Kemenagan yang dirancang Amerika melalui proposal perundingan dengan Iran, gagal mencapai kesepakatan menandakan Amerika gagal meraih kemenangan di meja perundingan. Iran keberatan dengan proposal 15 poin Amerika Serikat.
AS Takut Perang & Gagal Raih Kemenangan Di Meja
Perundingan
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Tahukah anda! Apa tujuan Amerika-Israel melakukan invasi
dengan menyerang Iran?. Kemenagan yang dirancang Amerika melalui proposal
perundingan dengan Iran, gagal mencapai kesepakatan menandakan Amerika gagal
meraih kemenangan di meja perundingan. Iran keberatan dengan proposal 15 poin
Amerika Serikat.
Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran (terutama
dalam konteks Perang 2026) bertujuan utama untuk menghancurkan fasilitas nuklir
Iran, melumpuhkan kemampuan rudal balistik, dan memutus dukungan terhadap
kelompok proksi (Hamas, Hizbullah, Houthi) guna mengamankan kepentingan
regional. Serangan ini juga menargetkan perubahan rezim untuk mengganti
pimpinan tertinggi Iran dengan pemimpin baru yang pro Amerika.
Sungguh sangat ironis jika sesuatu yang tidak dapat
diraih oleh Amerika melalui perang selama 40 hari, ingin dicapai melalui meja
perundingan dengan strategi politik licik.
Strategi politik licik adalah serangkaian taktik tidak
etis dan manipulatif yang digunakan untuk memenangkan kekuasaan atau
mengalahkan lawan dengan menghalalkan segala cara. Ini sering melibatkan
manipulasi data, intrik belakang layar, serangan fajar, atau tindakan amoral
demi mempertahankan kekuasaan, bahkan menabrak konstitusi.
Amerika-Israel mampu membaca kekuatan dan ketangguhan
teknologi persenjataan modern, yang dimiliki oleh Iran walaupun berada dalam
posisi embargo Amerika selama kurang lebih 40 tahun. Untuk itu Amerika
menghindari perang yang berkepanjangan, dan meraih kemenangan melalui meja
perundingan :
- AS berusaha mencapai di meja perundingan apa yang
tidak bisa dicapai melalui perang
-
Orang Amerika menuntut Iran menyerahkan uranium yang diperkaya dan membuka
Selat Hormuz tanpa mengakui kedaulatan Iran atasnya
- Iran telah memutuskan untuk membela kepentingan nasionalnya
dengan cara militer
Berdasarkan situasi geopolitik terbaru per awal 2026,
upaya Amerika Serikat untuk meraih kemenangan cepat dan mutlak atas Iran
dihadapkan pada tantangan yang sangat berat. Meskipun AS memiliki keunggulan
militer konvensional, struktur pertahanan dan strategi Iran menciptakan
skenario konflik yang rumit.
Tantangan berat Amerika Serikat dalam meraih
kemenangan perang melawan Iran, terletak pada "Logika Perang Asimetris dan
Strategi "Porcupine" (Landak), yang dilakukan oleh lawan perang. Iran
tidak menghadapi AS dengan militer konvensional, melainkan menggunakan strategi
pertahanan asimetris, seperti yang disimulasikan dalam Millennium Challenge
2002, di mana taktik Iran mampu melumpuhkan kekuatan besar AS. Iran menggunakan
drone, rudal, dan kapal cepat untuk menyerang pangkalan AS, menjadikannya sulit
ditaklukkan secara cepat.
Iran memiliki kemampuan untuk menutup atau mengganggu
Selat Hormuz, jalur transit minyak vital dunia. Gangguan di selat ini akan
menciptakan krisis ekonomi global, kenaikan harga bahan bakar, dan tantangan
operasional logistik yang masif bagi Angkatan Laut AS. Demikian juga serangan
terhadap Iran berisiko tinggi memicu perang regional yang berkepanjangan dan
melibatkan sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah. Hal ini akan menyedot sumber
daya AS ke dalam konflik jangka panjang yang mahal dan melelahkan.
Iran didukung oleh jaringan kelompok proksi di
berbagai negara (seperti di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon) yang dapat
menyerang kepentingan dan pangkalan AS secara simultan, menyulitkan AS untuk
fokus pada satu medan tempur. Kondisi Internal Iran yang mendukung, dimana
sistem pemerintahan Iran yang ideologis cenderung meningkatkan persatuan
nasional saat menghadapi ancaman eksternal, membuat tujuan "menggulingkan
rezim" menjadi sangat sulit dicapai hanya melalui serangan udara. Perang
melawan Iran diprediksi akan menimbulkan lonjakan inflasi dan guncangan pada
pasar komoditas global, yang dapat berdampak buruk pada posisi politik pemerintahan
AS di dalam negeri.
Secara ringkas, tantangan terbesar bagi AS bukanlah
menghancurkan infrastruktur Iran, melainkan menghindari perang yang
berkepanjangan, mengelola dampak ekonomi global, dan mengatasi perlawanan
asimetris yang dirancang Iran untuk membuat biaya perang terlalu tinggi bagi
Amerika Serikat.
Akhirnya! Kemenagan yang dirancang Amerika melalui
proposal perundingan dengan Iran, gagal mencapai kesepakatan menandakan Amerika
gagal meraih kemenangan di meja perundingan. Iran keberatan dengan proposal 15
poin Amerika Serikat. Proposal AS itu, bertujuan menghentikan konflik, mencakup
gencatan senjata satu bulan, pembongkaran kemampuan nuklir, penghentian rudal
balistik, dan inspeksi ketat IAEA dan diduga berupaya mecapai kemenagan lewat
perundingan. Namun Iran menolak membalas, dengan tuntutan balik terkait
pencabutan sanksi dan penarikan pasukan AS dari kawasan.
Perundingan maraton selama 21 jam antara Amerika
Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan yang dimediasi Pakistan resmi gagal
mencapai kesepakatan. Ketegangan berlanjut karena isu nuklir dan syarat ketat
dari AS, ditolak oleh Iran yang dikonfirmasi oleh Wapres AS JD Vance dan Harian
Disway.
Adapun penyebab Utama Kegagalan Perundingan Amerika-Ian,
meliputi:
1. Lokasi dan Durasi.
Perundingan berlangsung
di Islamabad, Pakistan, dengan durasi yang dilaporkan selama 21 jam menurut AS,
namun Iran menyebutkan 14 jam.
2. Penyebab Kegagalan (Versi AS).
Wapres AS JD Vance
menyatakan Iran menolak syarat untuk menghentikan program senjata nuklir dan
persyaratan utama lainnya, sebagaimana dilansir dalam video YouTube Kompas TV
dan Instagram KompasTV.
3. Penyebab Kegagalan (Versi Iran).
Iran menilai tuntutan AS
tidak masuk akal dan menegaskan komitmen untuk melindungi kepentingan nasional,
menurut laporan Kompas.id dan video YouTube Harian Disway.
Adapun beberapa poin utama dalam 15 proposal AS
tersebut yang ditawarkan ke-Iran, seperti:
* Gencatan Senjata: Gencatan senjata segera selama
satu bulan.
*
Program Nuklir: Pembongkaran total kemampuan nuklir Iran dan komitmen tegas
tidak mengembangkan senjata nuklir.
* Inspeksi IAEA: Inspeksi internasional ketat oleh
IAEA.
* Rudal Balistik: Penghentian pengembangan rudal
balistik jarak jauh.
* Senjata Strategis: Larangan mengembangkan senjata
strategis baru.
*
Pengaruh Regional: Penghentian dukungan kepada kelompok perlawanan (proxy) di
Lebanon dan kawasan lain.
* Keamanan Selat Hormuz: Memastikan kebebasan navigasi
di Selat Hormuz.
Namun Iran menolak mentah-mentah proposal tersebut
karena dianggap tidak realistis, sepihak seperti mendikte, dan menempatkan Iran
pada pihak yang kalah. Sebagai balasan, Iran mengajukan syarat-syarat sendiri,
termasuk jaminan keamanan dari AS dan pencabutan seluruh sanksi.
Kondisi politik regional fi Timur Tengah mengalami
ketegangan dan kerumitan di pihak Amerika, dengan banyaknya anggota NATO
menarik diri dan tidak ikut serta berperang melawan Iran. Konflik sesama
anggota NATO berlanjut, yakni antara Presiden Perancis vs Presiden Amerika
Serikat. Konflik berawal dari permintaan Donald Trump kepada anggota NATO agar
membantu menyerang Iran yang ditolak oleh anggota NATO hingga Trump menyebut
negara-negara anggota NATO "PENGECUT."
Selanjutnya, Donald Trump menyerang secara pribadi
istri Presiden Perancis Brigitte Marcon: "Aku pikir Brigitte Marcon, istri
Presiden Perancis, adalah wanita secara biologis, bukan pria transgender."
`Tidak terima istrinya dihina, Presiden Perancis
memposting sebuah foto yang bergambar Epstein sedang memeluk Melania Trump,
istri Presiden Donald Trump.`
Merespon postingan Presiden Perancis, istri Donald
Trump membuat konferensi pers yang intinya membantah bahwa dirinya terlibat
dalam SKANDAL Epstein Files.
Makassar, 13 April 2026
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar