Translate

Selasa, 27 Oktober 2026

Kutitipkan Indonesiaku Bersumpahlah Merawat Persatuan & Kesatuan

 

Wahai para pemuda Indonesia dipundakmulah kuamanahkan masa depan Indonesiaku, maka bersumpalah akan merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab ancaman disintegrasi bangsa di depan mata, oleh sistem kapitalisme global.





-----

Rabu, 28 Oktober 2026



Kutitipkan Indonesiaku Bersumpahlah Merawat Persatuan & Kesatuan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

Sumpah Pemuda yang di ikrarkan pada 28 Oktober 1928 oleh para Pemuda nusantara, adalah landasan persatuan nasional Indonesia yang diikrarkan melalui tiga tekad utama yaitu: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

Wahai para pemuda Indonesia dipundakmulah kuamanahkan masa depan Indonesiaku, maka bersumpalah akan merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab ancaman disintegrasi bangsa di depan mata, oleh sistem kapitalisme global. Dan jika kalian gagal maka Indonesiaku tinggal kenangan sejarah, seperti halnya Hindia Belanda. 

Makna Sumpah Pemuda adalah landasan persatuan nasional Indonesia yang diikrarkan melalui tiga tekad utama: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

Tiga poin utama makna Sumpah Pemuda, adalah:

• Satu Tanah Air (Tanah Air Indonesia): Mengakui seluruh wilayah nusantara sebagai satu kesatuan tempat hidup dan berjuang bersama, bukan lagi berdasarkan wilayah kedaerahan masing-masing.

• Satu Bangsa (Bangsa Indonesia): Menyatukan berbagai suku, latar belakang, dan budaya ke dalam satu identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia.

• Satu Bahasa (Bahasa Indonesia): Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi pemersatu bangsa dari Sabang sampai Merauke di tengah keberagaman bahasa daerah.

Sumpah Pemuda lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 melalui puncak Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta). Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, seperti:

1. Kondisi Penjajahan Belanda

Rakyat Indonesia mengalami penderitaan akibat kolonialisme yang berkepanjangan. Perjuangan bangsa pada awalnya bersifat kedaerahan dan mudah dipatahkan oleh pemerintah kolonial. Akhirnya para pemuda menyadari bahwa perlawanan fisik yang terpecah-pecah harus diubah menjadi perjuangan persatuan nasional secara politik.

2. Pengaruh Politik Etis (Balas Budi)

Penerapan Politik Etis oleh Belanda membuka akses pendidikan bagi sebagian kecil kaum pribumi. Lahirlah golongan kaum terpelajar yang memiliki kesadaran tinggi mengenai pentingnya nasib bangsa dan arti kemerdekaan.

3. Munculnya Organisasi Pemuda Kedaerahan

Berkembang berbagai organisasi berbasis kedaerahan dan golongan, seperti:

            • Jong Java

            • Jong Sumatranen Bond

            • Jong Celebes

            • Jong Bataks Bond

            • Jong Ambon

Organisasi-organisasi ini kemudian menyadari bahwa ego kedaerahan harus dilebur demi kekuatan bersama.

4. Kegagalan Kongres Pemuda I (1926)

Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926) telah diselenggarakan, tetapi belum mencapai kesepakatan utuh akibat masih kuatnya rasa kesukuan dan perdebatan mengenai bahasa persatuan (seperti isu bahasa Melayu vs bahasa Indonesia). Kegagalan ini menjadi pelajaran penting bagi para pemuda untuk memperkuat koordinasi.

5. Inisiatif dari PPPI dan Kongres Pemuda II (1928)

Didorong oleh Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), diselenggarakanlah Kongres Pemuda II pada tanggal 27–28 Oktober 1928 di tiga gedung berbeda di Batavia.

Belajarlah dari sejarah masa lalu, bagaimana kokohnya semangat persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme) para pemuda nusantara. Sehingga mampu melawan sistem kapitalisme di nusantara

Sejarah kapitalisme di Indonesia berkembang melalui beberapa fase utama, mulai dari kedatangan kolonialisme Eropa hingga era reformasi dan pasar bebas modern.

1. Masa Kolonial Belanda (VOC dan Penguasaan Awal: 1602–1945)

• Era VOC (1602): Kapitalisme masuk ke Nusantara melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), perusahaan multinasional berbasis saham pertama di dunia yang mengeksploitasi rempah-rempah dan menguasai jalur perdagangan.

• Tanam Paksa / Cultuurstelsel (1830–1870): Pemerintah kolonial memaksa petani lokal menanam komoditas ekspor (seperti kopi, teh, dan nila), menghasilkan keuntungan besar bagi kas Belanda.

• Undang-Undang Agraria / Periode Liberal (1870): Pemerintah membuka pintu bagi swasta asing untuk menanam modal di perkebunan dan pertambangan, menandai tumbuhnya kapitalisme privat di Hindia Belanda.

2. Pasca-Kemerdekaan dan Orde Lama (1945–1965)

• Dekolonisasi dan Nasionalisasi: Setelah merdeka, Indonesia sempat mengalami pergulatan sistem ekonomi. Pemerintah mengambil alih aset-aset perusahaan kolonial.

• Kapitalisme Negara (Dirigiste): Alih-alih kapitalisme murni dari bawah, negara mengambil peran dominan dalam menggerakkan industri dan ekonomi (state-led development). Krisis ekonomi dan hiperinflasi sempat mencapai 594% menjelang akhir Orde Lama.

3. Orde Baru dan Kebangkitan Kapitalisme (1966–1998)

• Keterbukaan Investasi: Presiden Suharto membuka lebar pintu bagi modal asing melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967.

• Boom Minyak dan Pertumbuhan: Didukung lonjakan harga minyak (1973–1982) serta proyek pembangunan masif, ekonomi tumbuh pesat namun sangat bergantung pada utang luar negeri, konglomerasi, serta kedekatan bisnis dengan kekuasaan (oligarki awal).

• Eksploitasi SDA: Masuknya perusahaan multinasional skala besar, seperti PT Freeport Indonesia di Papua, mengukuhkan corak kapitalisme ekstraktif.

4. Era Reformasi dan Kapitalisme Modern (1998–Sekarang)

• Pasar Bebas dan Desentralisasi: Runtuhnya Orde Baru membawa Indonesia masuk ke sistem pasar bebas yang lebih luas, privatisasi BUMN, serta kebebasan sektor perbankan, energi, hingga industri digital.

• Kritik dan Ketimpangan: Kapitalisme modern di Indonesia kerap dikritik karena melahirkan konsentrasi kekayaan pada segelintir kelompok (oligarki) serta ketimpangan sosial antara pertumbuhan ekonomi makro dengan akses riil masyarakat kelas bawah.

 

Pupuk Cinta Tanah Air Cegah Disintegrasi Babgsa

Generasi Alpha adalah kelompok demografis setelah Generasi Z, yang mencakup anak-anak yang lahir dalam rentang tahun 2010 hingga 2024 (atau hingga 2025 menurut beberapa referensi).

Ciri Utama Generasi Alpha:

• Generasi Abad ke-21: Mereka adalah generasi pertama yang lahir sepenuhnya di abad ke-21 dan milenium ketiga.

• Digital Native Sejak Lahir: Mereka tumbuh besar di tengah masifnya perkembangan teknologi digital, gawai (gadget), internet, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) sejak usia dini.

• Latar Belakang Keluarga: Sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak dari para orang tua generasi Milenial atau Gen Z yang lebih muda.

• Karakteristik Umum: Cenderung belajar dengan cepat melalui konten visual dan video pendek, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan (multitasking).

• Tantangan Utama: Rentan mengalami waktu layar berlebih (screen time), masalah fokus atau overstimulasi, serta tantangan dalam menjaga interaksi sosial di dunia nyata.

Cinta tanah air memiliki arti penting bagi generasi Alpha sebagai benteng utama dalam merawat Persatuan dan kesatuan bangsa serta mencegah disintegrasi bangsa (pecahnya persatuan dan keutuhan negara) dengan menumbuhkan rasa memiliki, loyalitas, serta kesediaan berkorban demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Cinta tanah air adalah perasaan tulus, bangga, setia, peduli, dan rasa memiliki yang tinggi terhadap bangsa dan negara tempat seseorang dilahirkan serta dibesarkan.

Sikap cinta tanah air ini mendorong seseorang untuk membela, melindungi, menjaga persatuan, serta merawat keutuhan wilayah dan nama baik negara dari berbagai ancaman. Termasuk ancaman disintegrasi bangsa, oleh sistem kapitalisme global.

Dalam ajaran Islam, cinta tanah air dikenal dengan istilah hubbul wathani minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman), yang dicontohkan melalui rasa syukur atas nikmat keamanan, kedamaian, dan persatuan di negeri sendiri.

Belajar dari sejarah tersebut diatas kami para generasi tua sebelum meninggalkan dunia fana ini, ingin menitipkan amanah bangsa dipundakmu.

Wahai para pemuda Indonesia dipundakmulah kutitipkan masa depan Indonesiaku, sebab ancaman disintegrasi bangsa di depan mata karena kepentingan kapitalisme global. Maka bersumpalah kalian akan merawat persatuan dan kesatuan bangsa dengan mencegah kapitalisme dan disintergrasi bangsa. Karena kapitalisme akan menguasai kekayaan alam nusantara disaat Indonesia terpecah belah. Dan jika kalian gagal maka Indonesia tinggal kenangan sejarah, seperti halnya Hindia Belanda.

Semoga Allah SWT selalu meridahoi segala ikhtiar dan perjuanganmu yang semakin berat tantangannya.

 

Makassar, 28 Oktober 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar