatakan kesiapan Iran untuk membangun pabrik drone di Indonesia sebagai bagian dari transfer teknologi strategis.
-----
Ahad, 22 Pebruari 2026
Tawaran Iran Perkuat Pertahanan & Kemandirian
Industri
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi,
baru-baru ini secara resmi menyatakan kesiapan Iran untuk membangun pabrik
drone di Indonesia sebagai bagian dari transfer teknologi strategis.
Iran, yang telah menghadapi sanksi Barat selama hampir
47 tahun, berhasil membangun kemandirian teknologi drone yang sangat
diperhitungkan secara global. Mereka kini menawarkan kerja sama ini agar
Indonesia bisa mengadopsi teknologi serupa.
Meski dikenal lewat kekuatan militernya (seperti drone
Shahed), Dubes Boroujerdi menekankan bahwa drone yang ditawarkan bisa
difokuskan untuk sektor damai seperti pertanian dan ekonomi.
Selain drone, Iran juga membuka peluang kerja sama di
bidang nanoteknologi, bioteknologi, dan peralatan kesehatan.
Para ahli menilai tawaran ini sebagai langkah
strategis bagi kedua negara untuk memperkuat diplomasi pertahanan dan
kemandirian industri dalam negeri tanpa harus terus bergantung pada blok Barat.
Indonesia sendiri sebenarnya sudah memiliki proyek
drone nasional seperti PUNA Elang Hitam buatan PT Dirgantara Indonesia.
Masuknya teknologi Iran bisa menjadi katalisator atau justru tantangan
diplomasi baru mengingat posisi sanksi internasional terhadap Teheran.
Seperti diungkap oleh Duta Besar Republik Islam Iran
untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi, yang mengatakan Teheran saat ini tengah
mengupayakan kerja sama dengan Indonesia di bidang teknologi baru.
"Saat ini kami sedang mengupayakan kerja sama
antara kedua pihak, perusahaan Iran dan Indonesia," kata Dubes Boroujerdi
dalam wawancara khusus dengan ANTARA di Museum ANTARA, Jakarta, Sabtu,
14/2/2026.
Boroujerdi menyatakan Iran merupakan salah satu negara
yang sangat maju di dunia dalam bidang teknologi baru.
Iran sangat unggul di bidang nanoteknologi,
bioteknologi, nuklir, teknologi damai, teknologi kesehatan, produksi peralatan
kesehatan, teknologi pertanian, dan teknologi baru lainnya di bidang tersebut.
Dalam hal ini, Indonesia sangat tertarik untuk
melakukan kerja sama di bidang tersebut, katanya.
Boroujerdi menyatakan bahwa saat ini Iran telah
memiliki hubungan yang erat dengan beberapa lembaga dan badan pemerintah RI di
bidang transfer teknologi, dan juga di bidang lain seperti drone.
Jika perusahaan-perusahaan Indonesia berminat untuk
bekerja sama di bidang tersebut, Kedutaan Besar Iran di Jakarta siap
menjembatani hubungan antara kedua belah pihak agar hal tersebut dapat
terwujud.
Dorongan kerja sama tersebut merupakan bagian dari peran
Iran sebagai mitra strategis Indonesia dalam bidang terkait.
Boroujerdi lebih lanjut menjelaskan bahwa Iran
merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang teknologinya
dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.
"Kami tidak mengimpor teknologi apa pun karena,
seperti yang Anda ketahui, sudah hampir 47 tahun Iran berada di bawah sanksi
yang sangat berat dari Amerika Serikat, dan kami tidak dapat mengimpor
teknologi apa pun," katanya.
"Jadi, rakyat Iran mampu mengembangkan dan
memproduksi teknologi baru dan teknologi canggih mereka sendiri, dan mereka
memiliki pengetahuan itu sendiri," imbuhnya.
Oleh karena itu, dia menyatakan kesiapan Iran untuk
melakukan kerja sama di bidang sumber daya manusia, termasuk di bidang transfer
teknologi dengan Indonesia.
"Kami siap membawa perusahaan-perusahaan kami
untuk mendirikan pabrik di Indonesia, dan itu berarti kami siap untuk
mentransfer teknologi ke Indonesia," katanya.
Iran juga siap membawa orang-orang Indonesia untuk
pergi ke Iran dan belajar di universitas Iran atau bahkan perusahaan atau
pabrik Iran, dan mempelajari teknologi baru untuk diterapkan kembali di
Indonesia.
Selain itu, Iran juga saat ini tengah menawarkan
beasiswa penuh kepada mahasiswa Indonesia yang berminat untuk belajar di Iran,
dan Dubes Boroujerdi telah mengirimkan informasi tersebut kepada pemerintah
Indonesia.
Pengaruh
Strategis Geopolitik Indonesia
Membicarakan geo politik, berarti membahas:
--pemahaman bagaimana posisi geografis memengaruhi
kebijakan politik dan strateginya.
—memiliki dampak besar terhadap upaya perdamaian
dunia. Geopolitik bisa menjadi jembatan perdamaian, namun bisa juga menjadi
sumber konflik.
Secara umum, pengaruhnya dapat dibagi menjadi dua
sisi:
1. Pengaruh Positif (Sebagai Penggerak Perdamaian)
Negara Indonesia dengan posisi geopolitik strategis
dapat memanfaatkan kekuatannya untuk menciptakan stabilitas melalui mediator
konflik (jembatan damai). Karena Negara yang netral atau memiliki hubungan baik
dengan pihak-pihak bertikai sering menjadi penengah, seperti: Peran Tiongkok
dalam rekonsiliasi Iran-Arab Saudi.
Gerakan Non-Blok: Indonesia, dengan posisi strategis
di antara dua samudera dan benua, konsisten menerapkan politik "Bebas
Aktif". Ini memungkinkan Indonesia menjembatani dialog antara kekuatan
besar (AS-Tiongkok) melalui ASEAN atau G20, menghindari polarisasi ekstrem.
2. Pengaruh Negatif (Sebagai Potensi Konflik)
Sebaliknya, letak geografis yang strategis sering
menjadi rebutan, yang jika dikelola salah, mengancam perdamaian, seperti:
(a).
Perebutan Wilayah dan Sumber Daya (Maritim/Darat): Laut Tiongkok Selatan, jalur
perdagangan vital, sering menjadi titik ketegangan karena klaim wilayah yang
tumpang tindih.
(b).
Perang Proksi (Proxy War): Negara besar sering bertarung memperebutkan pengaruh
di negara-negara kecil/berkembang yang strategis, menyebabkan perang saudara
berkepanjangan (contoh: dinamika Ukraina, Sudan).
Pemblokiran Jalur Strategis: Kontrol atas selat atau
jalur perairan (selat Malaka, selat Hormuz) bisa digunakan sebagai alat tekanan
politik atau ekonomi, yang berisiko memicu respons militer.
Tren 2026 dan Indonesia Masuk Zona Berbahaya
Berdasarkan dinamika 2026, geopolitik dunia bergerak
ke fase yang lebih keras dan kompetitif, dengan risiko konflik regional yang
intensif. Indonesia, dalam konteks ini, terus mengedepankan pendekatan
geopolitik yang aktif di PBB memperjuangkan perdamaian, terutama di Palestina,
memperkuat ASEAN dan G20 untuk memastikan kawasan Asia Tenggara tetap menjadi
pusat pertumbuhan, bukan medan perang.
Diplomasi Bebas Aktif: Menolak memihak salah satu blok
besar, sebaliknya, mendorong kolaborasi. Sehingga dengan begabungnya kedalam
dewan perdamaian, Indonesia masuk kedalam zona berbahaya walaupun tak perlu
bayar USS 1 M.
Geopolitik adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi
faktor penguat perdamaian jika suatu negara menggunakan posisinya untuk dialog,
keterbukaan, dan stabilitas. Sebaliknya, ia bisa menjadi pemantik konflik jika
digunakan untuk dominasi. Indonesia umumnya memosisikan diri sebagai penyokong
perdamaian melalui "bridging" atau jembatan antar-kekuatan, dengan
berpedoman pada "landasan politik luar negeri bebas aktif".
Politik Bebas Aktif adalah landasan kebijakan luar
negeri Indonesia yang dicetuskan oleh Mohammad Hatta (1948), menegaskan sikap
tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu ("bebas") dan proaktif
dalam menjaga perdamaian dunia serta memperjuangkan kepentingan nasional
("aktif"). Prinsip ini diwujudkan melalui kemandirian dalam
menentukan sikap internasional, menentang penjajahan, dan berperan dalam forum
seperti ASEAN dan PBB.
Makassar, 22 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar