Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diinisiasi AS berisiko melemahkan reputasi diplomatik, bertentangan dengan prinsip politik bebas-aktif, serta menimbulkan kerugian finansial akibat beban iuran tinggi (sekitar Rp17 triliun). Hal ini juga berpotensi mengasingkan dukungan internasional untuk Palestina dan dianggap sebagai blunder kebijakan luar negeri.
Efek Domino Jika Prabowo Mengakui Negara Israel
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Efek domino adalah fenomena reaksi berantai di mana
satu peristiwa awal memicu serangkaian kejadian serupa atau terkait secara
berurutan, seringkali dengan dampak yang semakin besar. Dengan kata lain reaksi
berantai di mana satu kejadian kecil memicu dampak yang lebih luas. Ini terjadi
di berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, perilaku, hingga kecelakaan
teknis.
Secara geopolitik terdapat efek domino jika Presiden
Prabowo mengakui Israel sebagai negara, tetapi Israel tidak mengakui adanya
Negara Palestina. Hal ini berkaitan dengan bergabungnya Presiden Prabowo
Subianto ke dalam Board of Peace (BoP), sebuah forum internasional yang
berfokus pada perdamaian dan kemanusiaan, khususnya di Gaza, Palestina.
Sementara publik menyorot sikap DPR RI, yang tidak
berkutik terkait legalitas kebijakan Presiden Prabowo dalam perjanjian antar
bangsa (ratifikasi DPR). Dimana kebijakan tersebut dianggap menyimpang dari
Landasan idiil negara yaitu Pancasila, yang berfungsi sebagai ideologi dasar
dan pondasi negara dan landasan konstitusional UUD 1945, khususnya Pembukaan
alinea I dan IV, yang merupakan hukum tertinggi yang mengatur ketatanegaraan
Indonesia. Demikian juga bertentangan dengan landasan politik luar negeri RI
yaitu "Politik Bebas Aktif."
Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang
diinisiasi AS berisiko melemahkan reputasi diplomatik, bertentangan dengan
prinsip politik bebas-aktif, serta menimbulkan kerugian finansial akibat beban
iuran tinggi (sekitar Rp17 triliun). Hal ini juga berpotensi mengasingkan
dukungan internasional untuk Palestina dan dianggap sebagai blunder kebijakan
luar negeri.
Hal ini sangat terkait dengan pendudukan Israel atas
tanah Palestina. Israel dianggap melanggar hukum internasional terutama karena
pendudukan berkepanjangan atas wilayah Palestina (Tepi Barat, Gaza, Yerusalem
Timur) sejak 1967, pembangunan permukiman ilegal, aneksasi de facto, dan
tindakan militer yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional, termasuk
menargetkan warga sipil dan blokade yang dianggap hukuman kolektif.
Keterlibatan ini dinilai sebagai "blunder"
yang dapat melemahkan posisi Indonesia di mata pendukung Palestina.
bahwa BOP di Davos bukanlah BOP yang dimandatkan dalam
Resolusi DK PBB Nomor 2803. Tetapi BOP yang dirancang, dibangun dan didominasi
oleh Donald Trump sebagai ketua BOP. BOP di Davos tidak memiliki peta jalan
(Road map) tentang kemerdekaan Palestina sehingga harusnya dievaluasi ulang.
Bahwa penandatanganan perjanjian dagang
Indonesia-Amerika Serikat dan keterlibatan dalam piagam BOP membuat Indonesia
masuk ke dalam jurang imperialisme. Oleh karena itu, langkah pemerintah ini
patut dievaluasi dan dikoreksi oleh rakyat dan bangsa Indonesia.
Efek domino paling kongkrit yang mungkin bisa muncul,
adalah:
Pertama;
menurunnya kepercayaan publik dan elektabilitas prabowo dimata rakyat Indonesia
yang mayoritas muslim, apalagi jika dikaitkan dengan peluang menang jika maju
sebagai kandidat Capres Periode Kedua pada 2029 nanti.
Kedua;
munculnya kecaman internasional khususnya negara-negara muslim, yang selama ini
mengandalkan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, untuk
menyelesaikan sengketa pendudukan dan pencaplokan tanah Palestina oleh Israel.
Ketiga;
dengan bergabungnya kedalam Board of Peace (BoP) dikhawatirkan Indonesia
terperangkap dalam hegemoni Amerika-Israel sebagai kekuatan blok barat, dan
dipaksa untuk mengakui kedaulatan Israel dengan membuka hubungan diplomatik.
Sementara Indonesia adalah salah satu pencetus gerakan Non Blok (GNB). Gerakan
ini dicetuskan pada KTT I di Beograd, Yugoslavia pada 1–6 September 1961. Lima
pemimpin dunia yang menjadi pendiri (inisiasi) GNB adalah Soekarno (Indonesia),
Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Josip Broz Tito
(Yugoslavia), dan Kwame Nkrumah (Ghana).
Ke-empat;
tidak menutup kemungkinan Indonesia
terperangkap propaganda menjadi Sekutu kuat Amerika, untuk membentengi Prabowo
dari kudeta oligarki dan eksodus dari Cina Komunis (RRT). Namun bertujuan agar
Indonesia bisa bersekutu Amerika bersama negara-negara Arab, untuk memerangi
Iran yang berpaham Syi'ah. Dengan alasan Syi'ah bukan Islam sehingga harus
dijadikan musuh bersama.
Mampukah Iran Memerangi Visi Dajjal?
Dajjal tidak disebutkan secara eksplisit namanya di
dalam Al-Qur'an, namun isyarat mengenai kemunculannya, fitnah (ujian) yang
dibawanya, dan tanda-tanda akhir zaman yang berkaitan dengannya terdapat dalam
beberapa ayat, yang kemudian dijelaskan secara rinci dalam Hadis-hadis Nabi
SAW.
Mengenai visi, tujuan, dan karakteristik Dajjal
berdasarkan interpretasi ayat Al-Qur'an dan Hadis, adalah menghancurkan Iman
dan moral (Fitnah Terbesar). Sedangkan visi utama Dajjal adalah menguji
keimanan umat manusia, membalikkan kebenaran, dan menciptakan fitnah terbesar
di akhir zaman. Dajjal akan menyebarkan kezaliman, merusak moral, dan menghapus
keadilan.
Perubahan globalisasi secara drastis (rapid/extreme
globalization) adalah proses integrasi internasional yang terjadi dengan
kecepatan sangat tinggi dan skala masif, di mana batasan geografis, budaya, dan
ekonomi antarnegara hilang secara cepat akibat kemajuan teknologi. Perubahan
ini menyebabkan transformasi struktural yang ekstrem pada berbagai aspek
kehidupan dalam waktu singkat. Kondisi ini juga digambarkan dalam analisis
komprehensif yang berjudul "Iran Batu Sandungan Berat Bagi Dinasti
Rothschild,"
yang ditulis Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The
Suficademic. Untuk lebih jelasnya, penulis mengutip secara ringkas tulisan Said
Muniruddin, dibawah ini:
DINASTI Rothschild dipercaya selalu ada dibalik
peristiwa besar. Dinasti Rothschild menginginkan dunia selalu dalam keadaan
perang. Mereka ada dibelakang sejumlah negara yang memang diciptakan untuk
berperang. Perhatikan, betapa banyak keonaran yang diinisiasi oleh
"cowboy" Amerika binaan mereka dalam beberapa waktu silam.
Rothschild butuh perang sebagai urat nadi kehidupan.
Mereka menghasilkan triliun dolar dari perang. Mereka membiayai penghancuran.
Sekaligus mendanai kembali pembangunan. Gaza mereka yang danai untuk
dihancurkan. Mereka juga yang kemudian lewat proposal Trump ingin dibangun
ulang untuk menjadi resort wisata yang menghasilkan uang. Bukan untuk warga
Gaza. Tapi untuk pundi-pundi mereka. Warga Gaza akan direlokasi entah ke negara
mana.
Mereka mengontrol Amerika lewat lembaga lobi seperti
AIPAC untuk meneguhkan agenda "Israel First". Semua politisi Amerika
dibiayai untuk menjaga eksistensi negara proksi mereka di wilayah Timteng yang
kaya sumberdaya. Karena itulah pemimpin revolusi Iran, Imam Khumeini, menyebut
Israel sebagai "kanker" di tengah dunia Arab.
Rothschild adalah pencetus sistem perbankan Yahudi.
Mayer Amschel Rothschild, sang perintis, sejak tahun 1800an sudah mengirim lima
anaknya ke seluruh Eropa. Didirikan di Frankfurt, Jerman oleh Amschel sendiri.
Lalu anak-anaknya membuka bank di London (Nathan), Paris (Jacob), Wina
(Salomon), dan Napoli (Karl).
Ekspansi meluas ke seluruh dunia, membiayai dan
bekerjasama dengan bank lainnya, sampai membentuk sistem perbankan yang terintegrasi.
Bank mereka aktif membiayai atau mensponsori perang. Juga pembangunan paska
perang. Hari ini, hampir seluruh perbankan dunia terkoneksi dengan sistem
operasi keuangan mereka.
Celakanya, Iran adalah salah satu dari beberapa negara
yang tersisa yang tidak tunduk pada dominasi bank sentral Rothschild. Iran
adalah salah satu negara yang tidak memiliki ketergantungan dengan IMF, salah
satu lembaga intermediasi utang dinasti ini. Lebih kacau lagi, Iran merupakan
batu besar di tengah jalan yang menghalangi proyek koloni "Israel
Raya". Iran bahkan satu-satunya negara yang bersumpah akan membebaskan
Palestina, dan mengusir zionis dari Tanah Suci.
Karena itu, Iran harus ditumbangkan. Harus ada rezim
baru yang bekerja di bawah kendali mereka. Dalam hal ini "pangeran
badut" Reza Pahlavi yang hidup dalam pengasingan sangat berharap untuk
bisa naik tahta. Ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, raja terakhir Dinasti Pahlavi,
tumbang dalam revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini tahun 1979.
Dinasti terakhir ini sangat pro Barat. Sejalan dengan agenda Rothschild.
Upaya menggulingkan Imam Ali Khamenei -yang menjadi
pelanjut cita-cita Ayatullah Khomeini (1902-1989), kembali dilakukan. Seperti
biasa. Alat kerja Rothschild dalam menciptakan rusuh dan perang adalah Israel
dan Amerika, lewat Mossad dan CIA-nya. Mossad sebagai pemain utama punya motto
terkenal: "By way of deception, thou shalt do war". Artinya, lewat
tipu muslihat, kamu harus melakukan perang. Slogan diambil dari sebuah ayat
biblical Proverb 24:6.
Kerusuhan di Iran kemarin murni operasi Mossad, yang
menunggangi demonstrasi pedagang. Lewat operasi desepsi, Mossad memberikan
instruksi kepada operator-operator bayaran di lapangan. Mossad berusaha menipu
warga Iran. Tapi berhasil digagalkan. Tidak berhenti disitu, Iran kembali
dituduh membunuh demonstran secara massal. Sebuah berita yang dibuat-buat.
Sebenarnya; isu Syiah sesat, Syiah kafir, atau Syiah
musuh Islam juga skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad. Sudah 40 tahun
lebih narasi ini diputar. Setiap mau berkonflik dengan Iran dan proksinya
(seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, atau Bashar Assad di Suriah),
isu ini kembali mencuat. Tujuannya untuk melemahkan Iran. Agar terisolasi dari
dunia Islam. Selain juga diputuskan dari dunia lain lewat berbagai embargo.
Iran cukup menderita sebenarnya. Tapi hebatnya, bisa bertahan. Dalam banyak hal
justru semakin berkembang.
Disaat Iran sekarang berperang secara terbuka dengan
Israel dan Amerika, isu-isu semacam ini juga kembali disebar. "Ngapain
dukung Syiah, mereka bukan Islam". "Biarkan Iran dan Israel
berperang, keduanya kafir". "Iran dan Israel adalah bestie".
"Iran membunuh lebih banyak umat Islam ketimbang Israel". Propaganda
ini bertujuan melemahkan dukungan dunia Islam terhadap Iran. Di Indonesia
sejumlah "agen" (ustad) rajin mengkampanyekan narasi ini.
Iran pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia.
Kacaunya lagi, Iran menjadi suplier minyak utama untuk Cina, rivalnya Amerika.
Maka, menguasai Iran mirip-mirip dengan menguasai minyak dunia. Sekaligus
memotong mata rantai pasok terhadap Cina.
Iran juga mengontrol Selat Hormus. Sebesar 20% minyak
dunia keluar dari celah ini. Mengontrol Selat Hormus, berarti mengontrol energi
dunia. Iran punya power untuk mengendalikan dunia. Kalau selat ini ditutup,
dunia kolaps. Harga minyak dunia melonjak seketika. Bisa terjadi kerusuhan
dimana-mana, karena harga logistik dan biaya produksi meroket. Elit global,
jaringan zionisme Rothschild, tidak senang dengan kenyataan ini.
Kepemimpinan Ayatullah harus ditumbangkan. Alasan
harus dicari. Alasan yang tepat adalah sesuatu yang bisa membuat dunia takut
dengan Iran: Nuklir!
"Iran sedang memproduksi bom nuklir yang bisa
menjangkau Eropa dan Amerika". Pidato ini terus diulang. Iran berulang
kali membantah. Mereka tidak berniat memiliki senjata semacam itu. Iran memang
terus melakukan pengayaan uranium. Tapi untuk tujuan damai, untuk kebutuhan
industri nasional. Netanyahu sebagai gembalaan Rothschild semakin tidak senang
dengan kemajuan dan pencapaian Iran.
Masih ingat, sebelum Perang Irak (2003-2011),
Netanyahu memperingatkan dunia bahwa Saddam Husein punya senjata pemusnah
massal. Dia bersumpah di depan Kongres Amerika. Dia berorasi. Dia memberi pesan
urgen untuk segera menginvasi Irak.
Alhasil. Tidak ada senjata pemusnah massal yang
ditemukan. Irak hancur. Jutaan mati. Tentara Amerika tewas untuk Israel.
Tentara Amerika mati untuk elit zionis Rothschild.
Sebenarnya, penyerangan terhadap Irak juga memiliki
motif yang sama. Irak termasuk negara yang berada di luar orbit sistem keuangan
yang dikontrol Rothschild. Pada tahun 2000, tersisa 9 negara yang tidak satu
kerangka dengan perbankan central Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Syiria, Libya,
Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara.
Anda bisa lihat, sebagian negara yang menolak ikut
sistem bank sentral Rothschild adalah negara-negara Islam. Termasuk Afghanistan
dan Irak. Ini harus diselesaikan. Maka diciptakan imej global yang menakutkan,
bahwa Islam adalah teroris.
Rekayasa ini dimulai dengan peristiwa WTC 9/11 tahun
2001, yang menewaskan hampir 3000 orang. Anehnya tidak ada Yahudi yang mati.
Yang kaya dari peristiwa itu juga para Yahudi yang telah mengasuransikan
bangunan tersebut tidak jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Polanya sama.
Mereka tetap menjadi yang kaya pada setiap musibah orang. Belakang diungkap,
peristiwa itu juga bagian dari rencana elit global untuk menjadikan Islam
sebagai "kambing hitam".
Islam menjadi tertuduh. Pada tahun yang sama,
penyerangan ke Afghanistan dimulai. Sebenarnya bukan tentang Osama Bin Laden.
Melainkan pengamanan jalur minyak. Lalu konflik berlanjut ke negara lain. Dua
tahun setelah itu, pada 2003, mereka menyerang Irak. Libya, Suriah, dan Sudan
menyusul kemudian. Terakhir Iran.
Paska 9/11, seperti disampaikan Jenderal Wesley Clark
-mantan komandan NATO di Eropa, politisi Amerika sudah mendapat perintah dari
elit global agar dalam 5 tahun segera menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah,
Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan terakhir Iran (Al-Jazeera, 2003). Namun
tidak semua bisa diselesaikan dalam jangka tersebut.
Bahkan untuk kasus Suriah -yang negara itu sempat
diback-up Iran, harus terlebih dahulu diciptakan mesin pembunuh ISIS untuk
proses pelumpuhan. Isinya juga Mossad, yang dipadukan dengan para jihadis yang
tidak mengerti peta perang. Salah satu tokoh ISIS, Abu Muhammad Jolani
Al-Shara, kini sudah menjadi presiden Suriah. Seperti raja-raja Arab lain,
Jolani sedang memainkan fungsi secara baik sebagai presiden yang
"manis" dan "islami", yang tentunya patuh pada agenda Trump
dan Israel. Patuh pada agenda jaringan dinasti elit global.
Itulah mengapa ada adagium: "Semua perang adalah
perangnya para bankir". Bukan karena bankir ikut menjatuhkan bom. Tapi
merekalah yang membiayai perang. Mereka juga yang membangun ekonomi paska
perang. Dalam hal ini, bankir zionis paling banyak meraup keuntungan.
Konon lagi, Iran merupakan negara Islam paling maju.
Paling cerdas. Paling relijius. Paling kuat identitas kesejarahannya. Paling
canggih perkembangan sains dan teknologinya. Ini menjadi tantangan besar bagi
kelompok para penyembah Baal.
Karena itu tidak heran, sejak awal Ayatullah Khumeini
sudah menyebut kelompok zionis ini, Amerika dan Inggris, sebagai
"setan". Baru sekarang dunia paham, lewat bocornya file Epstein.
Istana Inggris ternyata penyembah setan. Politisi Amerika dan barat lainnya
juga begitu. Dunia ini bukan cuma tempat perang uang. Tapi juga perang
spiritual, hitam vs. putih.
Apa targer Elit Global. Anda mungkin bertanya, kenapa
elit global ini sedemikian bernafsu untuk mengurusi negara orang?
Jawabannya, karena ini tentang visi jangka panjang.
Tepatnya visi "one world order". Tujuannya untuk membentuk dunia
menjadi satu negara tunggal (one world shadow state). Disamping juga untuk
pengontrolan rute perdagangan. Selain juga untuk "financial leverage"
dibawah satu akun kekuasaan. Terakhir, untuk perwujudan proyek Israel Raya bagi
satu bangsa "pilihan setan". Visi besar tanpa ujung inilah yang
membuat mereka terus bersemangat melakukan hal-hal tak terbayangkan. Mulai dari
kudeta, perampokan tanah dan sumberdaya, kolonialisasi, sampai kepada genosida.
Kemerdekaan yang ditawarkan bukanlah kemandirian
ekonomi, bukan pula kedaulatan. Juga bukan kebijakan luar negeri yang netral.
Kemerdekaan yang ditawarkan selalu berbentuk utang, privatisasi, basis militer
dan perang yang berkelanjutan. Yang sedang ditawarkan ke warga Iran bukan
kebebasan. Melainkan seperti yang sudah diberikan kepada negara-negara yang telah
hancur total: perbudakan!
Untungnya, warga Iran tidak sebodoh kita. Mereka lebih
solid. Mereka sudah diberitahu sejak awal. Bahwa ini adalah perang melawan
setan, melawan sebuah visi licik yang sedang membidik dunia dalam satu
gerombolan kekuasaan. Karena itu, resistensinya kuat. Boleh jadi, Iran walaupun
berdarah-darah akan muncul sebagai pemenang. Sebab, sejak dimulai pada 28
Februari 2026, rudal-rudal Iran mampu membuat pangkalan setan-setan ini
terbakar. Imam Khamenei memang telah pergi sejak hari paling awal. Tapi ujung
dari perang, para penerusnya yang menentukan.
Memerangi
Visi "Dajjal"
Dari pembahasan di atas, kita sedikit tidaknya sudah
memahami konsepsi "Dajjal".
"Dajjal" adalah makhluk 'bermata satu', yang
selama ini bersembunyi di belakang layar. Melalui "bala tentaranya"
(zionis dan Amerika), mereka menginginkan seluruh dunia dalam satu kontrol
kekuasaan. Dajjal bukan cuma anti Islam. Tapi juga "anti-christ",
yang akan meludah ke setiap Nasrani yang ia jumpai.
"Dajjal" adalah kekuatan 'sakti', sistem
para bankir dan politisi penyembah setan yang terstruktur dan rapi. Sebuah
elite system yang bersanad kepada figur-figur dalam Rothschild dinasty, yang
selama ini tersembunyi. Tapi belakangan mulai muncul ke permukaan.
Mereka punya visi "mata satu", yang
simbolnya itu ada dimana-mana. Termasuk di uang dollar. Disitu mereka tulis,
"in god we trust". God-nya bukan hanya Yahweh. Tapi juga setan.
Kerakusan. "Mata satu" adalah visi untuk membetuk "satu aturan
dunia baru". One world order. Visinya besar, panjang, dan menggairahkan.
Itulah motif yang membuat mereka bertahan untuk hidup. Kekayaannya tidak terhitung.
Tapi tidak pernah cukup.
Jadi, Iran itu sedang berhadapan dengan "bala
tentara" Dajjal (zionis, Amerika, dan sekutunya). Indonesia katanya juga
sudah mendaftarkan diri untuk menjadi pengikut Dajjal. Dan konon kabarnya,
lembaga ulama ikut merestuinya.
Kan sudah diberitahu Nabi sejak dulu, tidak ada yang
selamat dari tipu daya atau skenario Dajjal. Kecuali orang yang punya
kedaulatan. Beriman. Berani dan cerdas.
Makassar, 05 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar