Barat, khususnya Amerika Serikat, sering mengaitkan Syiah (terutama aliran Twelver/Itsna Asyariyah) dengan Revolusi Islam Iran 1979. Pandangan ini memandang Syiah sebagai ideologi yang militan dan anti-Barat, yang mengancam kepentingan Barat di kawasan tersebut.
-----
Rabu, 04 Maret 2026
Syiah Kekuatan Revolusioner Anti Tatanan Barat
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Pandangan Barat terhadap Syiah umumnya bersifat
kompleks, politis, dan sering kali dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan Iran
serta dinamika geopolitik di Timur Tengah. Secara garis besar, Syiah dipandang
bukan sekadar mazhab teologis, tetapi sebagai kekuatan politik-keagamaan yang
memiliki resistensi terhadap hegemoni Barat.
Barat, khususnya Amerika Serikat, sering mengaitkan
Syiah (terutama aliran Twelver/Itsna Asyariyah) dengan Revolusi Islam Iran
1979. Pandangan ini memandang Syiah sebagai ideologi yang militan dan
anti-Barat, yang mengancam kepentingan Barat di kawasan tersebut.
Ancaman Geopolitik dan "Aksis Resistensi":
Syiah dipandang sebagai aktor utama dalam "Aksis Resistensi" (Iran,
Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman) yang menentang pengaruh Barat dan
sekutu-sekutunya, seperti Israel. Hal ini sering menimbulkan ketegangan politik
yang mendalam.
Dalam literatur Barat, struktur keagamaan Syiah yang
ketat sering dianggap lebih terpusat dibandingkan Sunni, dan dalam beberapa
analisis politik tertentu, sering dilabeli sebagai bentuk
"fundamentalisme" yang setara—atau bahkan lebih dipahami—dalam
menimbulkan ancaman. Barat cenderung melihat perpecahan Sunni-Syiah sebagai
konflik sektarian dasar. Namun, ada analisis yang menyebutkan bahwa narasi ini sering
digunakan oleh Barat sebagai strategi untuk memecah belah dan menguasai kawasan
(divide and rule) demi kepentingan ekonomi dan militer.
Sejak Revolusi Iran dan pasca-invasi Irak (2003),
studi Barat terhadap Syiah bergeser dari pandangan yang menempatkan Syiah hanya
melalui lensa Sunni (minoritas), menjadi fokus pada kekuatan politik dan
teologi independen mereka.
Secara ringkas, pandangan Barat terhadap Syiah
tidaklah monolitik, tetapi sangat diwarnai oleh persepsi bahwa Syiah (terutama
yang berafiliasi dengan Iran) adalah kekuatan revolusioner yang tidak patuh
pada tatanan Barat.
Oleh sebab itu, Barat melancarkan propaganda untuk
membentuk persepsi, kalau Syi'ah adalah ancaman bagi kelompok Sunni khususnya
Wahabi. Propaganda Barat sering dianggap "dahsyat" karena
kemampuannya memengaruhi opini publik global secara halus maupun
terang-terangan melalui dominasi media massa, narasi ideologis, dan teknologi.
Propaganda ini bertujuan membentuk persepsi, melegitimasi kebijakan luar
negeri, serta membangun citra diri sebagai pembawa nilai-nilai kebebasan,
demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM).
Propaganda Barat sering digambarkan sebagai kekuatan
narasi yang sistematis, masif, dan terstruktur, yang menggunakan media massa
global, teknologi digital, serta lembaga kebudayaan untuk memengaruhi opini
publik internasional agar sejalan dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi
negara-negara Barat. Propaganda ini bekerja bukan sekadar menyebarkan
kebohongan, tetapi membentuk persepsi tentang apa yang dianggap "benar",
"demokratis", atau "teroris".
Penulis menemukan tulisan analisis teologis yang
bersifat renungan dibawah ini, entah siapa penulisnya karena tanpa identitas
dan kapan ditulis narasi tersebut. Surat berisi narasi yang menggambarkan wujud
perpecahan Sunni-Syiah, surat terbuka yang ditujukan kepada saudaranya penganut
islam Sunni:
Kepada saudara-saudara saya yang Sunni coba renungkan
ayat ini perlahan, baca berulang-ulang jika perlu:
“Sungguh engkau akan mendapati manusia yang paling
keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan
orang-orang musyrik. Dan sungguh engkau akan mendapati yang paling dekat rasa
kasih sayangnya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata,
‘Sesungguhnya kami ini Nasrani.’ Yang demikian itu karena di antara mereka ada
pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri.”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 82).
Saya akan mengajukan pertanyaan untuk menguji realitas
hari ini berdasarkan ayat di atas. Kita bandingkan antara Syiah dan Wahabi.
Jadi yang Sunni, renungkan saja dulu.
Siapa hari ini yang secara struktural berhadapan
langsung dengan proyek politik dan militer orang-orang Yahudi? Siapa yang
secara terbuka menyebut Israel sebagai rezim ilegal dan menolak pengakuan
atasnya? Siapa yang dikenai sanksi, embargo, tekanan, sabotase, bahkan
pembunuhan ilmuwan dan pejabat militernya?
Apakah kelompok Wahabi secara negara dan institusi
berada dalam konflik langsung dengan Israel? Ataukah justru sebagian negara
yang berafiliasi dengan ideologi Wahabi telah melakukan normalisasi diplomatik?
Apakah Syiah dalam konteks negara seperti Iran dan
kelompok perlawanan yang dekat dengannya sedang berada dalam konfrontasi
terbuka dengan Israel dan sekutunya? Atau tidak?
Kalau ayat itu berbicara tentang “yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-orang beriman”, maka indikatornya bisa dibaca dari
siapa yang menjadi target permusuhan paling intens.
Iran disanksi puluhan tahun, pemimpin tertinggi dan
tokoh militernya dibunuh.Fasilitasnya disabotase, sekutunya di Lebanon, Irak,
Suriah, dan Yaman ditekan secara sistemik.
Apakah tekanan sebesar itu juga dialami negara-negara
yang secara ideologi Wahabi?
Jadi pertanyaannya selanjutnya. Ketika disebut yang
paling keras permusuhannya terhadap orang-orang Beriman adalah orang-orang
Yahudi, maka siapakah orang yang beriman itu? Syiah atau Wahabi? Tapi mengapa
propaganda anti-Syiah yang begitu massif di dunia Islam, sementara pada saat
yang sama hubungan sebagian negara Teluk dengan Israel justru menghangat dan
menerima normalisasi?
Apakah kebencian terhadap Syiah lahir dari konflik
teologis murni? Ataukah ia dipelihara agar fokus umat bergeser dari konflik
Palestina-Israel menjadi konflik Sunni-Syiah?
Karena itu hari ini, yang sedang ditempatkan sebagai
ancaman utama oleh Zionisme global sehingga mendapat permusuhan paling keras
itu siapa? Apakah Iran dan poros yang disebut “poros perlawan*n”? Ataukah
negara-negara yang sudah masuk orbit keamanan Amerika dan Israel?
Apakah kebencian sektarian yang kita warisi hari ini
benar-benar lahir dari Al-Qur’an? Ataukah ia lahir dari geopolitik yang
membungkus dirinya dengan agama? Karena bisa jadi, kita selama ini sibuk
memusuhi sesama Muslim, sementara konflik yang lebih besar justru sedang
berjalan di level yang berbeda. Dan siapa yang sibuk mengalihkan perhatian
ummat itu, syiah atau wahabi?
Sekarang kita lanjutkan pada bagian kedua ayat
tersebut dan ini pertanyaan untuk teman-teman saya dari Kristiani:
Dan sungguh engkau akan mendapati yang paling dekat
rasa kasih sayangnya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang yang
berkata, ‘Sesungguhnya kami ini Nasrani.’ Yang demikian itu karena di antara
mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan karena mereka tidak
menyombongkan diri.”
Ayat ini bukan romantisasi mutlak terhadap semua
Nasrani. Ia berbicara tentang kecenderungan sikap: kelembutan, tidak sombong,
adanya figur religius yang rendah hati.
Sekarang kita ajukan pertanyaan yang sama: secara
geopolitik hari ini, bagaimana relasi komunitas Kristen dengan Syiah dan
Wahabi?
Di Lebanon, misalnya, relasi hzb (yang berbasis Syiah)
dengan sebagian komunitas Kristen dalam konteks politik nasional, ada kerja
sama dan aliansi yang relatif stabil selama bertahun-tahun. Bahkan partai
Kristen besar seperti Free Patriotic Movement berkoalisi dengan hzb.
Pemuka-pemuka kristen lebanon kerap turut hadir dalam acara-acara hzb. kristen
lebanon turut bersedih dengan kematian pemimpin-pemimpin hzb.
Di Suriah, di bawah pemerintah Assad komunitas Kristen Suriah mendapat
perlindungan dari kelompok ekstremis bersenjata yang mengancam eksistensi
minoritas. gereja-gereja suriah, aman dari serangan dan teror semala kekuasaan
assad.
Di Iran, tradisi Kuat kristen tetap dijaga, perayaan
natal dihargai, gereja-gereja diizinkan dibangun megah dan indah dan malam
Natal pemimpin tertinggi Iran secara khusus mendatangi sejumlah kediaman warganya
yang Kristen untuk mengucapkan selamat natal langsung dan menyantap sajian
natal bersama.
Bandingkan dengan sikap kelompok Wahabi ekstrem yang
dalam sejarah modern sering memandang praktik keagamaan Kristen maupun Syiah
sebagai bid’ah atau syirik, dan dalam konteks kelompok jihad radikal,
gereja-gereja dijadikan target serangan. saat jolani berkuasa, yang pertama
dirusak oleh pasukannya adalah gereja suriah dan meneror perayaan natal di
damaskus.
di peta konflik regional, siapa yang secara konsisten
membangun narasi perlindungan terhadap minoritas Kristen di Timur Tengah? Syiah
atau wahabi? Siapa yang mengharamkan ucapan selamat natal dan phobia terhadap
simbol-simbol natal? Syiah atau wahabi?
Konteks di Indonesia, dari kelompok mana yang paling
sering meneror gereja dan peringatan kristiani? Syiah atau Wahabi. Siapa yang
kerap membubarkan kebaktian, Syiah atau wahabi? Siapa yang mengharamkan ucapan
selamat natal, syiah atau wahabi?
Lalu bagaimana di level global?
Negara-negara Barat-yang mayoritas berakar dari
tradisi Kristen-memiliki hubungan yang kompleks dengan Iran: tegang secara
politik, tetapi dalam wacana akademik dan dialog antaragama, relasi
Syiah-Kristen relatif lebih terbuka dibanding relasi ideologi Wahabi yang sangat
eksklusif secara teologis.
Mengapa banyak komunitas Kristen Timur Tengah merasa
lebih aman di bawah pemerintahan sekuler-otoritarian seperti Suriah atau dalam
orbit Iran, dibanding dalam kekuasaan kelompok jihad wahabi ekstrem? siapa yang
membela eksistensi minoritas kristen dari serangan mematikan kelompok jihadis
is-is? syiah atau wahabi? qasim sula*mani yang membasmi is&s yang
menghancurkan gereja-gereja itu syiah atau wahabi?
Mengapa wacana dialog antaragama antara Syiah dan
Vatikan, misalnya, relatif lebih cair dibanding relasi antara arus Wahabi keras
dengan gereja-gereja Timur? pernah anda temukan dialog antar agama yang
diprakarsai pemuka wahabi?
Apakah karena faktor politik? Apakah karena faktor
teologi? Ataukah karena cara pandang terhadap yang lain?
Ayat itu menyebut: “karena mereka tidak menyombongkan
diri.” Kesombongan di sini bisa dibaca sebagai absolutisme, merasa hanya diri
yang benar, dan yang lain sesat.
Karena itu, Kelompok mana yang lebih mudah menerima
keberagaman mazhab dan agama lain dalam praktik sosial-politik modern? Dan
kelompok mana yang cenderung eksklusif dan mudah mengkafirkan? syiah atau
wahabi?
Siapa yang paling mampu hidup berdampingan tanpa
dorongan untuk menghapus yang lain. Syiah atau wahabi?
Kesalahan terbesar sebagian kristen terutama di
Indonesa melihat semua umat Islam itu sama, karena ada Wahabi yang cenderung
intoleran dengan mereka, mereka anggap semua pasti begitu. mereka menganggap
wahabi dan syiah sama saja.
sekali lagi, coba renungkan ini dan jangan bodoh
beragama. Jangan sampai kebencian dan permusuhanmu pada sesuatu bukan karena
agama tapi karena propaganda.
Akankah pecah Perang Dunia ketiga sebagai tanda-tanda
akhir zaman, ataukah barat akan menggiring opini menjadi perang antar
Sunni-Syiah?.
Semoga bisa mencerdaskan umat muslim.
Makassar, 04 Maret 2026
Wahabi antek zionis Yahudi musuh Islam dalam selimut
BalasHapus