Pengakuan Presiden: Ada relasi antara kapital, kekuasaan, dan aparat nembentuk jejaring oligarki pengamanan bisnis. Masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia bukanlah salah rakyat, karena rakyat telah berpartisipasi didalam melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai pemilik kedaulatan dalam negara demokrasi.
-----
Jum'at, 22 Mei 2026
Relasi Antara Kapital & Aparat Mengancam
Kedaulatan
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pengamat Politik & Pendidikan)
Pengakuan Presiden: Ada relasi antara kapital,
kekuasaan, dan aparat nembentuk jejaring oligarki pengamanan bisnis
Masalah yang dihadapi
oleh bangsa Indonesia bukanlah salah rakyat, karena rakyat telah berpartisipasi
didalam melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai pemilik kedaulatan dalam
negara demokrasi. Termasuk dalam memilih calon legislatif dan pasangan calon Presiden-Wapres,
namun diduga telah dirampas oleh mafia kekuasaan.
Sedangkan akar masalahnya
juga bukan pada pemerintah, karena yang dikehendaki oleh pemilik modal adalah
pemimpin yang bisa bekerjasama membangun kontrak politik bersama dengan
kekuatan politik dan ekonomi dalam koalisi oligarki.
Akar Masalahnya
: Karena elit politik dan pemilik partai membutuhkan biaya politik (cost
politcs), sehingga dengan terpaksa menggadaikan kekuasaan rakyat (demokrasi)
dan kedaulatan negara kepada kelompok pemilik modal (mafia kekuasaan).
Mafia kekuasaan adalah
bentuk penyalahgunaan wewenang di mana jejaring kejahatan terorganisir, oknum
pejabat, dan elit politik berkolusi untuk mengendalikan kebijakan, hukum, dan
sumber daya negara demi keuntungan pribadi. Praktik ini merusak demokrasi,
melanggengkan korupsi, dan menciptakan sistem rente yang merugikan masyarakat.
Pernyataan mengenai
adanya relasi antara kapital, kekuasaan, dan aparat yang membentuk jejaring
oligarki menjadi sorotan tajam, terutama dalam diskursus politik nasional. Isu
ini mengemuka seiring dengan pengakuan dan kritik dari Presiden terhadap
praktik di mana institusi penegak hukum maupun birokrasi diduga dimanfaatkan
oleh kekuatan modal. Dalam analisis ekonomi-politik, penyatuan antara penguasa
dan pengusaha sering kali menciptakan triangulasi kekuasaan yang mengancam tata
kelola demokrasi.
Relasi Kapital dan
Kekuasaan: Pemilik modal atau elit bisnis memiliki akses langsung untuk
memengaruhi kebijakan negara dan menempatkan orang-orangnya di posisi strategis
pemerintahan.
Keterlibatan Aparat:
Munculnya fenomena di mana oknum aparat penegak hukum atau institusi negara
diduga menjadi "beking" atau pelindung kepentingan korporasi dan
mafia bisnis di sektor-sektor strategis seperti pertambangan, logistik, dan
agraria.
Dampak Sistemik: Praktik
ini menyebabkan hukum sering tumpul ke atas namun tajam ke bawah, karena aparat
hukum dan kekuasaan masih bisa dibeli integritas dan nasinalismenya dengan uang,
materi, dan kepentingan.
Fenomena ini menciptakan
state capture, di mana institusi negara justru melayani jaringan ekonomi
tertentu alih-alih kepentingan publik secara luas.
“Dalam perspektif
intelijen geopolitik, pidato Presiden Prabowo di Museum Marsinah adalah warning
terbuka kepada shadow power yang selama ini bercokol di sekitar kekuasaan,”
kata Amir Hamzah pengamat intelijen dan geopolitik
kepada wartawan, Jumat
(22/5/2026).
“Bahasa Presiden sangat
jelas. Ini bukan sekadar kritik moral, tetapi pengakuan bahwa ada relasi antara
kapital, kekuasaan, dan aparat yang selama ini membentuk jejaring oligarki
pengamanan bisnis,” ujarnya.
Ia menyebut sektor-sektor
strategis seperti pertambangan, impor, pelabuhan, distribusi logistik, hingga
proyek sumber daya alam sering menjadi arena permainan kekuatan informal.
“Dalam analisa intelijen,
ini disebut state capture by economic network. Negara perlahan bisa
dikendalikan jaringan ekonomi tertentu melalui pengaruh kepada aparat dan
birokrasi,” katanya.
(https://jakartasatu.com/2026/05/22).
Makassar, 22 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar