Translate

Kamis, 05 Maret 2026

Efek Domino Jika Prabowo Mengakui Negara Israel

 

Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diinisiasi AS berisiko melemahkan reputasi diplomatik, bertentangan dengan prinsip politik bebas-aktif, serta menimbulkan kerugian finansial akibat beban iuran tinggi (sekitar Rp17 triliun). Hal ini juga berpotensi mengasingkan dukungan internasional untuk Palestina dan dianggap sebagai blunder kebijakan luar negeri.





-----
Kamis, 05 ret 2026



Efek Domino Jika Prabowo Mengakui Negara Israel

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan) 

 

Efek domino adalah fenomena reaksi berantai di mana satu peristiwa awal memicu serangkaian kejadian serupa atau terkait secara berurutan, seringkali dengan dampak yang semakin besar. Dengan kata lain reaksi berantai di mana satu kejadian kecil memicu dampak yang lebih luas. Ini terjadi di berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, perilaku, hingga kecelakaan teknis.

Secara geopolitik terdapat efek domino jika Presiden Prabowo mengakui Israel sebagai negara, tetapi Israel tidak mengakui adanya Negara Palestina. Hal ini berkaitan dengan bergabungnya Presiden Prabowo Subianto ke dalam Board of Peace (BoP), sebuah forum internasional yang berfokus pada perdamaian dan kemanusiaan, khususnya di Gaza, Palestina.

Sementara publik menyorot sikap DPR RI, yang tidak berkutik terkait legalitas kebijakan Presiden Prabowo dalam perjanjian antar bangsa (ratifikasi DPR). Dimana kebijakan tersebut dianggap menyimpang dari Landasan idiil negara yaitu Pancasila, yang berfungsi sebagai ideologi dasar dan pondasi negara dan landasan konstitusional UUD 1945, khususnya Pembukaan alinea I dan IV, yang merupakan hukum tertinggi yang mengatur ketatanegaraan Indonesia. Demikian juga bertentangan dengan landasan politik luar negeri RI yaitu "Politik Bebas Aktif."

Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diinisiasi AS berisiko melemahkan reputasi diplomatik, bertentangan dengan prinsip politik bebas-aktif, serta menimbulkan kerugian finansial akibat beban iuran tinggi (sekitar Rp17 triliun). Hal ini juga berpotensi mengasingkan dukungan internasional untuk Palestina dan dianggap sebagai blunder kebijakan luar negeri.

Hal ini sangat terkait dengan pendudukan Israel atas tanah Palestina. Israel dianggap melanggar hukum internasional terutama karena pendudukan berkepanjangan atas wilayah Palestina (Tepi Barat, Gaza, Yerusalem Timur) sejak 1967, pembangunan permukiman ilegal, aneksasi de facto, dan tindakan militer yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional, termasuk menargetkan warga sipil dan blokade yang dianggap hukuman kolektif.

Keterlibatan ini dinilai sebagai "blunder" yang dapat melemahkan posisi Indonesia di mata pendukung Palestina.

bahwa BOP di Davos bukanlah BOP yang dimandatkan dalam Resolusi DK PBB Nomor 2803. Tetapi BOP yang dirancang, dibangun dan didominasi oleh Donald Trump sebagai ketua BOP. BOP di Davos tidak memiliki peta jalan (Road map) tentang kemerdekaan Palestina sehingga harusnya dievaluasi ulang.

Bahwa penandatanganan perjanjian dagang Indonesia-Amerika Serikat dan keterlibatan dalam piagam BOP membuat Indonesia masuk ke dalam jurang imperialisme. Oleh karena itu, langkah pemerintah ini patut dievaluasi dan dikoreksi oleh rakyat dan bangsa Indonesia.

Efek domino paling kongkrit yang mungkin bisa muncul, adalah:

Pertama; menurunnya kepercayaan publik dan elektabilitas prabowo dimata rakyat Indonesia yang mayoritas muslim, apalagi jika dikaitkan dengan peluang menang jika maju sebagai kandidat Capres Periode Kedua pada 2029 nanti.

Kedua; munculnya kecaman internasional khususnya negara-negara muslim, yang selama ini mengandalkan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, untuk menyelesaikan sengketa pendudukan dan pencaplokan tanah Palestina oleh Israel.

Ketiga; dengan bergabungnya kedalam Board of Peace (BoP) dikhawatirkan Indonesia terperangkap dalam hegemoni Amerika-Israel sebagai kekuatan blok barat, dan dipaksa untuk mengakui kedaulatan Israel dengan membuka hubungan diplomatik. Sementara Indonesia adalah salah satu pencetus gerakan Non Blok (GNB). Gerakan ini dicetuskan pada KTT I di Beograd, Yugoslavia pada 1–6 September 1961. Lima pemimpin dunia yang menjadi pendiri (inisiasi) GNB adalah Soekarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Josip Broz Tito (Yugoslavia), dan Kwame Nkrumah (Ghana).

Ke-empat; tidak menutup kemungkinan  Indonesia terperangkap propaganda menjadi Sekutu kuat Amerika, untuk membentengi Prabowo dari kudeta oligarki dan eksodus dari Cina Komunis (RRT). Namun bertujuan agar Indonesia bisa bersekutu Amerika bersama negara-negara Arab, untuk memerangi Iran yang berpaham Syi'ah. Dengan alasan Syi'ah bukan Islam sehingga harus dijadikan musuh bersama.

Mampukah Iran Memerangi Visi Dajjal?

Dajjal tidak disebutkan secara eksplisit namanya di dalam Al-Qur'an, namun isyarat mengenai kemunculannya, fitnah (ujian) yang dibawanya, dan tanda-tanda akhir zaman yang berkaitan dengannya terdapat dalam beberapa ayat, yang kemudian dijelaskan secara rinci dalam Hadis-hadis Nabi SAW.

Mengenai visi, tujuan, dan karakteristik Dajjal berdasarkan interpretasi ayat Al-Qur'an dan Hadis, adalah menghancurkan Iman dan moral (Fitnah Terbesar). Sedangkan visi utama Dajjal adalah menguji keimanan umat manusia, membalikkan kebenaran, dan menciptakan fitnah terbesar di akhir zaman. Dajjal akan menyebarkan kezaliman, merusak moral, dan menghapus keadilan.

Perubahan globalisasi secara drastis (rapid/extreme globalization) adalah proses integrasi internasional yang terjadi dengan kecepatan sangat tinggi dan skala masif, di mana batasan geografis, budaya, dan ekonomi antarnegara hilang secara cepat akibat kemajuan teknologi. Perubahan ini menyebabkan transformasi struktural yang ekstrem pada berbagai aspek kehidupan dalam waktu singkat. Kondisi ini juga digambarkan dalam analisis komprehensif yang berjudul "Iran Batu Sandungan Berat Bagi Dinasti Rothschild,"

yang ditulis Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic. Untuk lebih jelasnya, penulis mengutip secara ringkas tulisan Said Muniruddin, dibawah ini:

DINASTI Rothschild dipercaya selalu ada dibalik peristiwa besar. Dinasti Rothschild menginginkan dunia selalu dalam keadaan perang. Mereka ada dibelakang sejumlah negara yang memang diciptakan untuk berperang. Perhatikan, betapa banyak keonaran yang diinisiasi oleh "cowboy" Amerika binaan mereka dalam beberapa waktu silam.

Rothschild butuh perang sebagai urat nadi kehidupan. Mereka menghasilkan triliun dolar dari perang. Mereka membiayai penghancuran. Sekaligus mendanai kembali pembangunan. Gaza mereka yang danai untuk dihancurkan. Mereka juga yang kemudian lewat proposal Trump ingin dibangun ulang untuk menjadi resort wisata yang menghasilkan uang. Bukan untuk warga Gaza. Tapi untuk pundi-pundi mereka. Warga Gaza akan direlokasi entah ke negara mana.

Mereka mengontrol Amerika lewat lembaga lobi seperti AIPAC untuk meneguhkan agenda "Israel First". Semua politisi Amerika dibiayai untuk menjaga eksistensi negara proksi mereka di wilayah Timteng yang kaya sumberdaya. Karena itulah pemimpin revolusi Iran, Imam Khumeini, menyebut Israel sebagai "kanker" di tengah dunia Arab.

Rothschild adalah pencetus sistem perbankan Yahudi. Mayer Amschel Rothschild, sang perintis, sejak tahun 1800an sudah mengirim lima anaknya ke seluruh Eropa. Didirikan di Frankfurt, Jerman oleh Amschel sendiri. Lalu anak-anaknya membuka bank di London (Nathan), Paris (Jacob), Wina (Salomon), dan Napoli (Karl).

Ekspansi meluas ke seluruh dunia, membiayai dan bekerjasama dengan bank lainnya, sampai membentuk sistem perbankan yang terintegrasi. Bank mereka aktif membiayai atau mensponsori perang. Juga pembangunan paska perang. Hari ini, hampir seluruh perbankan dunia terkoneksi dengan sistem operasi keuangan mereka.

Celakanya, Iran adalah salah satu dari beberapa negara yang tersisa yang tidak tunduk pada dominasi bank sentral Rothschild. Iran adalah salah satu negara yang tidak memiliki ketergantungan dengan IMF, salah satu lembaga intermediasi utang dinasti ini. Lebih kacau lagi, Iran merupakan batu besar di tengah jalan yang menghalangi proyek koloni "Israel Raya". Iran bahkan satu-satunya negara yang bersumpah akan membebaskan Palestina, dan mengusir zionis dari Tanah Suci.

Karena itu, Iran harus ditumbangkan. Harus ada rezim baru yang bekerja di bawah kendali mereka. Dalam hal ini "pangeran badut" Reza Pahlavi yang hidup dalam pengasingan sangat berharap untuk bisa naik tahta. Ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, raja terakhir Dinasti Pahlavi, tumbang dalam revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini tahun 1979. Dinasti terakhir ini sangat pro Barat. Sejalan dengan agenda Rothschild.

Upaya menggulingkan Imam Ali Khamenei -yang menjadi pelanjut cita-cita Ayatullah Khomeini (1902-1989), kembali dilakukan. Seperti biasa. Alat kerja Rothschild dalam menciptakan rusuh dan perang adalah Israel dan Amerika, lewat Mossad dan CIA-nya. Mossad sebagai pemain utama punya motto terkenal: "By way of deception, thou shalt do war". Artinya, lewat tipu muslihat, kamu harus melakukan perang. Slogan diambil dari sebuah ayat biblical Proverb 24:6.

Kerusuhan di Iran kemarin murni operasi Mossad, yang menunggangi demonstrasi pedagang. Lewat operasi desepsi, Mossad memberikan instruksi kepada operator-operator bayaran di lapangan. Mossad berusaha menipu warga Iran. Tapi berhasil digagalkan. Tidak berhenti disitu, Iran kembali dituduh membunuh demonstran secara massal. Sebuah berita yang dibuat-buat.

Sebenarnya; isu Syiah sesat, Syiah kafir, atau Syiah musuh Islam juga skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad. Sudah 40 tahun lebih narasi ini diputar. Setiap mau berkonflik dengan Iran dan proksinya (seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, atau Bashar Assad di Suriah), isu ini kembali mencuat. Tujuannya untuk melemahkan Iran. Agar terisolasi dari dunia Islam. Selain juga diputuskan dari dunia lain lewat berbagai embargo. Iran cukup menderita sebenarnya. Tapi hebatnya, bisa bertahan. Dalam banyak hal justru semakin berkembang.

Disaat Iran sekarang berperang secara terbuka dengan Israel dan Amerika, isu-isu semacam ini juga kembali disebar. "Ngapain dukung Syiah, mereka bukan Islam". "Biarkan Iran dan Israel berperang, keduanya kafir". "Iran dan Israel adalah bestie". "Iran membunuh lebih banyak umat Islam ketimbang Israel". Propaganda ini bertujuan melemahkan dukungan dunia Islam terhadap Iran. Di Indonesia sejumlah "agen" (ustad) rajin mengkampanyekan narasi ini.

Iran pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Kacaunya lagi, Iran menjadi suplier minyak utama untuk Cina, rivalnya Amerika. Maka, menguasai Iran mirip-mirip dengan menguasai minyak dunia. Sekaligus memotong mata rantai pasok terhadap Cina.

Iran juga mengontrol Selat Hormus. Sebesar 20% minyak dunia keluar dari celah ini. Mengontrol Selat Hormus, berarti mengontrol energi dunia. Iran punya power untuk mengendalikan dunia. Kalau selat ini ditutup, dunia kolaps. Harga minyak dunia melonjak seketika. Bisa terjadi kerusuhan dimana-mana, karena harga logistik dan biaya produksi meroket. Elit global, jaringan zionisme Rothschild, tidak senang dengan kenyataan ini.

Kepemimpinan Ayatullah harus ditumbangkan. Alasan harus dicari. Alasan yang tepat adalah sesuatu yang bisa membuat dunia takut dengan Iran: Nuklir!

"Iran sedang memproduksi bom nuklir yang bisa menjangkau Eropa dan Amerika". Pidato ini terus diulang. Iran berulang kali membantah. Mereka tidak berniat memiliki senjata semacam itu. Iran memang terus melakukan pengayaan uranium. Tapi untuk tujuan damai, untuk kebutuhan industri nasional. Netanyahu sebagai gembalaan Rothschild semakin tidak senang dengan kemajuan dan pencapaian Iran.

Masih ingat, sebelum Perang Irak (2003-2011), Netanyahu memperingatkan dunia bahwa Saddam Husein punya senjata pemusnah massal. Dia bersumpah di depan Kongres Amerika. Dia berorasi. Dia memberi pesan urgen untuk segera menginvasi Irak.

Alhasil. Tidak ada senjata pemusnah massal yang ditemukan. Irak hancur. Jutaan mati. Tentara Amerika tewas untuk Israel. Tentara Amerika mati untuk elit zionis Rothschild.

Sebenarnya, penyerangan terhadap Irak juga memiliki motif yang sama. Irak termasuk negara yang berada di luar orbit sistem keuangan yang dikontrol Rothschild. Pada tahun 2000, tersisa 9 negara yang tidak satu kerangka dengan perbankan central Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Syiria, Libya, Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara.

Anda bisa lihat, sebagian negara yang menolak ikut sistem bank sentral Rothschild adalah negara-negara Islam. Termasuk Afghanistan dan Irak. Ini harus diselesaikan. Maka diciptakan imej global yang menakutkan, bahwa Islam adalah teroris.

Rekayasa ini dimulai dengan peristiwa WTC 9/11 tahun 2001, yang menewaskan hampir 3000 orang. Anehnya tidak ada Yahudi yang mati. Yang kaya dari peristiwa itu juga para Yahudi yang telah mengasuransikan bangunan tersebut tidak jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Polanya sama. Mereka tetap menjadi yang kaya pada setiap musibah orang. Belakang diungkap, peristiwa itu juga bagian dari rencana elit global untuk menjadikan Islam sebagai "kambing hitam".

Islam menjadi tertuduh. Pada tahun yang sama, penyerangan ke Afghanistan dimulai. Sebenarnya bukan tentang Osama Bin Laden. Melainkan pengamanan jalur minyak. Lalu konflik berlanjut ke negara lain. Dua tahun setelah itu, pada 2003, mereka menyerang Irak. Libya, Suriah, dan Sudan menyusul kemudian. Terakhir Iran.

Paska 9/11, seperti disampaikan Jenderal Wesley Clark -mantan komandan NATO di Eropa, politisi Amerika sudah mendapat perintah dari elit global agar dalam 5 tahun segera menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan terakhir Iran (Al-Jazeera, 2003). Namun tidak semua bisa diselesaikan dalam jangka tersebut.

Bahkan untuk kasus Suriah -yang negara itu sempat diback-up Iran, harus terlebih dahulu diciptakan mesin pembunuh ISIS untuk proses pelumpuhan. Isinya juga Mossad, yang dipadukan dengan para jihadis yang tidak mengerti peta perang. Salah satu tokoh ISIS, Abu Muhammad Jolani Al-Shara, kini sudah menjadi presiden Suriah. Seperti raja-raja Arab lain, Jolani sedang memainkan fungsi secara baik sebagai presiden yang "manis" dan "islami", yang tentunya patuh pada agenda Trump dan Israel. Patuh pada agenda jaringan dinasti elit global.

Itulah mengapa ada adagium: "Semua perang adalah perangnya para bankir". Bukan karena bankir ikut menjatuhkan bom. Tapi merekalah yang membiayai perang. Mereka juga yang membangun ekonomi paska perang. Dalam hal ini, bankir zionis paling banyak meraup keuntungan.

Konon lagi, Iran merupakan negara Islam paling maju. Paling cerdas. Paling relijius. Paling kuat identitas kesejarahannya. Paling canggih perkembangan sains dan teknologinya. Ini menjadi tantangan besar bagi kelompok para penyembah Baal.

Karena itu tidak heran, sejak awal Ayatullah Khumeini sudah menyebut kelompok zionis ini, Amerika dan Inggris, sebagai "setan". Baru sekarang dunia paham, lewat bocornya file Epstein. Istana Inggris ternyata penyembah setan. Politisi Amerika dan barat lainnya juga begitu. Dunia ini bukan cuma tempat perang uang. Tapi juga perang spiritual, hitam vs. putih.

Apa targer Elit Global. Anda mungkin bertanya, kenapa elit global ini sedemikian bernafsu untuk mengurusi negara orang?

Jawabannya, karena ini tentang visi jangka panjang. Tepatnya visi "one world order". Tujuannya untuk membentuk dunia menjadi satu negara tunggal (one world shadow state). Disamping juga untuk pengontrolan rute perdagangan. Selain juga untuk "financial leverage" dibawah satu akun kekuasaan. Terakhir, untuk perwujudan proyek Israel Raya bagi satu bangsa "pilihan setan". Visi besar tanpa ujung inilah yang membuat mereka terus bersemangat melakukan hal-hal tak terbayangkan. Mulai dari kudeta, perampokan tanah dan sumberdaya, kolonialisasi, sampai kepada genosida.

Kemerdekaan yang ditawarkan bukanlah kemandirian ekonomi, bukan pula kedaulatan. Juga bukan kebijakan luar negeri yang netral. Kemerdekaan yang ditawarkan selalu berbentuk utang, privatisasi, basis militer dan perang yang berkelanjutan. Yang sedang ditawarkan ke warga Iran bukan kebebasan. Melainkan seperti yang sudah diberikan kepada negara-negara yang telah hancur total: perbudakan!

Untungnya, warga Iran tidak sebodoh kita. Mereka lebih solid. Mereka sudah diberitahu sejak awal. Bahwa ini adalah perang melawan setan, melawan sebuah visi licik yang sedang membidik dunia dalam satu gerombolan kekuasaan. Karena itu, resistensinya kuat. Boleh jadi, Iran walaupun berdarah-darah akan muncul sebagai pemenang. Sebab, sejak dimulai pada 28 Februari 2026, rudal-rudal Iran mampu membuat pangkalan setan-setan ini terbakar. Imam Khamenei memang telah pergi sejak hari paling awal. Tapi ujung dari perang, para penerusnya yang menentukan.

Memerangi Visi "Dajjal"

Dari pembahasan di atas, kita sedikit tidaknya sudah memahami konsepsi "Dajjal".

"Dajjal" adalah makhluk 'bermata satu', yang selama ini bersembunyi di belakang layar. Melalui "bala tentaranya" (zionis dan Amerika), mereka menginginkan seluruh dunia dalam satu kontrol kekuasaan. Dajjal bukan cuma anti Islam. Tapi juga "anti-christ", yang akan meludah ke setiap Nasrani yang ia jumpai.

"Dajjal" adalah kekuatan 'sakti', sistem para bankir dan politisi penyembah setan yang terstruktur dan rapi. Sebuah elite system yang bersanad kepada figur-figur dalam Rothschild dinasty, yang selama ini tersembunyi. Tapi belakangan mulai muncul ke permukaan.

Mereka punya visi "mata satu", yang simbolnya itu ada dimana-mana. Termasuk di uang dollar. Disitu mereka tulis, "in god we trust". God-nya bukan hanya Yahweh. Tapi juga setan. Kerakusan. "Mata satu" adalah visi untuk membetuk "satu aturan dunia baru". One world order. Visinya besar, panjang, dan menggairahkan. Itulah motif yang membuat mereka bertahan untuk hidup. Kekayaannya tidak terhitung. Tapi tidak pernah cukup.

Jadi, Iran itu sedang berhadapan dengan "bala tentara" Dajjal (zionis, Amerika, dan sekutunya). Indonesia katanya juga sudah mendaftarkan diri untuk menjadi pengikut Dajjal. Dan konon kabarnya, lembaga ulama ikut merestuinya.

Kan sudah diberitahu Nabi sejak dulu, tidak ada yang selamat dari tipu daya atau skenario Dajjal. Kecuali orang yang punya kedaulatan. Beriman. Berani dan cerdas.

 

Makassar, 05 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar