Pembangkangan Iblis terjadi karena kesombongan (takabur) dan rasa dengki, di mana Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam AS. Iblis menolak sujud karena menganggap dirinya diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Akibat keengganan ini, Iblis dikutuk menjadi golongan yang kafir dan terusir dari rahmat Allah.
-----
Senin, 20 April 2026
Tenggelamkan Kebenaran Tabur Fitnah Nikmati Kekuasaan
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Sejak awal manusia diciptakan iblis sudah melakukan
pembangkangan, karena tidak mau tunduk pada kebenaran (perintah Tuhannya) untuk
bersujud pada Nabi Adam ciptaan Allah SWT.
Pembangkangan Iblis terjadi karena kesombongan (takabur) dan rasa dengki, di mana Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam AS. Iblis menolak sujud karena menganggap dirinya diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Akibat keengganan ini, Iblis dikutuk menjadi golongan yang kafir dan terusir dari rahmat Allah.
Iblis pun bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan
keturunan Adam dari jalan yang lurus dengan cara " *mengepung mereka dari
depan, belakang, kanan, dan kiri* ". Setelah diusir karena menolak
bersujud kepada Adam, Iblis meminta penangguhan waktu hingga hari kiamat agar
dapat menghiasi kemaksiatan, menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran, bid'ah,
dan kelalaian untuk membuktikan bahwa sebagian besar manusia tidak akan
bersyukur.
Namun tidak semua manusia dan ulama, dapat terhasut
oleh siasat adu domba iblis. Karena masih banyak individu termasuk ulama yang
memiliki keteguhan akidah, sehingga sangat susah tergadaikan iman, moral, dan
integritasnya karena uang, materi, dan kepentingan. Kecuali mereka yang
tergolong, kedalam ulama-ulama su'. Siapa itu ulama su'?.
Ulama su' adalah orang berilmu agama yang buruk, tidak
mengamalkan ilmunya, dan memanfaatkan agama untuk kepentingan duniawi, seperti
mencari kekayaan, jabatan, atau pujian. Mereka digambarkan sebagai sosok yang
tidak memiliki integritas intelektual dan lebih berbahaya bagi umat daripada
Dajjal. Kondisi inilah yang melanda sebagian besar insan manusia di zaman
modern sekarang, khususnya masyarakat Indonesia yang masih banyak miskin serta
buta dan bodoh politik.
Imam Ahmad bin Hanbal menjadi simbol keteguhan akidah
setelah menolak doktrin bahwa Al-Qur'an adalah makhluk selama masa ujian
Mihnah. Meski dipenjara, dicambuk, dan disiksa oleh penguasa Abbasiyah, beliau
tetap berpegang teguh bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah. Ketegarannya
membuatnya dijuluki Imam al-Mihnah dan menjadi ikon Ahlussunnah karena memilih
risiko kematian demi mempertahankan kebenaran daripada berkompromi dengan
penguasa.
Peristiwa ini terjadi di masa kekhalifahan Abbasiyah
(terutama pada era Khalifah al-Ma'mun hingga al-Mu'tashim). Saat itu, pengaruh
paham Muktazilah sangat kuat di pemerintahan, dan mereka memaksakan doktrin
bahwa Al-Qur'an adalah makhluk (ciptaan), bukan Kalamullah (firman Allah).
Imam Ahmad dengan tegas menolak pandangan tersebut
meskipun mayoritas ulama saat itu memilih diam atau berkompromi karena takut
akan ancaman penguasa. Akibatnya beliau dipenjara dan mengalami penyiksaan
fisik yang berat, termasuk dicambuk hingga berdarah, namun lisannya tetap
konsisten menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah.
Begitu pula apa yang dialami oleh Buya Hamka (Haji
Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama besar yang pernah dipenjara oleh
Presiden Soekarno. Ia merupakan tokoh Masyumi dan ketua MUI pertama, ia
dipenjara karena sikap kritis dan prinsipnya yang teguh terhadap kebijakan
Soekarno.
Hamka ditangkap pada tahun 1964 tanpa proses
pengadilan. Ia dituduh melanggar UU Anti Subversif, difitnah merencanakan
pembunuhan Presiden, dan dituduh pro-Malaysia di tengah konfrontasi
Indonesia-Malaysia.
Sikap Teguh: Penahanan tersebut dianggap sebagai upaya
menyingkirkan lawan politik karena kritik kerasnya terhadap kebijakan Soekarno
yang dianggap berat sebelah dan terpengaruh PKI. Meski dipenjara hingga tahun
1966, Hamka tetap tenang dan justru berhasil menyelesaikan karya monumentalnya,
yaitu Tafsir Al-Azhar.
Gambaran
Integritas Luar Biasa
Gambaran kedua ulama tersebut diatas, menunjukkan
integritas pribadi-pribadi yang luar biasa. Karena lebih mengedepankan
kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongannya. Khususnya Imam
Ahmad, beliau dikenal hidup sederhana (zuhud) dan menolak hadiah dari penguasa
agar tetap bebas dalam menyampaikan kebenaran.
Pelajaran Penting : Kisah beliau menjadi teladan
tentang keberanian dalam menjaga akidah. Masyarakat saat itu memberikan
dukungan moral, mengingatkan bahwa jika beliau terbunuh, beliau akan mati
syahid, dan jika hidup, hidupnya akan mulia. Keteguhan ini akhirnya menempatkan
beliau sebagai rujukan utama dalam sejarah Islam terkait keberanian membela
kebenaran.
Kisah Imam Ahmad Disiksa Karena Mempertahankan
Integritas: Di sepanjang sejarah Islam, ada ulama yang bukan hanya mengajar
ilmu…tetapi membayar ilmu itu dengan darah, air mata, dan penderitaan.
Salah satunya adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang
imam besar ahli hadis yang namanya hidup hingga hari ini. Kisahnya dikenal
sebagai salah satu ujian paling berat yang pernah dialami seorang ulama.
Pada abad ke-3 Hijriah ini, dunia Islam berada di
bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah. Saat itu muncul pemikiran teologi yang
dipengaruhi filsafat Yunani, dikenal sebagai Mu’tazilah. Mereka menyebarkan
satu keyakinan:
> Al-Qur’an adalah makhluk (diciptakan).
Keyakinan ini kemudian didukung oleh khalifah
Al-Ma'mun. Semua ulama diperintahkan untuk mengakuinya. Siapa yang menolak akan
dianggap melawan negara. Banyak ulama memilih diam demi keselamatan. Namun Imam
Ahmad tidak.
Ketika ditanya:
“Apakah Al-Qur’an makhluk?”. Beliau menjawab dengan
tenang: “Al- Qur’an adalah Kalamullah. Bukan makhluk.”
Jawaban itu sederhana…
tetapi konsekuensinya sangat berat. Beliau langsung
ditangkap. Imam Ahmad dibelenggu besi. Tangan dan kaki dirantai. Beliau dibawa
dari Baghdad dalam perjalanan panjang yang melelahkan. Di dalam penjara, para
pejabat terus menekan:
• Ancaman hukuman mati
• Siksaan fisik
• Tekanan mental
• Rayuan jabatan dan kekayaan
Semua ditawarkan asal beliau mau berkata satu kalimat:
“Al-Qur’an adalah makhluk.” Namun beliau tetap diam. Hari paling menggetarkan
pun tiba. Imam Ahmad dibawa ke hadapan penguasa. Cambuk diangkat. Satu
pukulan…Dua pukulan…Tiga pukulan…
Setiap cambukan membuat tubuh beliau robek. Darah
membasahi pakaian. Para saksi mengatakan: Cambukan begitu keras hingga daging
beliau terlihat terbuka.
Namun setiap kali hampir pingsan, beliau hanya
mengucapkan:
“Berikan aku satu dalil dari Rasulullah maka aku akan
mengikutinya.” Tidak ada dalil. Hanya tekanan kekuasaan. Dan Imam Ahmad memilih
tetap berdiri di atas kebenaran hadis Nabi.
Kabar penyiksaan itu menyebar. Penduduk Baghdad
menangis. Orang-orang berkumpul di luar penjara. Mereka berkata:
“Jika Imam
Ahmad jatuh, maka agama akan jatuh.”
Bukan karena beliau nabi. Tetapi karena beliau penjaga
sunnah Rasulullah .
Suatu hari cambukan begitu keras hingga beliau
pingsan. Para algojo mengira beliau telah meninggal. Tubuhnya dilempar seperti
orang tak bernyawa. Namun Allah masih menjaga hamba-Nya. Beliau sadar kembali…
dan kalimat pertama yang keluar dari lisannya adalah: “Di mana aku? Apakah waktu shalat sudah tiba?”
Bahkan setelah disiksa…
yang beliau pikirkan bukan dirinya. Tetapi shalat.
Setelah beberapa khalifah berganti, akhirnya penyiksaan dihentikan. Imam Ahmad
dibebaskan.
Beliau kembali mengajar hadis. Tanpa dendam. Tanpa kebencian.
Tanpa balas sakit hati.
Mengapa Kisah Ini Begitu Besar?
Para ulama berkata:
> “Allah menjaga agama ini melalui Abu Bakar pada
hari riddah,
dan melalui Imam Ahmad pada hari fitnah Al-Qur’an.”
Jika beliau menyerah, mungkin ajaran Rasulullah akan
bercampur dengan tekanan politik. Tetapi satu orang berdiri teguh. Dan
karenanya, Sunnah tetap hidup sampai hari ini.
Pelajaran besar yang dapat dipetik dari Imam Ahmad:
1. Kebenaran Tidak Selalu
Aman, kadang mempertahankan kebenaran berarti kehilangan kenyamanan.
2. Ulama Sejati Tak Menjual
Ilmu. Jabatan, harta, keselamatan, semuanya ditolak demi hadis.
3. Allah Menjaga Agama Lewat Orang Ikhlas. Bukan lewat kekuasaan. Bukan lewat senjata. Tetap lewat hati yang teguh dan takut kepada Allah.
Bayangkan…
Seorang ulama tua, tubuh penuh luka, berdiri sendirian
melawan tekanan kekhalifahan terbesar di dunia. Tidak membawa pedang. Tidak
membawa pasukan. Hanya membawa satu senjata: Cinta kepada Rasulullah dan hadis
beliau.
Dan karena keberanian itu, nama Imam Ahmad ibnu Hanbal
tidak pernah mati. Ia hidup di setiap majelis ilmu, di setiap hadis yang kita
pelajari, hingga hari kiamat.
Sekarang kita berasa pada zaman kezaliman, dimana
kebenaran sengaja ditenggelamkan lalu fitnah ditabur, agar lawan dapat
dijatuhkan untuk meraih tahta dan kekuasaan.
Menabur fitnah adalah tindakan keji yang menyebarkan
kebohongan untuk merusak nama baik, menimbulkan kebencian, dan mengaburkan kebenaran
demi mempertahankan tahta dan kekuasaan. Dalam banyak konteks, fitnah dianggap
lebih berbahaya daripada pembunuhan karena dampaknya merusak tatanan sosial dan
akidah. Fitnah sering kali digunakan untuk memecah belah masyarakat, merusak
ukhuwah (persaudaraan), dan menghancurkan reputasi seseorang secara sistematis,
seperti yang dialamtkan kepada tokoh-tokoh islam nusantara selama ini.
Semoga di zaman modern sekarang ini yang banyak
dipenuhi tipu daya iblis akan kepentingan duniawi,
masih banyak ulama yang memiliki integritas dalam
menegakkan kebenaran serta keberanian melawan kezaliman. Aamiin...
Makassar, 20 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar