Translate

Sabtu, 11 April 2026

Invasi AS Untuk Menguasai Jalur Perdagangan & Sumber Energi

 

AS berupaya menghilangkan segala rintangan termasuk upaya menggulingkan pemerintahan suatu negara yang merupakan ancaman bagi Amerika dan sekutunya, untuk menguasai jalur perdagangan dan sumber energi dunia.










-----
Ahad, 12 April 2026



Invasi AS Untuk Menguasai Jalur Perdagangan & Sumber Energi

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

AS berupaya menghilangkan segala rintangan termasuk upaya menggulingkan pemerintahan suatu negara yang merupakan ancaman bagi Amerika dan sekutunya, untuk menguasai jalur perdagangan dan sumber energi dunia.

Invasi adalah serangan militer berskala besar di mana angkatan bersenjata suatu negara memasuki dan menguasai wilayah negara lain secara paksa. Tindakan ini bertujuan menaklukkan, mengubah pemerintahan, atau menguasai sumber energi, yang sering kali memicu perang besar dan diatur dalam hukum internasional seperti Konvensi Jenewa 1864.

Mengenai invasi negara ke negara lain bertujuan untuk menguasaan sumber daya, mengambil alih kekayaan alam, mineral, atau minyak. Sedangkan untuk kepentingan politik/strategis, bertujuan untuk memperluas wilayah, mengubah pemerintahan, atau menciptakan zona penyangga keamanan. Kemudian di bidang Ideologi/Keagamaan, adalah untuk memaksakan pengaruh ideologis.

Demikian pula invasi AS-Israel kepada negara Iran  selain untuk mengubah pemerintahan, juga dalam rangka mengamankan ekspansi dagang AS untuk menguasai minyak atau sumber energi di negara-negara teluk.

AS berupaya menghilangkan segala rintangan termasuk upaya menggulingkan pemerintahan suatu negara yang merupakan ancaman bagi Amerika dan sekutunya, untuk menguasai jalur perdagangan dan sumber energi dunia. Karena Pemerintahan Repoblik Islam Iran bukan Sekutu Amerika seperti pemerintahan Irak Saddam Husain digulingkan oleh invasi AS pada tahun 2003 dan dieksekusi 2006 serta pemimpin Libya, Muammar Khadafi (Gaddafi), digulingkan dan tewas pada tanggal 20 Oktober 2011.

Iran sama seperti negara Irak keduanya negara muslim penganut Syi'ah yang tidak tunduk pada Amerika, oleh agen CIA dijadikan bahan propaganda barat, untuk mengadu domba dengan sesama negara muslim penganut Sunni di Teluk Persia.

Seperti informasi yang beredar di media sosial: pengakuan mengejutkan Direktur Mossad, David Barney : "Upaya Adu Domba Gagal Total." Direktur Mossad, David Barney, mengakui bahwa meskipun telah menginvestasikan miliaran dolar pada organisasi-organisasi sektarian, mereka tidak dapat mencapai hasil yang diinginkan.

"Kita tidak pernah membutuhkan kerusuhan sentimen Syiah-Sunni sebanyak sekarang, mungkin tidak sebelumnya dan mungkin tidak akan pernah lagi. Kami pikir investasi kami telah sia-sia."

Upaya mengobarkan konflik Syiah-Sunni justru menemui jalan buntu. Realitas ini menjadi bukti bahwa propaganda yang dibangun di atas perpecahan tidak selalu berhasil. Di tengah segala strategi dan investasi besar, fakta berbicara: isu yang dipaksakan tidak mampu memecah persatuan yang telah mengakar.

Oleh karena itu invasi tersebut bisa ditebak selain untuk mengamankan jalur perdagangan, juga untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah dan menggantikannya dengan pemerintahan yang pro Amerika. Namun diluar dugaan Amerika, Iran yang sudah 47 tahun dia embargo mampu melakukan perlawanan dengan persenjataan modern yang jauh lebih spektakuler dari persenjataan barat (AS).

Sebagai bukti ekspansi dagang di Teluk Persia, AS membangun pangkalan militer di negara-negara teluk seperti Bahrain, Qatar, dan Kuwait krusial untuk mengendalikan jalur perdagangan, sumber energi, dan operasi militer di wilayah tersebut.

Fungsi utama pangkalan militer di negara lain adalah untuk proyeksi kekuatan (memproyeksikan kekuatan militer jauh dari perbatasan sendiri), pertahanan berlapis, mendukung aliansi, dan menjaga kepentingan strategis seperti rute perdagangan atau energi. Pangkalan ini memungkinkan respons cepat terhadap ancaman regional, pengawasan intelijen, serta pelatihan bersama.

Amerika Serikat memiliki lebih dari 750 pangkalan militer di sekitar 80 negara untuk memproyeksikan kekuatan global, mengamankan kepentingan ekonomi, dan menjaga stabilitas geopolitik. Pangkalan ini berfungsi sebagai benteng pertahanan sekutu (Jepang, Jerman, Korea Selatan), pusat logistik dan intelijen, serta alat kontra-terorisme, terutama pasca-Perang Dunia II dan Perang Dingin (Instagram).

Pangkalan di negara seperti Jepang, Jerman, dan Korea Selatan berfungsi sebagai penjamin keamanan bagi sekutu dan pencegah agresi dari negara lain (seperti Rusia atau Tiongkok). Pangkalan luar negeri memungkinkan militer AS merespons krisis dengan cepat di seluruh dunia, melebihi kemampuan negara lain.

Banyak pangkalan didirikan setelah Perang Dunia II dan tetap dipertahankan hingga kini untuk mempertahankan dominasi global. Instalasi tersebut memfasilitasi pengumpulan intelijen dan operasi khusus untuk melawan ancaman non-negara, terutama di zona konflik (BBC).

Pangkalan-pangkalan ini biasanya dioperasikan berdasarkan kesepakatan bersama dengan negara tuan rumah, meskipun terkadang timbul dari sisa-sisa pendudukan (World BEYOND War).

Pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, seperti di Qatar (Al-Udeid), Bahrain, dan UEA, berfungsi untuk memproyeksikan kekuatan, memastikan stabilitas regional, dan melindungi kepentingan strategis AS. Fungsi utamanya mencakup melawan terorisme (ISIS), menangkal pengaruh Iran, mengamankan jalur pelayaran energi, serta memberikan dukungan logistik dan intelijen bagi sekutu.

Lokasi strategis pangkalan militer AS  di Timur Tengah, antara lain:

Qatar : Pangkalan Udara Al-Udeid (Pusat Operasi Udara Gabungan/CAOC).

Bahrain : NSA Bahrain (Markas Armada Kelima AL).

Kuwait : Camp Arifjan (Markas Angkatan Darat).

Suriah/Irak : Basis Al-Tanf dan Erbil (Operasi Anti-ISIS).

Pangkalan-pangkalan ini juga menjadi target potensial dalam konflik regional, yang menonjolkan risiko sekaligus signifikansi kehadiran AS.

Pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah (sekitar 30 pangkalan,) berfungsi strategis untuk memproyeksikan kekuatan, menjamin keamanan energi (minyak) Teluk Persia, serta merespons krisis secara cepat. Pangkalan seperti Al-Udeid di Qatar menjadi pusat komando operasi udara, intelijen, dan pertahanan rudal di wilayah tersebut.

Berdasarkan catatan sejarah dan berbagai sumber, Amerika Serikat (khususnya melalui CIA) terlibat dalam penggulingan atau upaya penggulingan pemerintahan di banyak negara, terutama selama Perang Dingin untuk membendung komunisme atau melindungi kepentingan ekonomi/politik.

Beberapa negara yang pemerintahannya pernah digulingkan atau digoyahkan oleh intervensi Amerika Serikat, seperti: Iran (1953): CIA dan intelijen Inggris membantu mengatur kudeta (Operasi Ajax) untuk menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh yang menasionalisasi industri minyak.

Guatemala (1954): CIA mendalangi kudeta untuk menggulingkan Presiden Jacobo Árbenz yang terpilih secara demokratis, setelah kebijakan reformasi tanahnya dianggap mengancam kepentingan AS.

Kongo (1960/1961): Keterlibatan AS dalam penggulingan dan pembunuhan Perdana Menteri pertama Kongo, Patrice Lumumba.

Republik Dominika (1961): Dukungan AS dalam pembunuhan diktator Rafael Trujillo, yang kemudian diikuti dengan intervensi lebih lanjut.

Vietnam Selatan (1963): Presiden Ngo Dinh Diem digulingkan dan dibunuh dengan dukungan AS setelah kepemimpinannya dianggap tidak efektif.

Brasil (1964): Dukungan CIA terhadap kudeta militer yang menggulingkan Presiden Joao Goulart.

Chili (1973): Amerika Serikat berperan dalam kudeta militer yang menggulingkan Presiden sosialis Salvador Allende dan menempatkan diktator Augusto Pinochet.

Nikaragua (1979/1980-an): AS terlibat dalam penggulingan Anastasio Somoza dan kemudian mendukung kelompok Contra untuk melawan pemerintahan Sandinista.

AS juga terlibat dalam intervensi atau penggulingan pemerintahan di Grenada (1983), Panama (1989), Haiti (1991, 2004), serta intervensi di Irak (2003) dan Libya (2011).

Dengan demikian, dapat diprediksi bahwa invasi Amerika-Israel ke-Iran, adalah upaya menjamin keamanan energi dan jalur perdagangannya. Sehingga berupaya melindungi wilayah Teluk Persia, yang merupakan sumber minyak bumi terbesar di dunia.

 

 

Makassar, 12 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar