Translate

Sabtu, 15 Agustus 2026

81 Tahun Indonesia Merdeka Beternak Tikus Berdasi

 

Sudah 81 Tahun Indonesia merdeka dari sistem penjajahan wilayah (kolonialisme) oleh Belanda dan Jepang, tetapi bukan berarti merdeka dari sistem imperealisme yaitu sistem politik dari negara besar, yang memperluas pengaruhnya untuk menguasai pemerintahan dan ekonomi suatu negara.






-----

Ahad, 16 Agustus 2026


81 Tahun Indonesia Merdeka Beternak Tikus Berdasi

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Sudah 81 Tahun Indonesia merdeka dari sistem penjajahan wilayah (kolonialisme) oleh Belanda dan Jepang, tetapi bukan berarti merdeka dari sistem imperealisme yaitu sistem politik dari negara besar, yang memperluas pengaruhnya untuk menguasai pemerintahan dan ekonomi suatu negara. Imperialisme adalah kebijakan atau sistem politik di mana sebuah negara besar (negara industri) memperluas kekuasaan dan pengaruhnya dengan menguasai wilayah, pemerintahan, atau ekonomi negara lain. Istilah ini berasal dari bahasa Latin imperare yang berarti memerintah atau menguasai.

Imperialisme Kuno: Muncul sebelum Revolusi Industri. Fokusnya didasarkan pada semboyan 3G (Gold, Gospel, dan Glory) yaitu mencari kekayaan, menyebarkan agama, dan kejayaan. Imperialisme Modern: Muncul setelah Revolusi Industri. Latar belakangnya adalah kebutuhan ekonomi untuk mencari bahan baku industri dan pasar bagi produk negara penjajah. Imperialisme Politik: Penguasaan total terhadap struktur pemerintahan dan politik suatu negara lain. Imperialisme Ekonomi: Penguasaan terhadap sektor perdagangan dan sumber daya alam negara lain.

Perbedaannya dengan Kolonialisme: Berfokus pada penguasaan fisik suatu wilayah dan pengerukan sumber daya alam secara langsung. Sedangkan Imperialisme: Berfokus pada penguasaan pengaruh kekuasaan, politik, dan kontrol yang lebih luas atas suatu pemerintahan atau bangsa. Pada tataran imperealisme inilah Indonesia tidak bisa merdeka selama 81 tahun, karena Indonesia masih tetap beternak dan memelihara tikus-tikus berdasi. Apalagi peternakan one piece ini semakin subur dalam sepuluh tahun pemeritahan Raja Jawa (Mulyono). Siapa yang beternak? Adalah para konglomerat, investor, atau biasa dikenal dengan istilah mafia dagang, yang selalu beternak dan memupuk perilaku korupsi bagi pejabat publik (tikus-tikus berdasi).

Beternak adalah kegiatan merawat dan memelihara hewan hidup untuk diambil hasilnya. Sedangkan  "tikus berdasi" adalah istilah atau sindiran untuk menyebut koruptor atau pelaku kejahatan korupsi. Istilah ini sering dipakai dalam berita, lagu, karya seni, atau percakapan sehari-hari di Indonesia. Asal-usul istilah tikus: Hewan ini disimbolkan karena sifatnya yang licik, suka merusak, rakus, dan diam-diam mencuri makanan atau barang milik orang lain. Sedangkan istilah berdasi: Menandakan bahwa pelaku kejahatan ini adalah orang-orang dari kalangan atas, pejabat, pegawai kantor, atau orang terhormat yang berpenampilan rapi.

Makna di balik istilah menggerogoti uang negara, bahwa koruptor diibaratkan seperti tikus yang menggerogoti apa saja secara sembunyi-sembunyi, di mana yang mereka gerogoti adalah uang rakyat dan negara.penampilsnnya rapi tapi jahat, menunjukkan kontras antara penampilan luar mereka yang tampak bersih dan terpelajar dengan tindakan busuk yang merugikan banyak orang.

Upaya Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Ternyata melemahnya nilai tukar rupiah, disebabkan oleh tikus-tikus berdasi didalam negeri. Lenin Komunis pernah berkata " Kalau mau hancurkan suatu negara, pertama hancurkanlah nilai mata uangnya". Dan kalau kita mau pertahankan kedaulatan negara, maka kita harus punya pertahanan terhadap ekonomi kita.  Kenapa Singapura yang tidak punya tambang nikel satu jengkal pun bisa menjadi Raja ekspor nikel terbesar di Asia, sementara kita yang punya lahannya jadi budak dan miskin.

Jawabannya:

Ternyata Singapura disuapin oleh para penghianat bangsa (tikus berdasi) dari Indonesia (londo ireng), dengan membawa keluar atau meyimpang di Singapura hasil jual tambang (nikel, batubara, emas dsb. melalui lorong dan pelabuhan-pelabuhan tikus.

Sekarang Prabowo-Purbaya sedang berjuang mewujudkan tekadnya, untuk mengejar para koruptor sampai ke Antartika. Dan sangat membutuhkan suppor dan dukungan moral dari seluruh lapisan masyarakat, agar mampu mensejahterakan masyarakat sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945. Sadarlah jika masyarakat dibiarkan tetap buta dan bodoh politik, maka para mafia dan londo ireng akan tetap menghasut dan mengadu domba publik, agar tekad Prabowo- Purbaya tidak bisa terwujud karena dapat menyebabkan minimarket londo ireng yang sudah dibangun sampai tingkat Deda dan Kelurahan gulung tikar.

 

Makassar, 16 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar