Translate

Minggu, 12 April 2026

AS Takut Perang & Gagal Raih Kemenangan Di Meja Perundingan

 

Kemenagan yang dirancang Amerika melalui proposal perundingan dengan Iran, gagal mencapai kesepakatan menandakan Amerika gagal meraih kemenangan di meja perundingan. Iran keberatan dengan proposal 15 poin Amerika Serikat.











-----
Sei, 13 April 2026



AS Takut Perang & Gagal Raih Kemenangan Di Meja Perundingan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Tahukah anda! Apa tujuan Amerika-Israel melakukan invasi dengan menyerang Iran?. Kemenagan yang dirancang Amerika melalui proposal perundingan dengan Iran, gagal mencapai kesepakatan menandakan Amerika gagal meraih kemenangan di meja perundingan. Iran keberatan dengan proposal 15 poin Amerika Serikat.

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran (terutama dalam konteks Perang 2026) bertujuan utama untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal balistik, dan memutus dukungan terhadap kelompok proksi (Hamas, Hizbullah, Houthi) guna mengamankan kepentingan regional. Serangan ini juga menargetkan perubahan rezim untuk mengganti pimpinan tertinggi Iran dengan pemimpin baru yang pro Amerika.

Sungguh sangat ironis jika sesuatu yang tidak dapat diraih oleh Amerika melalui perang selama 40 hari, ingin dicapai melalui meja perundingan dengan strategi politik licik.

Strategi politik licik adalah serangkaian taktik tidak etis dan manipulatif yang digunakan untuk memenangkan kekuasaan atau mengalahkan lawan dengan menghalalkan segala cara. Ini sering melibatkan manipulasi data, intrik belakang layar, serangan fajar, atau tindakan amoral demi mempertahankan kekuasaan, bahkan menabrak konstitusi.

Amerika-Israel mampu membaca kekuatan dan ketangguhan teknologi persenjataan modern, yang dimiliki oleh Iran walaupun berada dalam posisi embargo Amerika selama kurang lebih 40 tahun. Untuk itu Amerika menghindari perang yang berkepanjangan, dan meraih kemenangan melalui meja perundingan :

- AS berusaha mencapai di meja perundingan apa yang tidak bisa dicapai melalui perang

- Orang Amerika menuntut Iran menyerahkan uranium yang diperkaya dan membuka Selat Hormuz tanpa mengakui kedaulatan Iran atasnya

- Iran telah memutuskan untuk membela kepentingan nasionalnya dengan cara militer  

Berdasarkan situasi geopolitik terbaru per awal 2026, upaya Amerika Serikat untuk meraih kemenangan cepat dan mutlak atas Iran dihadapkan pada tantangan yang sangat berat. Meskipun AS memiliki keunggulan militer konvensional, struktur pertahanan dan strategi Iran menciptakan skenario konflik yang rumit.

Tantangan berat Amerika Serikat dalam meraih kemenangan perang melawan Iran, terletak pada "Logika Perang Asimetris dan Strategi "Porcupine" (Landak), yang dilakukan oleh lawan perang. Iran tidak menghadapi AS dengan militer konvensional, melainkan menggunakan strategi pertahanan asimetris, seperti yang disimulasikan dalam Millennium Challenge 2002, di mana taktik Iran mampu melumpuhkan kekuatan besar AS. Iran menggunakan drone, rudal, dan kapal cepat untuk menyerang pangkalan AS, menjadikannya sulit ditaklukkan secara cepat.

Iran memiliki kemampuan untuk menutup atau mengganggu Selat Hormuz, jalur transit minyak vital dunia. Gangguan di selat ini akan menciptakan krisis ekonomi global, kenaikan harga bahan bakar, dan tantangan operasional logistik yang masif bagi Angkatan Laut AS. Demikian juga serangan terhadap Iran berisiko tinggi memicu perang regional yang berkepanjangan dan melibatkan sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah. Hal ini akan menyedot sumber daya AS ke dalam konflik jangka panjang yang mahal dan melelahkan.

Iran didukung oleh jaringan kelompok proksi di berbagai negara (seperti di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon) yang dapat menyerang kepentingan dan pangkalan AS secara simultan, menyulitkan AS untuk fokus pada satu medan tempur. Kondisi Internal Iran yang mendukung, dimana sistem pemerintahan Iran yang ideologis cenderung meningkatkan persatuan nasional saat menghadapi ancaman eksternal, membuat tujuan "menggulingkan rezim" menjadi sangat sulit dicapai hanya melalui serangan udara. Perang melawan Iran diprediksi akan menimbulkan lonjakan inflasi dan guncangan pada pasar komoditas global, yang dapat berdampak buruk pada posisi politik pemerintahan AS di dalam negeri.

Secara ringkas, tantangan terbesar bagi AS bukanlah menghancurkan infrastruktur Iran, melainkan menghindari perang yang berkepanjangan, mengelola dampak ekonomi global, dan mengatasi perlawanan asimetris yang dirancang Iran untuk membuat biaya perang terlalu tinggi bagi Amerika Serikat.

Akhirnya! Kemenagan yang dirancang Amerika melalui proposal perundingan dengan Iran, gagal mencapai kesepakatan menandakan Amerika gagal meraih kemenangan di meja perundingan. Iran keberatan dengan proposal 15 poin Amerika Serikat. Proposal AS itu, bertujuan menghentikan konflik, mencakup gencatan senjata satu bulan, pembongkaran kemampuan nuklir, penghentian rudal balistik, dan inspeksi ketat IAEA dan diduga berupaya mecapai kemenagan lewat perundingan. Namun Iran menolak membalas, dengan tuntutan balik terkait pencabutan sanksi dan penarikan pasukan AS dari kawasan.

Perundingan maraton selama 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan yang dimediasi Pakistan resmi gagal mencapai kesepakatan. Ketegangan berlanjut karena isu nuklir dan syarat ketat dari AS, ditolak oleh Iran yang dikonfirmasi oleh Wapres AS JD Vance dan Harian Disway.

Adapun penyebab Utama Kegagalan Perundingan Amerika-Ian, meliputi:

1. Lokasi dan Durasi.

Perundingan berlangsung di Islamabad, Pakistan, dengan durasi yang dilaporkan selama 21 jam menurut AS, namun Iran menyebutkan 14 jam.

2. Penyebab Kegagalan (Versi AS).

Wapres AS JD Vance menyatakan Iran menolak syarat untuk menghentikan program senjata nuklir dan persyaratan utama lainnya, sebagaimana dilansir dalam video YouTube Kompas TV dan Instagram KompasTV.

3. Penyebab Kegagalan (Versi Iran).

Iran menilai tuntutan AS tidak masuk akal dan menegaskan komitmen untuk melindungi kepentingan nasional, menurut laporan Kompas.id dan video YouTube Harian Disway.

Adapun beberapa poin utama dalam 15 proposal AS tersebut yang ditawarkan ke-Iran, seperti:

* Gencatan Senjata: Gencatan senjata segera selama satu bulan.

* Program Nuklir: Pembongkaran total kemampuan nuklir Iran dan komitmen tegas tidak mengembangkan senjata nuklir.

* Inspeksi IAEA: Inspeksi internasional ketat oleh IAEA.

* Rudal Balistik: Penghentian pengembangan rudal balistik jarak jauh.

* Senjata Strategis: Larangan mengembangkan senjata strategis baru.

* Pengaruh Regional: Penghentian dukungan kepada kelompok perlawanan (proxy) di Lebanon dan kawasan lain.

* Keamanan Selat Hormuz: Memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Namun Iran menolak mentah-mentah proposal tersebut karena dianggap tidak realistis, sepihak seperti mendikte, dan menempatkan Iran pada pihak yang kalah. Sebagai balasan, Iran mengajukan syarat-syarat sendiri, termasuk jaminan keamanan dari AS dan pencabutan seluruh sanksi.

Kondisi politik regional fi Timur Tengah mengalami ketegangan dan kerumitan di pihak Amerika, dengan banyaknya anggota NATO menarik diri dan tidak ikut serta berperang melawan Iran. Konflik sesama anggota NATO berlanjut, yakni antara Presiden Perancis vs Presiden Amerika Serikat. Konflik berawal dari permintaan Donald Trump kepada anggota NATO agar membantu menyerang Iran yang ditolak oleh anggota NATO hingga Trump menyebut negara-negara anggota NATO "PENGECUT."

Selanjutnya, Donald Trump menyerang secara pribadi istri Presiden Perancis Brigitte Marcon: "Aku pikir Brigitte Marcon, istri Presiden Perancis, adalah wanita secara biologis, bukan pria transgender."

`Tidak terima istrinya dihina, Presiden Perancis memposting sebuah foto yang bergambar Epstein sedang memeluk Melania Trump, istri Presiden Donald Trump.`

Merespon postingan Presiden Perancis, istri Donald Trump membuat konferensi pers yang intinya membantah bahwa dirinya terlibat dalam SKANDAL Epstein Files.

 

 

Makassar, 13 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar