Bangkrutnya Amerika Serikat di Timur Tengah, gegara negara-negara Arab mulai sadar dan terbangun dari mimpi buruknya ketika alat pertahanan AS di Timur Tengah dibobol oleh rudal Iran.
Arab Saudi Sudah Sadar Pro Iran Melawan Amerika
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Bangkrutnya Amerika Serikat di Timur Tengah, gegara
negara-negara Arab mulai sadar dan terbangun dari mimpi buruknya ketika alat
pertahanan AS di Timur Tengah dibobol oleh rudal Iran. Arab dan negara-negara
teluk (Berdasarkan data terbaru Maret 2026), beberapa negara Teluk yang
memiliki keterkaitan taktis, militer, dan pertahanan yang erat dengan Amerika
Serikat (AS), melipiti:
Arab Saudi: Menjadi tuan rumah
pangkalan militer AS, termasuk Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Qatar: Pangkalan militer AS tersebar di
wilayah ini. Bahrain: Tuan rumah
bagi markas Komando Pusat Angkatan Laut AS (NAVCENT/FIFTHFLT). Kuwait: Negara yang dilindungi oleh AS,
khususnya sejak Perang Teluk. Uni Emirat
Arab (UEA): Sekutu strategis yang bekerja sama dalam keamanan regional. Oman: Berbatasan langsung dengan Teluk
Persia dan bekerja sama dalam pertahanan.
Negara-negara ini (sering disebut sebagai bagian dari
GCC - Gulf Cooperation Council) merupakan sekutu utama AS di kawasan Timur
Tengah yang sering menjadi sasaran rudal dalam konflik antara AS dan Iran.
Namun, ada laporan mengenai frustrasi dari negara-negara Arab ini karena merasa
kurang mendapat perlindungan yang memadai dari AS saat terjadi gempuran dari
Iran.
Beberapa hari lalu, tepatnya Pukul: 2.47 subuh, adalah
saksi penting telah terjadinya sebuah peristiwa besar, ketika aliansi payung
keamanan AS di Timur Tengah sudah bangkrut. Dalam sebuah ruangan yang aman di
Riyadh, sebuah dokumen 47 halaman baru saja di tandatangani yang menandakan
berakhirnya 76 tahun dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah.
Hanya 24 jam setelah Trump berpidato di Rose Garden
yang mengultimatum Arab Saudi, jika mereka tidak memenuhi keinginan AS dan
perintah diplomatiknya, Raja Saudi Arabia, Muhammad bin Salman, secara mengejutkan
telah merespon AS bahwa ketimbang taat pada tekanan Amerika, Arab Saudi justru
telah menandatangani perjanjian pertahanan saling menguntungkan (mutual defense
agreement) dengan musuh terbesarnya dalam sejarah, yaitu Iran.
Kesepakatan tak terduga ini menyangkut patroli
angkatan laut gabungan (joint naval patrons) di Selat Hormuz dalam 90 hari yang
melibatkan dana sebesar $84 milliar untuk investasi infrastruktur Arab Saudi di
Iran. Selama beberapa Minggu, pemerintah Amerika sama sekali tidak tahu tentang
negosiasi rahasia Iran-Arab ini yang secara diam-diam difasilitasi oleh Oman.
Ketika Trump secara personal dan agresif mendesak Arab
pada tanggal 19 Februari untuk berbicara Iran, itu malah menjadi bumerang bagi
AS sendiri. Seperti kita tahu, Trump lalu menyerang pemerintah Arab Saudi
secara terbuka bahwa kepemimpinan mereka lemah karena tidak melalukan tindakan
militer pada Iran untuk meningkatkan eskalasi krisis geopolitik yang luas.
Tapi realitasnya jauh lebih berbahaya karena
perjanjian Arab-Iran itu juga ternyata diam-diam melibatkan Cina dan Rusia
dalam keamanan wilayah padang pasir. Peristiwa ini secara fundamental telah
membangkrutkan hegemoni Amerika dan dapat menghentikan keterlibatan AS di Timur
Tengah ke depannya. Hal ini dimaksudkan untuk terciptanya wilayah Timur Tengah
yang bebas kepentingan Amerika Serikat.
Hubungan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS)
merupakan salah satu aliansi strategis terpenting di Timur Tengah yang
berlandaskan keamanan dan militer. Meskipun Saudi adalah negara berdaulat,
hubungan ini sering kali menempatkan Saudi dalam kerangka taktis dan strategis
AS.
Beberapa indikator penting mengenai "Arab Saudi
di bawah taktis Amerika":
(a). Sekutu Utama Non-NATO: Presiden Donald Trump
menetapkan Arab Saudi sebagai salah satu sekutu utama non-NATO (Major Non-NATO
Ally), yang memberikan akses istimewa ke persenjataan, pelatihan, dan teknologi
militer AS.
(b). Ketergantungan Militer (FMS): Arab Saudi adalah
pelanggan terbesar Penjualan Militer Asing (Foreign Military Sales/FMS) AS,
dengan nilai kontrak aktif mencapai lebih dari $100 miliar. Ini mencakup
pembelian sistem pertahanan udara Patriot dan peralatan canggih lainnya.
(c). Pelatihan dan Keamanan (USMTM): United States
Military Training Mission (USMTM) di Saudi bertugas melatih, menasihati, dan
membantu Angkatan Bersenjata Arab Saudi (SAAF) dalam meningkatkan kemampuan
pertahanan dan merancang strategi militer.
(d). Kerja Sama Pertahanan Sementara: Fakta
menunjukkan tidak ada pangkalan militer permanen AS yang permanen, tetapi AS
menempatkan personel dan pesawat secara sementara untuk latihan dan pertahanan,
seperti latihan "Red Sands" untuk melawan ancaman drone.
(e). Fokus pada Iran: Taktis keamanan ini sebagian
besar bertujuan untuk membendung pengaruh Iran dan menstabilkan kawasan melalui
kerja sama intelijen dan militer yang erat.
Singkatnya, Arab Saudi berada dalam taktis Amerika
dalam hal pengadaan alutsista, doktrin pelatihan militer, dan perlindungan
keamanan regional terhadap ancaman bersama, meskipun Saudi juga semakin mandiri
dalam kebijakan luar negerinya.
Profesor Jiang Xueqin memprediksi Amerika Serikat akan
kalah dalam konflik potensial melawan Iran, yang berpotensi memicu Perang Dunia
III dan meruntuhkan ekonomi AS.
Potensi
Kekalahan Amerika Dalam Perang Melawan Iran
Permusuhan AS terhadap Iran dan Irak berakar pada
kepentingan geopolitik, keamanan energi (minyak), dan perbedaan ideologi. Iran
dimusuhi sejak Revolusi Islam 1979 karena kebijakan anti-Barat, program nuklir,
dan pengaruhnya di Timur Tengah. Sementara Irak di masa lampau dimusuhi karena
ancaman senjata pemusnah massal dan ketidakstabilan regional.
Berdasarkan analisis Prof. Jiang Xueqin, seorang
akademisi dan pakar geopolitik yang berbasis di Beijing, memprediksi mengenai
potensi kekalahan Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan Iran didasarkan
pada beberapa faktor krusial yang menunjukkan ketidaksiapan Pentagon dan keunggulan
strategis Iran.
Adapun faktor-faktor kekalahan Amerika dari Iran
menurut Prof. Jiang, sebagai berikut:
(1).
Ketidaksiapan Pentagon dan Operasi Jangka Panjang: Prof. Jiang menyoroti bahwa
Pentagon tidak sepenuhnya siap menghadapi perang konvensional berskala besar
melawan Iran di Timur Tengah. Selain itu, keterlibatan AS dalam operasi militer
jangka panjang berisiko menguras sumber daya militer dan finansial.
(2).
Ketidakseimbangan Teknologi dan Efisiensi Biaya: Salah satu faktor utama adalah
penggunaan rudal dan teknologi pertahanan AS yang sangat mahal untuk
menghancurkan drone atau senjata murah milik Iran. Ini menciptakan
ketidakseimbangan ekonomi dalam perang (biaya operasional AS jauh lebih tinggi
daripada dampak kerusakan yang ditimbulkan pada Iran).
(3).
Keunggulan Strategis Iran adalah sumbu oerlawanan: Iran dianggap memiliki
keunggulan geografis dan dukungan dari jaringan "Sumbu Perlawanan" di
kawasan Timur Tengah, yang membuat mereka sulit ditaklukkan hanya dengan
serangan militer singkat.
(4).
Kerentanan Terhadap Kekuatan Besar Lain (Rusia & China): Keterlibatan
mendalam di Timur Tengah dapat menguras stok senjata AS, yang justru membuat AS
lebih rentan dan lemah dalam menghadapi persaingan dengan Rusia atau China di
belahan dunia lain.
(5).
Kurangnya Dukungan Domestik: Prof. Jiang menyoroti bahwa kemenangan militer
akan sia-sia jika tidak mendapatkan dukungan penuh dari rakyat Amerika, yang
kemungkinan enggan terlibat dalam konflik perang panjang lainnya.
Prediksi ini menempatkan Iran sebagai kekuatan yang
mampu memanfaatkan kelemahan taktis dan logistik AS, yang berpotensi mengubah
peta kekuatan global.
Informasi ini didasarkan pada prediksi akademisi pada
Maret 2026 dan merupakan analisis geopolitik.
Makassar, 13 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar