Sikap islamophobia Barat terhadap umat muslim tidak dapat dipisahkan dari agresi miter AS kepada negara-negara muslim di beberapa kawasan, seperti: Irak, Libya, dan Iran sekarang ini. Resolusi PBB mengenai Islamofobia berakar pada meningkatnya ujaran kebencian, diskriminasi, dan kekerasan terhadap Muslim di seluruh dunia.
Islamopobia Dibalik Agresi Dilawan Dengan Nasionalisme
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Sikap islamophobia Barat
terhadap umat muslim tidak dapat dipisahkan dari agresi miter AS kepada
negara-negara muslim di beberapa kawasan, seperti: Irak, Libya, dan Iran sekarang
ini.
Invasi Irak (2003)
: Invasi besar-besaran dimulai secara resmi pada 19 Maret 2003 (dengan kampanye
pengeboman "shock and awe" pada 20 Maret 2003) untuk menggulingkan
rezim Saddam Hussein. Pasukan AS secara resmi menyelesaikan penarikan pasukan
pada Desember 2011.
Pengeboman
Libya (1986): Pada 14–15 April 1986, AS melancarkan serangan udara terhadap
target militer dan teroris di Libya sebagai balasan atas dukungan Libya
terhadap terorisme.
Intervensi
Militer (2011): AS dan sekutu meluncurkan kampanye udara mulai 19 Maret
2011 untuk melindungi demonstran selama pemberontakan terhadap Muammar Gaddafi.
Resolusi PBB tentang islamophobia,
adalah bukti kongkrit meningkatnya rasa kebencian terhadap islam. Resolusi PBB
mengenai Islamofobia berakar pada meningkatnya ujaran kebencian, diskriminasi,
dan kekerasan terhadap Muslim di seluruh dunia. Majelis Umum PBB secara bulat
mengadopsi resolusi 76/254 pada 15 Maret 2022, yang menetapkan tanggal tersebut
sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. Islamofobia adalah rasa
takut, kebencian, prasangka, atau diskriminasi yang tidak rasional terhadap
Islam dan umat Muslim.
Sekarang dunia diguncang
kabar gugurnya Adam Krikor, seorang pemuda beragama Kristen Katolik Armenia,
dalam pertempuran melawan pasukan Israel di selatan Lebanon. Yang membuat kasus
ini unik dan menjadi sorotan internasional adalah kenyataan bahwa Adam
bergabung dalam barisan Hezbollah, kelompok yang dikenal berbasis Syiah. (BEIRUT
13 April 2026 (NESTV).
Kematian Adam menyoroti
realitas kompleks di Lebanon. Ia bukanlah satu-satunya orang non-Muslim yang
berjuang di bawah payung perlawanan anti-Israel.
Ada kelompok bernama
Brigade Perlawanan Lebanon (Lebanese Resistance Brigades), sebuah sayap militer
yang didirikan khusus untuk menampung relawan dari berbagai latar belakang
agama—mulai dari Kristen, Sunni, Druze, hingga Syiah. Mereka dilatih,
dipersenjatai, dan beroperasi di bawah komando Hezbollah, namun dengan semangat
nasionalisme Lebanon dan penolakan terhadap pendudukan asing.
Bagi para pejuang lintas
agama ini, perjuangan bukan dilihat dari sudut pandang idiologi atau keyakinan
pribadi, melainkan sebagai upaya mempertahankan kedaulatan tanah air dan
melawan apa yang mereka anggap sebagai agresi.
Sikap dan prinsip ini
dilandasi oleh rasa nadinalisme, yang mampu memupuk persaudaraan dibalik
Sektarian dan sikap islamopobia.
Nasionalisme Melahirkan Persaudaraan Dibalik Sektarian
Jika kita belajar dari
sejarah agresi militer yang dilancarjan oleh barat (AS) selama ini, pada
umumnya ditujukan kepada negara-negara muslim yang tidak mau tunduk pada
hegemoni barat. Dan ingin mandiri berdaulat sendiri mengelola sumber daya dan
energi, tanpa menjadi Sekutu Amerika atau NATO. Dimana kekayaan alam yang
dieksploitasi dari dalam bumi, sering kali menjadi sumber energi utama bagi
peradaban modern. Baik sumber energi terbarukan maupun sumber tak terbarukan
(posil).
Oleh sebab itu, dunia
barat sangat anti dengan negara-negara islam (islamopobia), yang menerapkan
syariat islam dalam pemerintahannya. Karena pihak barat tidak dapat menguasai
sumber daya alam dan pangsa pasar negara-negara muslim yang dijadikan musuh
barat. Dengan alasan direkayasa, pihak
asing tersebut menggunakan agersi militer dan invasi kepada negara musuh.
Agresi adalah penggunaan
kekuatan bersenjata atau tindakan permusuhan secara umum (fisik, politik,
ekonomi) terhadap kedaulatan negara lain, sedangkan invasi adalah bagian dari
agresi bentuk spesifik dari agresi berupa masuknya pasukan bersenjata ke
wilayah negara lain secara masif untuk menguasai atau menyerang.
Keterlibatan militer
Amerika Serikat di Timur Tengah melibatkan serangkaian intervensi, invasi, dan
agresi yang didorong oleh kepentingan keamanan nasional, akses energi, dan
stabilitas kawasan. Peristiwa kunci meliputi Perang Teluk (1990–1991), Perang
Afganistan (2001) setelah serangan 9/11, serta Invasi Irak (2003) dengan dalih
senjata pemusnah massal. Keterlibatan ini sering kali memicu perdebatan
mengenai kedaulatan, demokrasi, dan krisis kemanusiaan.
Sejarah mencatat, bahwa
kaum imperialisme dan kolonialisme menerapkan politik "Devide et
Impera", dengan menggunakan pendekatan sektarian atau perbedaan mashab
umat muslim. Hal ini untuk dapat menguasai kekayaan alam dan sumber energi, negara-negara
mayoritas muslim.
Devide et Impera (pecah
belah dan kuasai) adalah strategi kolonial Belanda di Indonesia untuk memecah
kelompok besar menjadi kelompok kecil agar mudah ditaklukkan. Taktik adu domba
ini memanfaatkan kelompik sektarian, perbedaan etnis, agama, dan budaya untuk
memicu perang saudara atau konflik internal, guna menguasai sumber daya ekonomi
dan politik.
Sektarian adalah paham,
sikap, atau perilaku yang menunjukkan keterikatan berlebihan, fanatisme, atau
loyalitas sempit terhadap suatu kelompok, sekte, aliran agama, atau fraksi
politik tertentu. Hal ini sering memicu diskriminasi, kebencian, atau konflik kekerasan
terhadap kelompok lain yang berbeda pandangan atau keyakinan.
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) Online, sektarian berarti berkaitan dengan
anggota/penganut suatu sekte/mazhab, atau berpikiran picik dan terkungkung pada
satu aliran saja.
Contoh Konflik: Konflik
antara Sunni dan Syiah (Islam), Protestan dan Katolik di Irlandia Utara, atau
perbedaan pandangan politik aliran.
Secara sederhana,
sektarian adalah sikap kelompok yang kaku dan menganggap kelompoknya paling
benar, sementara kelompok lain salah atau bermusuhan.
"Kami bersatu bukan
karena agama yang sama, tapi karena cinta yang sama terhadap Lebanon dan
keinginan melindungi negeri ini," demikian prinsip yang dipegang kelompok
ini. Kehadiran Adam dan rekan-rekannya membuktikan bahwa dalam situasi krisis,
garis pemisah agama bisa menjadi kabur demi tujuan yang lebih besar.
Fenomena ini menunjukkan
bahwa dukungan terhadap gerakan perlawanan di Lebanon telah melampaui batas
sektarian. Hal ini juga menjadi bukti bahwa ancaman eksternal mampu menyatukan
elemen-elemen masyarakat yang biasanya berbeda pandangan, menciptakan aliansi
yang tidak terduga namun kuat dalam menghadapi musuh bersama.
Rakyat Indonesia
sepantasnya belajar dari contoh kasus diatas, yaitu; mengedepankan rasa nasionalisme
demi kedaulatan bangsa, tanpa mandan perbedaan suku dan keyakinan individu.
Karena bangsa Indonesia paling gampang dipecah belah berdasarkan perbedaan
sektarian, oleh kaum penjajah melalui pendekatan uang, materi dan kepentingan.
Makassar, 15 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar