-----
Ahad, 7 Juni 2026
Mahasiswa Dan Ulama Cermin Idealisme & Jalan
Kebenaran
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Berdasarkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), patron berarti model, suri teladan, atau cetak biru,
seperti pola pakaian atau desain batik. Kata ini juga sering digunakan dalam
arsitektur atau desain sebagai acuan bentuk.
Mahasiswa berfungsi
sebagai agen perubahan, kekuatan moral, penjaga nilai, dan pengontrol sosial.
Mereka tidak hanya dituntut untuk berprestasi secara akademis di kampus, tetapi
juga harus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.
5 (Lima) fungsi utama
mahasiswa yang menjadi pilar tanggung jawab moral, meliputi; (1) Agen Perubahan
(Agent of Change): Berperan sebagai penggerak untuk membawa masyarakat ke arah
yang lebih baik melalui pemikiran kritis, inovasi, dan penguasaan ilmu
pengetahuan. (2) Pengontrol Sosial (Social Control): Menjadi jembatan antara
masyarakat dan pemerintah. Mahasiswa berfungsi mengawasi kebijakan publik,
memberikan kritik konstruktif, serta menawarkan solusi atas permasalahan
sosial. (3) Kekuatan Moral (Moral Force): Menjadi teladan di tengah masyarakat
dengan menjaga etika, moralitas, dan nilai-nilai luhur agar tidak tergerus oleh
arus globalisasi. (4) Penjaga Nilai (Guardian of Value): Melindungi dan
mempertahankan nilai-nilai esensial bangsa seperti keadilan, kejujuran, gotong
royong, dan integritas dari berbagai ancaman penyimpangan. (5) Penerus Bangsa
(Iron Stock): Dipersiapkan menjadi generasi tangguh dan pemimpin masa depan
yang akan menggantikan estafet kepemimpinan nasional.
Sedangkan tugas utama
ulama adalah menjaga dan meneruskan risalah para nabi (warasatul anbiya) dengan
membimbing umat kejalan lurus dalam memahami melaksanakan ajaran Islam yang
benar, membentengi moral masyarakat, serta menjadi rujukan dalam menyelesaikan
berbagai persoalan kehidupan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.
Peran utama alim ulama
meliputi; (a) Pewaris Para Nabi: Menjaga kemurnian agama dari penyimpangan
paham yang merusak. (b) Pendidik dan Pembimbing Umat: Mengajarkan ilmu agama
secara luas dan membimbing akhlak agar masyarakat tetap berada di jalan yang
lurus. (c) Mujtahid (Pemecah Masalah): Memberikan jawaban dan solusi atas
berbagai persoalan baru yang muncul di masyarakat melalui ijtihad dan fatwa
yang relevan. (d) Pemberi Nasihat bagi Pemimpin: Menjalankan fungsi "
*amar makruf nahi mungkar* " serta memberikan panduan moral dan etika bagi
para penguasa agar tercipta pemerintahan yang adil dan maslahat.
Dengan demikian!
Mahasiswa dan Ulama adalah cermin Idealisme dan jalan kebenaran, dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun cermin bisa retak dan
jalan bisa bengkok karena kepentingan duniawi. Dan setiap insan yang cinta
duniawi akan mengorbankan moral dan kompetensinya karena terperangkap dalam
sumpah iblis. Iblis menolak tunduk kepada Nabi Adam karena kesombongan, merasa
dirinya lebih mulia (diciptakan dari api) dibandingkan Adam (dari tanah).
Akibat pembangkangan tersebut, Allah SWT melaknatnya. Iblis kemudian bersumpah
akan menyesatkan Adam dan seluruh keturunannya hingga hari kiamat.
Kompetensi memberikan
kita kemampuan dan kecakapan untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai tujuan,
sedangkan moralitas memastikan bahwa kemampuan tersebut digunakan dengan cara
yang benar, adil, dan bertanggung jawab.
Moralitas (Karakter)
menjadi kompas penuntun yang jelas tentang batasan antara yang benar dan yang
salah. Ini membantu kita membuat keputusan yang etis dalam situasi sulit.
Sementara integritas dan kejujuran adalah fondasi dari reputasi yang baik.
Orang yang beriman dan bermoral dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab
dan dapat diandalkan oleh masyarakat. Tanpa moral, kompetensi atau keahlian
tinggi justru rentan disalahgunakan untuk merugikan orang lain atau melakukan
kecurangan.
Oleh karena itu,
idealisme dan jalan kebenaran hanya bisa dijaga dan dipertahankan, oleh iman
(moral), dan kompetensi individu. Karena orang-orang yang berkarakter, mampu
menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhiratnya.
Makassar, 7 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar