Jiwa yang sehat memiliki kekuatan luar biasa (dahsyat) karena tidak hanya menciptakan perasaan bahagia, tetapi juga menjadi fondasi utama produktivitas, ketahanan diri, dan kesehatan fisik yang optimal.
-----
Sabtu, 21 Maret 2026
Bangunlah jiwanya
Sebelum Membangun bangsamu
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Jiwa yang sehat memiliki
kekuatan luar biasa (dahsyat) karena tidak hanya menciptakan perasaan bahagia,
tetapi juga menjadi fondasi utama produktivitas, ketahanan diri, dan kesehatan
fisik yang optimal.
"Bangunlah jiwanya,
bangunlah badannya" adalah lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya yang
menekankan keseimbangan pembangunan mental-spiritual dan fisik. Pesan ini
mengajak kepada publik dan segebab komponen bangsa, untuk mendahulukan
pembangunan jiwa (karakter, mental, kecerdasan) sebelum membangun fisik (raga,
infrastruktur), guna menciptakan manusia Indonesia yang seutuhnya, berkarakter
kuat, dan sehat jasmani.
Amanah membangun jiwa
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945)
secara fundamental tertuang dalam pembukaan dan pasal-pasal yang berkaitan
dengan pencerdasan kehidupan bangsa, keimanan, dan kesejahteraan mental. Amanah
ini bertujuan membentuk manusia Indonesia yang berkarakter, bertaqwa, berjiwa
nasionalis, dan sehat secara mental.
Kebutuhan fisik (jasmani)
dan rohani adalah dua aspek fundamental manusia yang harus dipenuhi secara
seimbang untuk mencapai kesejahteraan hidup dunia akhirat. Kebutuhan fisik
bersifat material untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh seperti; makanan,
istirahat, olahraga. Sementara kebutuhan rohani bersifat immaterial untuk
mengisi jiwa, mental, dan spiritual seperti; ibadah, rekreasi, kasih sayang,
dan pendidikan.
Perbedaan antara mengisi
badan dengan jiwa terletak pada fokus kebutuhan, tujuan akhir, serta dampak
yang ditimbulkan. Mengisi badan lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan
jasmani, sementara mengisi jiwa berfokus pada ketenangan batin, kesehatan mental,
dan kebutuhan spiritual.
Beribadah seperti sholat,
puasa, zakat, infak dan berbuat kebajikan, adalah untuk jiwa atau rohani yang
sehat serta ketenangan batin. Sebab hanya jiwa yang tenang (Nafsul Muthmainnah)
yang memiliki kemampuan mengelola bangsa dan negara.
Jiwa yang sehat memiliki
kekuatan luar biasa (dahsyat) karena tidak hanya menciptakan perasaan bahagia,
tetapi juga menjadi fondasi utama produktivitas, ketahanan diri, dan kesehatan
fisik yang optimal. Jiwa yang sehat memungkinkan seseorang merespons masalah
secara bijak, memiliki emosi seimbang, dan menjalin hubungan sosial yang
positif.
Jiwa yang sehat (kesehatan
mental optimal) memberikan manfaat menyeluruh, meliputi peningkatan
produktivitas, kemampuan mengelola stres, hubungan sosial yang lebih harmonis,
serta kesehatan fisik yang lebih terjaga. Orang dengan jiwa sehat lebih mampu
mengenali potensi diri, berpikir positif, dan tangguh menghadapi tekanan hidup.
Sedangkan manusia yang
hanya mengisi badannya tanpa jiwa yang tenang, ia tidak memiliki kompetensi mengelola bangsa dan negaranya.
Karena jiwanya dikuasai oleh iblish dan setan yang bersumber dari nafsu tanpa pengendalian
egoieme.
Nafsu adalah dorongan
batin atau keinginan kuat (seringkali emosional/fisik) untuk memuaskan diri
sendiri, sedangkan ego adalah kesadaran akan diri sendiri, konsep diri, dan
bagian kepribadian yang menjembatani keinginan dengan kenyataan. Nafsu lebih ke
arah "apa yang diinginkan", sementara ego lebih ke "bagaimana
saya memandang diri dan bertindak".
Minal aidin wal faizin,
mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.
Di hari yang fitri ini, semoga hati kembali bersih, hubungan kembali hangat,
dan langkah ke depan dipenuhi keberkahan.
Arti pentingnya berkah
Allah dalam membangun bangsa adalah mendatangkan kebaikan, ketenangan, dan
kesejahteraan yang hakiki, di mana sumber daya yang ada menjadi cukup dan
berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat. Keberkahan dalam konteks
kebangsaan (barakatin minas-sama'i wal-ardh) bukan hanya tentang kuantitas
kekayaan alam, melainkan kualitas kebaikan yang bertambah (ziyadatul khair) dan
diridhai oleh Tuhan YME.
Semoga publik khususnya
para pemimpin bangsa Indonesia kembali bersih (fitrah) di hari Idul Fitri 1447
H ini, dan semoga berkah Allah selalu menyertainta. Aamiin...
Makassar, 1 Syawal 1447 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar