Sudah 81 Tahun Indonesia merdeka dari sistem penjajahan wilayah (kolonialisme) oleh Belanda dan Jepang, tetapi bukan berarti merdeka dari sistem imperealisme yaitu sistem politik dari negara besar, yang memperluas pengaruhnya untuk menguasai pemerintahan dan ekonomi suatu negara.
-----
Ahad, 16 Agustus 2026
81 Tahun Indonesia Merdeka Beternak Tikus Berdasi
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Sudah 81 Tahun Indonesia
merdeka dari sistem penjajahan wilayah (kolonialisme) oleh Belanda dan Jepang,
tetapi bukan berarti merdeka dari sistem imperealisme yaitu sistem politik dari
negara besar, yang memperluas pengaruhnya untuk menguasai pemerintahan dan
ekonomi suatu negara. Imperialisme adalah kebijakan atau sistem politik di mana
sebuah negara besar (negara industri) memperluas kekuasaan dan pengaruhnya
dengan menguasai wilayah, pemerintahan, atau ekonomi negara lain. Istilah ini berasal
dari bahasa Latin imperare yang berarti memerintah atau menguasai.
Imperialisme Kuno:
Muncul sebelum Revolusi Industri. Fokusnya didasarkan pada semboyan 3G (Gold,
Gospel, dan Glory) yaitu mencari kekayaan, menyebarkan agama, dan kejayaan. Imperialisme Modern: Muncul setelah
Revolusi Industri. Latar belakangnya adalah kebutuhan ekonomi untuk mencari
bahan baku industri dan pasar bagi produk negara penjajah. Imperialisme Politik: Penguasaan total terhadap struktur
pemerintahan dan politik suatu negara lain. Imperialisme Ekonomi: Penguasaan terhadap sektor perdagangan dan
sumber daya alam negara lain.
Perbedaannya dengan
Kolonialisme: Berfokus pada penguasaan fisik suatu wilayah dan pengerukan
sumber daya alam secara langsung. Sedangkan Imperialisme: Berfokus pada
penguasaan pengaruh kekuasaan, politik, dan kontrol yang lebih luas atas suatu
pemerintahan atau bangsa. Pada tataran imperealisme inilah Indonesia tidak bisa
merdeka selama 81 tahun, karena Indonesia masih tetap beternak dan memelihara
tikus-tikus berdasi. Apalagi peternakan one piece ini semakin subur dalam
sepuluh tahun pemeritahan Raja Jawa (Mulyono). Siapa yang beternak? Adalah para
konglomerat, investor, atau biasa dikenal dengan istilah mafia dagang, yang
selalu beternak dan memupuk perilaku korupsi bagi pejabat publik (tikus-tikus
berdasi).
Beternak adalah kegiatan
merawat dan memelihara hewan hidup untuk diambil hasilnya. Sedangkan "tikus berdasi" adalah istilah atau
sindiran untuk menyebut koruptor atau pelaku kejahatan korupsi. Istilah ini
sering dipakai dalam berita, lagu, karya seni, atau percakapan sehari-hari di
Indonesia. Asal-usul istilah tikus: Hewan ini disimbolkan karena sifatnya yang
licik, suka merusak, rakus, dan diam-diam mencuri makanan atau barang milik
orang lain. Sedangkan istilah berdasi: Menandakan bahwa pelaku kejahatan ini
adalah orang-orang dari kalangan atas, pejabat, pegawai kantor, atau orang terhormat
yang berpenampilan rapi.
Makna di balik istilah
menggerogoti uang negara, bahwa koruptor diibaratkan seperti tikus yang
menggerogoti apa saja secara sembunyi-sembunyi, di mana yang mereka gerogoti
adalah uang rakyat dan negara.penampilsnnya rapi tapi jahat, menunjukkan
kontras antara penampilan luar mereka yang tampak bersih dan terpelajar dengan
tindakan busuk yang merugikan banyak orang.
Upaya Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Ternyata melemahnya nilai
tukar rupiah, disebabkan oleh tikus-tikus berdasi didalam negeri. Lenin Komunis
pernah berkata " Kalau mau hancurkan suatu negara, pertama hancurkanlah
nilai mata uangnya". Dan kalau kita mau pertahankan kedaulatan negara,
maka kita harus punya pertahanan terhadap ekonomi kita. Kenapa Singapura yang tidak punya tambang
nikel satu jengkal pun bisa menjadi Raja ekspor nikel terbesar di Asia,
sementara kita yang punya lahannya jadi budak dan miskin.
Jawabannya:
Ternyata Singapura
disuapin oleh para penghianat bangsa (tikus berdasi) dari Indonesia (londo
ireng), dengan membawa keluar atau meyimpang di Singapura hasil jual tambang (nikel,
batubara, emas dsb. melalui lorong dan pelabuhan-pelabuhan tikus.
Sekarang Prabowo-Purbaya
sedang berjuang mewujudkan tekadnya, untuk mengejar para koruptor sampai ke
Antartika. Dan sangat membutuhkan suppor dan dukungan moral dari seluruh
lapisan masyarakat, agar mampu mensejahterakan masyarakat sebagaimana amanat
Pasal 33 UUD 1945. Sadarlah jika masyarakat dibiarkan tetap buta dan bodoh
politik, maka para mafia dan londo ireng akan tetap menghasut dan mengadu domba
publik, agar tekad Prabowo- Purbaya tidak bisa terwujud karena dapat
menyebabkan minimarket londo ireng yang sudah dibangun sampai tingkat Deda dan
Kelurahan gulung tikar.
Makassar, 16 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar