Translate

Selasa, 21 April 2026

RA Kartini & Siti Walidah Pelopor Emansipasi Perempuan


RA Kartini dan Siti Walidah adalah dua sosok perempuan pejuang emansipasi wanita. Keduanya sama-sama gigih memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan bagi wanita.



-----

Rabu, 22 April 2026

RA Kartini & Siti Walidah Pelopor Emansipasi Perempuan


 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

KH Ahmad Dahlan dan RA Kartini adalah dua tokoh pergerakan nasional yang memiliki hubungan erat sebagai sesama murid dari ulama besar KH Sholeh Darat. Mereka memiliki pemikiran sejalan mengenai pembaruan, pentingnya pendidikan, serta perjuangan kesetaraan dan pencerahan peradaban, meskipun bergerak di bidang yang berbeda.

KH Ahmad Dahlan dan RA Kartini berguru pada ulama yang sama, yaitu KH Sholeh Darat dari Semarang. Hal ini membentuk fondasi pemikiran keislaman dan sosial yang progresif pada diri keduanya. Keduanya memiliki kesamaan Visi Perjuangan, karena keduanya berfokus pada pendidikan sebagai jalan pembebasan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan.

Sebagaimana dijelaskan dalam artikel FAIUMBandung.id, keduanya dianggap sebagai sang pencerah peradaban yang berani melawan arus demi kemajuan bangsa. Keduanya adalah penyemaian benih pembaharuan.

Pemikiran progresif KH Ahmad Dahlan dalam memajukan perempuan melalui Aisyiyah sejalan dengan cita-cita Kartini dalam emansipasi wanita, yang juga didukung oleh perjuangan istri Kiai Dahlan, Siti Walidah.

Meskipun Kartini berfokus pada emansipasi perempuan melalui tulisan dan pendidikan, dan KH Ahmad Dahlan melalui pembaruan pendidikan Islam dan organisasi (Muhammadiyah), keduanya adalah pejuang pencerahan yang memiliki keterikatan intelektual dan spiritual.

Kesamaan Visi RA Kartini Dengan Aisyiyah

RA Kartini dan Siti Walidah adalah dua sosok perempuan pejuang emansipasi wanita. Keduanya sama-sama gigih memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan bagi wanita.

Raden Ajeng Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa yang menjadi pelopor emansipasi wanita dan pendidikan perempuan pribumi. Sebagai bangsawan Jawa (putri bupati Jepara), ia gigih memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan bagi wanita melalui pemikiran, surat-surat ke teman Belanda, dan pendirian sekolah.

Sedangkan Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) adalah tokoh emansipasi wanita Indonesia dan istri KH Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi perempuan Aisyiyah. Beliau lahir di Kauman, Yogyakarta pada 1872 dan wafat pada 1946.

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) adalah pendiri organisasi wanita Aisyiyah pada tahun 1917, yang fokus pada pendidikan dan dakwah perempuan. Beliau aktif mendampingi perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam memajukan pendidikan Islam dan pemberdayaan perempuan.

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Hari kelahiran beliau diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa dan perjuangan beliau dalam emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan hak pendidikan bagi perempuan Indonesia. Sementara Aisyiyah (perempuan Muhammadiyah), sukses mengimplementasikan visi Raden Ajeng Kartini dalam mengangkat derajad fanbemansipasi wanita.

Milad 'Aisyiyah diperingati setiap tanggal 19 Mei. Organisasi perempuan Muhammadiyah ini resmi didirikan pada 19 Mei 1917. Hubungan antara perjuangan Raden Ajeng Kartini dan cita-cita perempuan Muhammadiyah ('Aisyiyah berakar pada kesamaan visi dalam emansipasi, pendidikan, dan peningkatan martabat perempuan Indonesia. Kartini dipandang sebagai pelopor perjuangan secara individual melalui pemikirannya, sementara 'Aisyiyah merealisasikan semangat tersebut secara kolektif dan terorganisir.

Hubungan perjuangan RA Kartini dengan cita-cita perempuan Muhammadiyah ('Aisyiyah):

1. Pendidikan Sebagai Kunci Emansipasi.

Kartini berjuang melalui literasi dan gagasan bahwa perempuan harus berpendidikan untuk melepaskan diri dari ketertinggalan. Cita-cita ini sejalan dengan 'Aisyiyah yang menjadikan pendidikan (formal maupun non-formal) sebagai pilar utama untuk mencerdaskan perempuan agar mandiri dan berdaya.

2. Pemberdayaan dan Kemandirian.

Perjuangan Kartini bertujuan agar perempuan tidak hanya terbatas pada peran domestik, tetapi juga mampu berkarya dan berkontribusi. 'Aisyiyah mewujudkan hal ini dengan mendorong perempuan bergerak di sektor publik, ekonomi digital, dan sosial kemasyarakatan.

3. Perempuan sebagai Madrasah Pertama (Madrasatul Ula).

Kartini menekankan pentingnya perempuan berpendidikan tinggi karena mereka adalah pendidik generasi masa depan. Visi ini diterapkan 'Aisyiyah melalui kaderisasi perempuan yang cerdas secara intelektual dan spiritual, sesuai dengan prinsip Islam yang berkemajuan.

4. Melawan Diskriminasi dan Sistem Represif.

Baik Kartini maupun 'Aisyiyah berjuang membongkar sistem sosial yang membungkam suara perempuan. 'Aisyiyah menjadi wadah kolektif ("Kartini-Kartini Muhammadiyah") yang terorganisir untuk melakukan advokasi, respon sosial, dan dakwah kemanusiaan.

Keberlanjutan Perjuangan: 'Aisyiyah, bersama Nasyiatul 'Aisyiyah (Kartini Muda), menjadi penerus semangat Kartini, membawa jiwa emansipasi yang berkeadaban sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, 'Aisyiyah merupakan pengejawantahan nyata dari cita-cita Kartini dalam konteks pergerakan Islam yang sistematis.

Selamat hari kartini dan selamat kepada Aisyiyah, yang sukses mengimplementasikan Visi dan cita-cita RA Kartini.

 

 

Makassar, 21 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar