RA Kartini dan Siti Walidah adalah dua sosok perempuan pejuang emansipasi wanita. Keduanya sama-sama gigih memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan bagi wanita.
Rabu, 22 April 2026
RA Kartini & Siti Walidah Pelopor Emansipasi Perempuan
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
KH Ahmad Dahlan dan RA
Kartini adalah dua tokoh pergerakan nasional yang memiliki hubungan erat
sebagai sesama murid dari ulama besar KH Sholeh Darat. Mereka memiliki
pemikiran sejalan mengenai pembaruan, pentingnya pendidikan, serta perjuangan
kesetaraan dan pencerahan peradaban, meskipun bergerak di bidang yang berbeda.
KH Ahmad Dahlan dan RA
Kartini berguru pada ulama yang sama, yaitu KH Sholeh Darat dari Semarang. Hal
ini membentuk fondasi pemikiran keislaman dan sosial yang progresif pada diri
keduanya. Keduanya memiliki kesamaan Visi Perjuangan, karena keduanya berfokus
pada pendidikan sebagai jalan pembebasan masyarakat dari kebodohan dan
keterbelakangan.
Sebagaimana dijelaskan
dalam artikel FAIUMBandung.id, keduanya dianggap sebagai sang pencerah peradaban
yang berani melawan arus demi kemajuan bangsa. Keduanya adalah penyemaian benih
pembaharuan.
Pemikiran progresif KH
Ahmad Dahlan dalam memajukan perempuan melalui Aisyiyah sejalan dengan
cita-cita Kartini dalam emansipasi wanita, yang juga didukung oleh perjuangan
istri Kiai Dahlan, Siti Walidah.
Meskipun Kartini berfokus
pada emansipasi perempuan melalui tulisan dan pendidikan, dan KH Ahmad Dahlan
melalui pembaruan pendidikan Islam dan organisasi (Muhammadiyah), keduanya
adalah pejuang pencerahan yang memiliki keterikatan intelektual dan spiritual.
Kesamaan Visi RA Kartini Dengan Aisyiyah
RA Kartini dan Siti
Walidah adalah dua sosok perempuan pejuang emansipasi wanita. Keduanya
sama-sama gigih memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan bagi wanita.
Raden Ajeng Kartini (21
April 1879 – 17 September 1904) adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa
yang menjadi pelopor emansipasi wanita dan pendidikan perempuan pribumi.
Sebagai bangsawan Jawa (putri bupati Jepara), ia gigih memperjuangkan kesetaraan
hak pendidikan bagi wanita melalui pemikiran, surat-surat ke teman Belanda, dan
pendirian sekolah.
Sedangkan Nyai Ahmad
Dahlan (Siti Walidah) adalah tokoh emansipasi wanita Indonesia dan istri KH
Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi perempuan Aisyiyah. Beliau lahir di
Kauman, Yogyakarta pada 1872 dan wafat pada 1946.
Siti Walidah (Nyai Ahmad
Dahlan) adalah pendiri organisasi wanita Aisyiyah pada tahun 1917, yang fokus
pada pendidikan dan dakwah perempuan. Beliau aktif mendampingi perjuangan KH
Ahmad Dahlan dalam memajukan pendidikan Islam dan pemberdayaan perempuan.
Raden Ajeng Kartini lahir
pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Hari kelahiran beliau
diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa dan perjuangan
beliau dalam emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan hak pendidikan bagi
perempuan Indonesia. Sementara Aisyiyah (perempuan Muhammadiyah), sukses
mengimplementasikan visi Raden Ajeng Kartini dalam mengangkat derajad
fanbemansipasi wanita.
Milad
'Aisyiyah diperingati setiap tanggal 19 Mei. Organisasi perempuan Muhammadiyah
ini resmi didirikan pada 19 Mei 1917. Hubungan antara perjuangan Raden Ajeng
Kartini dan cita-cita perempuan Muhammadiyah ('Aisyiyah berakar pada kesamaan
visi dalam emansipasi, pendidikan, dan peningkatan martabat perempuan
Indonesia. Kartini dipandang sebagai pelopor perjuangan secara individual
melalui pemikirannya, sementara 'Aisyiyah merealisasikan semangat tersebut secara
kolektif dan terorganisir.
Hubungan perjuangan RA Kartini
dengan cita-cita perempuan Muhammadiyah ('Aisyiyah):
1. Pendidikan Sebagai
Kunci Emansipasi.
Kartini
berjuang melalui literasi dan gagasan bahwa perempuan harus berpendidikan untuk
melepaskan diri dari ketertinggalan. Cita-cita ini sejalan dengan 'Aisyiyah
yang menjadikan pendidikan (formal maupun non-formal) sebagai pilar utama untuk
mencerdaskan perempuan agar mandiri dan berdaya.
2. Pemberdayaan dan
Kemandirian.
Perjuangan
Kartini bertujuan agar perempuan tidak hanya terbatas pada peran domestik,
tetapi juga mampu berkarya dan berkontribusi. 'Aisyiyah mewujudkan hal ini
dengan mendorong perempuan bergerak di sektor publik, ekonomi digital, dan
sosial kemasyarakatan.
3. Perempuan sebagai
Madrasah Pertama (Madrasatul Ula).
Kartini
menekankan pentingnya perempuan berpendidikan tinggi karena mereka adalah
pendidik generasi masa depan. Visi ini diterapkan 'Aisyiyah melalui kaderisasi
perempuan yang cerdas secara intelektual dan spiritual, sesuai dengan prinsip
Islam yang berkemajuan.
4. Melawan Diskriminasi
dan Sistem Represif.
Baik
Kartini maupun 'Aisyiyah berjuang membongkar sistem sosial yang membungkam
suara perempuan. 'Aisyiyah menjadi wadah kolektif ("Kartini-Kartini
Muhammadiyah") yang terorganisir untuk melakukan advokasi, respon sosial,
dan dakwah kemanusiaan.
Keberlanjutan Perjuangan:
'Aisyiyah, bersama Nasyiatul 'Aisyiyah (Kartini Muda), menjadi penerus semangat
Kartini, membawa jiwa emansipasi yang berkeadaban sesuai dengan perkembangan
zaman. Dengan demikian, 'Aisyiyah merupakan pengejawantahan nyata dari
cita-cita Kartini dalam konteks pergerakan Islam yang sistematis.
Selamat hari kartini dan
selamat kepada Aisyiyah, yang sukses mengimplementasikan Visi dan cita-cita RA
Kartini.
Makassar, 21 April 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar