Translate

Kamis, 23 April 2026

Iran Umumkan Kemenangan & Memaksa AS Terima 10 Tuntutan

 

Iran Umumkan Kemenangan Perang, Klaim Paksa AS Terima Rencana 10 Poin. Televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mengalami kekalahan. Disebutkan juga bahwa Iran telah membuat AS terpaksa harus menerima rencana 10 poin yang diberikan






-----

Kamis, 23 April 2026



Iran Umumkan Kemenangan & Memaksa AS Terima 10 Tuntutan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Oemerhati Politik & Pendidikan)

 

Iran Umumkan Kemenangan Perang, Klaim Paksa AS Terima Rencana 10 Poin. Televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mengalami kekalahan. Disebutkan juga bahwa Iran telah membuat AS terpaksa harus menerima rencana 10 poin yang diberikan.(detikUpdate Views | Rabu, 08 Apr 2026).

Diketahui, Trump mengumumkan akan menangguhkan serangan ke Iran selama 2 minggu dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz. Iran menyetujui syarat itu dalam proses perundingan untuk mengakhiri perang.

Sepertinya Iran makin menunjukkan kekuatannya, memaksa AS harus menerima rencana 10 poin yang dipersyaratkan Iran. Kekuatan memaksa dalam perang militer merujuk pada penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan bersenjata oleh suatu negara untuk memengaruhi perilaku, keputusan, atau kedaulatan negara lain. Ini adalah bentuk nyata dari intervensi atau agresi yang bertujuan mengubah situasi politik atau pertahanan demi kepentingan pihak yang memaksa.

Disisi lain kekuatan militer digunakan oleh Iran, sebagai instrumen utama menekan AS-Israel untuk menghentikan pelanggaran HAM berat di jalur Gaza atau Palestina. Strategi Iran ini, sering disebut intervensi kemanusiaan bersenjata.

Narasi bahwa Iran sedang “berperang sendiri” melawan Amerika dan Israel, mungkin kurang tepat. Sebab dalam realitas geopolitik modern, perang jarang berlangsung secara frontal. Yang lebih sering terjadi adalah proxy war, yaitu: Iran di Garis Depan, Kekuatan Lain mendukung dari belakang.

Proxy War: satu negara tampil di garis depan, sementara negara lain menopang dari belakang lewat senjata, intelijen, dana, teknologi, dan perlindungan diplomatik.

Proxy war (perang proksi) adalah konflik di mana dua kekuatan besar menggunakan pihak ketiga (milisi, negara lain, atau kelompok non-negara) untuk bertempur, guna menghindari konfrontasi langsung yang berisiko tinggi. Pihak ketiga ini didukung melalui pendanaan, senjata, dan pelatihan untuk memajukan kepentingan strategis sponsor.

Iran memiliki militer tersendiri, industri drone sendiri, dan jaringan regional sendiri. Namun dukungan eksternal terhadap Tehran sangat kuat dari negara relasinya.

Beberapa laporan terbaru menunjukkan bahwa China adalah pemasok vital ekonomi dan pembeli utama minyak Iran, sehingga Iran memiliki kemampuan bertahan di tengah sanksi dan embargo selama 47 tahun. Hubungan keduanya diperkuat lewat kemitraan strategis jangka panjang.

Sementara itu, laporan lain menyebut Iran memperoleh akses citra satelit komersial dari perusahaan Tiongkok yang diduga meningkatkan kemampuan penargetan militernya terhadap basis Amerika di kawasan. China mungkin tidak menembakkan rudal, tetapi bisa memberi “mata” bagi Iran.

Demikian juga Rusia memiliki hubungan militer panjang dengan Iran, terutama sejak perang Ukraina ketika Iran memasok drone ke Moskow. Namun dalam konflik Iran-AS-Israel, Rusia cenderung berhitung.

Sejumlah analisis menyebut Rusia tidak turun langsung, tetapi lebih banyak bergerak pada jalur intelijen, logistik terbatas, dan dukungan diplomatik di PBB. Bahkan beberapa pengamat menilai Iran berharap bantuan Rusia lebih besar, tetapi itu tidak terjadi. Apakah Rusia mendukung Iran, tapi tidak mau ikut tenggelam?.

Bagaimana dengan peran Korea Utara dalam perang Iran melawan AS-Israel?.

Korea Utara kerap muncul dalam isu proliferasi senjata dan transfer misil. Apalagi secara historis, Korea Utara pernah menjadi pemasok persenjataan penting bagi Iran saat perang Iran-Irak. Tidak ada bukti bagi publik, jikavRusia terlibat langsung membantu Iran. Namun dalam geopolitik, jaringan lama sering tidak benar-benar mati.

Dalam konteks ini, analisis harus benar-benar jujur dan presisi. Tidak bisa menganggap kalau Iran adalah Proxy dari negara adi daya, karena Iran memiliki militer sendiri, menguasai dan memiliki teknologi persenjataan tersendiri. Bahkan Iran mampu mengubah kekuatan militer dan persenjataannya dibawah tekanan sangsi dan embargo selama ini.

Iran mempunyai ideologi, ambisi regional, kepentingan nasional, dan agenda sendiri sejak Revolusi 1979. Ia bukan pion kosong. Namun menyebut Iran sepenuhnya mandiri juga keliru, karena daya tahannya sangat dipengaruhi oleh:

- ekspor minyak ke China

- dukungan diplomatik Rusia dan China

- kemungkinan akses teknologi dan intelijen eksternal

- jaringan pasar gelap dan mitra strategis anti-Barat.

Iran adalah aktor tunggal regional dalam melawan agresi militer AS-Israel, yang diperkuat oleh dukungan poros global anti-Barat seperti; China, Rusia, dan Korea Utara. Sementaea di pihak Barat beberapa negara Sekutu Amerika telah menarik diri, enggang berperang melawan Iran dan sekutunya. Apalagi sekarang  Arab Saudi dan Qatar sudah sadar kalau mereka di adu domba, agar mau menyerang Iran. AS menfitnah Iran telah menyerang kilan minyak negara itu, tujuannya: memaksa negara-negara Arab terjun ke medan perang untuk melawan Iran negara seimannya.

Inilah pola perang abad ke-21. Negara yang bertempur di depan sering bukan satu-satunya pemain. Mereka hanya wajah depan dari persaingan yang lebih besar. Karena dalam geopolitik modern, peluru bisa ditembak satu negara, tetapi perang sering dimenangkan oleh jaringan relasi.

TIDAK ADA NEGOSIASI LAGI

Iran secara resmi telah memberi tahu Amerika Serikat (melalui mediator Pakistan) bahwa mereka tidak akan menghadiri perundingan yang dijadwalkan di Islamabad pada hari Rabu ini.

Alasan Utama Kebuntuan

`Pelanggaran Kerangka Kesepakatan:`

Iran menyatakan bahwa mereka telah menyepakati kerangka 10 poin untuk gencatan senjata, yang awalnya diterima oleh AS, namun kemudian diabaikan dengan munculnya “tuntutan berlebihan” dari pihak AS dalam putaran pertama perundingan.

`Gencatan Senjata Lebanon:`

AS gagal menekan Israel untuk memberlakukan gencatan senjata di Lebanon sebagaimana dijanjikan, dan baru melakukannya setelah muncul ancaman serangan rudal dari Iran.

`Selat Hormuz & Blokade`

Setelah Iran menawarkan untuk membuka Selat Hormuz bagi pelayaran komersial sebagai bentuk itikad baik, AS justru merespons dengan melanjutkan “tindakan permusuhan” dan blokade laut.

`Tidak Ada Kemajuan`

Pesan-pesan diplomatik terbaru tidak menunjukkan kemajuan berarti, dengan AS berupaya menggunakan perundingan untuk memperoleh konsesi yang tidak mampu mereka capai di medan perang. (https://t.me/PPQS_I/19958).

 

 

Makassar, 23 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar