Translate

Rabu, 15 April 2026

Islamopobia Dibalik Agresi Dilawan Dengan Nasionalisme

 

Sikap islamophobia Barat terhadap umat muslim tidak dapat dipisahkan dari agresi miter AS kepada negara-negara muslim di beberapa kawasan, seperti: Irak, Libya, dan Iran sekarang ini. Resolusi PBB mengenai Islamofobia berakar pada meningkatnya ujaran kebencian, diskriminasi, dan kekerasan terhadap Muslim di seluruh dunia.












-----
Rabu, 15 April 2026



Islamopobia Dibalik Agresi Dilawan Dengan Nasionalisme

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Sikap islamophobia Barat terhadap umat muslim tidak dapat dipisahkan dari agresi miter AS kepada negara-negara muslim di beberapa kawasan, seperti: Irak, Libya, dan Iran sekarang ini. Resolusi PBB mengenai Islamofobia berakar pada meningkatnya ujaran kebencian, diskriminasi, dan kekerasan terhadap Muslim di seluruh dunia.

Invasi Irak (2003) : Invasi besar-besaran dimulai secara resmi pada 19 Maret 2003 (dengan kampanye pengeboman "shock and awe" pada 20 Maret 2003) untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein. Pasukan AS secara resmi menyelesaikan penarikan pasukan pada Desember 2011.

 Pengeboman Libya (1986): Pada 14–15 April 1986, AS melancarkan serangan udara terhadap target militer dan teroris di Libya sebagai balasan atas dukungan Libya terhadap terorisme.

 Intervensi Militer (2011): AS dan sekutu meluncurkan kampanye udara mulai 19 Maret 2011 untuk melindungi demonstran selama pemberontakan terhadap Muammar Gaddafi.

Resolusi PBB tentang islamophobia, adalah bukti kongkrit meningkatnya rasa kebencian terhadap islam. Resolusi PBB mengenai Islamofobia berakar pada meningkatnya ujaran kebencian, diskriminasi, dan kekerasan terhadap Muslim di seluruh dunia. Majelis Umum PBB secara bulat mengadopsi resolusi 76/254 pada 15 Maret 2022, yang menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. Islamofobia adalah rasa takut, kebencian, prasangka, atau diskriminasi yang tidak rasional terhadap Islam dan umat Muslim.

Sekarang dunia diguncang kabar gugurnya Adam Krikor, seorang pemuda beragama Kristen Katolik Armenia, dalam pertempuran melawan pasukan Israel di selatan Lebanon. Yang membuat kasus ini unik dan menjadi sorotan internasional adalah kenyataan bahwa Adam bergabung dalam barisan Hezbollah, kelompok yang dikenal berbasis Syiah. (BEIRUT 13 April 2026 (NESTV).

Kematian Adam menyoroti realitas kompleks di Lebanon. Ia bukanlah satu-satunya orang non-Muslim yang berjuang di bawah payung perlawanan anti-Israel.

Ada kelompok bernama Brigade Perlawanan Lebanon (Lebanese Resistance Brigades), sebuah sayap militer yang didirikan khusus untuk menampung relawan dari berbagai latar belakang agama—mulai dari Kristen, Sunni, Druze, hingga Syiah. Mereka dilatih, dipersenjatai, dan beroperasi di bawah komando Hezbollah, namun dengan semangat nasionalisme Lebanon dan penolakan terhadap pendudukan asing.

Bagi para pejuang lintas agama ini, perjuangan bukan dilihat dari sudut pandang idiologi atau keyakinan pribadi, melainkan sebagai upaya mempertahankan kedaulatan tanah air dan melawan apa yang mereka anggap sebagai agresi.

Sikap dan prinsip ini dilandasi oleh rasa nadinalisme, yang mampu memupuk persaudaraan dibalik Sektarian dan sikap islamopobia.

Nasionalisme Melahirkan Persaudaraan Dibalik Sektarian

Jika kita belajar dari sejarah agresi militer yang dilancarjan oleh barat (AS) selama ini, pada umumnya ditujukan kepada negara-negara muslim yang tidak mau tunduk pada hegemoni barat. Dan ingin mandiri berdaulat sendiri mengelola sumber daya dan energi, tanpa menjadi Sekutu Amerika atau NATO. Dimana kekayaan alam yang dieksploitasi dari dalam bumi, sering kali menjadi sumber energi utama bagi peradaban modern. Baik sumber energi terbarukan maupun sumber tak terbarukan (posil).

Oleh sebab itu, dunia barat sangat anti dengan negara-negara islam (islamopobia), yang menerapkan syariat islam dalam pemerintahannya. Karena pihak barat tidak dapat menguasai sumber daya alam dan pangsa pasar negara-negara muslim yang dijadikan musuh barat.  Dengan alasan direkayasa, pihak asing tersebut menggunakan agersi militer dan invasi kepada negara musuh.

Agresi adalah penggunaan kekuatan bersenjata atau tindakan permusuhan secara umum (fisik, politik, ekonomi) terhadap kedaulatan negara lain, sedangkan invasi adalah bagian dari agresi bentuk spesifik dari agresi berupa masuknya pasukan bersenjata ke wilayah negara lain secara masif untuk menguasai atau menyerang.

Keterlibatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah melibatkan serangkaian intervensi, invasi, dan agresi yang didorong oleh kepentingan keamanan nasional, akses energi, dan stabilitas kawasan. Peristiwa kunci meliputi Perang Teluk (1990–1991), Perang Afganistan (2001) setelah serangan 9/11, serta Invasi Irak (2003) dengan dalih senjata pemusnah massal. Keterlibatan ini sering kali memicu perdebatan mengenai kedaulatan, demokrasi, dan krisis kemanusiaan.

Sejarah mencatat, bahwa kaum imperialisme dan kolonialisme menerapkan politik "Devide et Impera", dengan menggunakan pendekatan sektarian atau perbedaan mashab umat muslim. Hal ini untuk dapat menguasai kekayaan alam dan sumber energi, negara-negara mayoritas muslim.

Devide et Impera (pecah belah dan kuasai) adalah strategi kolonial Belanda di Indonesia untuk memecah kelompok besar menjadi kelompok kecil agar mudah ditaklukkan. Taktik adu domba ini memanfaatkan kelompik sektarian, perbedaan etnis, agama, dan budaya untuk memicu perang saudara atau konflik internal, guna menguasai sumber daya ekonomi dan politik.

Sektarian adalah paham, sikap, atau perilaku yang menunjukkan keterikatan berlebihan, fanatisme, atau loyalitas sempit terhadap suatu kelompok, sekte, aliran agama, atau fraksi politik tertentu. Hal ini sering memicu diskriminasi, kebencian, atau konflik kekerasan terhadap kelompok lain yang berbeda pandangan atau keyakinan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, sektarian berarti berkaitan dengan anggota/penganut suatu sekte/mazhab, atau berpikiran picik dan terkungkung pada satu aliran saja.

Contoh Konflik: Konflik antara Sunni dan Syiah (Islam), Protestan dan Katolik di Irlandia Utara, atau perbedaan pandangan politik aliran.

Secara sederhana, sektarian adalah sikap kelompok yang kaku dan menganggap kelompoknya paling benar, sementara kelompok lain salah atau bermusuhan.

"Kami bersatu bukan karena agama yang sama, tapi karena cinta yang sama terhadap Lebanon dan keinginan melindungi negeri ini," demikian prinsip yang dipegang kelompok ini. Kehadiran Adam dan rekan-rekannya membuktikan bahwa dalam situasi krisis, garis pemisah agama bisa menjadi kabur demi tujuan yang lebih besar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap gerakan perlawanan di Lebanon telah melampaui batas sektarian. Hal ini juga menjadi bukti bahwa ancaman eksternal mampu menyatukan elemen-elemen masyarakat yang biasanya berbeda pandangan, menciptakan aliansi yang tidak terduga namun kuat dalam menghadapi musuh bersama.

Rakyat Indonesia sepantasnya belajar dari contoh kasus diatas, yaitu; mengedepankan rasa nasionalisme demi kedaulatan bangsa, tanpa mandan perbedaan suku dan keyakinan individu. Karena bangsa Indonesia paling gampang dipecah belah berdasarkan perbedaan sektarian, oleh kaum penjajah melalui pendekatan uang, materi dan kepentingan.

 

 

Makassar, 15 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar