Translate

Kamis, 12 Maret 2026

Arab Saudi Sudah Sadar Pro Iran Melawan Amerika

 

Bangkrutnya Amerika Serikat di Timur Tengah, gegara negara-negara Arab mulai sadar dan terbangun dari mimpi buruknya ketika alat pertahanan AS di Timur Tengah dibobol oleh rudal Iran.











------
!3 Maret 2026



Arab Saudi Sudah Sadar Pro Iran Melawan Amerika

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Bangkrutnya Amerika Serikat di Timur Tengah, gegara negara-negara Arab mulai sadar dan terbangun dari mimpi buruknya ketika alat pertahanan AS di Timur Tengah dibobol oleh rudal Iran. Arab dan negara-negara teluk (Berdasarkan data terbaru Maret 2026), beberapa negara Teluk yang memiliki keterkaitan taktis, militer, dan pertahanan yang erat dengan Amerika Serikat (AS), melipiti:

 Arab Saudi: Menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, termasuk Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Qatar: Pangkalan militer AS tersebar di wilayah ini. Bahrain: Tuan rumah bagi markas Komando Pusat Angkatan Laut AS (NAVCENT/FIFTHFLT). Kuwait: Negara yang dilindungi oleh AS, khususnya sejak Perang Teluk. Uni Emirat Arab (UEA): Sekutu strategis yang bekerja sama dalam keamanan regional. Oman: Berbatasan langsung dengan Teluk Persia dan bekerja sama dalam pertahanan.

Negara-negara ini (sering disebut sebagai bagian dari GCC - Gulf Cooperation Council) merupakan sekutu utama AS di kawasan Timur Tengah yang sering menjadi sasaran rudal dalam konflik antara AS dan Iran. Namun, ada laporan mengenai frustrasi dari negara-negara Arab ini karena merasa kurang mendapat perlindungan yang memadai dari AS saat terjadi gempuran dari Iran. 

Beberapa hari lalu, tepatnya Pukul: 2.47 subuh, adalah saksi penting telah terjadinya sebuah peristiwa besar, ketika aliansi payung keamanan AS di Timur Tengah sudah bangkrut. Dalam sebuah ruangan yang aman di Riyadh, sebuah dokumen 47 halaman baru saja di tandatangani yang menandakan berakhirnya 76 tahun dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah.

Hanya 24 jam setelah Trump berpidato di Rose Garden yang mengultimatum Arab Saudi, jika mereka tidak memenuhi keinginan AS dan perintah diplomatiknya, Raja Saudi Arabia, Muhammad bin Salman, secara mengejutkan telah merespon AS bahwa ketimbang taat pada tekanan Amerika, Arab Saudi justru telah menandatangani perjanjian pertahanan saling menguntungkan (mutual defense agreement) dengan musuh terbesarnya dalam sejarah, yaitu Iran.

Kesepakatan tak terduga ini menyangkut patroli angkatan laut gabungan (joint naval patrons) di Selat Hormuz dalam 90 hari yang melibatkan dana sebesar $84 milliar untuk investasi infrastruktur Arab Saudi di Iran. Selama beberapa Minggu, pemerintah Amerika sama sekali tidak tahu tentang negosiasi rahasia Iran-Arab ini yang secara diam-diam difasilitasi oleh Oman.

Ketika Trump secara personal dan agresif mendesak Arab pada tanggal 19 Februari untuk berbicara Iran, itu malah menjadi bumerang bagi AS sendiri. Seperti kita tahu, Trump lalu menyerang pemerintah Arab Saudi secara terbuka bahwa kepemimpinan mereka lemah karena tidak melalukan tindakan militer pada Iran untuk meningkatkan eskalasi krisis geopolitik yang luas.

Tapi realitasnya jauh lebih berbahaya karena perjanjian Arab-Iran itu juga ternyata diam-diam melibatkan Cina dan Rusia dalam keamanan wilayah padang pasir. Peristiwa ini secara fundamental telah membangkrutkan hegemoni Amerika dan dapat menghentikan keterlibatan AS di Timur Tengah ke depannya. Hal ini dimaksudkan untuk terciptanya wilayah Timur Tengah yang bebas kepentingan Amerika Serikat.

Hubungan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu aliansi strategis terpenting di Timur Tengah yang berlandaskan keamanan dan militer. Meskipun Saudi adalah negara berdaulat, hubungan ini sering kali menempatkan Saudi dalam kerangka taktis dan strategis AS.

Beberapa indikator penting mengenai "Arab Saudi di bawah taktis Amerika":

(a). Sekutu Utama Non-NATO: Presiden Donald Trump menetapkan Arab Saudi sebagai salah satu sekutu utama non-NATO (Major Non-NATO Ally), yang memberikan akses istimewa ke persenjataan, pelatihan, dan teknologi militer AS.

(b). Ketergantungan Militer (FMS): Arab Saudi adalah pelanggan terbesar Penjualan Militer Asing (Foreign Military Sales/FMS) AS, dengan nilai kontrak aktif mencapai lebih dari $100 miliar. Ini mencakup pembelian sistem pertahanan udara Patriot dan peralatan canggih lainnya.

(c). Pelatihan dan Keamanan (USMTM): United States Military Training Mission (USMTM) di Saudi bertugas melatih, menasihati, dan membantu Angkatan Bersenjata Arab Saudi (SAAF) dalam meningkatkan kemampuan pertahanan dan merancang strategi militer.

(d). Kerja Sama Pertahanan Sementara: Fakta menunjukkan tidak ada pangkalan militer permanen AS yang permanen, tetapi AS menempatkan personel dan pesawat secara sementara untuk latihan dan pertahanan, seperti latihan "Red Sands" untuk melawan ancaman drone.

(e). Fokus pada Iran: Taktis keamanan ini sebagian besar bertujuan untuk membendung pengaruh Iran dan menstabilkan kawasan melalui kerja sama intelijen dan militer yang erat.

Singkatnya, Arab Saudi berada dalam taktis Amerika dalam hal pengadaan alutsista, doktrin pelatihan militer, dan perlindungan keamanan regional terhadap ancaman bersama, meskipun Saudi juga semakin mandiri dalam kebijakan luar negerinya.

Profesor Jiang Xueqin memprediksi Amerika Serikat akan kalah dalam konflik potensial melawan Iran, yang berpotensi memicu Perang Dunia III dan meruntuhkan ekonomi AS.

Potensi Kekalahan Amerika Dalam Perang Melawan Iran 

Permusuhan AS terhadap Iran dan Irak berakar pada kepentingan geopolitik, keamanan energi (minyak), dan perbedaan ideologi. Iran dimusuhi sejak Revolusi Islam 1979 karena kebijakan anti-Barat, program nuklir, dan pengaruhnya di Timur Tengah. Sementara Irak di masa lampau dimusuhi karena ancaman senjata pemusnah massal dan ketidakstabilan regional.

Berdasarkan analisis Prof. Jiang Xueqin, seorang akademisi dan pakar geopolitik yang berbasis di Beijing, memprediksi mengenai potensi kekalahan Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan Iran didasarkan pada beberapa faktor krusial yang menunjukkan ketidaksiapan Pentagon dan keunggulan strategis Iran. 

Adapun faktor-faktor kekalahan Amerika dari Iran menurut Prof. Jiang, sebagai berikut:

(1). Ketidaksiapan Pentagon dan Operasi Jangka Panjang: Prof. Jiang menyoroti bahwa Pentagon tidak sepenuhnya siap menghadapi perang konvensional berskala besar melawan Iran di Timur Tengah. Selain itu, keterlibatan AS dalam operasi militer jangka panjang berisiko menguras sumber daya militer dan finansial.

(2). Ketidakseimbangan Teknologi dan Efisiensi Biaya: Salah satu faktor utama adalah penggunaan rudal dan teknologi pertahanan AS yang sangat mahal untuk menghancurkan drone atau senjata murah milik Iran. Ini menciptakan ketidakseimbangan ekonomi dalam perang (biaya operasional AS jauh lebih tinggi daripada dampak kerusakan yang ditimbulkan pada Iran).

(3). Keunggulan Strategis Iran adalah sumbu oerlawanan: Iran dianggap memiliki keunggulan geografis dan dukungan dari jaringan "Sumbu Perlawanan" di kawasan Timur Tengah, yang membuat mereka sulit ditaklukkan hanya dengan serangan militer singkat.

(4). Kerentanan Terhadap Kekuatan Besar Lain (Rusia & China): Keterlibatan mendalam di Timur Tengah dapat menguras stok senjata AS, yang justru membuat AS lebih rentan dan lemah dalam menghadapi persaingan dengan Rusia atau China di belahan dunia lain.

(5). Kurangnya Dukungan Domestik: Prof. Jiang menyoroti bahwa kemenangan militer akan sia-sia jika tidak mendapatkan dukungan penuh dari rakyat Amerika, yang kemungkinan enggan terlibat dalam konflik perang panjang lainnya.

Prediksi ini menempatkan Iran sebagai kekuatan yang mampu memanfaatkan kelemahan taktis dan logistik AS, yang berpotensi mengubah peta kekuatan global.

Informasi ini didasarkan pada prediksi akademisi pada Maret 2026 dan merupakan analisis geopolitik.

 

 

Makassar, 13 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar