Translate

Sabtu, 14 Maret 2026

Islamophobia Proyek Kapitalis Pecah Kekuatan Muslim

 

Hari ini 15 Maret 2026 diperingati sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia (International Day to Combat Islamophobia). Dimana PBB menetapkan tanggal ini pada 2022 lalu untuk meningkatkan kesadaran global, melawan diskriminasi, dan rasisme terhadap umat Muslim.





-----

Ahad, 15 Maret 2026



Islamophobia Proyek Kapitalis Pecah Kekuatan Muslim

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Hari ini 15 Maret 2026 diperingati sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia (International Day to Combat Islamophobia). Dimana PBB menetapkan tanggal ini pada 2022 lalu untuk meningkatkan kesadaran global, melawan diskriminasi, dan rasisme terhadap umat Muslim. Islamofobia adalah bentuk ketakutan, kebencian, prasangka, dan diskriminasi terhadap agama Islam serta penganutnya (Muslim).

Fenomena ini mencakup sikap permusuhan, stereotip negatif, intimidasi, hingga rasisme yang menganggap Islam sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Barat, budaya lain, atau sumber ekstremisme.

Oleh karena itu Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) sebagai organisasi internasional yang didirikan untuk menjaga perdamaian dunia, keamanan internasional, dan kerja sama antarnegara, menganggap masalah islamopobia adalah ancaman serius bagi umat islam. Sehingga PBB menyerukan untuk bersama-sama memerangi Islamopobia, yang telah menjadi ancaman global bagi umat muslim.

Resolusi PBB mengenai Islamofobia, khususnya penetapan " 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia " (resolusi 76/254) dan resolusi lanjutan tahun 2024, dikeluarkan karena kekhawatiran mendalam atas meningkatnya diskriminasi dan kebencian terhadap umat Islam secara global.

Secara keseluruhan, resolusi ini penting untuk menegaskan kembali bahwa segala bentuk diskriminasi dan kebencian berdasarkan agama tidak dapat diterima dan mengancam perdamaian serta stabilitas dunia.

Karena dampaknya seperti kita saksikan saat ini, terjadinya agresi militer AS-Israel ke-Iran dengan tuduhan yang dibuat-buat hanya untuk mengganti rezim berkuasa. Sama dengan tuduhan palsu ke-Irak karena barat khususnya Amerika ingin menggulingkan pemerintahan Saddan Husain dengan pemerintahan yang bisa tunduk pada kepentingan barat.

 

Untuk efektifnya dampak Resolusi PBB tersebut (resolusi 76/254) dan resolusi lanjutan tahun 2024, sangat diharapkan peran ulama/pemuka agama lainnya, bersama pemerintah dan seluruh komponen bangsa, untuk memerangi dan menghentikan sikap anti islam (islamopobia). Karena hal tersebut merupakan ancaman serius yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa yang majemuk, serta dapat menjadi ancaman disintegrasi bangsa.

Ancaman paling nyata dan kongkrit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, adalah sikap kebencian kaum islamopobia yang diwujudkan dalam bentuk "politik adu domba. " Dan hal ini kurang disadari oleh para pemangku kepentingan khususnya umat muslim, sehingga sangat mudah terhasut oleh strategi propaganda barat melalui penggiringan opini publik di media sosial.

Oleh karenanya umat islam khususnya ulama dan para pendakwah, sudah saatnya umat islam disadarkan akan perlunya melek politik. Sebab kalau tetap mayoritas buta politik, mereka akan selalu dijadikan objek politik pecah belah bambu. Satu diangkat lainnya diinjak, dengan menggunakan pendekatan bansos, materi dan kepentingan.

Sudah sangat terang benderang didepan mata, terkadang satu kelompok dibiayai dan difasilitasi (diangkat) untuk menindas kelompok lainnya dengan imbalan uang, materi, dan jabatan atau kepentingan.

Sejarah telah menulis dengan tinta emas, bahwa demi kepentingan dagang kaum kapitalis (pemilik modal) menggunakan tokoh dan penguasa setempat sebagai kaki tangan (buzzer-buzzer) untuk memecah belah umat islam berdasarkan perbedaan Mazhab dan aliran. Bahwa perbedaan paham dan Mazhab menjadi senjata ampuh pecah belah mencegah kuat dan bersatunya umat muslim.

Jadi bukan persoalan paham kelompok seperti Syi'ah di Irak atau Sunni/Wahabi di Arab, yang menjadi sumber perpecahan. Melainkan kaum islamopobia yang menjalankan taktik dagang kompeni,  untuk lebih dulu melumpuhkan lawan sebelum bersatu jadi kuat.

Di Indonesia kaum kapitslis menggiring isu perpecahan, melalui kelompok Wahabi dan Islam Nusantara atau HTI dan FPI dubuatkan isu sebagai islam radikal. Padahal kepentingan bisnis haram dan ekspansi dagang yang menjadi akar masalah, sehingga melahirkan rasa kebencian terhadap nilai-nilai islam dan umat muslim (idlamopobia). Inilah yang menjadi ancaman serius dan sumber perpecahan umat islam secara global dan khususnya di Indonesia. Kelompok pedagang/pebisnis dan kelompok non muslim yang anti islam (islamipobia), yang menjadi sumber perpecahan bangsa karena menjalankan politik de vide et invera dalam berdagang. Begitu pula orang-orang munafik yang paham politik adu domba, namun tidak berani memerangi islamopobia, karena takut akan kepentingan politik, jabatan, dan materi. Begitu daksatnya propaganda barat, dalam memecah belah kekuatan politik umat islam.

Propaganda adalah usaha sistematis dan terencana untuk mempengaruhi opini, emosi, sikap, atau perilaku audiens (publik) guna mendukung agenda atau ideologi tertentu. Sering menggunakan informasi bias, setengah benar, atau manipulatif, yang disampaikan melalui berbagai media untuk menciptakan dampak psikologis tertentu.

Tujuan utamanya adalah memanipulasi audiens agar menerima suatu gagasan atau bertindak sesuai keinginan propagandis. Propaganda sering digunakan dalam politik untuk meraih suara, kampanye perang, atau mengubah pandangan masyarakat.

 

Secara ringkas, propaganda adalah alat komunikasi persuasif yang bertujuan memanipulasi pandangan publik, sering mengabaikan objektivitas demi kepentingan bisnis dan dagang.

Terorisme menjadi isu keamanan global

Kekuasaan Fir'aun besar dan kuat dibiayai oleh saudagar/pengusaha (Korun). Belanda kuat dan mampu menjajah bangsa lain termasuk Indonesia, karena dibiayai oleh swasta (VOC). Sedangkan Barat (NATO) besar dan kuat, juga karena dibiayai oleh kaum Kapitalis (Yahudi). Kepentingan dagang dan pangsa pasar prodak-prodak haram negara industri, menjadi faktor utama lahirnya isu terorisme.

Isu terorisme, secara istilah dan fenomena, memiliki akar sejarah yang  *berkembang* menjadi isu global setelah inseden runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) 9/11/2001di New York City, bukan Washington DC.

Penting untuk dicatat bahwa serangan 11 September 2001 (sering disebut 9/11) di Amerika Serikat, adalah kasus peledakan yang patut diduga sebagai bagian utama dari proyek islamopobia. 

Awal Terorisme Kontemporer (1960-an - 1970-an): Era modern terorisme sering dikaitkan dengan tahun 1968, ketika pembajakan pesawat mulai marak digunakan sebagai taktik perjuangan oleh kelompok-kelompok tertentu (misalnya Front Populer untuk Pembebasan Palestina). Pada tahun 1970-an, isu ini mulai mendapat perhatian luas secara internasional.

Terorisme menjadi isu keamanan global utama pasca-peristiwa 11 September 2001 (9/11) di Amerika Serikat, yang menandai dimulainya Global War on Terror.

Seruan Resolusi PBB Perangi Islamopobia

Dikutip dari -- MUHAMMADIYAH.OR.ID,  – Islamophobia dimaknai sebagai sikap ketakutan berlebihan terhadap Islam. Umumnya, Islamophobia ditampilkan dalam bentuk antipati, kebencian, sinisme, perlawanan, hingga pelecehan terhadap ajaran, simbol-simbol Islam dan penganutnya.

Menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafig Mughni, Islamophobia muncul akibat berbagai motif. Ada Islamophobia yang muncul karena pemahaman yang lemah dan keliru. Ada juga karena akibat ulah framing media massa atau tokoh tertentu, atau juga karena kesengajaan mereka mengawetkan sikap Islamophobia karena mendapati kepentingan jangka pendeknya terancam.

“Kalau di Amerika, masyarakat menjadi Islamophobia karena melihat jumlah pemeluk Islam makin besar dan ini memberikan ancaman secara politik dan ekonomi bagi sebagian masyarakat. Di Indonesia ada unsur-unsur, mereka anggap Islam sebagai kekuatan yang bisa menghalangi kepentingan mereka sehingga mereka mau tidak mau menunjukkan sikap Islamophobic karena ada kepentingan yang akan terhalangi kalau kekuatan Islam itu lahir,” ungkap Syafiq.

“Padahal Islam itu sesungguhnya agama yang diperlukan untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera, berkeadilan. Tetapi nilai-nilai unggul ini mereka anggap sebagai halangan bagi mereka untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan jangka pendek,” imbuhnya.

Dalam program Dialektika di kanal youtube Tvmu, Sabtu (7/5), Syafiq menilai sikap Islamophobia di tanah air itu misalnya membenturkan umat Islam dengan nasionalisme, demokrasi, bahkan melabeli umat Islam dengan narasi-narasi radikalisme dan ekstrimisme.

 “Ini fenomena yang bukan rahasia. Setiap ada terorisme dan kebetulan pelakunya adalah orang yang beragama Islam, maka mereka seperti mendapat amunisi bahwa terorisme identik dengan agama Islam. Tapi kalau ada pelaku sama dari agama lain mereka hampir tidak pernah menyebutnya,” kritik Syafiq.

Sikap Islamophobia menurutnya juga nampak dalam narasi radikalisme yang selalu disematkan secara sembarangan kepada umat muslim. Padahal istilah radikalisme sendiri kata Syafiq sudah ditinggalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa karena sarat penyalahgunaan secara politis. PBB mengganti kata ‘radikalisme’ dengna ‘violence extrimism’.

“Dalam isu radikalisme, mereka (Islamophobic) mengganggap radikalisme ini akan menjungkirbalikan tata nilai luhur dan menghapus negara bangsa sehingga menjadi ancaman yang sangat besar. Selalu dilekatkan pada umat Islam,” kata Syafiq.

 “Misalnya pada rekrutmen politik di berbagai bidang selalu mencari apakah orang ini terlibat dalam gerakan radikal atau tidak? Padahal masyarakat internasional telah meninggalkan diksi radikalisme sebagai musuh bersama karena istilah ini bisa disalahgunakan dan disalahtafsirkan untuk menyudutkan kelompok-kelompok tertentu sehingga bisa menjauhkan tujuan utama untuk membangun persatuan dan kesatuan berbagai kelompok masyarakat. Maka PBB mengganti dengan violence extrimism yang bisa dilakukan oleh siapa saja, baik oleh motif pemikiran agama atau tidak, oleh bangsa atau etnis siapapun,” pungkasnya. (afn)

Hanya penulis sangat menyayangkan, karena Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi penting (A/RES/76/254) pada 15 Maret 2022, yang menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia, tetapi tidak dibarengi dengan program dan kebijakan global. Melainkan diserahkan secara sepihak kepada masing-masing anggota PBB, mungkin karena barat (AS) masih memiliki hak veto tunggal di PBB.

Agresi militer Amerika-Israel terhadap Iran karena membela dan melindungi Palestina, adalah wujud nyata islamopobia yang dilandasi oleh ambisi global kapitalis barat.

Bahkan komentator politik terkemuka Amerika Serikat Tucker Carlson, membuat pernyataan yang menggetarkan panggung politik internasional dengan mengungkap dugaan penangkapan agen Mossad di wilayah Teluk. Menurut klaimnya, otoritas Qatar dan Arab Saudi berhasil menggagalkan operasi rahasia intelijen Israel yang berencana melakukan aksi pengeboman di lokasi strategis. Operasi ini diduga dirancang sebagai taktik adu domba agar negara-negara Arab terseret lebih dalam ke dalam konflik bersenjata melawan Iran.

Carlson menekankan bahwa negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab sebenarnya adalah sekutu strategis Amerika yang menjaga stabilitas ekonomi dunia melalui pusat-pusat bisnis seperti Dubai. Upaya untuk menciptakan kekacauan di wilayah ini melalui aksi teror dianggap sebagai pengkhianatan terhadap keamanan kolektif di kawasan tersebut. Jika klaim ini terbukti benar, maka hal ini akan menjadi skandal intelijen terbesar yang dapat menghancurkan hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara Teluk yang selama ini mulai membaik.

Meskipun pernyataan Carlson memicu perdebatan panas di media sosial, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Qatar maupun Arab Saudi terkait rincian penangkapan tersebut. Israel sendiri memilih untuk bungkam dan tidak menanggapi spekulasi yang beredar. Namun, informasi ini sudah cukup untuk menciptakan gelombang kecurigaan di kalangan publik mengenai sejauh mana aktor-aktor intelijen bermain di balik layar untuk memanipulasi arah perang di Timur Tengah.

 

 

Makassar, 15 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar