Wahai para pemuda Indonesia dipundakmulah kuamanahkan masa depan Indonesiaku, maka bersumpalah akan merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab ancaman disintegrasi bangsa di depan mata, oleh sistem kapitalisme global.
-----
Rabu, 28 Oktober 2026
Kutitipkan Indonesiaku Bersumpahlah Merawat Persatuan & Kesatuan
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Sumpah Pemuda yang di ikrarkan pada 28 Oktober 1928
oleh para Pemuda nusantara, adalah landasan persatuan nasional Indonesia yang
diikrarkan melalui tiga tekad utama yaitu: satu tanah air, satu bangsa, dan
satu bahasa persatuan.
Wahai para pemuda Indonesia dipundakmulah kuamanahkan
masa depan Indonesiaku, maka bersumpalah akan merawat persatuan dan kesatuan
bangsa. Sebab ancaman disintegrasi bangsa di depan mata, oleh sistem
kapitalisme global. Dan jika kalian gagal maka Indonesiaku tinggal kenangan
sejarah, seperti halnya Hindia Belanda.
Makna Sumpah Pemuda adalah landasan persatuan nasional
Indonesia yang diikrarkan melalui tiga tekad utama: satu tanah air, satu bangsa,
dan satu bahasa persatuan.
Tiga poin utama makna Sumpah Pemuda, adalah:
•
Satu Tanah Air (Tanah Air Indonesia): Mengakui seluruh wilayah nusantara
sebagai satu kesatuan tempat hidup dan berjuang bersama, bukan lagi berdasarkan
wilayah kedaerahan masing-masing.
•
Satu Bangsa (Bangsa Indonesia): Menyatukan berbagai suku, latar belakang, dan
budaya ke dalam satu identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia.
•
Satu Bahasa (Bahasa Indonesia): Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai sarana
komunikasi pemersatu bangsa dari Sabang sampai Merauke di tengah keberagaman
bahasa daerah.
Sumpah Pemuda lahir pada tanggal 28 Oktober 1928
melalui puncak Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta). Peristiwa ini
dilatarbelakangi oleh berbagai faktor penting dalam sejarah pergerakan nasional
Indonesia, seperti:
1. Kondisi Penjajahan Belanda
Rakyat Indonesia mengalami penderitaan akibat
kolonialisme yang berkepanjangan. Perjuangan bangsa pada awalnya bersifat
kedaerahan dan mudah dipatahkan oleh pemerintah kolonial. Akhirnya para pemuda
menyadari bahwa perlawanan fisik yang terpecah-pecah harus diubah menjadi perjuangan
persatuan nasional secara politik.
2. Pengaruh Politik Etis (Balas Budi)
Penerapan Politik Etis oleh Belanda membuka akses
pendidikan bagi sebagian kecil kaum pribumi. Lahirlah golongan kaum terpelajar
yang memiliki kesadaran tinggi mengenai pentingnya nasib bangsa dan arti
kemerdekaan.
3. Munculnya Organisasi Pemuda Kedaerahan
Berkembang berbagai organisasi berbasis kedaerahan dan
golongan, seperti:
•
Jong Java
•
Jong Sumatranen Bond
•
Jong Celebes
•
Jong Bataks Bond
•
Jong Ambon
Organisasi-organisasi ini kemudian menyadari bahwa ego
kedaerahan harus dilebur demi kekuatan bersama.
4. Kegagalan Kongres Pemuda I (1926)
Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926) telah
diselenggarakan, tetapi belum mencapai kesepakatan utuh akibat masih kuatnya
rasa kesukuan dan perdebatan mengenai bahasa persatuan (seperti isu bahasa
Melayu vs bahasa Indonesia). Kegagalan ini menjadi pelajaran penting bagi para
pemuda untuk memperkuat koordinasi.
5. Inisiatif dari PPPI dan Kongres Pemuda II (1928)
Didorong oleh Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia
(PPPI), diselenggarakanlah Kongres Pemuda II pada tanggal 27–28 Oktober 1928 di
tiga gedung berbeda di Batavia.
Belajarlah dari sejarah masa lalu, bagaimana kokohnya
semangat persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme) para pemuda nusantara.
Sehingga mampu melawan sistem kapitalisme di nusantara
Sejarah kapitalisme di Indonesia berkembang melalui
beberapa fase utama, mulai dari kedatangan kolonialisme Eropa hingga era reformasi
dan pasar bebas modern.
1. Masa Kolonial Belanda (VOC dan Penguasaan Awal:
1602–1945)
•
Era VOC (1602): Kapitalisme masuk ke Nusantara melalui VOC (Vereenigde
Oostindische Compagnie), perusahaan multinasional berbasis saham pertama di
dunia yang mengeksploitasi rempah-rempah dan menguasai jalur perdagangan.
•
Tanam Paksa / Cultuurstelsel (1830–1870): Pemerintah kolonial memaksa petani
lokal menanam komoditas ekspor (seperti kopi, teh, dan nila), menghasilkan
keuntungan besar bagi kas Belanda.
•
Undang-Undang Agraria / Periode Liberal (1870): Pemerintah membuka pintu bagi
swasta asing untuk menanam modal di perkebunan dan pertambangan, menandai
tumbuhnya kapitalisme privat di Hindia Belanda.
2. Pasca-Kemerdekaan dan Orde Lama (1945–1965)
•
Dekolonisasi dan Nasionalisasi: Setelah merdeka, Indonesia sempat mengalami
pergulatan sistem ekonomi. Pemerintah mengambil alih aset-aset perusahaan
kolonial.
•
Kapitalisme Negara (Dirigiste): Alih-alih kapitalisme murni dari bawah, negara
mengambil peran dominan dalam menggerakkan industri dan ekonomi (state-led
development). Krisis ekonomi dan hiperinflasi sempat mencapai 594% menjelang
akhir Orde Lama.
3. Orde Baru dan Kebangkitan Kapitalisme (1966–1998)
•
Keterbukaan Investasi: Presiden Suharto membuka lebar pintu bagi modal asing
melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967.
•
Boom Minyak dan Pertumbuhan: Didukung lonjakan harga minyak (1973–1982) serta
proyek pembangunan masif, ekonomi tumbuh pesat namun sangat bergantung pada
utang luar negeri, konglomerasi, serta kedekatan bisnis dengan kekuasaan
(oligarki awal).
•
Eksploitasi SDA: Masuknya perusahaan multinasional skala besar, seperti PT
Freeport Indonesia di Papua, mengukuhkan corak kapitalisme ekstraktif.
4. Era Reformasi dan Kapitalisme Modern
(1998–Sekarang)
•
Pasar Bebas dan Desentralisasi: Runtuhnya Orde Baru membawa Indonesia masuk ke
sistem pasar bebas yang lebih luas, privatisasi BUMN, serta kebebasan sektor
perbankan, energi, hingga industri digital.
•
Kritik dan Ketimpangan: Kapitalisme modern di Indonesia kerap dikritik karena
melahirkan konsentrasi kekayaan pada segelintir kelompok (oligarki) serta
ketimpangan sosial antara pertumbuhan ekonomi makro dengan akses riil
masyarakat kelas bawah.
Pupuk Cinta Tanah Air Cegah Disintegrasi Babgsa
Generasi Alpha adalah kelompok demografis setelah
Generasi Z, yang mencakup anak-anak yang lahir dalam rentang tahun 2010 hingga
2024 (atau hingga 2025 menurut beberapa referensi).
Ciri
Utama Generasi Alpha:
•
Generasi Abad ke-21: Mereka adalah generasi pertama yang lahir sepenuhnya di
abad ke-21 dan milenium ketiga.
•
Digital Native Sejak Lahir: Mereka tumbuh besar di tengah masifnya perkembangan
teknologi digital, gawai (gadget), internet, dan kecerdasan buatan (artificial
intelligence / AI) sejak usia dini.
•
Latar Belakang Keluarga: Sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak dari
para orang tua generasi Milenial atau Gen Z yang lebih muda.
•
Karakteristik Umum: Cenderung belajar dengan cepat melalui konten visual dan
video pendek, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta terbiasa melakukan
banyak hal secara bersamaan (multitasking).
•
Tantangan Utama: Rentan mengalami waktu layar berlebih (screen time), masalah
fokus atau overstimulasi, serta tantangan dalam menjaga interaksi sosial di
dunia nyata.
Cinta tanah air memiliki arti penting bagi generasi
Alpha sebagai benteng utama dalam merawat Persatuan dan kesatuan bangsa serta
mencegah disintegrasi bangsa (pecahnya persatuan dan keutuhan negara) dengan
menumbuhkan rasa memiliki, loyalitas, serta kesediaan berkorban demi keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Cinta tanah air adalah perasaan tulus, bangga, setia,
peduli, dan rasa memiliki yang tinggi terhadap bangsa dan negara tempat seseorang
dilahirkan serta dibesarkan.
Sikap cinta tanah air ini mendorong seseorang untuk
membela, melindungi, menjaga persatuan, serta merawat keutuhan wilayah dan nama
baik negara dari berbagai ancaman. Termasuk ancaman disintegrasi bangsa, oleh
sistem kapitalisme global.
Dalam ajaran Islam, cinta tanah air dikenal dengan
istilah hubbul wathani minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman),
yang dicontohkan melalui rasa syukur atas nikmat keamanan, kedamaian, dan persatuan
di negeri sendiri.
Belajar dari sejarah tersebut diatas kami para
generasi tua sebelum meninggalkan dunia fana ini, ingin menitipkan amanah
bangsa dipundakmu.
Wahai para pemuda Indonesia dipundakmulah kutitipkan
masa depan Indonesiaku, sebab ancaman disintegrasi bangsa di depan mata karena
kepentingan kapitalisme global. Maka bersumpalah kalian akan merawat persatuan
dan kesatuan bangsa dengan mencegah kapitalisme dan disintergrasi bangsa.
Karena kapitalisme akan menguasai kekayaan alam nusantara disaat Indonesia
terpecah belah. Dan jika kalian gagal maka Indonesia tinggal kenangan sejarah, seperti
halnya Hindia Belanda.
Semoga Allah SWT selalu meridahoi segala ikhtiar dan
perjuanganmu yang semakin berat tantangannya.
Makassar, 28 Oktober 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar