Strategi politik adu domba dan black campaign sangat ampuh membuat masyarakat Indonesia tidak berdaya, oleh pendekatan uang, materi, dan kepentingan. Karena mayoritas masyarakat buta politik dan bodoh politik, khususnya politik kapitalisme.
-----
Jum'at, 10 April 2026
Politik Adu Domba Strategi Kapitalis Menguasai
Kekuasaan Dan Ekonomi
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Kapitalis adalah individu
atau kelompok yang memiliki modal (aset, uang, alat produksi) dan
menginvestasikannya dalam perdagangan atau industri untuk menghasilkan
keuntungan maksimal. Mereka adalah aktor utama dalam sistem ekonomi kapitalisme
yang berorientasi pada kepemilikan pribadi, persaingan pasar bebas, dan
akumulasi kekayaan.
Strategi menguasai kekuasaan dan ekonomi suatu negara
adalah kajian ekonomi politik yang kompleks, melibatkan kombinasi kontrol
politik dan dominasi sumber daya ekonomi. Berdasarkan berbagai sumber, strategi
ini sering kali melibatkan pendekatan terstruktur yang bertujuan mempengaruhi
kebijakan publik dan mengendalikan aset-aset vital negara.
Sejarah telah mengajarkan bahwa kaum penjajah selalu
berbarengan dengan pemilik modal (kapitalis), untuk menguasai wilayah dan
ekonomi (SDA) suatu bangsa. Bagaimana Belanda mampu menjajah nusantara selama
350 tahun, karena ada pihak swasta (pemilik modal) berada dibelakang penjajahan
tersebut.
Selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, khususnya
setelah diberlakukannya Politik Pintu Terbuka (Liberal) pada tahun 1870,
berbagai perusahaan swasta Barat (Eropa) berperan besar dalam mengeksploitasi
sumber daya alam dan mmanusia. Perusahaan-perusahaan ini mendukung kolonialisme
dengan menanamkan modal, membangun infrastruktur, dan mengoperasikan perkebunan
serta pertambangan.
Beberapa perusahaan swasta dan lembaga yang berperan
dalam mendukung penjajahan Belanda, tergabung dalam VOC (Verenigde Oostindische
Compagnie). Meskipun pada akhirnya dikelola negara, VOC beroperasi sebagai
perusahaan dagang swasta raksasa pertama yang mendirikan fondasi kolonialisme
Belanda di Nusantara sejak 1602. Seperti perusahaan perkebunan asing masuk
membawa modal swasta besar-besaran untuk membuka perkebunan tembakau, teh,
kopi, dan karet. Perusahaan-perusahaan ini mengeksploitasi tenaga kerja
pribumi.
Sistem ekonomi kolonial didukung oleh De Javasche
Bank: Bank swasta yang menjadi pusat keuangan kolonial, mendukung pembiayaan
operasional perusahaan swasta Barat di Nusantara. Demikian juga perusahaan
Pertambangan: Modal swasta asing banyak yang menanamkan investasi di sektor pertambangan
minyak dan batubara.
Kebijakan ini, yang dikenal sebagai Sistem Usaha
Swasta (Liberal), memungkinkan eksploitasi besar-besaran, di mana tanah rakyat
dapat disewakan dan tenaga kerja dibayar murah, yang menghasilkan keuntungan
besar bagi Belanda dan investor swasta.
Sejarah imperialisme dan kolonialisme ini, akan
terulang kembali dengan diberlakukannya sistem kapitalisme oleh dua kapitalis
raksasa, yaitu barat (AS) dan Cina Komunis setelah runtuhnya rezim Orde Baru.
Dimana sistem kapitalisme ini ditandai dengan berhasilnya kaum kapitalis
memberdayakan anggota DPR untuk melakukan kudeta konstitusi, dan diberlakannya
UU Omnibus Low.
UU Omnibus Law (sering disebut Omnibus Bill atau UU
Sapu Jagat) adalah metode penyusunan undang-undang yang menggabungkan berbagai
peraturan berbeda, baik yang sudah ada maupun baru, menjadi satu undang-undang
tunggal yang komprehensif. Tujuannya adalah menyederhanakan birokrasi,
mengatasi tumpang tindih regulasi, dan mempercepat investasi.
Strategi menguasai kekuasaan dan ekonomi suatu negara
adalah kajian ekonomi politik yang kompleks, melibatkan kombinasi kontrol
politik dan dominasi sumber daya ekonomi. Berdasarkan berbagai sumber, strategi
ini sering kali melibatkan pendekatan terstruktur yang bertujuan mempengaruhi
kebijakan publik dan mengendalikan aset-aset vital negara.
Sejak runtuhnya Orde Baru perpolitikan nasional tidak
lagi dilandasi oleh etika dan moralitas, tetapi diwarnai dengan strategi
pembusukan (black campaign) terhadap tokoh-tokoh islam yang bersih dengan
stigma negatif. Demikian juga penerapan politik "de vide et invera (pecah
belah lalu kuasai)", terhadap kelompok muslim garis tegas dalam menegakkan
kebenaran dan keadilan.
Semua ini dilakukan oleh kelompok sekuler, komunis
yang islamopobia, atas propaganda barat dan Cina komunis serta dukungan
finansial kaum kapitalis, demi keuntungan bisnis dan kepentingan globalisasi.
Sekularisme memisahkan urusan agama dari negara namun
membebaskan keyakinan pribadi, sedangkan komunisme adalah ideologi ateistik
yang menganggap agama candu masyarakat, meniadakan Tuhan, dan membatasi
kebebasan individu demi kontrol negara. Sekuler berfokus pada netralitas agama,
sementara komunis berfokus pada kolektivisme/kesetaraan materialistis.
Strategi politik adu domba dan black campaign sangat ampuh membuat masyarakat Indonesia tidak berdaya, oleh pendekatan uang, materi, dan kepentingan. Karena mayoritas masyarakat buta politik
dan bodoh politik, khususnya politik kapitalisme.
Umat Islam Indonesia menjadi sasaran empuk politik adu
domba dan black campaign, karena masih lebih banyak yang "buta politik dan
bodoh politik", akibat propaganda barat dan Zionis Yahudi, melalui
pendekatan materi, uang, dan kepentingan, sehingga tidak bisa membedakan antara
kelompok sekuler yang islamopobia dengan sesamanya muslim. Akibatnya kaum
kapitalis (pemilik modal/bisnis), mampu menerapkan strategi politik "de
vide at invera (pecah belah lalu kuasai)."
Istilah "buta politik" (dan "bodoh
politik") adalah sindiran tajam dari penyair Jerman, Bertolt Brecht, yang
menggambarkan orang yang tidak peduli, bangga membenci politik, atau apatis
terhadap kebijakan negara. Mereka dianggap "bodoh" karena tidak
menyadari bahwa biaya hidup, pendidikan, dan nasib sehari-hari ditentukan oleh
keputusan politik (Kebijakan publik).
Masyarakat Indonesia menjadi sasaran empuk politik adu
domba atau devide et impera karena kombinasi faktor historis, sosiologis, dan
teknologi. Strategi ini, yang secara historis digunakan oleh kaum pebisnis
(investor) untuk menghancurkan soliditas bangsa dan memecah belah, masih
efektif karena beberapa alasan utama, yaitu:
1. Keberagaman yang Tinggi (SARA).
Indonesia memiliki
keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang sangat tinggi.
Keberagaman ini, jika tidak dikelola dengan baik, menjadi celah rentan untuk
diprovokasi menjadi konflik horisontal oleh pihak-pihak yang ingin mengambil
keuntungan bisnis dan politik.
2. Polarisasi Politik dan Agama.
Polarisasi yang tajam, terutama
pasca Pemilu, seringkali dimanfaatkan untuk mengadu domba antar kelompok
masyarakat. Narasi-narasi kebencian seringkali membawa sentimen keagamaan atau
golongan demi memecah belah kesatuan.
3. Rendahnya Literasi Digital dan Media Sosial.
Penyebaran informasi
palsu (hoaks), fitnah, dan ujaran kebencian di media sosial sangat cepat
memprovokasi emosi publik. Minimnya kemampuan untuk menyaring informasi membuat
masyarakat mudah termakan hasutan.
4. Faktor Ekonomi dan Sosial.
Kesenjangan sosial dan ekonomi
yang masih ada dapat memicu kecemburuan sosial, yang sering dimanfaatkan aktor
politik untuk menggerakkan massa melawan kelompok lain.
5. Tujuan Kekuasaan (Pecah Belah).
Politik adu domba
digunakan sebagai strategi untuk menciptakan ketidakstabilan demi tujuan
kekuasaan tertentu, di mana pihak luar atau elit politik mengadu domba
masyarakat lokal untuk melemahkan kekuatan soliditas bangsa.
Politik adu domba, yang juga dikenal sebagai namimah
atau fitnah, sekarang menjadi ancaman serius bagi keharmonisan dan solidaritas
bangsa.
Makassar, 10 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar