Translate

Minggu, 19 April 2026

Tenggelamkan Kebenaran Tabur Fitnah Nikmati Kekuasaan

 

Pembangkangan Iblis terjadi karena kesombongan (takabur) dan rasa dengki, di mana Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam AS. Iblis menolak sujud karena menganggap dirinya diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Akibat keengganan ini, Iblis dikutuk menjadi golongan yang kafir dan terusir dari rahmat Allah.





-----

Senin, 20 April 2026




Tenggelamkan Kebenaran Tabur Fitnah Nikmati Kekuasaan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Sejak awal manusia diciptakan iblis sudah melakukan pembangkangan, karena tidak mau tunduk pada kebenaran (perintah Tuhannya) untuk bersujud pada Nabi Adam ciptaan Allah SWT.

Pembangkangan Iblis terjadi karena kesombongan (takabur) dan rasa dengki, di mana Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam AS. Iblis menolak sujud karena menganggap dirinya diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Akibat keengganan ini, Iblis dikutuk menjadi golongan yang kafir dan terusir dari rahmat Allah.

Iblis pun bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan keturunan Adam dari jalan yang lurus dengan cara " *mengepung mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri* ". Setelah diusir karena menolak bersujud kepada Adam, Iblis meminta penangguhan waktu hingga hari kiamat agar dapat menghiasi kemaksiatan, menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran, bid'ah, dan kelalaian untuk membuktikan bahwa sebagian besar manusia tidak akan bersyukur.

Namun tidak semua manusia dan ulama, dapat terhasut oleh siasat adu domba iblis. Karena masih banyak individu termasuk ulama yang memiliki keteguhan akidah, sehingga sangat susah tergadaikan iman, moral, dan integritasnya karena uang, materi, dan kepentingan. Kecuali mereka yang tergolong, kedalam ulama-ulama su'. Siapa itu ulama su'?.

Ulama su' adalah orang berilmu agama yang buruk, tidak mengamalkan ilmunya, dan memanfaatkan agama untuk kepentingan duniawi, seperti mencari kekayaan, jabatan, atau pujian. Mereka digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki integritas intelektual dan lebih berbahaya bagi umat daripada Dajjal. Kondisi inilah yang melanda sebagian besar insan manusia di zaman modern sekarang, khususnya masyarakat Indonesia yang masih banyak miskin serta buta dan bodoh politik.

Imam Ahmad bin Hanbal menjadi simbol keteguhan akidah setelah menolak doktrin bahwa Al-Qur'an adalah makhluk selama masa ujian Mihnah. Meski dipenjara, dicambuk, dan disiksa oleh penguasa Abbasiyah, beliau tetap berpegang teguh bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah. Ketegarannya membuatnya dijuluki Imam al-Mihnah dan menjadi ikon Ahlussunnah karena memilih risiko kematian demi mempertahankan kebenaran daripada berkompromi dengan penguasa.

Peristiwa ini terjadi di masa kekhalifahan Abbasiyah (terutama pada era Khalifah al-Ma'mun hingga al-Mu'tashim). Saat itu, pengaruh paham Muktazilah sangat kuat di pemerintahan, dan mereka memaksakan doktrin bahwa Al-Qur'an adalah makhluk (ciptaan), bukan Kalamullah (firman Allah).

Imam Ahmad dengan tegas menolak pandangan tersebut meskipun mayoritas ulama saat itu memilih diam atau berkompromi karena takut akan ancaman penguasa. Akibatnya beliau dipenjara dan mengalami penyiksaan fisik yang berat, termasuk dicambuk hingga berdarah, namun lisannya tetap konsisten menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah.

Begitu pula apa yang dialami oleh Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama besar yang pernah dipenjara oleh Presiden Soekarno. Ia merupakan tokoh Masyumi dan ketua MUI pertama, ia dipenjara karena sikap kritis dan prinsipnya yang teguh terhadap kebijakan Soekarno.

Hamka ditangkap pada tahun 1964 tanpa proses pengadilan. Ia dituduh melanggar UU Anti Subversif, difitnah merencanakan pembunuhan Presiden, dan dituduh pro-Malaysia di tengah konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Sikap Teguh: Penahanan tersebut dianggap sebagai upaya menyingkirkan lawan politik karena kritik kerasnya terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap berat sebelah dan terpengaruh PKI. Meski dipenjara hingga tahun 1966, Hamka tetap tenang dan justru berhasil menyelesaikan karya monumentalnya, yaitu Tafsir Al-Azhar.

Gambaran Integritas Luar Biasa

Gambaran kedua ulama tersebut diatas, menunjukkan integritas pribadi-pribadi yang luar biasa. Karena lebih mengedepankan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongannya. Khususnya Imam Ahmad, beliau dikenal hidup sederhana (zuhud) dan menolak hadiah dari penguasa agar tetap bebas dalam menyampaikan kebenaran.

Pelajaran Penting : Kisah beliau menjadi teladan tentang keberanian dalam menjaga akidah. Masyarakat saat itu memberikan dukungan moral, mengingatkan bahwa jika beliau terbunuh, beliau akan mati syahid, dan jika hidup, hidupnya akan mulia. Keteguhan ini akhirnya menempatkan beliau sebagai rujukan utama dalam sejarah Islam terkait keberanian membela kebenaran.

Kisah Imam Ahmad Disiksa Karena Mempertahankan Integritas: Di sepanjang sejarah Islam, ada ulama yang bukan hanya mengajar ilmu…tetapi membayar ilmu itu dengan darah, air mata, dan penderitaan.

Salah satunya adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang imam besar ahli hadis yang namanya hidup hingga hari ini. Kisahnya dikenal sebagai salah satu ujian paling berat yang pernah dialami seorang ulama.

Pada abad ke-3 Hijriah ini, dunia Islam berada di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah. Saat itu muncul pemikiran teologi yang dipengaruhi filsafat Yunani, dikenal sebagai Mu’tazilah. Mereka menyebarkan satu keyakinan:

> Al-Qur’an adalah makhluk (diciptakan).

Keyakinan ini kemudian didukung oleh khalifah Al-Ma'mun. Semua ulama diperintahkan untuk mengakuinya. Siapa yang menolak akan dianggap melawan negara. Banyak ulama memilih diam demi keselamatan. Namun Imam Ahmad tidak.

Ketika ditanya:

“Apakah Al-Qur’an makhluk?”. Beliau menjawab dengan tenang: “Al- Qur’an adalah Kalamullah. Bukan makhluk.”

Jawaban itu sederhana…

tetapi konsekuensinya sangat berat. Beliau langsung ditangkap. Imam Ahmad dibelenggu besi. Tangan dan kaki dirantai. Beliau dibawa dari Baghdad dalam perjalanan panjang yang melelahkan. Di dalam penjara, para pejabat terus menekan:

• Ancaman hukuman mati

• Siksaan fisik

• Tekanan mental

• Rayuan jabatan dan kekayaan

Semua ditawarkan asal beliau mau berkata satu kalimat: “Al-Qur’an adalah makhluk.” Namun beliau tetap diam. Hari paling menggetarkan pun tiba. Imam Ahmad dibawa ke hadapan penguasa. Cambuk diangkat. Satu pukulan…Dua pukulan…Tiga pukulan…

Setiap cambukan membuat tubuh beliau robek. Darah membasahi pakaian. Para saksi mengatakan: Cambukan begitu keras hingga daging beliau terlihat terbuka.

Namun setiap kali hampir pingsan, beliau hanya mengucapkan:

“Berikan aku satu dalil dari Rasulullah maka aku akan mengikutinya.” Tidak ada dalil. Hanya tekanan kekuasaan. Dan Imam Ahmad memilih tetap berdiri di atas kebenaran hadis Nabi.

Kabar penyiksaan itu menyebar. Penduduk Baghdad menangis. Orang-orang berkumpul di luar penjara. Mereka berkata:

 “Jika Imam Ahmad jatuh, maka agama akan jatuh.”

Bukan karena beliau nabi. Tetapi karena beliau penjaga sunnah Rasulullah .

Suatu hari cambukan begitu keras hingga beliau pingsan. Para algojo mengira beliau telah meninggal. Tubuhnya dilempar seperti orang tak bernyawa. Namun Allah masih menjaga hamba-Nya. Beliau sadar kembali…

dan kalimat pertama yang keluar dari lisannya adalah:  “Di mana aku? Apakah waktu shalat sudah tiba?”

Bahkan setelah disiksa…

yang beliau pikirkan bukan dirinya. Tetapi shalat. Setelah beberapa khalifah berganti, akhirnya penyiksaan dihentikan. Imam Ahmad dibebaskan.

Beliau kembali mengajar hadis. Tanpa dendam. Tanpa kebencian. Tanpa balas sakit hati.

Mengapa Kisah Ini Begitu Besar?

Para ulama berkata:

> “Allah menjaga agama ini melalui Abu Bakar pada hari riddah,

dan melalui Imam Ahmad pada hari fitnah Al-Qur’an.”

Jika beliau menyerah, mungkin ajaran Rasulullah akan bercampur dengan tekanan politik. Tetapi satu orang berdiri teguh. Dan karenanya, Sunnah tetap hidup sampai hari ini.

Pelajaran besar yang dapat dipetik dari Imam Ahmad:

1. Kebenaran Tidak Selalu Aman, kadang mempertahankan kebenaran berarti kehilangan kenyamanan.

2. Ulama Sejati Tak Menjual Ilmu. Jabatan, harta, keselamatan, semuanya ditolak demi hadis.

3. Allah Menjaga Agama Lewat Orang Ikhlas. Bukan lewat kekuasaan. Bukan lewat senjata. Tetap         lewat hati yang teguh dan takut kepada Allah.

Bayangkan…

Seorang ulama tua, tubuh penuh luka, berdiri sendirian melawan tekanan kekhalifahan terbesar di dunia. Tidak membawa pedang. Tidak membawa pasukan. Hanya membawa satu senjata: Cinta kepada Rasulullah dan hadis beliau.

Dan karena keberanian itu, nama Imam Ahmad ibnu Hanbal tidak pernah mati. Ia hidup di setiap majelis ilmu, di setiap hadis yang kita pelajari, hingga hari kiamat.

Sekarang kita berasa pada zaman kezaliman, dimana kebenaran sengaja ditenggelamkan lalu fitnah ditabur, agar lawan dapat dijatuhkan untuk meraih tahta dan kekuasaan.

Menabur fitnah adalah tindakan keji yang menyebarkan kebohongan untuk merusak nama baik, menimbulkan kebencian, dan mengaburkan kebenaran demi mempertahankan tahta dan kekuasaan. Dalam banyak konteks, fitnah dianggap lebih berbahaya daripada pembunuhan karena dampaknya merusak tatanan sosial dan akidah. Fitnah sering kali digunakan untuk memecah belah masyarakat, merusak ukhuwah (persaudaraan), dan menghancurkan reputasi seseorang secara sistematis, seperti yang dialamtkan kepada tokoh-tokoh islam nusantara selama ini.

Semoga di zaman modern sekarang ini yang banyak dipenuhi tipu daya iblis akan kepentingan duniawi,

masih banyak ulama yang memiliki integritas dalam menegakkan kebenaran serta keberanian melawan kezaliman. Aamiin...

 

 

Makassar, 20 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar