-----
Kamis, 16 April 2026
Propaganda Barat Lumpuh Dihadapan Repoblik Islam Iran
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Amerika telah lumpuh kedikjayaannya dihadapan Iran, dalam menggunakan kekuasaan global,
sebagai salah satu negara adi daya (pemegang hak veto Dewan Keamanan PBB).
Karena Iran tidak mampan lagi dengan gertakan Donald Trump, seperti pemimpin negara-negara
Arab.
Bahkan pihak Rusia baru
saja melontarkan sindiran yang sangat tajam dan mendalam. Rusia mengatakan
bahwa saat ini, Banyak pemimpin negara-negara Arab tampaknya lebih gemetar
menghadapi gertakan Donald Trump ketimbang rasa takutnya kepada Tuhannya.
Narasi mengenai
"pelumpuhan propaganda Barat" oleh Republik Islam Iran sering muncul
dalam diskursus media pendukung pemerintah atau narasi geopolitik alternatif.
Perang Narasi: Pemerintah
Iran dan pendukungnya secara konsisten menuding media Barat menyebarkan
disinformasi atau "hoax" untuk menyudutkan Republik Islam Iran,
terutama saat terjadi gejolak sosial atau krisis ekonomi. Kematian Ali Khamenei
adalah peristiwa besar terjadi pada awal Maret 2026, dengan wafatnya Pemimpin
Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Media tertentu melaporkan adanya kegagalan
propaganda Barat yang mencoba melabelinya sebagai diktator dengan menyoroti duka
cita ribuan masyarakat Iran.
Pada 2025–2026 terjadi
demonstrasi besar-bedaran di Iran mulai Desember 2025 akibat krisis ekonomi dan
ketidakpuasan terhadap pemerintah. Dalam konteks ini, kelompok pro-pemerintah
berusaha mematahkan narasi Barat dengan menunjukkan dukungan solid sipil
terhadap sistem Islam. Dan terjadinya transisi kepemimpinan setelah kematian
Ali Khamenei, posisi Pemimpin Tertinggi diteruskan oleh putranya, Mojtaba
Khamenei.
Secara ringkas, klaim
tentang dilumpuhkannya propaganda Barat berakar pada upaya pemerintah Iran
untuk menegaskan kedaulatan informasi dan menyanggah narasi mengenai keruntuhan
rezim yang sering diprediksi oleh media internasional.
Hak Veto AS Terancam Gugur
Sekarang, di tengah
detik-detik berakhirnya ultimatum Presiden Donald Trump yang mengancam akan
membom seluruh pembangkit listrik di Iran, Teheran baru saja merilis ancaman balasan
yang jauh lebih mengerikan: Sabotase total terhadap seluruh kabel internet
bawah laut yang melintasi Teluk Persia, Laut Merah, hingga Laut Mediterania.
Langkah nekat ini bukan sekadar gertakan militer biasa, melainkan ancaman
langsung untuk "mematikan" peradaban modern, melumpuhkan bursa saham
global, transaksi perbankan antarnegara, hingga layanan kecerdasan buatan (Al)
yang menjadi tulang punggung ekonomi abad ke-21.
Ancaman yang disampaikan
oleh Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei, pejabat tinggi komunikasi kepresidenan
Iran, menegaskan bahwa jika infrastruktur energi mereka disentuh, maka Iran
tidak akan ragu memutus serat optik dasar laut yang menghubungkan Asia, Eropa,
dan Afrika. Perlu diketahui, wilayah tersebut adalah "titik mati" paling
kritis di dunia di mana lebih dari 30% lalu lintas data global mengalir. Jika
kabel-kabel ini diputus, miliaran orang akan kehilangan akses internet, ribuan
perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Amazon, dan Microsoft akan
tumbang, dan sistem perbankan internasional bisa mengalami freeze total yang
akan memicu depresi ekonomi global dalam hitungan jam.
Para ahli keamanan siber
memperingatkan bahwa perbaikan kabel bawah laut di zona perang aktif adalah
misi yang hampir mustahil.
Dibutuhkan waktu
berbulan-bulan untuk menyambung kembali nadi digital tersebut, sementara dunia
akan terjerumus ke dalam "kegelapan informasi". Saat ini, raksasa
teknologi Meta dan penyedia layanan cloud dunia dilaporkan sedang panik
melakukan pengalihan rute darurat (rerouting) melalui jalur darat dan satelit,
namun kapasitasnya jauh dari cukup untuk menampung beban data dunia. Malam ini,
saat jarum jam mendekati batas waktu ultimatum Trump, nasib konektivitas
internet Anda-dan dompet digital dunia-sedang dipertaruhkan di dasar laut Timur
Tengah. (Sumber Berita: Laporan Eksklusif CNN Business, Analisis Strategis
Bloomberg, dan Update Kantor Kepresidenan Iran.)
Siapa sebenarnya yang
akan menjadi penguasa dunia?. Tetap AS bersama sekutunya, atau beralih ke-Iran
dan sekutunya?.
Jika AS dan sekutu
pemenang Perang Dunia II sebagai pemegang hak veto PBB, apakah akan gugur jika
Perang Dunia III nati digantikan oleh Iran dan sekutunya?. Waktu yang akan
menentukan.
Terdapat laporan
intelijen yang menyatakan kekhawatiran bahwa teknologi persenjataan AS mungkin
tertinggal dalam aspek tertentu dibandingkan kemajuan Iran, terutama terkait
rudal balistik dan potensi rudal hipersonik seperti Fattah yang sulit dicegat.
Meskipun menghadapi gempuran, Iran diyakini masih mempertahankan fasilitas
bawah tanah yang memungkinkan mereka melakukan serangan balik. Perang tahun
2026 telah memicu pengerahan militer AS dalam skala besar di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan,
meskipun AS secara global memegang hak veto PBB dengan keunggulan militer, Iran
telah menunjukkan ketahanan strategis melalui teknologi dalam negeri dan
infrastruktur tersembunyi yang menyulitkan dominasi dan agresi Barat. Bahkan
beberapa negara Sekutu AS mulai menarik diri menempuh jalan aman, dan tidak
tertutup kemungkinan negara-negara Arab di Timur Tengah juga akan melilih jalan
aman.
Pemilik hak veto PBB
adalah lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, yang sering disebut sebagai
P5 (Permanent Five). Yaitu: Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan
Inggris.
Amerika Serikat (AS),
sering menggunakan hak veto terkait isu Timur Tengah/Israel. Rusia (sebelumnya
Uni Soviet): Pemegang hak veto aktif.
Tiongkok (RRT): Anggota
tetap sejak 1945. Prancis: Anggota tetap sejak 1958. Inggris Raya (Britania Raya):
Anggota tetap sejak 1945.
Fungsi Hak Veto :
memungkinkan kelima negara ini membatalkan resolusi substantif atau keputusan
DK PBB, meskipun didukung mayoritas anggota lain.
Kekuatan: Jika salah satu
negara P5 menggunakan hak vetonya, resolusi tersebut otomatis gagal.
Konteks: Hak ini berasal
dari posisi mereka sebagai pemenang Perang Dunia II.
Makassar, 16 April 2026.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar